
Berbulan-bulan sudah, Andaru dan Tesa terlihat semakin mesra. Nala bertanya-tanya apakah keluarga tidak mengetahui hal itu? bagaimana mungkin? Pernah, sekali Nala memergoki mereka melakukan sesuatu hal yang seharusnya hanya dilakukan oleh sepasang suami dan istri. Hatinya sakit, Andaru melakukan hal sekeji itu. Wanita lain dia sentuh, tetapi istrinya sendiri dia abaikan. Keberadaan Nala semakin tersisihkan sedikit demi sedikit.
"Nala!" Ah, hampir setiap saat. Teriakan itu memenuhi seluruh isi rumah. Nala, Nala, Nala! Wanita itu selalu membiarkan setiap hal dikerjakan oleh Nala. Mencuci baju, memasak, menyetrika, mencuci piring, membersihkan seluruh isi rumah, membantunya membawakan ini dan itu. Sedangkan dirinya hanya duduk diam. Semakin hari, Nala merasa bahwa dirinya adalah pembantu berstatus istri, sedangkan orang lain adalah bosnya.
"Nala! lama banget sih!" Tesa menghampiri Nala sambil bersedekap dada. "Enak ya! Kerjaannya ngelamun aja! Jadi istri gak berguna banget!" Nala menghela napasnya mencoba untuk bersabar. Beberapa hari ini Andaru tidak ada di rumah karena dinas di luar kota, perlakuan Tesa kepada Nala semakin menjadi-jadi. Dia semakin berlagak seperti nyonya besar di rumah ini.
"Kamu ada perlu apa, Tesa?" tanya Nala dengan sabar. Tesa hanya mengerlingkan matanya. "Gue lapar, bikinin makanan!" Nala mengangguk patuh dan segera mengerjakannya. Melihat itu Tesa tersenyum miring, lalu berbalik pergi dari sana.
Lima belas menit, Nala sudah selesai membuat makanan dan langsung menaruhnya di meja makan. Di sana sudah ada Tesa yang sedang asyik bermain ponsel. "ini makanannya." ucap Nala, Tesa hanya mengintip makanan itu dengan satu matanya dan kembali fokus ke ponselnya, melihat itu Nala hanya menghela napas dan hendak pergi. Namun, baru saja beberapa langkah, Tesa kembali berteriak. "Kemana lo?" tanyanya sewot.
"Aku masih banyak pekerjaan, Tesa," jawab Nala santai.
__ADS_1
"Lo itu gimana, sih? Kalau gue gak nyentuh makanannya berarti lo harus ganti! Bikin yang baru!" Beruntung, stok kesabaran Nala sudah Tuhan persiapkan sangat banyak. Jadi, bukan hal yang sulit untuk dia terus bertahan di tengah orang-orang yang menyebalkan seperti wanita di hadapannya ini. " Yasudah, kamu mau apa?"
"Ya, apa kek. Gitu aja nanya lo!" Nala mencoba untuk tersenyum menghadapi wanita ini, dia sama sekali tidak lemah seperti menghadapi Andaru. " Kalau kamu gak ngasih tahu aku, aku gak akan tahu kamu maunya apa."
Tesa mendengus, sungguh sulit memancing amarah Nala. Jika terus begitu, dia akan kesulitan menyingkirkan Nala dari rumah ini. " Gak jadi! lo kan orang miskin, cuman bisa masak makanan kampungan." Tunggu, sebentar lagi gue yang bakal jadi nyonya satu-satunya di rumah ini. Gumam Tesa dalam hati, lalu dia pun pergi ke kamarnya.
Nala mengusap dadanya lalu duduk di atas kursi, dia memandang makanan yang baru saja di buatnya. Setelah itu, mengambil makanan itu dan memakannya. Kebetulan sekali dia sudah sangat lapar, jadi tidak harus memasak makanan lagi untuk saat ini.
***
Ya, sudah banyak hal yang di lakukan Nala untuk menarik perhatian Andaru, namun tidak ada satupun sampai saat ini yang berhasil. Menjadi istri yang siap siaga melayani suami, memasak makanan kesukaannya, memberi kejutan-kejutan kecil, patuh dan baik, bahkan menerima wanita lain sebagai kekasih dari suaminya, membiarkan wanita itu tinggal begitu lama bersama mereka, dan di jadikan kacung oleh wanita itu. Nala begitu rela, namun bahkan suaminya tidak melihat hal itu.
__ADS_1
Nala tahu, meski bagi Andaru pernikahan ini hanya sebuah kontrak. Namun bagi Nala pernikahan tetaplah pernikahan, tidak bisa berubah atau di tambah dengan istilah lain.
Suara deru mobil memasuki pekarangan rumah, bertepatan dengan Nala menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Nala melepaskan celemek yang melekat di tubuhnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya, merapikan rambut sedikit dan berjalan hendak menyambut kedatangan suaminya, senyumnya merekah, hiasan pipinya yang tampak seperti blush alami itu semakin bersemu merah. Sayang, langkah kakinya harus terhenti dikala melihat Andaru dan Tesa berciuman dengan penuh gairah di ambang pintu sana. Pemandangan yang menyakiti hatinya, senyuman indah dan cerah itu seketika redup. Melangkah pelan dan kemudian berlari ke arah taman belakang.
Air mata membanjiri pipinya, suara isak tangis kembali terdengar pilu. Sepertinya memang tidak ada satu malam pun akan terlewat tanpa tangisan. Nala pernah memergoki mereka melakukan hal yang lebih dari itu, tapi hanya sebatas suara saja. Sampai saat ini Nala masih bisa menganggap bahwa mungkin pada saat itu dirinya hanya berhalusinasi. Tapi, berbeda halnya jika dia menyaksikan sendiri. Itu sangat keterlaluan, Andaru brengsek!
Nala menatap langit. Indah, cahaya kelap-kelip bintang yang mengelilingi rembulan itu sangat indah. Andaikan kehidupannya bisa seindah itu, mungkin tidak akan ada luka yang terus menerus tergores di hatinya yang rapuh.
Nala memejamkan matanya, menikmati semilir angin malam yang menabrak halus tubuhnya. Damai, apakah hidupnya bisa sedamai ini?
Tidak terasa sudah sekitar dua jam Nala berada di sini, malam semakin gelap dan dingin. Dia tidak akan membiarkan tubuhnya jatuh sakit karena kedinginan, Nala langsung masuk ke dalam rumah. Sejak suaminya pulang, dia belum menyapanya sama sekali. Ah, apakah suaminya akan peduli? Sepertinya tidak. Nala tersenyum getir memikirkan hal itu, status hanya tinggal status namun tidak berarti sama sekali untuk Andaru.
__ADS_1
"Mas, aku hamil!" Teriak Tesa antusias. Nala yang sedang berjalan hendak ke kamarnya tiba-tiba mematung, dia tidak dapat berkutik, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Hamil?
"Benarkah? Oh terimakasih sayang." Tangan dan kaki Nala semakin bergetar kala menyaksikan respon suaminya. Betapa senangnya dia, dan apa? sayang? Selama ini bahkan Andaru tidak pernah memanggil Nala dengan kata itu. Tubuhnya seketika ambruk, kenyataan pahit apa lagi ini? Kekasih suaminya hamil? dan mereka akan segera mendapatkan seorang anak. Lalu dia? Seorang istri dengan status yang hanya di jadikan lelucon. Sungguh drama, dia menangis pilu disini dan sepasang kekasih sedang saling memeluk bahagia di sana.