
Pagi yang dingin, Nala dibangunkan oleh cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Dilihatnya jam menunjukan pukul tujuh pagi, bola matanya melebar dan langsung terduduk dari tidurnya hingga sedikit terhuyung karena lemas. Dia terlambat menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Nala turun dari ranjang dengan terburu-buru, mencuci wajahnya lalu mencepol rambutnya asal dan segera berlari ke dapur. Syukur, sepertinya suaminya belum bangun. Hari ini Andaru cuti, itu yang di katakanya kepada Nala dan keluarganya saat sebelum menikah. Entah itu benar atau tidak, yang pasti sebagai seorang istri setidaknya Nala memenuhi kewajibannya untuk berbakti kepada Andaru. Dengan membuat sarapan dan makan malam contohnya.
Rumah yang di tempati Nala dan Andaru masih baru, baru di beli tepatnya. Itu mengapa, tidak ada pembantu atau pekerja lainnya di sini. Nala membuka kulkas, di dalamnya hanya ada telur, sosis dan beberapa sayuran hijau. Nasi goreng di pagi hari yang di masak pengantin baru rasanya terlalu klasik, maka dari itu Nala memutuskan untuk membuat tumis saja dengan semua bahan yang ada.
Beberapa menit berlalu, suara tapak kaki berjalan menuruni tangga. Itu Andaru, tidak lama setelah suaminya itu sampai di dapur, Nala menyelesaikan masakannya. Bau harum menguar, menggugah selera makan siapa saja yang menciumnya. Dengan cekatan, Nala menyiapkan sarapan itu untuk suaminya, perasaan di hatinya terasa lebih baik pagi ini, Nala menghirup udara dan menghembuskannya perlahan lalu tersenyum dan menuangkan nasi ke piring yang telah di siapkan.
"Hari ini, kita belum belanja kebutuhan dapur. Sarapannya ini dulu saja ya kak. Nanti Nala belanja untuk makan malam," ucap Nala dengan suara yang lembut dan tenang. Meski dijawab oleh keheningan dari Andaru tidak menyurutkan Nala untuk terus berusaha membuat suaminya itu berbicara kepadanya. "Masakan Nala enak gak kak?" tanya Nala sambil memandang kepada suaminya itu, Nala mengernyitkan dahinya saat setelah sadar ada yang berbeda dari Andaru.
"Kak, bukannya hari ini masih cuti? kenapa pakaiannya serapih itu?" Nala kembali melayangkan pertanyaan kepada Andaru dengan sedikit nada mengintimidasi.
"Kak, kakak gak akan kerja saat baru saja dua hari yang lalu kita menikah kan, kak?"
__ADS_1
"Kak Andaru—"
Dengan wajah yang terlihat jengah, Andaru menggebrak meja dan membanting sendok di hadapan Nala, membuat dia kaget. "K-kak ...." Tanpa menunggu Nala menyelesaikan kata-katanya lagi, Andaru langsung berdiri dan pergi begitu saja. Kenapa? Itulah pertanyaan yang selalu menghinggapi hati Nala. Kenapa Andaru menikahinya jika hanya untuk di biarkan begitu saja? Kenapa terus merayu dan mencoba untuk memaksa dengan cara yang halus agar Nala mau menjadi pengantinnya jika hanya seperti ini akhirnya?
Beberapa menit berlalu, Andaru terlihat membawa jas dan tas kerjanya. Dia benar-benar akan bekerja saat baru saja dua hari yang lalu menikah? dan meninggalkan Nala sendiri di rumah?
"Kak? kakak beneran kerja hari ini?" Tanpa memedulikan pertanyaan yang lagi-lagi keluar dari bibir mungil Nala, Andaru terus berjalan membuka pintu dan menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman. Sedangkan Nala dengan tergesa-gesa berusaha mengejar Andaru yang sudah naik ke mobilnya dan mengetuk kaca mobil agar Andaru membukanya.
"Kak—" ucapan Nala terpotong saat dengan tanpa perasaan Andaru menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya dengan cepat hingga Nala hampir tersungkur. Begitukah seorang suami kepada istrinya?
Sifat dingin Andaru, hal macam apa yang bisa menjelaskannya? Benar-benar dingin, sedingin es. Kaku, dan tidak berperasaan. Kemana perginya kehangatan mentari pagi di musim salju yang dulu dia tunjukan?
Iris kecoklatan milik Nala tertuju kepada salah satu pohon pinus, entah mengapa pohon itu tampak sangat menenangkan saat di pandang dibandingkan pohon yang lain. Di tengah hati Nala yang sedang carut marut. Dengan tatapan mata saja, Nala merasa bahwa kesejukannya sampai kedalam hati, hingga Nala merasa terbuai dan tanpa sadar dia pun tertidur.
__ADS_1
Sosok pria tampan di balik salah satu pohon pinus menatap ke arah jendela tempat Nala tertidur. Ya, melalui kekuatannya, dia membuat Nala tertidur lelap. Rasanya tidak tega melihat gadis itu bersedih, hatinya sangat sakit saat gadis itu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Dalam waktu sekejap, dia sudah berada di hadapan Nala, terdiam sebentar menatap pujaan hatinya itu, lalu dia berubah menjadi segumpalan asap yang halus dan masuk kedalam kepala Nala melalui pelipisnya.
Hembusan angin yang sejuk menyentuh tengkuk leher Nala, membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Dia perlahan membuka matanya dan melihat ke sekeliling, hamparan padang rumput yang luas dengan pemandangan indah, hanya ada satu tempat duduk di sini, yakni yang di duduki Nala saat ini. Dimana dia? seingatnya terakhir kali dia berada di kamarnya, dan sekarang? tempat apa ini? Nala berdiri dari duduknya dan berjalan setapak demi setapak, rumput yang di injaknya sangat halus, berwarna hijau segar seperti terawat dengan baik.
Beberapa meter dari tempat dia terbangun, ada hamparan bunga lily berwarna merah muda yang segar dan indah. Harumnya mewangi dan memanjakan indra penciuman Nala. Entah mengapa, namun suasana hati Nala tiba-tiba menjadi jauh lebih baik.
Jari jemari Nala menyentuh salah satu bunga lily itu. tanpa diduga, beberapa ekor kupu-kupu kecil yang cantik tiba-tiba berhamburan bersamaan dengan secercah cahaya melingkar di bagian ekornya membuat Nala terkejut dan terkesima. Keajaiban seperti ini benar adanya? Nala mencubit kecil kulit tangannya. Sakit.
Dia tidak bermimpi! Tempat apa ini?
Nala mendongakkan kepalanya untuk melihat langit, benar! ada yang aneh, tidak mungkin ada Aurora di tempat seperti ini. Telapak kakinya yang telanjang itu terangkat dan mulai bergeser mundur. Nala terus berputar sambil menatap langit, jantungnya mulai bermarathon ria. Hanya ada satu hal yang terlintas dalam pikiran Nala. Kabur!
Nala berlari dan berusaha mencari jalan keluar meskipun padang rumput ini sangat luas. Dia mengikuti kemana pun kakinya ingin berlari. Nala menoleh ke belakang, sudah sangat jauh dari tempat terakhir kali dia terbangun. Dia memutuskan untuk berhenti berlari dan merebahkan tubuhnya di atas rumput yang terasa seperti karpet berbulu itu.
__ADS_1
"Butuh tempat beristirahat, Nona?"