Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny
Benang merah


__ADS_3

Berjalan-jalan di malam hari sambil berbaur dan menyatu dengan keramaian seperti sekarang ini, mengingatkan Stella akan salah satu kenangan manis yang dimilikinya bersama sang Kakak.


Dulu, saat mendiang kakak tertuanya masih hidup, Stella sesekali diajak keluar dan dikenalkan kepada para rakyat di wilayah Vandesca. Selain bermaksud mengajari Stella mengenai cara pengelolaan wilayah, sebagai pemilik kemampuan Benang Merah yang lain, Fabian juga mengajari Stella bagaimana cara menggunakan kemampuan yang merupakan berkah dari Dewi kehidupan itu di tengah kegiatan jalan-jalan mereka.


Alasan Fabian rela mengajari Stella disela-sela waktunya yang sibuk sendiri, Stella ketahui bukan karena terbatas tanggung jawab sebagai seorang kakak ataupun sebagai sosok pewaris kemampuan yang sama.


Alasan mengapa Fabian begitu gigih dan tekun meluangkan waktu adalah ... setelah seratus tahun berlalu, baru di generasi mereka ada dua orang pewaris kemampuan Benang Merah.


Dari yang Stella tahu, merupakan suatu kasus langka ada dua orang yang terpilih sebagai pemilik Benang Merah di generasi yang sama. Sangat jarang memiliki dua pewaris sekaligus, kemampuan Benang Merah sendiri bahkan bisa dibilang paling pelit jika dibandingkan dengan berkah yang Dewi berikan bagi keluarga kekaisaran dan tiga Duke lainnya.


Mengapa Stella berani mengatakan demikian?


Itu karena, berbeda dari keluarga lain yang langsung mendapatkan warisan berkah itu di generasi selanjutnya, dalam keluarga Vandesca kemampuan Benang Merah baru muncul setelah dua kali berganti kepala keluarga. Sudah melewati dua generasi tanpa adanya sosok yang mewarisi berkah Dewi, sebagai anak termuda di dalam keluarga Vandesca saat ini, Stella dapat memaklumi antusiasiame Fabian sebagai seorang kepala keluarga di generasi mereka.


Fenomena adanya dua orang pewaris Benang Merah di satu generasi yang sama ini, jelas merupakan suatu keajaiban. Masih belum diketahui kenapa, ataupun bagaimana bisa hal itu terjadi, misteri dari dua orang pewaris bisa terpilih seperti mereka tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Stella berpikir membiarkan kakaknya mengorek mengenai kemampuan mereka lebih jauh merupakan hal yang bagus. Selain mereka bisa mengetahui apa itu Benang Merah dan bagaimana cara menggunakannya dengan jauh lebih efektif, melihat wajah cerah Fabian di saat memecahkan satu misteri dari keajaiban mereka juga menyenangkan.


Stella selalu merasa suatu hal yang normal kalau kakaknya itu tertarik dengan kemampuan turun-temurun keluarga mereka. Sebab, tidak jauh berbeda dari Fabian pun, Stella sendiri juga selalu merasa takjub dengan berkah yang dimilikinya ini.


Namun, di balik hal yang Stella anggap normal, siapa yang menyangka ternyata rasa penasaran itu akan membawa akhir yang menyedihkan?


Bukannya mendapatkan jawaban yang diinginkan, rasa penasaran yang Fabian miliki justru menjadi maut. Terlibat dengan sekelompok orang nan merepotkan, Fabian berakhir terbunuh di tangan orang yang menjadi subjek kemampuan Benang Merah yang digunakannya.


"Dasar, Kakak bodoh."


Berbeda dari Stella yang selalu mencari aman dan hanya menggunakan Benang Merah untuk sebatas bersenang-senang biasa, Fabian memang termasuk orang yang nekat.


Seandainya Stella tahu kakaknya satu itu ternyata menggunakan Benang Merah untuk melihat ikatan hubungan orang lain demi menangkap secara langsung para kriminal, Stella tentu tidak akan membiarkan Fabian pergi di hari itu.


Bagi Stella, lebih baik melihat kakaknya mengeluh dengan setumpuk dokumen dibanding sosoknya yang berubah menjadi mayat karena salah dalam mengambil langkah. Stella benar-benar menyesali hari di mana ia tidak menaruh kecurigaan sedikit pun pada ekspresi serius kakaknya itu.


Aku harap Kakak tidak bangkit dari kubur. Kalau tidak, aku pasti akan benar-benar memukul kepalamu itu!


Stella memperhatikan tangannya. Setiap kali menggunakan Benang Merah, Stella selalu saja teringat dengan kakak tertuanya itu. Selalu melekat erat di mana pun dan bersama apa pun yang Stella lakukan, bayang-bayang dari seorang Fabian Kahill Vandesca sudah seperti hantu dalam kehidupan Stella.


Selalu ada dan tidak bisa disingkirkan. Bersama kenangan buruk sosoknya saat bersimbah darah, kenangan terkait Fabian benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Stella dan Orfeo selama dua tahun terakhir. Mereka berdua selalu dihantui oleh rasa bersalah karena tidak bisa mencegah aksi nekat sang Kakak.


"Ah, ini dia."


Setelah berjalan melewati sekian toko disertai kenangan yang hadir tanpa diminta, Stella akhirnya menemukan toko kue yang ia cari.


Sudah cukup, nostalgia yang menyedihkan itu. Sekarang Stella harus fokus pada pertarungan yang ada di depan matanya.


Menyingkirkan Benang Merah yang ia gunakan sebagai bagian dari perjalanan, Stella memperhatikan toko yang ada di hadapannya.


Lumayan.


Menilai dari penampilan luarnya, toko kue ini tidak jauh berbeda dari toko kue lain yang pernah Stella datangi. Penuh warna ceria, memiliki beragam menu, dan juga ramai pengunjung walau malam mulai larut.


Mengesampingkan apa yang tersembunyi di baliknya, kalau dilihat sekilas, tidak ada yang aneh dari toko kue ini. Selain jam tutupnya yang lebih lama dibanding toko lainnya, maka penyamaran dari tempat lelang ilegal ini tentu akan Stella beri nilai sempurna.


Tanpa membuang waktu, begitu sudah di dalam toko Stella langsung menuju pegawai yang menjaga etalase. Stella berkata, "Tolong berikan kue manis yang bisa membuatku gila." Sambil menunjukkan kancing baju yang memiliki lambang keluarganya dalam gerakan yang tidak terlalu kentara.


Tempat pelelangan yang memakai kata sandi khusus biasanya terbatas dan hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu. Jadi karena alasan itulah Stella kali ini sengaja menggunakan kemeja. Kancing tangan berlambang keluarga yang biasa digunakan sebagai hiasan–hanya berlaku bagi kemeja saja, sangat berguna di saat-saat seperti ini.


"Silakan ikuti saya, Nona."


Dirinya yang dipandu tanpa perlu melewati proses merepotkan, membuat Stella menghembuskan nafas lega. Tidak seperti tempat lelang lainnya yang harus melewati proses nan rumit, Stella bersyukur tempat lelang yang ia datangi kali ini cukup memperlihatkan kancing, sudah bisa mendapatkan izin masuk.


Stella memperhatikan sekeliling. Tidak ada yang aneh dari dapur toko kue itu. Semua nampak sama seperti dapur normal pada umumnya.


"Selamat bersenang-senang, Nona. Silakan nikmati waktu Anda."


Tidak adanya ditunjukan pintu dan hanya dituntun untuk mendekati cermin, mungkin akan terasa aneh bagi orang yang pertama kali memasuki tempat pelelangan dunia bawah. Namun, kebingungan itu tidak berlaku untuk Stella. Ini merupakan ke sekian kalinya Stella pergi menyelinap, tentu saja ia sudah cukup familier dengan trik kecil seperti cermin yang ada di hadapannya ini.


Menundukkan sedikit kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada pegawai yang sudah menuntunnya, Stella berjalan menuju cermin itu dengan langkah pasti. Cermin yang memiliki tinggi sekitar 180 cm berbingkai putih itu, hanya berbeda sedikit dari tinggi badan kakak keduanya. Jadi tidak merasa takut tersangkut atau lainnya, Stella berjalan menembus cermin itu tanpa masalah.


Adanya percikan mana berwarna putih yang tersebar begitu Stella sudah berhasil melewati cermin itu, membuktikan betapa sulitnya proses membuat cermin sihir tersebut. Sebab, semakin sempurna barang berisi sihir dibuat, warna mana yang dikeluarkan pun juga menjadi semakin terang.


Tempatnya lumayan luas.


Berbeda dari bagian toko yang berwarna cerah dan mengandung keceriaan, tempat baru yang Stella datangi sekarang ini sangat berbanding terbalik.


Tempat ini memiliki dinding tinggi berwarna kelabu dan lantai menyerupai salju. Seandainya saja tempat ini tidak hangat, Stella pasti akan mengira bukannya pindah tempat, ia justru pindah ke dimensi yang berbeda.


Kalau memang benar begitu, aku yakin Kak Orfeo tidak akan cukup hanya dengan memarahiku.


Pindah ke dimensi yang berbeda? Stella sama sekali tidak bisa membayangkannya. Walau keajaiban di dunia ini adalah hal biasa layaknya bernafas. Sihir yang bisa membawa ke dunia berbeda, terasa sangat tidak masuk akal. Kalau sebatas teleportasi antar negara, mungkin Stella bisa mempercayainya. Tapi, antar dunia? Stella sendiri tidak yakin apakah ada dunia lain yang memiliki keajaiban melebihi dunianya ini.


...~o0o~...

__ADS_1


Padahal Stella yakin sudah berusaha datang secepat mungkin, tapi tetap saja ia masih kalah cepat. Begitu Stella memasuki ruang pelelangan, sudah ada banyak barang yang terjual.


Stella menghembuskan napas pelan. Kursi yang tersisa sedikit membuatnya kesulitan mencari tempat strategis untuk memperhatikan tiap barang yang ditampilkan.


"Baiklah! Mari kita mulai acara utama dari lelang hari ini!"


Pengumuman dari pembawa acara disambut oleh teriakan tidak sabar dari setiap orang yang hadir. Stella, salah satu sosok yang juga lumayan penasaran mengenai bentuk barang utama mereka, mulai mengumpulkan fokusnya.


Walau sejujurnya duduk di mana saja tidak masalah baginya, Stella tetap sedikit menyayangkan tempat duduk yang kurang strategis ini. Stella lumayan kecewa karena tidak bisa melihat barang-barang langka itu dengan kedua matanya secara leluasa.


Yah, sudahlah.


Merasa protes juga tidak akan berguna, Stella mengesampingkan kekecewaan yang ia rasakan. Bersandar dengan tenang di kursinya, ia mencoba mengikuti kata demi kata yang keluar dari mulut sang pembawa acara.


Dalam keadaan normal, mungkin tempat duduk yang Stella tempati sekarang ini sangat buruk bagi seseorang. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Stella.


Selain melihat ikatan hubungan setiap orang, bersama begitu banyaknya proses menyelinap yang Stella lakukan, Stella mengetahui ternyata Benang Merah juga bisa dihubungkan antara makhluk hidup dan benda mati.


Bisa memilih untuk melihat hubungan antar benda, sosok, atau fokus ke apa yang diperlihatkan oleh Benang Merah, dengan menggunakan kemampuannya ini, Stella bisa melihat barang yang ia inginkan sejelas melihat langsung dari dekat.


Memanfaatkan hubungan keterikatan dari setiap hal yang ada, selama masih berada dalam jarak jangkauan, Stella bisa menggunakan hubungan yang diperlihatkan Benang Merah sebagai penglihatannya sendiri.


Memilih Benang Merah yang terhubung antara pembawa acara dan artefak yang ada di dalam lindungan kaca, Stella tersenyum tipis saat detail dari setiap artefak yang dipajang kini mulai terlihat jelas di kedua matanya.


Kalung itu memiliki mana yang besar.


Cahaya biru tipis yang menyelimuti salah satu kalung, lumayan menarik perhatian Stella. Kalung itu memiliki motif yang sederhana tapi mengeluarkan intimidasi yang luar biasa. Walau modelnya sendiri terlihat sedikit ketinggalan jaman, menilai dari tekanan di sekitarnya, Stella menyadari kekuatan tersembunyinya tidak bisa dianggap remeh.


"Kalung ini akan dibuka mulai dari harga seribu emas!"


Begitu kalung yang menjadi target incaran dilelang, Stella langsung mengangkat tinggi papan bertuliskan angka 78 miliknya. Sebagai orang yang menyukai artefak sihir, Stella tidak bisa membiarkan barang berharga tersebut jatuh ke tangan orang lain begitu saja sebelum berusaha.


"1 juta emas," tawar Stella dengan begitu entengnya. Sebagai salah satu anggota keluarga Vandesca, Stella tidak perlu pusing mengkhawatirkan hal tidak penting seperti kehabisan uang belanja. Sebab, satu juta emas itu tidak lebih dari anggaran yang diberikan padanya untuk membeli dua buah gaun harian.


"Apakah ada yang ingin menawar lebih tinggi lagi?"


Tingginya angka yang menjadi pembuka, membuat orang lain yang sebelumnya antusias berubah menjadi dipenuhi keraguan. Padahal Stella yakin para bangsawan ibukota menghasilkan uang lebih banyak dibanding keluarga mereka, tapi begitu melihat ekspresi ragu-ragu yang terlukis di wajah setiap orang, Stella jadi menyadari mereka menganggap remeh kalung berpenampilan ketinggalan zaman itu.


"Penampilan itu tidak penting. Poin utama yang harus diperhatikan adalah nilai di baliknya."


Itulah hal yang selalu ditekankan oleh kedua kakaknya kepada Stella. Jadi, tidak peduli mau seberapa banyak uang yang harus dikeluarkan, selama hasil yang ia dapatkan sepadan, Stella tentu tidak boleh kehilangannya, kan?


"Kalau tidak ada lagi yang ingin menawar, maka kami akan menganggap kalung ini telah terjual."


"Sebelum kami menghitung mundur, apakah ada yang ingin menawar lagi?"


Orang-orang yang terdiam, tidak sedikit pun memperlihatkan ketertarikan, semakin memperlebar senyuman Stella.


Ini merupakan sebuah keberuntungan. Tidak adanya orang yang menyadari keajaiban tersembunyi dari kalung itu, membuktikan hanya ada sedikit orang yang memiliki kemampuan untuk menyadari nilai lebihnya.


Yah, itu bukan salah mereka.


Layaknya darah yang mengalir, Stella tahu semua orang memiliki mana di dalam tubuh mereka. Namun, memiliki bukan berarti bisa. Meski mana mengalir dalam nadi seperti halnya darah, tidak semua orang bisa menggunakan maupun mewujudkannya sebagai kekuatan.


Sihir bisa digunakan dengan syarat jumlah mana harus melimpah. Jadi bagi mereka yang hanya memiliki mana seukuran mangkok kecil, mereka tidak akan bisa menggunakan kekuatan sebagai seorang penyihir yang paling tidak, memerlukan semangkok besar mana dalam tubuh agar bisa melihat aliran mana orang lain ataupun membuat benda pencipta keajaiban.


"10 juta emas."


Penawaran sepuluh kali lipat lebih tinggi di detik-detik terakhir, berhasil menyadarkan Stella dari lamunan. Stella kira, hanya dirinya seorang saja yang mampu menyadari kelebihan dari kalung nan usang. Keberadaan dari orang gila lain yang berani membuang banyak uang hanya demi sebuah kalung itu, berada di luar perhitungan Stella.


"50 juta."


Sebelum kalung berhiaskan batu permata hitam usang itu jatuh ke tangan orang lain, Stella kembali menawarkan harga yang lebih tinggi. Stella benar-benar tidak ingin melepaskan kalung yang sudah mengambil hati itu pergi meninggalkan dirinya tanpa sempat diperjuangkan. Selama anggaran harian miliknya belum habis terpakai, Stella tidak akan membiarkan harta karun itu pergi darinya begitu saja dengan mudah.


"75 juta."


Seolah menyadari keinginan kuat Stella, laki-laki itu kembali memberi harga yang lebih tinggi. Ruangan yang seharusnya dingin, berubah menjadi panas dalam sekejap. Stella maupun laki-laki itu saling menatap sengit satu sama lain, mereka berdua sama-sama tidak berniat untuk menyerah.


"150 juta!" teriak Stella, mengundang pandangan orang lain untuk terfokus padanya.


Dianggap gila karena memperebutkan barang usang yang tidak terlihat berharga sama sekali? Itu merupakan hal biasa. Selama sihir penyamaran Stella masih berfungsi, tidak akan ada seorang pun dapat mengetahui kegilaan macam apa yang Stella sembunyikan di balik topeng penuh keanggunan yang ia perlihatkan selama ini.


Jangan nilai sesuatu dari penampilan luarnya atau kalian akan kehilangan sesuatu yang berharga.


Uang bisa dicari kembali, tapi tidak dengan artefak berbentuk kalung nan berharga itu. Meski kini merupakan kali pertama mereka bertemu, Stella sudah menentukan kalung itu sebagai pelabuhan hatinya.


Binar yang kini pudar tidak menjadi masalah. Selama sinar tersembunyi di balik penampilan buruk itu mampu melebihi barang penuh gemerlap yang memperindah penampilan seseorang, bahkan seratus permata terbaik di dunia ini pun, tidak akan sebanding untuk menggantikannya bagi Stella.


"200 juta."


Pertarungan sengit terus berlanjut. Entah itu Stella ataupun laki-laki itu, mereka tidak sedikit pun menunjukkan niat untuk mengalah.

__ADS_1


"250."


"275."


"300!"


Tiga ratus juta emas. Kalau uang itu dipakai untuk keperluan rakyat biasa, jumlah uang sebanyak itu cukup untuk memberi makan empat orang keluarga selama lima tahun penuh dengan gizi yang tercukupi, tidak sehari pun kekurangan.


"Aku tidak akan memberikan kalung itu padamu begitu saja, mengerti?" ucap Stella secara tersirat melalui senyuman manisnya nan mematikan.


Melayangkan tatapan tajam kepada sosok yang berani mencari masalah padanya. Dengan uang sebanyak itu, selama laki-laki itu bukan seorang bangsawan, Stella yakin tiga ratus juta merupakan suatu batasan yang mulai terasa sulit untuk ditembus.


"305 juta."


Sedikitnya angka yang dinaikkan oleh laki-laki tersembunyi di balik jubah itu, membawa senyum cerah untuk terlukis di bibir Stella.


"350 juta."


Stella memperhatikan ekspresi cemas dari sosok laki-laki itu. Gelagatnya yang seakan sudah berada di ujung tanduk, memberikan suatu kesenangan tersendiri bagi Stella.


Dia sudah mencapai batas.


Selama laki-laki itu tidak berniat menawarkan harga yang jauh lebih tinggi, maka lelang dari kalung itu dapat dipastikan akan dimenangkan oleh Stella.


"Apakah ada yang ingin menawar lebih tinggi dari ini?"


Suasana hening dipenuhi oleh ketegangan, menyambut pertanyaan dari sang pembawa acara. Tidak adanya orang yang membuka mulut setelah sosok pembawa acara menghitung mundur, akhirnya bisa membuat Stella mengeluarkan napas penuh kelegaan.


Yeay! Aku mendapatkannya!


Setelah berhasil melalui pertarungan harga nan sengit, di kursi tempatnya kini menyandarkan punggung, Stella tidak henti-hentinya tersenyum. Padahal Stella hanya berhasil memenangkan penawaran tertinggi, tapi rasa senang yang kini Stella rasakan, bahkan melebihi waktu pertama kali Stella mampu menggunakan kemampuan Benang Merah miliknya


Karena ini barang terakhir, aku hanya perlu mengambilnya.


Selain kemenangan mendapatkan apa yang ia inginkan, menjadi penutup di bagian terakhir pelelangan merupakan suatu kesenangan tersendiri bagi Stella. Berhasil menciptakan suasana penuh rasa tidak percaya, bukannya merasa tertekan dengan bisik-bisik di sekitar, Stella justru semakin memperlebar senyuman bangga.


Ya, ya. Berbisiklah sesuka kalian. Saat kalian sudah menyadari nilai sesungguhnya dari kalung itu, aku yakin kalian akan menyesal karena sudah berani meremehkannya.


Mengikuti arahan yang diberikan oleh sang pembaca acara, satu persatu dari para pemenang lelang turun dari kursi penonton dan mulai mengambil barang milik mereka yang ada di panggung.


Kini gilirannya sudah tiba setelah menunggu selama beberapa menit, Stella berdiri dari duduknya. Saat ia berjalan melewati laki-laki yang baru saja dikalahkannya, Stella memasang senyuman penuh kesombongan nan menawan.


"Tunggu, Nona."


Padahal Stella yakin harga diri para anggota lelang itu tinggi. Namun, melihat tatapan memelas laki-laki itu yang diarahkan padanya, sepertinya menjaga harga diri sebagai pihak yang kalah tidak terlalu penting bagi laki-laki itu.


Sosoknya yang sengaja menghentikan Stella seolah belum bisa menerima kekalahan ini ... sangat buruk. Stella tidak percaya ada orang yang masih mempertahankan harapan di saat ia sudah terang-terangan menghancurkannya.


"Ya, ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


Meski dihentikan ini sedikit menyebalkan, Stella tidak menunjukkan rasa terganggunya secara terang-terangan. Stella sebisa mungkin menunjukkan sisi baik yang ia miliki sebagai bentuk kesopanan. Ia benar-benar tidak ingin membuat masalah yang lebih buruk dari kekalahan orang ini.


"Ah, tidak. Itu, aku pikir kau—"


"Ugh!"


Denyut yang tiba-tiba muncul di kepala, membuat apa yang dikatakan laki-laki itu tidak terdengar jelas. Tenggelam dalam suara denging nan memekakkan, apa yang laki-laki itu katakan kini tidak lagi terdengar di telinga Stella.


"Apa itu?" bisik Stella saat suara berdenging itu sudah menghilang. Bersamaan pudarnya suara nan mengganggu itu dari telinga, denyut yang sebelumnya memenuhi kepala Stella juga mulai mereda.


"Nona?"


Ekspresi bingung bercampur kaget dari laki-laki yang masih memegang tangannya itu, Stella perhatikan. Tidak ada keanehan di sana. Sama seperti Stella yang terkejut dengan apa yang terjadi begitu tiba-tiba, laki-laki itu sendiri juga tercengang atas gumaman Stella sebelumnya.


"Tidak ada. Maaf sudah membuat Anda terkejut, Tuan."


Stella melepaskan genggaman laki-laki itu dan memasang ekpresi tidak terjadi apa pun. Menundukkan sedikit kepalanya, Stella pergi dari hadapan laki-laki itu. Sebelum ia mendapatkan pertanyaan dan terjebak lebih jauh lagi, Stella sengaja mengambil jarak. Ia meninggalkan laki-laki itu bersama banyak pertanyaan.


Apa yang terjadi?


Selama berjalan menuju panggung untuk mengambil barang miliknya, Stella tidak bisa mencegah pikirannya untuk tidak teringat apa yang baru saja terjadi.


Saat laki-laki asing itu memegang tangannya, ada sesuatu yang aneh mengalir masuk tanpa bisa dicegah.


Tidak, Stella yakin itu bukan mana yang dialirkan masuk secara paksa. Tidak juga kutukan nan mengerikan. Mungkin sensasi itu sedikit menyakitkan, tapi yang jelas Stella tidak merasakan ada hal buruk tersisa di tubuhnya setelah rasa sakit itu menghilang.


Kalau memang laki-laki itu berniat buruk, Stella tidak mungkin bisa turun ke panggung sekarang ini. Berdiri menerima artefak yang ia menangkan, lalu menyerahkan cek kosong dengan simbol berupa mawar dan kupu-kupu yang dilindungi pedang–lambang khas dari keluarga Vandesca.


Seandainya laki-laki itu melakukan sesuatu yang buruk, Stella pasti sudah ambruk sekarang ini. Jadi, haruskah Stella menganggap itu hanya suatu keanehan dari sebuah sentuhan saja?


Bangunan yang hancur, anggota tubuh yang tercerai berai, lalu darah yang menggenang layaknya aliran sungai. Bisakah Stella menganggap apa yang ia lihat di sela waktu itu sebagai efek samping dari kekhawatiran yang akhir-akhir ini berlebihan?

__ADS_1


Itu menggangguku.


Stella berharap bayangan yang muncul begitu tiba-tiba dalam kepalanya saat berdenyut itu, hanya sebuah ilusi saja. Sebab, di antara semua hal mengerikan yang Stella lihat, bayangan dari sosok berambut pirang berdiri dengan kepala tertunduk di bawah guyuran hujan, menjadi bayangan paling mengerikan di tengah-tengah gambaran penuh kekacauan lainnya.


__ADS_2