
Nala langsung mengambil ponsel yang dia simpan di laci nakas. Semenjak hari pernikahan, dia tidak pernah lagi mengecek ponselnya barang sebentar saja. Saat ponsel itu menyala, banyak sekali notifikasi dari akun sosial media dan WhatsAppnya berisi ucapan selamat dan do'a dari teman-temannya.
Dia membuka kontak teleponnya, lama sekali dia men scrool ke atas lalu ke bawah berulang kali, namun tidak menemukan sesuatu yang dia cari. Sampai dia membacanya semua nama yang tertera di sana dengan perlahan sehingga di pastikan tidak ada yang terlewat, namun tetap tidak ada. Tidak menyerah, dia lalu mencarinya di kotak pesan dan WhatsApp serta semua aplikasi yang memungkinkan dan hasilnya nihil. Benar-benar tidak ada. Tunggu! Tidak ada? Bagaimana bisa? Dia ingat sudah menyimpan nomor telepon suaminya itu, namun kenapa sekarang tidak ada?
Nala kembali mengingat-ingat, barangkali dia melupakan sesuatu? Namun, dia sama sekali tidak mengingat atau melupakan apapun. Hatinya mulai khawatir kepada Andaru, dimana dia? Mencari pun kemana? Dia tidak begitu mengenal tempat ini, Satu-satunya jalan yang dia ingat hanyalah jalan ke supermarket itupun terletak tidak jauh dari gerbang perumaha ini. Nala menarik napasnya perlahan, dan menghembuskannya mencoba berpikir positif. Mungkin saja suaminya tidur di hotel atau di kantor? Semoga Andaru pulang sebelum pergi ke kantor nanti untuk sekedar sarapan di rumah.
***
Dua minggu sudah, dua minggu Andaru tidak pulang ke rumah. Ke mana dia? Perasaan Nala sudah tidak karuan, dia tidak berani bertanya kepada siapapun. karena sejauh ini, Nala hanya tahu sebagian keluarga dari Andaru saja. Teman-teman bahkan pergaulan suaminya seperti apa Nala tidak tahu, tentu saja dia kesulitan mencari suaminya, bertanya kepada keluarga akan beresiko munculnya persepsi buruk di kepala mereka yang berakibat pernikahan kontrak yang mereka jalani dengan cepat ketahuan dan selesai sudah.
Nala sudah membersihkan seluruh isi rumah sejauh ini, dan Nala juga selalu memasak tiap pagi dan malam berharap suaminya datang walaupun hanya sekedar makan saja. Namun, Andaru bahkan tidak menampakkan batang hidungnya sekalipun. Sekarang Nala hanya bisa mondar-mandir di teras depan rumahnya sambil mencoba berpikir lagi dan menenangkan hatinya yang sangat khawatir. Pikirannya sudah entah di mana, yang tadinya hanya berpikir di mana dan sedang apa suaminya itu sekarang berubah menjadi bersama siapa? Ya, bersama siapa Andaru selama ini? bagaimana dia begitu betah tidak pulang ke rumah?
Sudah begitu lama juga dia mencari sosial media milik Andaru, tapi mengapa laki-laki itu selalu berhasil membuat Nala tidak menemukannya? Nala menggigit jari, dia sudah sangat frustasi memikirkan manusia itu. Nala menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah. Saat baru saja sampai di ambang pintu, suara deru mobil menghampiri pekarangan. Mata Nala berbinar, dia tahu suara mobil itu. Mobil milik Andaru! Dengan perasaan lega dan hati yang berbunga-bunga dia membalikkan badannya untuk menyambut kedatangan Andaru, namun segara sorot matanya menjadi sayu saat melihat siapa yang berada di depannya.
__ADS_1
Andaru bersama seorang wanita, siapa dia? Mereka berdua menghampiri Nala, wanita itu tersenyum kepada Nala sedangkan Andaru hanya memandangnya acuh. Berhenti di hadapan Nala, dia mengulurkan tangannya. "Nala? Perkenalkan, Tesa. Calon istri satu-satunya Andaru," bisik wanita itu di telinga Nala. Tidak ada respon apapun, Nala hanya mematung di sana. Dengan senyuman yang merekah Tesa merangkul tangan Andaru dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Calon istri satu-satunya Andaru? Apa yang wanita itu katakan? Bahkan belum sampai satu bulan pernikahannya berjalan dan wanita itu sudah mengatakan hal yang tidak masuk akal. Andaru tidak mungkin memiliki wanita lain, bukan? Andaru adalah orang yang setia, Nala yakin itu. Apakah selama ini Andaru tinggal bersama wanita itu? Mustahil! pasti Andaru hanya ingin mencoba ketahanan hati Nala. Dengan lembut, Nala menghapus air mata yang sudah membanjiri pipinya. Dia tersenyum, lalu bertekad dalam hatinya untuk memenangkan hati Andaru lebih semangat lagi kali ini.
"Kak, Andaru baru pulang. Nala bikinkan kopi ya?" Andaru memandang Nala yang tersenyum lebar di hadapannya, dan hanya mengangguk sebagai respon.
"Eh, jangan lupa, aku juga bikinin. Kopi hitam, gulanya dikit aja." Suara yang sengaja di buat sexy itu menginterupsi langkah kaki Nala. Dadanya bergemuruh, wanita ini benar-benar. Nala menghembuskan napasnya dan berbalik ke arah wanita itu lalu tersenyum simpul. Nala sudah bertekad untuk memenangkan hati Andaru lagi, dia harus berperilaku sebaik mungkin.
Tiba di dapur, Nala hanya berdiri di depan meja dapur dan menopang kan tangannya di atas sana. Tatapannya kosong, apakah keputusannya sudah benar? bagaimana jika suaminya itu benar-benar tidak dapat mencintainya? melihat wanita yang pulang bersama suaminya itu dia menjadi semakin pesimis dan tidak percaya diri. Tesa terlihat seperti wanita dari keluarga kaya yang berkelas, cantik, tubuhnya profesional, pipi tirus dengan rambut sebahu dan kulit sehat yang eksotis. Sedangkan Nala, hanya gadis desa biasa. Pendek, Chubby, hanya kulitnya jauh lebih putih dan terang. Tetap saja, di lihat dari manapun Nala tidak lebih baik dari wanita itu.
"Nala!" Suara teriakan membuat lamunan Nala buyar.
"Di mana kopinya? Wanita saya sudah kehausan!" Nala yang pada awalnya akan memasang senyum terbaiknya ketika di hampiri Andaru tiba-tiba semuanya menjadi tertahan. Seluruh tubuhnya terasa kaku saat mendengar pernyataan Andaru, tidak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari bibirnya. Wanitanya? Jika Tesa adalah wanitanya, lalu dia siapa?
__ADS_1
"Nala!" Bentak Andaru. Membuat Nala terkejut. "Eh, i-iya kak."
"Jangan lelet!" peringat Andaru sembari meninggalkan Nala.
Nala menundukkan wajahnya. "Apakah hidupku sebuah permainan? Apakah pernikahan kita hanya permainan untuk kakak?" ucap Nala lirih. Perumpamaan apa yang pantas di tujukan kepada kondisi Nala saat ini? Di buat seperti sangat di inginkan, setelah dapat lalu di campakkan.
***
"Ini kopinya." Nala meletakkan dua cangkir kopi di atas meja, di depannya ada sepasang pria dan wanita yang bercengkrama dengan bahagia. Hatinya terasa sangat sakit, pria itu suaminya, sangat tampan dengan senyuman indah yang merekah di bibirnya. Tapi senyum itu bukan untuk dirinya, bahkan tidak di sebabkan olehnya. Itu untuk wanita lain. Lalu apa penghargaan dia sebagai seorang istri?
Nala dengan cepat berlalu dari sana, berjalan ke arah dapur untuk menyimpan nampan lalu berlari ke arah taman belakang. Dia mendudukkan dirinya di atas kursi, menutup matanya dengan telapak tangan sambil terus menangis lirih. Rasanya seperti ingin berteriak atas segala rasa sakit yang dia terima, namun tidak bisa. Dia mencoba menahan tangisannya barangkali bisa terdengar oleh Andaru dan juga wanita itu.
"Tuhan, apakah aku bisa menerima semua ini? hatiku sakit sekali." Begitu cepat Andaru mengajaknya terbang ke langit tertinggi, lalu dengan cepat pula dia menjatuhkannya ke dasar jurang yang paling dalam. Tidakkah, setidaknya Andaru memberi Nala sedikit saja kebahagiaan? Semua ini terjadi dalam waktu yang terlalu singkat, bahkan tidak meluangkan waktu sedikit saja bagi Nala menghirup udara segar dari pernikahan yang baru terhitung minggu ini. Apakah waktunya bergitu mahal sehingga tidak memberikan sedikit saja untuk Nala agar mampu mengikhlaskan semua ini satu persatu?
__ADS_1