Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny
Teman lama


__ADS_3

Selama pencarian yang begitu melelahkan, seluruh ibukota sudah Orfeo acak-acak. Namun, bukannya mendapati keberadaan sang Adik, Orfeo justru mendapatkan banyak kabar kurang menyenangkan.


Para kesatria yang dikerahkan dengan tampilan penyamaran mereka datang silih berganti. Selalu mendapatkan kabar bahwa tempat lelang yang ditandai sudah menghilang, Orfeo tidak menemukan Stella di mana pun. Ia tidak mendapatkan satu pun jejak Stella di tempat yang sudah ditandai Kaisar.


"Kau ada di mana Stella!?"


Orfeo mengacak rambut pirangnya penuh rasa frustrasi. Satu jam pencarian yang masih belum membuahkan hasil ini, semakin memperbesar firasat buruk yang ia rasakan. Sebelum melihat wajah Stella, Orfeo tidak bisa merasa lega. Sebelum mencubit adiknya itu, ia tidak boleh menyerah begitu saja.


Apakah aku sudah terlambat?


Pikiran buruk yang melintas itu, Orfeo tepis secepat mungkin dari kepalanya. Selama belum ada kabar pasti, Orfeo harus mempercayai kemampuan melarikan diri adiknya yang merepotkan itu.


Dia pasti bersembunyi di suatu tempat. Dikarenakan rasa lelah, Stella pasti sedang beristirahat.


Orfeo mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimanapun, Stella itu gadis yang cerdas. Bisa membaca situasi dan tahu harus melakukan apa, Orfeo mencoba percaya adiknya mungkin saja sedang bersembunyi di suatu tempat.


"Kau bisa menghentikan pencarian ini sekarang, Orfeo."


Perkataan tenang seseorang, mengalihkan perhatian Orfeo dari para kesatria yang membaur bersama keramaian.


"Tapi, Tuan! Adik saya, di—"


"Lihatlah ke arah jam 3. Nona Muda Vandesca sudah kembali bersama penyihir menara," sela laki-laki itu sambil melirik sosok yang dimaksud. Menepuk pelan bahu Orfeo, ia memberi isyarat kepada Orfeo untuk segera mendekati dua orang yang baru saja bergabung itu.


"Aku akan mengambil alih komando para kesatria. Pergilah. Pastikan kau mengumpulkan informasi dari penyihir itu dan kembali saat sudah menemukan petunjuk."


Laki-laki itu memberikan izinnya. Sebagai atasan Orfeo, ia menunjukkan sikap yang lumayan murah hati.


"Saya akan segera kembali. Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Pangeran."


Perasaan lega, senang, maupun khawatir yang kini bercampur menjadi satu membuat Orfeo tidak lagi memedulikan panggilan yang berubah. Segera berlari tepat setelah menundukkan kepalanya sebagai ungkapan hormat, Orfeo meninggalkan sang pangeran sendirian menggeleng penuh rasa tidak percaya di belakangnya.


"Saat bersama adiknya, dia seperti orang lain," ungkap sang pangeran, masih memperhatikan tangan kanannya yang berlari.


Jauh berbanding terbalik dari kesan serius yang selalu melekat erat, baru kali ini pangeran itu melihat ekspresi lain dari seorang Orfeo yang selama ini terkenal dengan sikap dinginnya.


...~o0o~...


Stella yang terus memuntahkan darah biarpun sedang tidak sadarkan diri ini, sedikit membuat Davion kesulitan membawanya.


Tidak peduli seberapa keras Davion berusaha menyembuhkan Stella dengan sihir penyembuh yang ia kuasai, Davion sama sekali tidak berhasil menghentikan luka tak terlihat yang ada pada Stella.


"Kenapa Stella bisa seperti ini, Davion?!"


"Dia sudah seperti ini saat aku menemukannya," jawab Davion atas pertanyaan Orfeo.


Laki-laki berambut pirang yang sudah Davion sadari keberadaannya semenjak sudah berpindah tempat itu, dapat Davion lihat memasang ekspresi cemas yang sama dengannya. Tidak kalah dari penampilan kacau Davion yang dipenuhi oleh darah Stella, penampilan Orfeo bahkan bisa dibilang terlihat lebih buruk.


Mengenakan pakaian santai yang tipis dan juga sandal rumahan, Orfeo tidak terlihat seperti seorang tangan kanan pangeran kedua yang terkenal akan profesionalitasnya.


Sepertinya surat Kaisar sampai lebih lambat padanya.


Menilai penampilan Orfeo yang berantakan, Davion dapat mengetahui seberapa terburu-buru Orfeo mencoba mencari adiknya. Namun, tidak peduli seberapa cemas Orfeo saat mengetahui Stella menghilang, Davion pikir sedikit berlebihan pergi keluar tanpa sempat mengambil mantel di malam yang dingin ini.

__ADS_1


Yah, dia tidak pernah berubah.


Dengan wajah lesu dipenuhi jejak keringat, disertai rambut acak-acakan, dibanding seseorang yang ditunjuk Kaisar untuk menyelesaikan kekacauan, sekarang Orfeo terlihat seperti penyebab kekacauan baru bagi Davion. Sangat meresahkan bagi para perempuan yang masih berlalu lalang, penampilan kacau Orfeo saat ini berhasil memancing perhatian yang tidak perlu ke arah mereka.


Padahal kami baru bertemu, tapi dia malah memberiku pekerjaan baru.


Setelah sekian lama tidak bertukar sapa, Davion tidak percaya ia harus membereskan sisa kecerobohan Orfeo di pertemuan mereka. Tidak peduli seberapa hebat Davion dalam menggunakan sihir, memanipulasi ingatan banyak orang sekaligus itu cukup merepotkan. Seandainya Orfeo bukan orang yang ia kenal dan misi baru mereka tidak bersifat rahasia, Davion tentu tidak akan membuang mana miliknya secara sukarela seperti sekarang ini.


Kalau ada kesempatan, aku akan meminta bayaran terpisah nanti.


Davion memperhatikan kedua netra biru Orfeo dengan pandangan datar. Ia menuruti permintaan Orfeo untuk menyerahkan Stella yang sedari tadi berada dalam pangkuan kepada laki-laki itu.


"Kau tidak keberatan aku mampir ke rumahmu, kan? Aku pikir kita perlu membicarakan hal ini lebih jauh," ucap Davion saat sudah memastikan Stella berada dalam posisi aman di gendongan Orfeo.


"Aku juga tidak ingin menunda-nunda, jadi kau bisa membawa kita pergi sekarang."


"Baiklah. Mari pergi."


Begitu izin sudah didapatkan, Davion langsung saja mengaktifkan sihirnya. Mengukir lingkaran berisi pola yang cukup untuk memuat lima orang dengan mana, Davion mengirim mereka semua ke kediaman Vandesca yang ada di ibukota dalam satu kedipan mata.


...~o0o~...


Tekstur empuk dari kasur dapat Stella rasakan dengan baik di balik punggungnya. Sekarang sudah mulai pulih, walau masih ada beberapa sensasi menusuk yang tersisa di tubuh, kondisi Stella saat ini jelas jauh lebih baik dibanding sebelumnya.


Aku pingsan.


Apa yang telah terjadi di ruang lelang ... Stella tidak dapat mengingat semuanya.


Aku yakin saat itu tubuhku terasa aneh.


Selain rasa sakit dan panas seperti terbakar, semua yang terjadi setelah itu terasa samar di ingatan. Kenapa ia bisa selamat, bagaimana ia bisa sampai di tempat yang aman, ataupun siapa sosok yang sudah menyelamatkannya, Stella sendiri pun, sangat ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.


Aku harus bangun. Kalau tidak—


"Jadi? Apa kau ingin bilang kalau monster yang menyerang itu dikendalikan oleh seseorang?"


Suara percakapan yang baru saja terdengar jelas di telinga, mengurungkan niat Stella untuk membuka matanya.


Tidak. Stella tidak bermaksud menguping. Cukup familier dengan suara nan berat itu, satu pertanyaan Stella yang sedari tadi memenuhi kepalanya, terjawab sudah.


Ah, ternyata Kak Orfeo yang menyelamatkanku.


Menilai dari udara sekitar yang terasa cukup berat, Stella yakin kakaknya itu sedang bersama dengan seseorang. Berdiskusi mengenai keanehan pola serangan monster di ibukota, saat mendengar pendapat kakaknya itu, Stella menyadari mereka memiliki satu kecurigaan yang sama.


Penyerangan di ibukota memiliki kemungkinan tinggi adalah perbuatan seseorang. Masih belum jelas tujuannya apa, meski pergerakan serangan para monster saat ini masih sebatas di balik bayangan–tidak terang-terangan. Pergerakannya yang tidak biasa, sedikit sulit untuk diabaikan begitu saja dengan anggapan apa yang sudah terjadi sebatas kebetulan semata.


"Sebelum kita membahas penyerangan itu lebih jauh, bukankah ada hal penting lainnya yang harus diselesaikan lebih dulu?"


Laki-laki asing yang tidak Stella ketahui identitasnya itu, mengubah topik pembicaraan. Dapat merasakan firasat buruk dari nada suaranya yang terlampau tenang, perasaan gelisah Stella langsung terbukti saat laki-laki itu berkata, "Aku tidak tahu kalau kau punya kebiasaan menguping sambil berpura-pura tidur. Kalau kau sudah sadar, bangunlah. Jangan teruskan kebiasaan jelek itu."


Padahal Stella yakin ini merupakan kali pertama mereka bertemu. Namun, seakan tidak ada batas yang menghalangi di antara mereka, laki-laki itu menyapa Stella dengan akrab bagai teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah.


"Kakak, siapa dia?" tanya Stella, saat sudah berada dalam posisi duduk. Tidak dapay menahan dirinya untuk tidak bertanya, Stella benar-benar bingung dengan sikap akrab yang laki-laki itu tunjukkan padanya.

__ADS_1


"Wah ... kau melupakanku? Bagaimana bisa, kau bersikap sekejam itu padaku, Stella?"


Ocehan laki-laki berambut ikal gelap itu, Stella abaikan. Masih melayangkan tatapan datar kepada netra segelap malam tidak jauh di depannya, raut serius Stella berhasil menghapus ekspresi konyol dari wajah laki-laki itu dalam sekejap.


"Aku pikir kau bercanda. Ternyata tidak, ya?"


Apa yang laki-laki itu katakan, sama sekali tidak dapat Stella mengerti. Memperhatikan dalam diam kedua laki-laki yang saling bertatapan dengan binar terkejut di depannya, Stella hanya dapat mengerutkan alis heran saat melihat kakaknya itu juga memasang ekspresi penuh rasa tidak percaya, menunjukkan seolah juga tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada Stella.


"Apakah pertanyaanku salah?"


"Tidak, tidak. Maaf karena sudah bersikap tidak sopan."


"Kalau kau sudah tahu, cepat perkenalkan dirimu," desak Stella.


Meskipun sikap akrab laki-laki itu terhadapnya terasa membingungkan, sekarang ini mencari tahu hubungan di antara mereka berdua bukanlah hal yang mendesak untuk diketahui. Jadi, hanya ingin tahu sebatas nama saja, Stella berharap sesi perkenalan ini segera berakhir.


Aku harus pergi sebelum Kakak sadar.


Semakin lama mereka menunda waktu, maka semakin lama pula Stella bisa keluar dari tempat ini.


Tidak ingin terjebak di ruang kerja kakaknya lebih lama lagi, Stella berharap ia bisa keluar tanpa ketahuan. Selama Orfeo sedang disibukkan dengan pekerjaannya, ini merupakan kesempatan emas bagi Stella untuk menyelinap pergi. Sebelum Orfeo sadar Stella terlibat dalam masalah, Stella tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka yang datang padanya ini begitu saja.


Cepatlah!


Stella mencengkeram erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Bayangan buruk terjebak dalam omelan panjang, terasa semakin menghantui Stella saat tidak sengaja menangkap ekspresi terkejut kakaknya mulai memudar, kini sudah berubah menjadi tenang kembali.


"Aku Davion Jovaan, penyihir menara. Kau bisa–"


"Senang berkenalan denganmu, Davion!" sela Stella setengah berteriak, sembari menyibak selimut yang ia pakai dengan kasar.


Aku harus keluar!


Stella berlari secepat yang ia bisa. Namun, baru setengah jalan Stella berusaha melarikan diri, Orfeo yang berdiri dengan sigap di depan pintu sambil bersedekap, menghentikan langkah Stella sepenuhnya.


"Kakak ...."


Senyuman manis yang terlukis di wajah Orfeo ... sangat Stella sadari bukanlah pertanda baik. Kini tidak bisa lagi menghindar karena sudah kehilangan kesempatan, Stella hanya bisa membalas senyuman kakaknya itu dengan senyum yang tidak kalah manis.


"Ya? Ada apa adikku sayang?"


Tidak peduli seberapa lembut panggilan Orfeo sekarang ini, Stella tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bergidik. Merasa merinding akan keramahan yang kakaknya itu tunjukkan, sebelum kemungkinan buruk benar-benar menimpanya, Stella segera duduk dengan patuh di samping Davion tanpa diminta.


"Tidak apa. Aku senang Kakak terlihat sehat," jawab Stella, lalu memaksakan dirinya untuk tertawa.


Sekarang, Stella terjebak. Tidak bisa lagi kabur tanpa ketahuan dan tertangkap, Stella tidak memiliki pilihan selain duduk dengan patuh di sofa khusus tamu di ruang kerja kakaknya itu.


"Aku bersyukur kau tidak berubah sedikit pun, Stella."


Perkataan Davion, Stella abaikan. Kini benar-benar khawatir mengenai nasib ke depannya, Stella tidak lagi memedulikan sikap akrab Davion terhadapnya nan masih terasa janggal.


Mati, aku ....


Sebisa mungkin menyembunyikan kecemasan yang ia rasakan di balik topeng bernama ketenangan, saat ini Stella bersikap seperti kelinci yang terjebak di tengah kawanan singa saja. Dirinya yang berpura-pura tegar biarpun sedang gelisah setengah mati itu, tidak Stella sadari, bukannya membuat kedua laki-laki di ruangan itu semakin ingin memarahinya, justru mengundang kakaknya dan Davion untuk diam-diam tertawa di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2