Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny
Perjalanan rahasia


__ADS_3

Stella tahu takdir kadang suka mempermainkan seseorang. Suasana yang sebelumnya tenang, kini berubah. Sebagai orang yang terjebak dalam situasi membingungkan ini, Stella hanya bisa terdiam.


Kali ini, apa lagi?


Jujur saja, ini sama sekali tidak lucu. Dari sekian banyak orang yang ingin Stella temui, kenapa ia harus bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini?


...~o0o~...


Di bawah gemerlap lampu dan meriahnya suasana pesta, Stella berjalan anggun menuju balkon sambil membawa secangkir wine di tangannya. Suasana pesta yang penuh sesak membuatnya sedikit lelah. Terlalu banyak tersenyum membuat pipinya terasa berdenyut. Tidak hanya itu, kaki Stella yang harus bertahan selama berjam-jam menghadapi para Hyena lapar itu, tentu saja juga tidak kalah tersiksa.


"Ini melelahkan," keluh Stella sambil melepaskan sepatu hak tinggi yang sedari tadi sangat ingin ia singkirkan. Menyandarkan setengah bagian tubuhnya ke pagar pembatas, Stella menegak pelan wine yang sengaja ia bawa.


"Para Hyena itu selalu saja berusaha menancapkan cakar mereka padaku."


Cairan berwarna merah keunguam yang berderak ketika cangkir diputar pelan, Stella perhatikan. Kedua netra berwarna sebiru lautan miliknya, menatap lekat setiap gerakan halus dari wine, setiap kali cangkir diputar.


"Bagaimana caraku menyingkirkan mereka, ya?"


Sebagai satu-satunya Nona Muda yang terlahir di keluarga Vandesca, Stella selalu menjadi target para orang tua setiap kali ia menghadiri pesta.


"Akhir-akhir ini, mereka sedikit kelewatan."


Stella tahu, dengan menikahinya hidup pria yang menjadi menantu keluarga Vandesca akan sepenuhnya berubah. Menjadi salah satu anggota keluarga Vandesca? Jelas, itu menggiurkan. Hanya orang bodoh yang berani melewatkan kedudukan berharga, di dalam keluarga berpengaruh yang merupakan salah satu dari empat penopang kekaisaran Ormanda.


"Sudahlah, untuk apa aku memikirkannya. Tanpa perlu diminta, aku yakin Kak Orfeo pasti sudah menghalangi lamaran yang memuakkan itu."


Pada akhirnya, upaya yang bisa Stella lakukan hanya menolak sekeras yang ia bisa. Selama surat lamaran yang terus masuk ke meja kerja kakaknya itu selalu berakhir menjadi bahan bakar perapian, Stella hanya perlu memberikan penolakan paling menohok, ketika para Hyena itu mengerubungi secara langsung dirinya.


"Taman kediaman ini indah juga."


Mengalihkan perhatiannya dari cangkir wine, Stella memperhatikan secara saksama taman mawar berbagai macam warna yang terhampar di bawahnya. Aroma semerbak khas mawar yang terbang bersama sapuan angin, berhasil menenangkan sebagian kelelahan batin Stella.


"Haruskah aku meminta pada Kak Orfeo untuk membuatkan taman seperti ini juga?


Selama ini taman keluarga Vandesca hanya di isi oleh tanaman biasa, tidak ada bunga. Mempertimbangkan orang yang memiliki alergi serbuk sari kini telah tiada, agar suasana kediaman tidak lagi terasa suram, Stella pikir ia harus mempertimbangkan rencana merombak taman untuk didiskusikan pada Orfeo, kakak keduanya.


"Tidak terasa, sudah dua tahun berlalu, ya ...."


Stella menghembuskan napas pelan. Suasana yang perlahan berubah dingin, membuatnya teringat kenangan buruk saja.


"Ulang tahun dan kematian Kak Fabian."


Waktu yang terus berjalan setelah kematian Fabian, kakak tertua mereka–Stella dan Orfeo–masih terbayang jelas dalam benak Stella. Hari itu, Fabian pergi seperti biasa. Sebagai seorang ketua penyelidik dari timur sekaligus pewaris keluarga, sudah menjadi tugas Fabian untuk memastikan keamanan tanah kelahirannya.


Tidak ada yang aneh hari itu. Semua berlalu sebagaimana hari-hari sebelumnya nan indah. Stella yang suka menyelinap pergi, Orfeo sibuk mencari keberadaan Stella, lalu para pelayan dengan segudang pekerjaan nan menumpuk karena sebentar lagi akan diadakan pesta ulang tahun sang Nona Muda.


Kediaman Vandesca dua tahun lalu sangat ramai. Saking ramainya suasana tersebut, Stella bahkan menertawakan Orfeo yang kewalahan dalam mengejar jejaknya. Namun, tidak seperti orang-orang yang begitu menantikan dengan antusias hari ulang tahun Stella, mereka semua justru dikejutkan oleh kedatangan Fabian dengan tubuh bersimbah darah.


"Aku tahu, Kak Fabian suka memberikan kejutan. Tapi, kejutan Kakak yang terakhir kali aku pikir sedikit keterlaluan," gumam Stella, sambil tertawa kecut. Sebisa mungkin, ia mencoba menahan air mata yang ingin meluncur bebas dari sudut matanya.


"Padahal Kakak berjanji ingin memberiku hadiah terbaik. Mengapa Kakak justru memberikan hadiah terburuk yang bahkan tidak pernah aku bayangkan?"


Bersama embusan angin, Stella membiarkan sang bulan menjadi rekan berkeluh kesahnya. Tidak ada yang menginginkan kematian, tentu saja. Bahkan, untuk Stella sendiri yang bisa mengintip sedikit goresan kehidupan orang lain melalui kemampuan benang merah miliknya–serupa milik sang Kakak tertua.


"Dasar, Kak Fabian bodoh."


Stella ingat betapa gemetar tubuhnya dan Orfeo ketika melihat tubuh Fabian yang dipenuhi oleh luka. Wajah sang Kakak yang kelewat pucat hampir menyerupai salju yang sedang turun waktu itu, benar-benar menjadi pemandangan mengerikan di tengah suasana kediaman yang cerah dan hangat.


"Seandainya kehidupan berikutnya itu benar-benar ada, ketika Kakak terlahir kembali, biarkan aku memukul kepalamu itu sekali lagi saja!"


Sebagai ganti dari menahan tangis, Stella berteriak. Walau teriakan tersebut masih tertahan karena ia melakukannya dengan tanpa suara, Stella lumayan merasakan sedikit kelegaan. Meski perasaan sesak tidak terangkat sepenuhnya, itu sudah cukup. Stella tidak bisa membiarkan reputasi yang selama ini ia bangun rusak begitu saja. Tidak selama tempat ini bukan kediaman Vandesca yang sudah terjamin keamanannya.


"Kalau keajaiban seperti itu benar-benar ada, aku pastikan Kakak menerima pukulan terkuat milikku," ucap Stella sambil mengepalkan sebelah tangannya. Ia membayangkan wajah kakak menyebalkannya itu kesakitan atas pukulannya yang tidak seberapa.

__ADS_1


"Sudah cukup, Stella. Tidak ada gunanya mengumpat kepada orang yang sudah tiada."


Stella menarik napas lalu membuangnya perlahan. Kalau ia membiarkan wajah kakak tertuanya itu terus memenuhi kepalanya, yang ada Stella hanya akan terus dihantui oleh rasa bersalah.


"Hei, apa kau sudah mengetahuinya? Aku dengar di pelelangan kali ini terdapat artefak mengandung sihir yang dijadikan sebagai barang utama."


Percakapan tidak biasa dari balkon sebelah, menarik perhatian Stella. Agar ia tidak terlalu kentara sedang menguping, ikut memperhatikan dengan serius kata demi kata yang keluar dari mulut mereka, Stella berpura-pura mabuk. Stella terus menerus menyesap secara perlahan wine yang masih tersisa di cangkirnya.


"Aku sudah mendengarnya. Bukankah lelang kali ini diadakan di toko kue yang baru saja buka?"


Informasi demi informasi, Stella kumpulkan. Sebagai seseorang yang suka melarikan diri diam-diam selama ini, tanpa perlu banyak menerka, Stella sudah dapat mengetahui posisi dari toko yang orang asing itu maksud.


Ini menarik.


Stella tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Jujur saja, sudah lama Stella menunggu mendapatkan informasi yang berhubungan dengan artefak–benda kuno mengandung sihir dari masa lampau. Rahasia apa yang disimpannya? Keajaiban apa yang pernah ada di masa lalu? Sungguh, Stella sangat menyukai sisi misterius dari artefak, bukti bahwa sejarah itu ada.


Berikan kue manis yang bisa membuatku gila.


Kata sandi yang tidak sengaja ia dapatkan itu, Stella ulang secara terus menerus dalam kepalanya. Merasa tidak ada lagi hal penting dari kedua orang itu berguna untuknya, Stella memutuskan pergi dari balkon disertai ekspresi cerah.


...~o0o~...


Sudah dua hari berlalu sejak Stella mendapatkan sesuatu yang menarik di tengah pesta nan membosankan. Dalam rentang waktu yang begitu singkat, hal itu tentu saja tidak menjadi penghalang bagi Stella untuk menyiapkan barang yang ia perlukan.


"Kalung berisi sihir penyamaran, jubah sepanjang lutut, lalu cek kosong dengan lambang keluarga."


Sama seperti sebelumnya, dalam misi penyelinapan kali ini Stella juga menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa dengan penuh perhatian.


Mulai dari pakaian yang nyaman untuk digunakan, kantong uang demi pengeluaran tidak terduga, dan tidak lupa sedikit camilan lengkap beserta minumnya. Stella menyiapkan semua itu sendirian, diam-diam tanpa ketahuan oleh Orfeo, kakak keduanya.


"Bagus. Tidak ada yang tertinggal," ucap Stella, penuh rasa puas karena tidak ada satu pun barang terlewat. Memakai jubah yang ia letakkan di atas ranjangnya, Stella memperhatikan penampilannya di cermin yang memiliki ukuran setinggi laki-laki dewasa.


"Untuk berjaga-jaga, mari sembunyikan rambut berwarna mencolok ini."


"Sempurna."


Menggunakan kalung berisi sihir penyamaran sebagai persiapan terakhir, Stella sekali lagi memeriksa penampilannya.


Di dalam cermin, kini tidak ada lagi pantulan dari seorang Nona Muda. Tidak ada gaun, begitu juga perhiasan penuh gemerlap. Meskipun wajah cantik Stella masih terlihat jelas, dengan balutan pakaian sederhana berupa kemeja berlengan panjang lalu celana hitam dan sepatu sebatas mata kaki, Stella yakin tidak akan ada yang mengira ia sebenarnya berasal dari keluarga terhormat.


"Mari pergi!"


Membayangkan betapa banyak artefak yang bisa ia temukan di tempat lelang, membuat Stella tak henti-hentinya tersenyum lebar. Karena selama ini kakaknya sudah bekerja keras demi mensejahterakan hidup mereka, sebagai adik yang baik Stella tentu tidak boleh menyia-nyiakan uang hasil dari jerih payah dari seorang Orfeo, kakaknya tercinta itu, kan?


Aku akan menghabiskan uang yang Kakak berikan. Jadi, jangan temukan aku dengan cepat, mengerti?


Stella melambaikan tangannya ke arah jendela yang masih memantulkan cahaya. Walaupun Stella tahu kemarahan yang kakaknya perlihatkan lumayan mengerikan, hal itu tidak akan menjadi penghalang bagi Stella. Selama Stella bisa mendapatkan artefak dan bahkan mungkin lingkaran sihir kuno yang kini tidak lagi bisa digunakan secara leluasa, Stella tidak akan keberatan untuk mendapat seribu nasihat setelahnya sebagai harga dari kebebasan.


...~o0o~...


Serangan monster. Mungkin kalau berita itu tersebar di wilayah empat Duke, berita tersebut terdengar biasa saja. Berbeda dari ibukota yang berada di tengah-tengah perlindungan empat keluarga, wilayah masing-masing Duke yang menopang kekaisaran, lumayan rentan mendapatkan serangan.


Bukan tanpa alasan empat wilayah keluarga Duke rawan diserang. Medan berupa gunung, hutan, maupun jurang yang berdampingan dengan masing-masing wilayah, merupakan tempat tinggal dari para monster.


Vandesca pemilik timur, wilayah yang dikelilingi oleh bukit bertebing curam. Parodio daerah barat yang berdampingan dengan jurang nan dalam. Cassie yang terkenal akan tanah bersalju berbahaya, lalu tidak lupa Balges dengan hutan berkabutnya yang bisa membuat seseorang berhalusinasi. Tidak ada yang aneh dengan adanya berita serangan dari keempat wilayah tersebut. Sebab, tempat yang dijaga itu memang berdampingan langsung dengan tempat tinggalnya para monster.


Akan tetapi, bagaimana jika itu ibukota? Berbeda dari wilayah empat keluarga Duke, ibukota jelas sangat aman. Bagai anak yang sudah dilindungi dari berbagai sisi, tidak ada alasan bagi rakyat ibukota untuk menemui situasi berbahaya seperti keempat wilayah lainnya.


Aman, tenang, dan terlindungi. Ibukota Ormanda seharusnya memiliki kemungkinan paling tipis terjebak dalam situasi yang memaksa penghuninya menemui situasi antara hidup dan mati. Lalu, mengapa bisa monster tiba-tiba melakukan serangan?


Di saat empat wilayah melaporkan situasi paling tenang mereka, ibukota secara aneh mendapatkan serangan.


Tidak ada yang mengetahui apa penyebab dari penyerangan para monster di ibukota baru-baru ini. Entah itu para penyihir menara ataupun para kesatria terlatih kekaisaran Ormanda. Mereka semua sangat terkejut saat mendapatkan kabar tidak masuk akal itu.

__ADS_1


"Felix!"


Teriakan dari seorang laki-laki berambut hitam disertai gebrakan kasarnya saat membuka pintu, berhasil membuat Felix selaku pemilik ruangan tersentak. Kehadiran tanpa adanya sopan santun itu, benar-benar hampir saja membuat jantung Felix melompat, berhenti berdetak karenanya.


"Davion. Tolong ketuk pintu dengan benar," tegur Felix, ketika ia sudah berhasil menguasai dirinya. Kedua netra hijau Felix, menatap lelah Davion.


"Mau berapa kali kau akan bertindak seenaknya seperti ini? Kau tidak bermaksud menyia-nyiakan sopan santun yang sudah susah payah dipelajari itu, kan?"


Felix menggelengkan kepalanya sambil sesekali mengelus dahinya yang mengerut. Felix sangat mengantuk. Kekurangan tidur membuat laki-laki itu mulai merasa sensitif terhadap sekitar.


"Ya. Aku akan melakukannya, tapi dengan syarat lepaskan pembatas sihir di ruangan ini," jawab Davion, sambil menunjuk lantai ruangan Felix yang bertuliskan pola sihir nan rumit. Dengan adanya sihir pemblokir ini, Davion selaku sosok yang sering mendapat panggilan, merasa tersiksa. Sudah, cukup Felix saja yang suka merepotkan diri sendiri. Davion tidak ingin dirinya ikut mati konyol karena kelelahan dengan sebab tidak bisa menggunakan sihir teleportasi.


"Atau kau ingin tangga milikmu itu saja yang hilang? Kalau memang begitu, aku akan merobohkannya dengan senang hati untukmu."


Berbeda dari Felix yang bersikap tenang sambil menahan kantuk, Davion bernafas dengan tidak beraturan. Menaiki seribu anak tangga demi menerima laporan ini, tidak mudah. Davion bahkan takjub dengan dirinya sendiri karena mampu bertahan di saat seluruh tenaganya hampir mencapai batas.


Ah. Aku hampir mati.


Padahal Felix memiliki kekuatan tidak kalah besar dari Davion. Tapi, karena prinsip 'biarpun penyihir kita tetap harus olahraga' miliknya itu, selaku sosok tertinggi para penyihir, Felix tanpa sadar sudah ikut merepotkan penyihir lainnya.


Davion yang sering mendapatkan panggilan dari Felix, jelas keberatan dengan pendapat membebani dari pemimpin para penyihir yang satu itu. Memang, memasang sihir pemblokir itu bagus. Felix yang ingin merepotkan dirinya dengan menaiki seribu anak juga, tidak masalah. Tapi! Itu tidak bisa diterapkan di menara, tempat di mana para penyihir berkumpul ini.


Waktuku yang berharga.


Waktu yang terbuang percuma saat ingin memberikan laporan, juga sangat Davion sayangkan. Di saat orang lain sudah menerima tugas masing-masing, Davion tidak percaya ia harus terseok-seok dulu, baru bisa menerima laporan penting mengenai tugasnya sebagai seorang penyihir, hanya karena pemimpin mereka ini memiliki kantor di puncak menara.


"Jadi? Apa yang ingin kau katakan? Aku harap kau memanggilku untuk urusan penting," tanya Davion sambil mengacak-acak rambut pendek berwarna hitam miliknya. Kedua netra segelap malam Davion menatap datar Felix.


Davion harap, apa yang ingin Felix sampaikan setimpal dengan rasa lelah yang ia keluarkan. Kalau tidak, Davion benar-benar akan memikirkan dengan serius rencana untuk menghancurkan tangga dari ruangan ini, agar ia tidak perlu bersusah payah lagi di masa depan.


"Oh! Aku—"


"Kau sudah membuang percuma tenaga milikku. Kalau kau berani menyampaikan omong kosong, aku benar-benar akan melenyapkan tangga sialmu itu."


Biarpun Felix mengantuk, sifat usilnya itu tidak hilang. Karena Davion tahu, mengerjai orang lain terasa bagai vitamin bagi Felix, Davion sengaja memotong perkataan yang akan keluar dari mulut Felix dengan ancaman.


"Berikan aku berita pentingnya atau terjun bebas selama sisa hidupmu. Pilih salah satu," ucap Davion sambil berusaha tersenyum semanis yang ia bisa. Sesuai apa yang Felix katakan sebelumnya, Davion menggunakan hasil dari pelajaran sopan santun yang sempat ia kuasai di masa lalu.


"Jangan mengancam dengan wajah mengerikan dan pertahankan ketenangan. Orang yang kehilangan kesabaran paling awal, maka dialah yang kalah. "


Itulah salah satu etiket bangsawan di dunia sosial yang Davion tahu. Walaupun pelajaran itu kini menjadi kenangan masa lalu, pelajaran paling sulit untuk dikuasai itu masih melekat erat di kepala Davion.


"Untung saja aku memungutmu di saat belum menguasai sepenuhnya pelajaran sopan santun. Kalau tidak, aku yakin kau akan menjadi monster. Asal kau tau, senyumanmu itu terlihat mengerikan, Davion."


Tidak bersikap kurang ajar selama satu hari saja, maka itu bukan Felix. Meski Davion juga mengakui perkataan Felix mengenai senyumannya yang mengerikan, Davion tetap saja merasa kesal saat mendengar tanggapan yang seperti itu.


"Cepat katakan alasan kau memanggilku ke tempat ini, Felix," pinta Davion, mengabaikan godaan dari Felix.


Bagi Davion, Felix itu iblis, bukan penyihir. Kalau Davion membiarkan dirinya tersulut oleh emosi, Davion yakin godaan yang akan ia dapatkan selama beberapa minggu ke depan akan jauh lebih parah dari hari ini.


Jadi sebelum Felix menahannya terlalu lama dan mendapatkan berbagai macam ide baru untuk mengusiknya, Davion harus memastikan ia mendapatkan tugas miliknya dengan cepat, agar bisa terbebas dari sifat menyebalkan Felix–Ayah angkat sekaligus atasannya ini.


"Aku akan menunjukmu sebagai perwakilan penyihir."


Menyerah, Felix yang tidak dapat menemukan sedikit pun sisi goyah dari Davion pada akhirnya menyampaikan alasan mengapa laki-laki berambut gelap itu dipanggil. Sambil menjetikkan jarinya, Felix berkata, "Mulai hari ini para penyihir secara resmi menerima kerja sama dengan pihak kekaisaran. Davion Jovaan, aku memilihmu sebagai perisai para penyihir. Pergilah dan selesaikan tanggung jawabmu itu dengan baik." Tanpa ada sedikit pun raut konyol yang tersisa. Kedua mata hijau Felix, menatap penuh keseriusan Davion yang ada di depannya.


Mengambil surat yang melayang di depan wajahnya, Davion memperhatikan lambang mahkota dikelilingi oleh bunga lili yang terdapat pada cap surat. Tidak perlu Felix jelaskan lebih rinci lagi pun, Davion sudah dapat meraba isi dari surat itu.


Lambang resmi dari kaisar. Pola yang mewakili seluruh Ormanda. Kalau sampai kaisar sendiri yang memberikan surat ini, maka Davion dapat menebak situasi di ibukota saat ini benar-benar genting. Davion tidak boleh menganggap remeh tugas yang menyangkut hidup banyak orang ini.


"Bulannya para penyihir, sebagai sosok yang berada di bawahmu, saya menerima perintah ini dengan senang hati dan akan saya pastikan misi ini berhasil sehingga bisa membawa keselamatan bagi orang banyak."


Davion mengubah cara perkataannya menjadi lebih formal. Dengan mengatakan sumpah seorang penyihir, maka kini Davion secara resmi sudah menjadi seorang perwakilan. Di bawah pengawasan Felix selaku pemimpin para penyihir, Davion mengambil tanggung jawab tidak hanya untuk dirinya, tapi juga seluruh rakyat maupun sosok terpandang Ormanda.

__ADS_1


__ADS_2