Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny
Terjebak di tengah kekacauan


__ADS_3

Setelah menerima artefak yang berhasil ia menangkan, Stella sebenarnya berniat untuk pulang cepat. Namun, tidak seperti harapannya yang ingin kembali tanpa ketahuan, batu sihir yang merupakan media dari gerbang teleportasi bermasalah sehingga menghalangi setiap orang untuk pulang.


Tanpa adanya bantuan dari luar, mereka semua terjebak di tempat lelang. Kecuali memiliki gulungan teleportasi, mereka yang tersisa jelas tidak mempunyai pilihan selain menunggu pertolongan dengan tenang.


"Sial sekali," bisik Stella, sembari menatap datar kerumunan di panggung.


Sudah setengah jam mereka tidak bisa keluar dan sudah selama itu juga para bangsawan yang tidak memiliki gulungan sihir membuat keributan. Sebagian besar dari mereka yang tidak sabaran dapat Stella lihat menjadikan dalih 'sibuk' sebagai pengalih rasa takut. Sedangkan untuk yang lain ... berdiri dengan tubuh gemetar seakan baru pertama kali melihat sisi buruk dunia.


Yang benar saja ....


Jujur saja, ini bukan kali pertama Stella terjebak dalam situasi menyebalkan ini. Namun, di antara semua pengalaman yang sudah Stella lewati selama di timur, baru kali ini Stella melihat banyak orang panik dengan situasi yang bisa dibilang, merupakan hal yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan.


Bagi Stella, media sihir yang bermasalah adalah hal biasa. Sudah mempertimbangkan dengan baik salah satu kemungkinan buruk yang bisa terjadi itu, Stella bahkan merasa situasi mereka sekarang ini belum bisa dibilang kacau.


Dibanding panik karena terjebak, Stella justru lebih khawatir dengan rasa kantuk yang mulai menyerangnya. Kalau sampai ia tertidur di tempat ini ... Stella tidak bisa menjamin keamanan dirinya selama tidak sadarkan diri.


"Nona, apa kau tidak merasa bosan?"


Benar-benar, deh. Stella sama sekali tidak boleh menurunkan kewaspadaannya! Selain bisa saja tim penyelamat datang dengan cepat, sosok laki-laki yang baru saja ia kalahkan itu juga tidak bisa dipercaya.


Padahal Stella yakin dirinya sudah bersikap sedingin mungkin agar tidak diganggu. Namun, seolah sengaja tidak menyadari penolakan halus Stella, laki-laki itu terus saja mengajaknya bicara.


"Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan, ya? Namaku Dante Hadrian Cassie. Kau bisa memanggilku Dante."


Selain tidak peka, tidak Stella sangka laki-laki itu ternyata juga bodoh. Di saat semua orang sebisa mungkin menyembunyikan identitas, Stella yakin hanya si Dante ini yang berani memperkenalkan dirinya secara terang-terangan di saat sedang menyamar.


Apakah karena nama keluarganya?


Stella tidak yakin apakah sikap yang Dante tunjukkan ini murni kedunguan atau memang sengaja menyombongkan diri. Kedua netra kelabunya yang menatap lurus tanpa mengandung sedikit pun keraguan ke arah Stella itu, sangat mengganggu.


"Ya? Lalu?"


Selain kepercayaan dirinya yang luar biasa, kejadian aneh terkait Dante sebelumnya membuat Stella tidak bisa bersikap ramah begitu saja. Jadi, tidak peduli seberapa ramah senyuman yang terlukis di bibir Dante, Stella tidak berniat menyambut uluran tangannya. Stella tidak akan menyentuh tangan itu sebelum ia mendapatkan jawaban atas penglihatan aneh yang datang tanpa diminta.


"Kau tidak ingin berteman denganku?"


"Tidak. Terima kasih."


Percakapan tidak formal yang dilakukan oleh Dante sedari awal interaksi mereka, juga menjadi faktor lain mengapa Stella tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan Dante.


Stella sama sekali tidak berniat menjadikan sebuah kebetulan ini sebagai pertemanan. Biarpun mereka sama-sama berasal dari keluarga Duke, tidak ada alasan bagi Stella untuk menjalin hubungan erat dengan seseorang yang berpura-pura akrab padanya di pertemuan pertama mereka.


"Kau yakin, Nona? Bukankah menambah kenalan merupakan hal yang bagus? Kenapa kau menolaknya?"


Oke, sudah cukup. Kesabaran Stella mulai hampir mencapai batasnya.


Menilai dari ocehan bernada bangga yang Dante keluarkan, bisa Stella simpulkan Dante ini udik. Entah apa tujuannya terus membujuk Stella. Mencoba mendapatkan artefak atau koneksi dengan keluarganya, Stella tidak akan meladeni tujuan terselubung yang coba Dante jejalkan padanya.


"Monster?! Kenapa bisa ada monster di sini!?"


Walau hal ini tidak bisa dibilang baik, teriakan seseorang di panggung menjadi penyelamat Stella dari ocehan Dante nan memuakkan. Kantuk yang sebelumnya sempat menyerang Stella, sekarang sudah dikalahkan oleh rasa jengkel bercampur kaget. Di tengah teriakan yang mulai saling bersahutan, kedua mata Stella kini terbuka lebar, tidak lagi terasa berat.


"Apakah ada serangan?!"


Tidak membuang kesempatan, Stella menggunakan kepanikan orang-orang sebagai alasan untuk menghindar.


Stella menarik dirinya sejauh mungkin dari Dante yang membeku di tempatnya. Sambil memperhatikan situasi, Stella mencari tempat aman yang sekiranya bisa ia gunakan untuk berlindung sekaligus menilai.


Monster serigala.

__ADS_1


Stella memperhatikan kehadiran seekor monster yang tiba-tiba melompat ke arah salah satu penyelenggara. Kebrutalan dari monster itu saat melahap manusia, semakin menghancurkan suasana kondusif di dalam ruangan.


Mengapa monster bisa ada di tempat seperti ini?


Di tengah kondisi berdesakan orang yang berlomba untuk menyingkir sesegera mungkin dari panggung, di mana sumber kekacauan itu bermula, Stella mengambil tindakan yang berbeda.


Di saat sebagian orang masih sibuk tercengang, mencoba mencerna apa yang terjadi, Stella sudah mengamankan dirinya di balik kursi.


Bukankah tempat lelang ini tidak menjual monster? Jadi, dari mana asalnya?


Setahu Stella, meski ilegal tempat lelang tidak mungkin mengambil keputusan mengandung banyak kerugian seperti menjual monster. Selain berbahaya dan mustahil dikendalikan, kalau tetap nekat menjual monster, itu berarti secara tidak langsung mencari mati.


Jika mereka berani memasukkan monster dalam bagian lelang, itu sama saja seperti meminta sang Kaisar menghancurkan bisnis mereka.


"Anak Dire Wolf," bisik Stella, setelah berhasil melihat dengan baik jenis monster yang menyebarkan ketakutan kepada para pengunjung. Kehadiran monster serigala berukuran dua kali dari tinggi manusia walau masih muda itu, terlihat sangat janggal bahkan bagi Stella.


Bagaimana bisa?


Dari apa yang Stella tahu, Dire Wolf merupakan monster pemakan daging yang sangat sensitif terhadap mana. Kuatnya fisik yang monster itu miliki, dua kali lipat melebihi jenis serigala biasa. Tapi, alasan mengapa Dire Wolf ini sendiri menjadi monster paling dihindari selain kekuatannya adalah; langkahnya yang terlampau cepat, lumayan sulit untuk dihindari bahkan bagi para pemburu berpengalaman sekalipun.


"Hei, jangan mendorongku."


Arus pelarian yang semakin tidak terkendali, mulai mengganggu. Semua orang yang sedang berlomba menyelamatkan diri, membuat tempat persembunyian Stella tidak lagi aman. Di tengah kekacauan itu Stella ikut terseret oleh arus manusia. Jumlah orang yang mulai menyadari situasi berbahaya mereka, semakin memperparah suara teriakan yang sudah memekakkan telinga.


Ini berbahaya.


Selain sensitif terhadap mana dan memiliki penciuman kuat, Dire Wolf merupakan monster yang tidak terlalu menyukai adanya banyak suara. Alasan mengapa Stella lumayan merasa janggal mengenai keberadaan Dire Wolf yang tidak terduga, tentu saja karena monster ini cenderung menghindari tempat ramai, terkhusus wilayah manusia, makhluk yang sangat mereka benci.


"Aduh."


Besarnya desakan dari orang-orang yang ketakutan membawa Stella ikut terombang-ambing penuh ketidakjelasan. Berbeda dari dirinya yang sudah lumayan sering menemui kondisi darurat mulai sedari kecil, para orang ibukota yang tidak terlatih dalam penyelamatan diri, justru semakin membuat kondisi menyeramkan mereka terasa semakin berbahaya.


Aku tidak boleh diam saja.


Tapi, bagaimana mungkin?


Untuk alasan kedua, jujur saja Stella merasa itu sedikit dipaksakan. Kalau memang, anak Dire Wolf itu melarikan diri. Tidakkah seharusnya tempat ramai seperti ibukota menjadi pilihan terburuk karena pendengarannya sangat sensitif?


Opsi pertama lebih kuat.


Itu benar, adanya kemungkinan seseorang sengaja membawa Dire Wolf ke ibukota, terasa jauh lebih bisa diterima. Walau Stella sendiri tidak tahu bagaimana orang itu bisa menangkap bahkan sampai membawa makhluk buas itu ke sini, usaha keras maupun tujuan yang orang itu lakukan terhadap keberadaan Dire Wolf di ibukota, jelas tidak memiliki maksud baik. Menilai dari kekacauan yang sangat terniat ini, entah mengapa Stella memiliki firasat kekacauan ini adalah permulaan dari sebuah rencana besar.


...~o0o~...


Rambut pirang platinum pendek miliknya terbang mengikuti embusan angin. Memperhatikan sang bintang dengan kedua netra sebiru lautan, bibirnya melengkung saat tidak sengaja menangkap bintang bersinar paling terang dalam penglihatannya.


"Tuan Orfeo. Ada surat dari istana."


Ketukan di pintu dari seseorang yang sangat ia kenal, mengalihkan perhatian Orfeo dari sang bintang. Menyuruh sosok itu untuk masuk, Orfeo kini mendapati laki-laki berambut kelabu sedang membungkuk hormat sambil menyerahkan surat yang ditaruh di atas baki berbahan perak kepadanya.


"Tanda dari Kaisar."


Lambang dari cap mahkota dikelilingi oleh bunga lili yang kini ia terima, Orfeo perhatikan. Saat melihat cap itu, tanpa perlu membacanya pun, Orfeo sudah bisa merasakan adanya tanda bahaya. Orfeo tidak bisa menahan firasat buruk saat membuka surat dan mulai membacanya.


"Ada serangan lagi."


Perintah tidak biasa dari Kaisar yang tertulis di dalam surat menyatakan bahwa kasus penyerangan ini masih bersifat rahasia. Bersama bantuan dari para penyihir, hanya orang tertentu saja yang akan ditunjuk untuk menyelesaikan secara diam-diam serangan kali ini–sebelum terendus publik sepenuhnya.


Jadi Yang Mulia memutuskan untuk meminimalisir dampak psikologis bagi rakyat.

__ADS_1


Orfeo mengangguk mengerti. Selain berusaha untuk tidak membawa kecemasan bagi rakyat kekaisaran, dengan dirahasiakannya penyerangan ini, Kaisar juga bermaksud untuk tidak memberikan celah bagi bangsawan. Kalau sampai, para bangsawan korup mengetahui penyerangan ini, hal itu bisa berdampak menimbulkan keraguan tidak hanya bagi Kaisar, tapi juga hak suksesi para Pangeran Ormanda.


Keputusan yang bijak.


Sebagai seorang Duke yang berada di posisi tertinggi setelah saudaranya meninggal dunia, Orfeo dapat memahami dengan baik keputusan yang diambil oleh Kaisar. Duduk berkuasa di tengah orang-orang serakah itu tidak mudah. Selama Putra Mahkota Revian Corsten Ormanda belum memiliki sekutu yang kuat, kelemahan yang coba Kaisar sembunyikan ini akan berguna untuk mengokohkan kedudukan putranya.


Pangeran Rhodes juga akan bergabung.


Tidak adanya pertengkaran takhta di antara para pangeran Ormanda merupakan hal yang sangat Orfeo syukuri. Walaupun faksi antar pangeran terbentuk di balik layar. Selama pangeran kedua dan ketiga tidak memiliki keinginan atas mahkota, kemungkinan terburuk seperti adanya perang saudara, lebih tipis bisa terjadi.


"Davion Jovaan."


Di antara beberapa nama yang tertulis, ada satu nama yang terasa familier. Entah memang benar itu nama dari orang yang Orfeo kenal atau tidak, tapi mengingat nama itu ditulis paling awal dibanding nama dari penyihir lainnya, Orfeo hanya berharap sekarang kabar anak itu baik-baik saja.


"Selama ini tern—"


"Tuan! Nona muda Stella tidak ada di kamarnya!"


Kedatangan dari pelayan lainnya yang begitu tiba-tiba tanpa adanya sopan santun, mengalihkan perhatian Orfeo dari surat dalam sekejap. Alisnya mengerut saat memperhatikan penampilan pelayan yang berantakan.


"Kalian sudah mencarinya?" tanya Orfeo sambil melemparkan surat dari Kaisar ke perapian. Begitu sudah memastikan surat itu kini sudah berubah bentuk–menjadi abu sepenuhnya, Orfeo menatap pelayan yang baru saja membawa kabar itu dengan tatapan menuntut, ingin segera mendapat jawaban.


"Semua tempat sudah diperiksa, Tuan! Akan tetapi, tidak peduli seberapa banyak saya mengerahkan orang untuk mencari, kami tidak bisa menemukan Nona Muda di mana pun!"


Teriakan penuh nada frustrasi dari pelayan itu, menular kepada Orfeo. Sebagai Kakak dari Stella, Orfeo tidak percaya adiknya itu harus menghilang di saat dirinya baru saja mendapatkan kabar tidak menyenangkan.


"Hentikan pencarian di mansion ini, Stacy. Sepertinya aku tahu ke mana kali ini anak nakal itu pergi."


Orfeo menghembuskan nafas lelah. Memang, ini bukan sekali dua kali Stella menghilang. Namun, mengingat Orfeo baru saja mendapatkan kabar tidak menyenangkan, Orfeo tidak bisa menahan rasa kesalnya. Orfeo tidak menyukai adiknya itu lebih memilih membahayakan dirinya sendiri, dibanding merepotkan secara langsung Orfeo, selaku kakaknya.


Padahal kau hanya perlu mengatakan apa yang kau inginkan padaku, Stella!


Hilangnya Stella di saat yang tidak tepat ini, benar-benar membuat Orfeo merasa frustrasi. Sudah cukup, kakak pertama mereka saja yang telah meregang nyawa. Orfeo tidak ingin hal paling mengerikan itu terulang kembali pada adik perempuannya, yang kini bisa saja terjebak dalam situasi berbahaya.


"Kumpulkan para kesatria dan suruh mereka untuk menggeledah toko kue yang baru saja buka!"


Perintah tegas dari Orfeo, langsung Stacy kerjakan tanpa banyak bertanya. Setelah memastikan sosok perempuan yang bertugas menjadi pelayan pribadi dari adiknya itu pergi, tidak lagi berada di ruangannya, Orfeo berjalan mendekat ke arah kepala pelayannya yang kini menyerahkan beberapa alat sihir.


"Theodore, kau tahu apa yang harus dilakukan selama aku tidak ada, bukan?" tanya Orfeo, mencoba mengulangi kembali kesiapan dari kepala pelayan. Usia mereka yang hanya berbeda dua tahun dengan Orfeo yang jauh lebih muda, daripada seorang pelayan, Theodore sebenarnya lebih terasa seperti seorang Kakak baginya.


"Saya akan memastikan tidak ada masalah terjadi di mansion selama Anda pergi, Tuan."


Theodore yang menunjukkan keseriusan, membawa segaris senyum untuk menghiasi bibir tipis Orfeo. Tidak salah Orfeo menunjuk Theodore untuk menempati posisi tertinggi di antara para pelayan. Sikap dari seseorang yang sudah mengerahkan segenap kehidupannya atas dasar kesetiaan itu, sangat memuaskan untuk dilihat.


"Bagus. Kalau begitu, saat Julia terbangun karena keributan ini, katakan padanya untuk tetap menunggu saja di rumah."


Orfeo menambahkan satu lagi tugas untuk Theodore. Sebelum Orfeo pergi, ia ingin istrinya itu untuk tetap tenang. Orfeo tidak ingin rasa khawatir mengenai Stella membuat bayi yang ada dalam kandungan Julia terancam dalam bahaya.


"Saya menuruti perintah Anda, Tuan."


Merasa tidak ada lagi yang perlu diperhatikan, Orfeo merobek kertas yang sudah digambari oleh pola nan rumit dari salah satu artefak koleksi miliknya.


Di kondisi sekarang ini, hadiah berharga yang Stella belikan untuknya sebagai sogokan di masa lalu itu, tidak Orfeo sangka akan berguna. Meski Orfeo bisa saja menggunakan kekuatan aura miliknya untuk menuju tempat tujuan dengan cepat, agar lebih bisa menghemat waktu, kertas teleportasi jauh lebih berguna.


Semoga saja aku tidak terlambat.


Tanpa membuang-buang waktu, begitu Orfeo sudah tiba di daerah pertokoan, Orfeo langsung berlari mencari toko kue yang kemungkinan dituju oleh Stella.


Sebagai seorang kakak, tidak peduli seberapa sulit Stella diingatkan untuk selalu mendengarkan perkataannya, Orfeo tidak bisa membiarkan adiknya itu dalam bahaya. Sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa, Orfeo tidak akan membiarkan adik perempuannya itu menanggung beban besar seperti Kakak pertama mereka, hanya karena Stella memiliki kekuatan benang merah yang sama.

__ADS_1


Kumohon ... gunakan kemampuan melarikan dirimu itu dengan baik, Stella.


Ada beberapa tempat yang disebutkan di dalam surat yang mendapatkan serangan. Di antara seluruh nama yang tertulis, rumah lelang ilegal yang tersembunyi di balik toko kue baru-baru ini buka, menjadi tempat pertama yang akan Orfeo periksa.


__ADS_2