
Setelah selasai dengan ritual mandinya. Nala berjalan ke arah walk in closet, dan mendapati banyak sekali gaun-gaun yang Indah. "Darimana dia mendapatkan semua ini?" gumamnya. Dia mengambil salah satu gaun yang menurutnya cocok, berwarna pink pudar, modelnya yang simpel cukup santai hanya untuk berdiam diri. Setelah selesai mengenakan pakaian, dia menyisir rambutnya yang sedikit bergelombang itu dan membiarkannya tergerai begitu saja.
Tiba-tiba pelayan tadi menghampirinya. "Putri, silahkan duduk." ucapnya sambil menarik kursi yang berada tepat di samping dia berdiri. Nala menurut karena khawatir pelayan itu tersinggung jika terus di tolak, dia pun duduk. Pelayan itu mulai menyisiri rambut Nala dan menatanya rapih, juga membubuhi makeup tipis di wajah Nala. Rasanya sudah begitu lama sejak terakhir kali dia merias diri.
"Siapa namamu?" Tanya Nala kepada pelayan itu.
"Aleda, Putri." jawabnya, sedikit gugup.
"Oh, Ayolah. tidak perlu memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Nala. Hanya Nala saja."
"T-tapi ... ."
"Ini perintah!" ucap Nala menegaskan. Pelayan itu pun mengangguk. Setelah selesai, pelayan itu membawa Nala keluar kamar dan menuruni tangga. Sepanjang jalan, Nala terpesona dengan semua hal yang di lihatnya. Sudah jelas, tempat ini lebih mewah dan besar di bandingkan dengan rumah Andaru.
Mereka sampai di meja makan yang amat panjang dan besar, terdapat banyak sekali masakan yang terhidang di sana. Aleda menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Nala untuk duduk di sana. Nala ragu-ragu, dari semua masakan tidak ada satupun yang dia ketahui, makanan itu sama asingnya dengan tempat ini.
__ADS_1
Suara penjaga berteriak lantang. " Tuan Muda Oxley Tiba!" semua orang sontak berdiri tegap lalu menunduk, Nala yang tidak mengerti apapun hanya menoleh kanan dan kiri lalu mengikuti mereka.
"Sampai kapan kau akan terus menunduk seperti orang bodoh?" Nala mendongak dan melihat seseorang yang menolongnya semalam berada di seberang kursinya.
"M-ma-maaf Tuan." Oxley menyibakkan jubahnya lalu duduk. Memandang datar kepada Nala. "Duduk!" perintahnya, Nala menurut. "Makan!"
Nala mengerucutkan bibirnya, lalu mencibir, "So berwibawa banget."
"Aku mendengar." Nala menghela napas, lalu meraih makanan di depannya asal. Dengan sedikit kesal dia menyuapkan ke mulutnya dengan kasar. " Wlee!! Asam!" dia melepehkan makanannya kembali sambil sedikit meringis.
"Jadi, namamu Oxley?"
Laki-laki yang sedang membaca dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya melirik Nala beberapa detik, lalu kembali fokus. Nala berkeliling, melihat-lihat semua buku yang berjejer rapih di rak yang sangat tinggi dan besar. "Wah ... ." dia berdecak kagum melihatnya.
"Oxley, beritahu aku tentang tempat ini." Laki-laki itu menatapnya datar, Nala yang mendapat tatapan seperti itu menjadi sedikit kikuk. Benarkan? ini adalah tempat yang baru, bagaimanapun juga dia harus tahu di mana dia tinggal. Oxley tersenyum. "Kenapa kau tidak menanyakan pertanyaan yang sama pada suamimu saat itu?" Nala terdiam, pertanyaan yang seperti pernyataan yang di lontarkan oleh Oxley cukup menohok di hatinya. Dia lalu menunduk dan pergi keluar. Oxley melihat punggung Nala yang semakin menjauh, tatapannya sayu. Dia lalu kembali membaca deretan huruf yang berjejer di kertas yang dia pegang.
__ADS_1
Nala berjalan mengelilingi kastel, dia melangkah ke arah gerbang di bagian paling belakang kastel. Saat melihat ke belakang punggungnya, dia tersadar. Rupanya dia sudah berjalan cukup jauh. Kembali menatap gerbang kecil itu, tidak di kunci dan sudah sangat berkarat. Karena penasaran, dia pun membuka gerbang itu dan berjalan ke luar. Sepertinya tempat ini sudah di tinggalkan begitu lama, melihat banyaknya rumput liar yang di biarkan tumbuh hingga tingginya hampir sama dengan pundak Nala.
Saat sedang fokus menatap sekitar, bunyi gemerisik mengalihkan perhatiannya. Nala mencari asal suara itu dan ternyata seekor kucing kecil berbulu lebat muncul di balik semak-semak. Nala berusaha menangkapnya. Mengetahui ada seseorang yang sedang memburunya, kucing itu berlari jauh ke dalam tempat yang rumputnya lebih lebat. Karena rasa penasaran, Nala terus mengejar kucing itu hingga tak sadar telah jauh meninggalkan kastel. Hari sudah mulai gelap ketika Nala kehilangan jejaknya. "Miaw ... pssstt ... puss ... kucingnya kemana ya?" Nala masih terus berkeliling, sampai dia sudah merasa lelah, lalu dia duduk. Dia menyeka keringat yang membanjir hingga membasahi pakaiannya, mendongak ke langit. "Astaga! Sudah malam!"
Memutar kepalanya ke sekeliling, dia sama sekali tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Dia hanya tahu bahwa ini hanyalah hutan belantara, tapi kemana jalan untuk keluar dari sini? Seketika hatinya diliputi penyesalan, andai saja dia tidak tertarik mengikuti kucing itu, pasti sekarang dia tidak akan berada di sini. Nala melangkahkan kakinya sambil mengingat-ingat kira-kira arah jalan mana yang bisa membawanya kembali ke kastel.
Suara lolongan serigala terdengar dari kejauhan. Bagus, dia semakin ketakutan sekarang. Nala berlari, berharap terhindar dari para serigala lapar itu. Hutan semakin gelap, dan kakinya justru membawanya lebih jauh ke bagian terdalam dari hutan itu. Napasnya tersengal, dia lalu menjatuhkan dirinya di atas tanah berniat untuk istirahat, sama sekali tidak sadar bahwa bahaya sedang mengintainya dari belakang.
Lolongan serigala itu semakin kuat, dia refleks bangkit dengan napas terengah-engah dan membuat postur waspada. Dia terus memutar tubuhnya mencari sumber suara. Hingga tiba-tiba sesuatu berlari ke arahnya, nala berbalik ke belakang dan serigala itu sudah meloncat siap untuk menerkam. Nala menjerit ketakutan dan sambil merunduk dan berusaha melindungi kepalanya.
Hingga beberapa saat, tidak terjadi apa-apa. Dia mengintip dibalik celah tangannya, ternyata serigala itu sudah tergolek tak bernyawa.
Nala kaget, dia lalu melirik sosok jangkung yang juga menatap ke arahnya. "Oxley," gumamnya. Laki-laki itu menghampiri Nala, ekspresinya sulit di artikan. "Gadis nakal." Oxley berkata dengan sedikit geram.
Wajah Oxley menjadi merah, dan dan irisnya yang juga berwarna merah itu menyala-nyala. "Tidak bisakah kau berdiam diri dengan baik di kastel? aku membuat kastel sedemikian rupa indah dan kau malah berlari ke hutan belantara seperti ini. Jika kau di terkam oleh serigala itu, hidupmu bisa berakhir dengan konyol."
__ADS_1
Nala hanya melongo, Oxley berbicara sangat cepat. Dan dengan logatnya yang sedikit berbeda dengan Nala, dia tidak dapat menangkap perkataan Oxley dengan baik. Dia kenapa? tanyanya dalam hati. Nala menggelengkan kepalanya tak peduli, dia mengulurkan tangannya kepada Oxley, sedangkan laki-laki itu menatapnya bingung. Nala berdehem. "Te-terimakasih sudah menolongku lagi. Dan, maaf," ucapnya sedikit terburu-buru. Oxley mengangguk tanpa menjabat tangan Nala, dia hanya berdehem dan mengalihkan pandangannya ke sekitar. Nala mengerucutkan bibirnya. Tanpa di duga, Oxley memeluk tubuh Nala dan membawanya berteleportasi.