
"Pergi dari sini!" perintah ibu Andaru sambil melemparkan tas berisi barang-barang milik Nala.
"Ma, Nala bisa jelasin. Ini tidak seperti yang mama kira ... ," ucap Nala lirih.
"Sudah jelas! tidak ada yang bisa kamu jelaskan lagi Nala. Dari awal saya tidak sudi punya menantu seperti kamu!" teriaknya, semua orang yang melihat hanya terdiam menyaksikan Nala yang memohon untuk tidak harus pergi. Sebagian menatapnya dengan jijik.
"Putraku sudah membuat keputusan, jadi kamu sebaiknya pergi. Mulai saat ini, kamu bukan menantu keluarga ini lagi." Ibu Andaru menarik Nala ke depan gerbang lalu mendorongnya dengan kasar hingga tersungkur ke aspal. Tiga mobil mewah berjalan melewati gerbang, di dalamnya terdapat seluruh anggota keluarga Andaru. Ibu Andaru lalu mengunci gerbang dan masuk kedalam mobil, sebelum itu dia menendang tas milik Nala hingga tergeser dan menabrak tubuh Nala.
Dengan air mata yang terus mengalir, Nala berjalan gontai menjauhi rumah Andaru. Dia lalu berhenti dan berbalik, menatap bangunan yang beberapa bulan ini dia tinggali. Meski tidak ada kebahagiaan di dalam sana untuk Nala, namun ini adalah tempat di mana orang yang dia cintai tinggal. Memang sedari awal dia yang sudah tidak di inginkan, pada akhirnya tetap harus pergi juga.
Nala benar-benar tidak tahu jalan kemana pun di sini, dia di kurung selama beberapa bulan dan hanya keluar saat membutuhkan bahan makanan saja, dia terus berjalan dengan perut yang sudah sangat lapar. Seharian begitu sibuk hanya untuk menyambut kedatangan keluarga yang tidak memandangnya sebagai seseorang.
Entah mengapa, kakinya justru membawanya berputar ke arah hutan pinus di bagian belakang rumah. Nala masih belum menyadari itu, sampai dia sudah berada di tengah-tengah hutan, barulah dia sadar dan mendongak ke atas. Pepohonan yang besar dan rimbun menjulang tinggi seakan mengelilingi dirinya.
Hari sudah semakin gelap, Nala hanya mengandalkan cahaya bulan untuk menerangi langkahnya. Dia terus berjalan semakin dalam ke hutan, udara dingin membuat dirinya memutuskan untuk berhenti dan berlindung di bawah pohon besar yang di perkirakan sudah berusia ratusan tahun karena akarnya mencuat keluar sangat besar dan kokoh. Perutnya sangat sakit akibat lapar, dan tubuhnya sudah sangat lemas, dia lalu merebahkan dirinya di atas tanah, aroma rumput dan tanah yang lembab begitu terasa. Nala membuka tasnya dan mencari baju hangat dan kaus kaki untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah itu, dia bersandar kepada salah satu sudut akar pohon, memeluk lututnya dan mencoba untuk tidur.
"Aku meninggalkanmu untuk beberapa saat, dan kau sudah sampai sini saja, " ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dari semilir angin sepoi-sepoi. Dia menyunggingkan senyuman dan iris mata merahnya berbinar menatap Nala dengan pujaan. Dengan berhati-hati, dia mengangkat tubuh Nala dan membawanya pergi.
__ADS_1
***
Mereka tiba di sebuah kastel yang megah dengan arsitektur khas eropa di padukan dengan beberapa detail khas tionghoa, saat memasuki gerbang ada di bagian kiri dan kanan terdapat taman yang hijau di tumbuhi bunga lily putih yang semerbak wangi dan indah. Seluruh pelayan dan penjaga membungkuk melihat sang Raja datang, mata mereka melirik ke arah seseorang di dalam gendongannya. Wajahnya di sembunyikan. saat sang Raja sudah tidak terlihat oleh pandangan mata, mereka bertatapan satu sama lain. Apakah Ratu mereka sudah di temukan?
***
Nala terus bergerak-gerak dalam tidurnya. Setengah dari dirinya sudah sadar dari tidur, entah bermimpi atau apa dia merasakan kenyamanan dalam tidurnya. Hangat, empuk, dan wangi. Dia membuka matanya sedikit demi sedikit, matanya yang masih buram menagkap siluet seseorang. Pencahayaan di kamar itu remang-remang, Namun masih cukup jelas untuk melihat apa dan siapa. Dia mengucek matanya perlahan dan mengerjapkannya sampai terasa pengkihatannya jelas dan benar saja! Nala menatap seseorang itu, seakan terhipnotis oleh iris berwarna merah itu. Indah pujinya dalam hati
"Apa kabar." Nala tertegun sejenak. Suara itu, rasanya dia mengenalnya.
"Kau melupakanku? My Dear? " ucapnya sambil menyunggingkan senyum. Bibir Nala menganga, dia buru-buru menutupnya.
"Mengapa tidak nyata?" Nala termenung sejenak, menepuk-nepuk pipinya dan memejamkan matanya lalu bergumam, "Bangun, bangun Nala, bangun." Setelah itu membuka matanya kembali dengan cepat tetap saja, dia masih berada di sini. Masih tidak percaya dia lalu mencubit tangannya dengan sangat keras hingga terasa sakit dan kulitnya memerah. Bibirnya semakin ternganga. "Jadi ini nyata?"
"Sudah ku beri tahu dari awal," ucap laki-laki itu.
"Bagaimana bisa? Dan di mana ini? Kau siapa?"
__ADS_1
"Kau akan segera mengetahuinya, Sayang." Laki-laki itu meraih gagang pintu dan pergi. Nala turun dari ranjang lalu menyadari bajunya sudah di ganti dengan gaun panjang berwarna putih polos. Sedikit ngeri saat mencoba menerka-nerka siapa gerangan yang menggantinya tanpa di ketahui. Berjalan ke arah jendela besar tanpa kain yang menutupi, seakan mebiarkan cahaya bulan ikut masuk menerangi. Nala merasa begitu asing tak asing di tempat ini, dia mencium aroma yang familiar di sekeliling rumah tempat ini. Memadang ke luar, bangunan ini cukup tinggi, dari bahan bangunan, arsitektur, dan segala macamnya dapat di pastikan bahwa ini adalah sebuah kastel.
Dia merasa bingung, takut, dan asing. Namun, aroma familiar itu membuatnya sangat nyaman. Rasanya seperti berada jauh dari dunia tempat asalnya. Mengingat hal itu, dia kembali menundukkan wajahnya sedih. Bagaimanapun, ada hati yang tertinggal sebelum sempat dia miliki. Nala tidak tahu dirinya akan tinggal berapa lama di tempat ini. Mungkin sampai dirinya mendapat pekerjaan?
***
Pagi yang cerah, Biasanya Nala akan terbangun shubuh sekali. Tapi hari ini berbeda, mentari sudah sangat cerah dan dia baru membuka mata. Tidur yang sangat nyaman dan nyenyak, hingga saat terbangun tubuhnya segar dan rileks. Nala tersenyum sampai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, lalu membukanya. Seseorang itu berjalan menunduk menghampiri Nala, dia memakai baju khas seorang pelayan.
"Putri, saatnya untuk membersihkan tubuhmu." Nala mengangguk lalu turun dari ranjang, pelayan itu segera menghampiri Nala dan memegang bajunya.
"Ka-kamu mau apa?"
"Membantumu melepaskan pakaian, Putri." Nala mengerutkan keningnya heran. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."
"T-Tapi ini sudah tugas saya."
"Tidak perlu, kau tunggulah di situ. Jangan sampai ada orang lain yang masuk sampai aku selesai mandi."
__ADS_1
"Baiklah, Putri."
Nala menggaruk kepalanya bingung, pertama pelayan itu memanggilnya putri, lalu ingin membantunya melepaskan baju saat mandi? Oh meski sama-sama perempuan rasanya hal itu membuat dirinya sangat malu. Sebenarnya tempat macam apa ini?