Ratu Yang Telah Lahir

Ratu Yang Telah Lahir
Kehidupan Baru?


__ADS_3

Nala terus berteriak, sedangkan Oxley menatapnya malas. "Sudah sampai, bodoh." Oxley berucap sambil mengacak rambut Nala. Nala terdiam, lalu matanya menangkap sebuah meja yang di kenalinya. "Oh, huh. Bagaimana kau melakukannya?"


"Bodoh." Oxley menatap Nala datar. Cukup terkejut dengan reaksi Nala, mungkin orang-orang akan mencurigai dirinya, tapi manusia aneh ini malah bertanya layaknya anak kecil. " Duduk di kursi itu, tidak boleh beranjak kemanapun." Jari Oxley menunjuk ke arah kursi di samping mejanya. Nala mengangguk dan menuruti perintah laki-laki itu. Dari awal Nala memang bukan tipe orang yang pembantah, dia amat sangat patuh membuat Oxley sedikit khawatir.


Oxley menghampiri meja itu dan duduk di tempatnya seperti biasa. Mulai fokus kembali dengan dokumen-dokumen penting yang membosankan. Sesekali melirik Nala di sampingnya. Bagaimana gadis itu tidak merasa takut? batinnya.


"Kau, bukan manusia biasa?"tanya Nala tiba-tiba.


"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Oxley mengerutkan kening. Sedangkan Nala tampak berpikir sesuatu. "Tidak jadi." jawabnya sambil menggelengkan kepala. Entah mengapa Oxley merasa bahwa Nala mengetahui sesuatu.


"Oxley, bolekah aku kembali ke kamarku? ini sudah larut. Aku mengantuk."


Melihat Nala yang tampak lelah, Oxley pun mengangguk. "pergilah, jangan lupa mengisi perutmu terlebih dahulu." ucapnya mempersilahkan. Nala berdehem lalu pergi dari ruangan itu.


Saat tiba di depan pintu kamarnya, sudah ada Aleda di sana. Raut wajahnya tampak khawatir membuat Nala tersenyum dan dadanya menghangat. "Pu—em ... Nala, dari mana saja? Aku mencarimu seharian, dan Tuan Oxley juga menanyakan keberadaanmu." ucapnya panik. "Oh Astaga! kenapa kau kotor sekali? Cepat, aku akan membantumu membersihkan tubuh. Apa kau akan berendam air panas? " Aleda menarik tangan Nala untuk segera masuk dan berlari ke arah kamar mandi.


"Aleda, tenanglah tidak usah terburu-buru. Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Aleda tidak mendengarkan Nala, dia terus kesana kemari mempersiapkan segala keperluan sebelum dan setelah mandi untuk majikannya. Nala yang tidak terbiasa di perlakukan seperti itu hanya merasa tidak enak hati. "Aleda, aku akan melakukannya sendiri. Kau beristirahatlah."


Aleda yang sedang menyiapkan pakaian untuk Nala seketika berhenti dari kegiatannya. "A-apakah pekerjaanku tidak bagus? Maafkan pelayan ini Putri!" Aleda tiba-tiba bersujud dan membanting keningnya ke lantai hingga menimbulkan suara Jedug yang sangat keras sambil terus mengucapkan kata maaf. Nala terkejut dan tidak mengharapkan reaksi Aleda yang seperti ini.


"Aleda, apa yang kau lakukan? Bangunlah!" Nala mengangkat bahu Aleda dengan sedikit perasaan khawatir, dia memeriksa kening Aleda barang kali ada yang memar. "Kenapa kau sampai seperti ini, Aleda?" tanya Nala lembut. Aleda menunduk, terdiam sejenak. "Putri, aku hanya seorang pelayan. Sudah hal yang wajar jika pekerjaanku tidak bagus, maka aku harus memohon pengampunan."


Nala menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya. Dia memegang bahu Aleda, tampaknya usia dia justru lebih muda dari Nala, namun pekerjaannya sudah begitu berat. "Aleda, dengarkan. Aku bukan seorang putri. Dan, walaupun jika aku adalah seorang putri, ada apa dengan hal itu? Kita adalah sama, lagi pula aku bukan orang yang menjunjung tinggi perbedaan kasta," jelas Nala panjang lebar.


Aleda memandang Nala dengan mata yang berkaca-kaca. Nala tersenyum, lalu memeluk Aleda. "Di sini, kau bisa menganggapku sebagai sahabatmu. Aku tidak begitu nyaman dengan pelayanan seorang Putri, bersikaplah dengan semestinya. Bantu aku hanya jika aku menginginkannya." Nala lalu melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Aleda. "Sekarang, beristirahatlah. Sebelum itu, ambilkan aku beberapa makanan dulu, Ini perintah." Aleda tersenyum lalu mengangguk setelah itu dia langsung pergi dan mengucapkan terimakasih berulang-ulang.


Setelah Aleda berlalu, Nala langsung pergi ke kamar mandi. Merendam tubuhnya dengan air hangat, di temani lilin aromatik yang semakin membantu merilekskan tubuhnya.


Malam semakin larut, tapi Nala belum jua bisa tertidur. Sesuatu mengganggu pikirannya. Dia membalut tubuhnya dengan selimut lalu berjalan ke arah jendela besar yang senantiasa menampilkan pemandangan cahaya bulan yang begitu terang. Nala duduk di depan jendela itu sambil menatap langit. Andaru, satu nama itu yang selalu mengusik hatinya. Suami yang dia cintai, Apakah dia mencarinya? pertanyaan dalam hatinya itu adalah sebuah harapan. Harapan yang selalu dia semogakan. Mungkin, Andaru pura-pura mencintainya dengan tujuan memaksa secara halus agar keinginannya tercapai. Namun, sialnya justru dari cinta palsu yang di berikan Andaru malah menumbuhkan cinta yang sungguhan di hati Nala.


Ras sedih itu kembali lagi, andai kemarin dia memiliki kekuatan untuk membela dirinya. Dia tidak akan berakhir di tempat asing ini. Mungkin Andaru masih menjadi suaminya yang dia layani sepenuh hati.


"Apa yang kau lakukan?" Suara itu membuat Nala terkesiap dan buru-buru menghapus air matanyera Mengapa kau berada di sini, Oxley?" tanya Nala saat Oxley mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Bertanya kepadaku? Sudah jelas bahwa ini adalah kastel milikku bukan?" Nala hanya terdiam dan kembali mengalihkan pandangannya ke langit. "Memikirkan laki-laki itu lagi?" Oxley bertanya dengan Nada dinginnya.


"Apa yang kau tahu?" jawab Nala, membalas dengan pertanyaan. "Suamiku adalah yang terbaik."


"Jika yang terbaik, maka dia tidak akan membuangmu Nala." sergah Oxley.


"Dia hanya belum sadar, Oxley. "


"Dia tidak akan pernah sadar, Nala."


"Apa—"


"Dengar! " Oxley berkata dengan nada yang sedikit lebih tinggi membuat Nala terdiam seketika. " Lupakan, Nala. Bukankah kau tahu bahwa dirimu sama sekali bukan orang yang di cintainya sejak awal? Orang yang sebenarnya dia cintai hidup bersamanya. Sejauh apapun kau berusaha, jika dia tidak mengizinkan dirimu memenangkan hatinya maka kau tidak akan pernah mendapatkannya."


Air mata Nala meleleh mendengar penuturan Oxley. Benar, dia tidak dapat menafikan hal itu. Bukan Tesa, tapi dirinya sendirilah yang secara tidak langsung menghalangi kisah cinta antara dua orang yang saling mencintai dan memiliki. Hatinya sangat sedih, kesalahannya hanya satu. Yaitu membiarkan cinta tumbuh di tempat yang tidak semestinya.


Oxley memeluk Nala erat. "Di sini, di tempat inilah kau akan berusaha menjalani kehidupan yang baru." Nala terus menangis hingga sesenggukan, melepaskan segala macam emosinya. Oxley mengusap rambut Nala yang lembut untuk menenangkan, dia membisikkan sebuah mantra dan seketika sebuah cahaya berkilauan muncul dari tangannya, lalu beberapa detik kemudian cahaya itu redup. Tepat saat setelah itu, tubuh Nala menjadi lemas dan matanya terpejam. Dia tertidur. "Maaf, Nala." Ucap Oxley, lalu menggendong Nala dan membaringkannya di tempat tidur, membenarkan posisi selimutnya agar lebih nyaman.

__ADS_1


Oxley ikut berbaring di samping Nala dan memeluknya, deru napas Nala yang teratur begitu terdengar di telinganya. Mengecup kening Nala, dan dia pun memejamkan matanya.


__ADS_2