
"Nala, jaga wanitaku. Dia sedang mengandung," ucap Andaru datar. Rasanya, dia benar-benar tidak berarti apa-apa bagi seseorang yang di sebut suaminya itu. Nala hanya mengangguk dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Ingat!" lanjut Andaru memperingati. "Kalau dia sampai kenapa-napa, orang yang pertama akan aku salahkan adalah kau!" Andaru berhenti sejenak. " Keluargaku akan datang untuk menengoknya hari ini. Masak, dan persiapkan untuk kedatangan mereka dengan baik." Nala mengernyitkan keningnya, bingung.
"Kak, apa seluruh keluarga sudah tahu tentang semua ini?" tanya Nala. "Ya." jawaban singkat Andaru sungguh tidak terduga, bagaimana mungkin?
"Kenapa kakak, tidak pernah memberitahuku?"
"Dengar! Nala, di dalam pernikahan ini. Kau tidak boleh ikut campur dengan urusanku! patuhi saja perintahku." tegas Andaru.
Nala terdiam, mematung. Ini adalah kesekian kalinya dia merasa tidak tahu apa pun. Untuk apa Andaru menikahinya, dia tidak tahu. Berbulan-bulan terkurung di rumah ini, rasa-rasanya seperti sudah tiadak ada kehidupan yang lain di luar sana.
Andaru sudah pergi ke kantor setelah sarapan dengan Tesa. Sekarang, giliran untuk Nala mengisi perutnya yang sudah amat sangat lapar setelah dari shubuh hari bekerja. Saat baru saja hampir sampai di suapan pertama, tiba-tiba suara keras dan melengking memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Tesa. Nala bergegas menghampirinya.
"Nala! lelet banget sih," gerutu Tesa saat melihat Nala berjalan dengan santai dari kejauhan.
"Ada perlu apa?" tanya Nala datar.
"Nanti sore, gue mau cek kandungan sama Andaru. Setrikain baju gue sekarang!" perintah Tesa sambil menyodorkan sepasang baju. Nala menghela napasnya pelan.
"Tesa, ini masih pagi. Sore itu masih beberapa jam lagi, aku harus masak dan beres-beres rumah. Nanti aja ya?" Tesa mendengus kesal. "Ya itu urusan lo lah! gue mau bajunya di setrika sekarang!"
__ADS_1
"Ya sudah." Dengan lembut, Nala mengambil baju itu dari tangan Tesa lalu segera pergi. Tesa berdecak dan menghentakkan kakinya kesal, lalu masuk kembali ke dalam kamar.
***
Semua pekerjaan rumah sudah selesai, Nala lalu mulai berkutat di dapur, dia memasak makanan yang cukup banyak untuk menjamu keluarga Andaru. sudah hampir pukul 05.00 namun mereka belum juga datang, Andaru juga belum pulang. Ah, mungkin masih ada waktu untuk Nala mandi dulu sebelum menyambut kedatangan mereka. Nala membuka celemek yang di pakainya, tepat saat dia akan pergi ke kamar, suara bel yang ditekan berbunyi nyaring. Sambil sedikit merapikan rambutnya, Nala bergegas membukakan pintu.
Benar, mereka sudah datang. Nala sedikit terkekut karena ini jauh di luar eksepktasinya, hampir semua anggota keluarga dari pihak ayahnya Andaru datang. Nenek dan kakek, tante, paman, adik, juga ayah dan ibunya Andaru tentunya.
Nala tersenyum simpul kepada mereka, lalu mengulurkan tangannya kepada sang mertua. Namun, tidak di gubris sama sekali membuat Nala tertegun. Sungguh, ada apa dengan keluarga ini? Mereka dengan santainya melenggang masuk. Nala menundukkan kepalanya lalu menutup pintu saat semuanya sudah berada di dalam.
"Oh betapa cantiknya ibu hamil ini," puji ibunya Andaru sambil mengulurkan tangan kepada Tesa yang tersenyum simpul dari arah tangga. Hati Nala seakan di remas melihat pemandangan itu, bahkan keberadaannya di anggap tidak terlihat oleh mertua yang kala itu menyanjung dirinya dengan deretan kata yang terlalu manis untuk tidak menyentuh hatinya.
Nala menghampiri mereka. " Kalian mau minum apa? biar Nala buatkan. " Suara Nala yang tiba-tiba hadir di tengah perbincangan menyenangkan mereka tentang Tesa, membuat seluruh pasang mata tertuju ke arahnya. Bukan, bukan karena mata itu, tapi tatapannya yang seolah memandang rendah ke arah Nala yang membuat hatinya sedikit gentar.
"K-kalau begitu, Nala kebelakang dulu. " Dia pergi ke kamarnya dan duduk menghadap ke jendela, memandangi hutan pinus yang entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang di sana. Tidak se sejuk biasanya. Memang, sendiri adalah hal paling nyaman untuk sekedar melepaskan emosi yang tertekan. Kembali meratapi kesedihannya, apa yang tengah dilakukan oleh keluarga ini terhadapnya?
Handphone nya teronggok di atas nakas, sudah tidak dia sentuh selama berbulan-bulan. Entah kapan dan bagaimana nomor telpon seluruh anggota keluarganya tidak tersisa sedikitpun, bahkan selama ini dia tidak dapat menghubungi seluruh temannya. Handphone itu berfungsi namun tidak berfungsi. Tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi. Dia merasa hidupnya sudah di renggut paksa, namun tidak di hargai pula oleh si perenggut.
Suara ketukan pintu memecahkan lamunan Nala, dia mengusap air matanya perlahan dan membukakan pintu. Sesuai dugaan, Tesa berdiri di balik pintu itu sambil menyeringai. "Bagaimana, Nala? Sudah sadar? Lo gak di anggap di sini, " bisiknya di telinga Nala.
"Aku masih istrinya kak Andaru, Tesa." ucap Nala sambil menekan kata istri. Tesa terkekeh pelan. "Istri? Akan aku tunjukkan siapa istri sebenarnya, Nala. Bersiaplah," ucap Tesa sambil menepuk-nepuk pipi Nala, lalu beranjak pergi dari hadapan Nala.
__ADS_1
Tidak lama dari situ, suara keras dari Ibu Andaru memanggil Nala. Nala yang baru saja duduk kembali mengangkat tubuhnya. "Iya, Mah. Sebentar," jawabnya dengan lembut, dia menghampiri ibu mertuanya yang ternyata sedang menyantap makanan bersama seluruh anggota keluarga. Ya, tanpa repot-repot mengajaknya.
"Ambilin obat Kakek di kamar sebelahnya Andaru!" Nala mengangguk dan segera pergi mengerjakan perintah mertuanya itu. Rasa-rasanya kesabaran haru terus di pupuk dengan subur agar tidak habis begitu cepat.
Beberapa menit kemudian, Nala menemukan obat yang di carinya. Di depan tangga, seseorang sudah berdiri di sana. Siapa lagi jika bukan Tesa. " Menantu dan pembantu adalah dua hal yang berbeda, Nala. Dengan otak kecil lo itu, gue berharap lo ngerti."
Uh, entah apa yang di inginkan orang ini. "Tesa, tolong berhenti mengucapkan hal seperti itu." Tesa tertawa pelan sambil menyeringai. "Oh, kenapa? lo gak mau nerima bahwa sebenernya lo itu cuman di jadiin alat di rumah ini? "
"Maksud kamu apa, Tesa?" Suara tawa Tesa semakin keras, dia menghampiri Nala dan mengelus ujung rambutnya pelan, refleks Nala memundurkan badannya untuk menghindar. "Kasihan, lo berpikir Andaru nikahin lo karena dia suka? terus gue yang rebut Andaru dari lo? " tanya Tesa dengan nada sinis, Nala mengangguk.
"Lo salah! " bentaknya. "Lo, Nala. Lo yang ngerebur Andaru dari gue, dia harus nikahin lo sebelum nikahin gue pada akhirnya!"
Nala tertegun, "Kamu dan kak Andaru sudah menikah?"
"Ya!" jawabnya. Nala bergetar karena rasa sakit yang menjalar di ulu hatinya, dia benar-benar tidak tahu apapun. "T-tapi kenapa?"
"Karena wasiat berisi perjanjian gila antara kakek lo dan laki-laki tua bangka yang sayangnya adalah buyut dari Andaru itu membuat pernikahan gue dan dia terpaksa di tunda, juga harta warisan yang seharusnya adalah hak Andaru juga tertahan. Itu semua gara-gara lo!" Tesa memutari tubuh Nala yang sudah bergetar ketakutan sambil menatapnya dengan penuh amarah. "Apa lo tahu? gimana sakitnya hati gue waktu itu, Nala? Gue harus rela biarin orang yang gue sayang nikah sama cewek kampungan kayak lo! gue gak terima."
"Tesa, tapi aku gak tahu apa pun."
"Karena lo itu bodoh, Nala!" Suara tapak kaki melangkah ke arah tangga, dengan senyum liciknya Tesa menarik tangan Nala secara tiba-tiba hingga menghadap ke arahnya dan menjatuhkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tesa! " suara teriakan Andaru dan ibunya membuat Nala semakin terkejut. Dia langsung turun dai tangga dan menghampiri Andaru yang sedang berusaha menggendong Tesa. Dia membulatkan matanya saat melihat darah mengalir di kaki Tesa. Andaru yang sedang sangat panik memandang ke arah Nala dengan amarah. "Pergi dari rumah ini!"
Nala tertegun lalu menutup mulutnya, mencoba meredam suara tangisnya. Bukan aku, Kak! gumamnya dalam hati.