
Dengan badannya yang mungil dan ramping membuat langkah kakinya menjadi ringan, Dia berlari sangat cepat hingga menyebabkan lututnya seperti akan patah. Nala menoleh ke belakang, sudah sangat jauh dari tempat terakhir kali dia terbangun. Pipinya sudah sangat merah akibat panas dari dalam tubuhnya. Dia memutuskan untuk berhenti berlari dan merebahkan tubuhnya di atas rumput yang terasa seperti karpet berbulu itu. Menyeka keringat yang membanjir di pelipisnya dan mengatur napasnya agar kembali normal.
"Butuh tempat beristirahat, Nona?" Suara yang terdengar berat dan lirih bergema begitu keras seakan bisa terdengar di seluruh padang rumput itu. Nala terduduk dan dia mulai semakin ketakutan, bulu kuduknya meremang sedangkan di hatinya tidak berhenti menerka-nerka.
"S-siapa?" tanya Nala dengan suara pelan dan bergetar.
"Tunggu saat aku menjemputmu, sebentar lagi." Karena takut, Nala langsung berdiri. Dia kembali berlari meski kakinya amat bergetar.
Malam hampir tiba, dan Nala masih berada di tempat itu. Dia benar-benar tidak tahu jalan keluar, juga bagaimana caranya dia kembali ke rumah. Saat sedang berjalan, dia menemui aliran sungai kecil dan sebuah gubuk di seberangnya. Di tengah udara yang semakin dingin, dia merasa tidak ada pilihan lain, selain mampir ke gubuk itu untuk berteduh.
Nala mengintip dari balik jendela. Tidak ada siapa-siapa. Dia pun masuk dan melihat ke sekeliling gubuk itu. Hanya gubuk tua yang tampak normal, ada meja rotan yang cukup luas untuk sekedar merebahkan tubuh. Pas sekali, Nala merasa tubuhnya sangat lelah akibat berlari dan merasa ketakutan sepanjang hari. Dia lalu naik ke atas meja itu dan membaringkan tubuhnya, melihat ke arah jendela yang tidak tertutup tirai itu. Hari sudah semakin gelap, dan malam ini pun Nala hanya mengandalkan cahaya bulan untuk meneranginya dan meminimalisir rasa takut. Apakah dia akan terjebak di sini sepanjang waktu? sendiri?
__ADS_1
Terus memikirkan hal itu, tanpa sadar dengkuran halus mulai tedengar, napasnya yang semula tidak beraturan karena gugup dan takut, kini lebih tenang dan teratur. Nala tertidur. Beberapa menit kemudian setelah dia terlelap, suara tapak kaki yang pelan menghampirinya.
"Nala ...."
"Nala ...."
"Nala!" Teriakan itu membuat Nala terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya. Dan semakin terkejut saat dia melihat ke sekeliling, ini ... dia telah kembali ke rumahnya. jadi, sedari tadi dua benar-benar hanya bermimpi? di luar sudah benar-benar gelap, itu artinya dia tertidur sepanjang hari. Nala menoleh ke belakang dan bertatapan dengan Andaru yang sudah terlihat sangat marah.
"K-kak An—"
"Lihat! lampu tidak menyala! gorden tidak di tutup! masakan tidak ada! Suami kerja, kamu malah enak-enakan tidur! Rumah berantakan dan tidak di rapikan! Pembantu lebih baik daripada istri!"
__ADS_1
Nala hanya menundukkan kepalanya mendengar bentakan Andaru yang terus di layangkan kepadanya. Kali ini dia memang bersalah karena terlalu teledor hingga tidak sadar telah tertidur sepanjang hari ini. "M-ma-maaf."
Andaru menghempaskan tangan Nala dan berlalu pergi ke luar. Nala yang melihat itu langsung menghampiri Andaru dan menahannya. "Kak, kakak mau kemana lagi? Nala masak ya? Kakak di rumah."
Andaru memicingkan matanya lalu berdecih. "Diam!" Laki-laki itu benar-benar tidak peduli meski pelupuk mata Nala sudah berkaca-kaca, Andaru melepaskan genggaman tangan Nala pada lengannya dan dengan cepat berjalan keluar dan melajukan mobilnya pergi dari rumah itu.
Nala menjatuhkan dirinya, dia terduduk. Di kegelapan malam itu, dia di biarkan sendiri oleh suaminya. Rasanya sangat ingin menangis, namun enggan. Meratapi kesedihannya sebentar, lalu Nala bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk menutupnya, menyalakan saklar lampu setelah itu berlalu ke arah dapur. Kali ini Nala tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sikap Andaru yang berlebihan. Melihat sekeliling rumah yang bahkan masih berdebu karena semasa di beli baru sempat di bersihkan sekali, itu pun kira-kira sekitar dua minggu sebelum hari pernikahan mereka, di dalam kulkas juga tidak ada makanan apapun. Tidak heran, suaminya itu pasti sangat lelah. Namun, sebagai seorang istri Nala bahkan tidak menyambut kedatangannya. Pernikahan kontrak bukan alasan untuk Nala lepas akan kewajibannya, bukan? Dia tetaplah seorang istri.
Nala menghela napasnya, jika seperti ini ... Bagaimana bisa suaminya itu luluh kembali? Karena tidak ada apapun untuk dimasak, Nala ke mengambil sapu dan mulai membersihkan seluruh rumah. Rumah yang di beli Andaru cukup besar, bergaya Eropa modern tiga lantai, dengan lantai tiga adalah rooptof, seperti tempat untuk bersantai dan tempat barbeque. Akan sangat lelah membereskannya sendiri, dan mustahil bagi Nala membereskan seluruh rumah sendiri dalam satu malam saja. Maka dari itu, Nala akan mulai dari kamar Andaru. Untuk hari ini saja, lebih baik melupakan kesedihan karena sikap suaminya itu. Semoga dengan hal ini, bisa meminimalisir kemarahan Andaru padanya.
Nala sampai di kamar yang di tempati Andaru, kamar yang seharusnya itu adalah tempat mereka berdua, bukan Andaru saja. Melihat ke sekeliling, semuanya tampak rapih dan tertata, tidak beda jauh dari saat pertama kali Nala masuk ke kamar ini tempo hari. Nala menghampiri walk in closet dan mulai mengayunkan sapunya untuk membersihkan debu-debu yang berada di sana, karena kamarnya memang sudah rapih Nala hanya menyapunya dan mengepel lantai saja. Lima belas menit berlalu lantainya sudah lebih bersih, Nala tersenyum lalu dia menyapu debu yang terkumpul di luar kamar dan memasukannya ke tong sampah.
__ADS_1
Sudah berjam-jam Nala membersihkan rumah dan dia berhasil membersihkan seluruh lantai satu dan dapur. Masih banyak beberapa spot tempat lagi, namun badannya sudah sangat lelah. Dia melihat ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul empat dini hari, membersihkan rumah sebesar ini, di tambah tidak di bersihkan selama beberapa minggu, sudah dapat dipastikan bahwa akan memakan waktu yang cukup lama. Sudah hampir pagi, jika dia tidur, dia khawatir akan sulit terbangun lagi dan membuat Andaru semakin marah kepadanya. Lebih baik dia mandi saja untuk menyegarkan dirinya.
Selesai mandi, jam sudah menunjukkan pukul lima. Nala pergi ke dapur dan membuat teh hangat untuk dirinya. Memikirkan Andaru, dia baru sadar bahwa suaminya itu benar-benar tidak pulang semalaman.