
Ketidakpastian itu mengerikan. Padahal Davion sangat senang saat mengetahui ia bisa kembali bertemu teman lama setelah sekian tahun tidak bersua. Namun, berbeda dari bayangannya yang disambut dengan senyuman nan hangat seperti di masa lalu, hal yang Davion dapatkan sebagai sambutan justru mimpi buruk nan menjadi nyata.
Saat mereka bertukar pandang kemarin, Davion sangat yakin Stella tidak mengenalnya. Melupakan seluruh kenangan mereka saat masih bersama, melihat Stella yang menatapnya sebagai orang asing, jujur saja sangatlah menyakitkan bagi Davion.
Apakah itu bayaran lain dari Benang Merah?
Seandainya itu hanya sebatas perasaannya saja, Davion tidak mungkin bisa segelisah ini. Akan tetapi, karena Orfeo sendiri juga menyadari ada yang aneh setiap kali Stella menggunakan Benang Merah, maka terciptalah beberapa asumsi mengerikan itu.
Selama Stella tidak sadarkan diri setelah memuntahkan begitu banyak darah, Davion dan Orfeo menyadari perempuan itu gelisah dalam tidurnya. Sangat panas seperti sedang terbakar, kulit putih Stella yang berubah merah saat itu, juga mengusik mereka berdua.
Seandainya kondisi Stella bisa dipulihkan dengan sihir penyembuh, Davion bisa sedikit merasa tenang. Namun, karena saat itu Davion yang terkenal hebat dan dirumorkan akan menjadi pemilik menara berikutnya pun tidak bisa menyembuhkannya, hanya ada satu jawaban yang melintas dalam kepala.
Benang Merah bukanlah berkah, melainkan kutukan.
Jika memang benar Benang Merah yang Stella miliki adalah berkah, tidak mungkin Dewi Ilythia yang penuh kasih memberikan harga yang berat di setiap kali penggunaannya. Pasti ada hubungannya dengan dua orang pewaris yang terlahir dalam satu generasi yang sama, Davion mulai berpikir apakah hal ini juga berhubungan dengan kematian Fabian yang ia dengar dari Orfeo kemarin.
Untung saja saat ini aku cuma disuruh membereskan tempat lelang.
Sudah menyelesaikan tugas penting yang diberikan padanya, Davion sekarang hanya perlu menunggu panggilan Kaisar untuk tugas yang baru. Apa yang ia lihat, bagaimana kondisi setiap ruang bawah tanah tempat persembunyian lelang, lalu siapa saja yang selamat dari bencana nan mengerikan itu. Semua rincian dari apa yang Davion lakukan kemarin sebagai seorang perwakilan, diserahkan seluruhnya kepada Orfeo.
Mari kita cari tahu kebenarannya.
Masih diliputi oleh keraguan, Davion dan Orfeo sudah sepakat membagi tugas mereka. Dipercayakan mengenai seluruh penyelidikan Benang Merah yang tidak biasa, tugas terpisah Davion sebelum mendapatkan panggilan resmi dari Kaisar saat ini adalah, mengajak Stella mencari kebenaran Benang Merah bersama.
"Anda bisa menemui Nona Muda di sini, Tuan Davion."
Suara dari Theodore yang menyampaikan bahwa mereka sudah sampai di tujuan, menyadarkan Davion dari lamunan panjangnya.
Taman yang tertata rapi, pilar putih yang diukir sedemikian rupa, lalu perempuan berambut pirang yang sedang duduk santai menikmati teh di dekat aliran sungai mungil buatan. Mengecualikan sosok mereka yang kini telah tumbuh dewasa dengan hubungan nan asing, tidak banyak dari kediaman Vandesca dalam ingatan Davion yang berubah. Semua masih sama seperti kunjungan Davion terakhir kali.
"Kalau begitu, saya mohon undur diri. Selamat menikmati waktu Anda, Tuan, Nona Muda."
Kepergian Theodore yang sangat peka akan keadaan pun, juga tidak berubah. Kepala pelayan Vandesca satu itu, selalu cermat dalam membaca suasana.
"Kau terlambat."
Senyum manis bermakna lain yang ia dapatkan saat sudah mendekat, Davion abaikan. "Yah, ada hal penting yang harus aku kerjakan," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Davion menunjukkan benda penting yang menjadi sumber kemarahan Orfeo kepada Stella.
"Bagaimana ka—"
"Kalung ini ada di genggamanmu saat kau tidak sadarkan diri."
Davion menyela. Stella yang mencoba menjangkau kalung itu, tidak ia biarkan menyentuhnya seujung jari pun. Kedua netra segelap malam Davion menatap lekat kalung berhiaskan permata kusam nan gelap yang sengaja ia biarkan menggantung.
"Apakah kalung ini sudah ada di tanganmu saat kau kehilangan kendali atas tubuhmu?" tanya Davion dengan ekspresi seriusnya.
Terlalu disibukkan dengan pembahasan Benang Merah dan keadaan Stella, tanpa sadar membuat mereka melupakan keberadaan dari kalung itu. Seandainya bukan karena teguran dari Felix pun, Davion yang sudah terlalu lelah dengan apa yang telah terjadi, tentu tidak akan menyadarinya.
"Ya. Itu sudah ada di dalam kantong bajuku."
Stella mengatakan apa yang ia ingat sebelum tidak sadarkan diri. Namun, berbeda dari tebakan Davion, selama melawan monster, kalung itu tersimpan dengan aman di dalam kantong bajunya.
"Kantong baju? Kau tidak ber—"
"Aku tidak pernah mengeluarkan kalung itu dari sana. Aku sama sekali tidak tahu mengapa kalung itu bisa berakhir dalam genggamanku."
Kedua netra gelap dan biru itu saling beradu. Memutuskan kontak mata mereka terlebih dahulu, Davion mengacak pelan rambutnya.
"Mari kita kesampingkan dulu masalah kalung ini," ucap Davion, mengambil keputusan untuk tidak memperpanjang perihal kalung. Kini ada hal mendesak lain yang harus dibereskan, Davion mengulurkan tangannya sekali lagi setelah ia menyimpan kalung itu.
__ADS_1
"Mari pergi. Ada tempat yang ingin aku datangi bersamamu."
Stella yang tidak kunjung menyambut uluran tangannya dan terus memberikan tatapan curiga membuat Davion merasa gemas.
"Ini juga demi kebaikanmu," ucap Davion sambil menarik Stella sampai berdiri dari posisi duduknya. Memeluk erat Stella, rasa terkejut perempuan itu, Davion manfaatkan dengan baik.
"Hei! Kau mau memba—"
"Kita akan pergi ke Perpustakaan Terlarang."
Davion mengabaikan Stella yang memberontak dalam pelukannya. Mengaktifkan lingkaran sihir teleportasi, Davion membawa mereka berpindah dalam sekejap.
...~o0o~...
Perpustakaan para penyihir yang selama ini hanya bisa Stella dengarkan dari rumor, tidak Stella sangka kini bisa ia lihat secara langsung tepat di hadapannya
Perpustakaan Terlarang. Begitulah namanya. Ada begitu banyak rumor penuh keajaiban yang menyertai perpustakaan ini. Misalnya seperti memiliki rak penuh buku yang tidak berujung, di dalam bukunya terdapat informasi paling rahasia, bahkan sampai perpustakaan ini merupakan dunia lain pun, juga ada.
Stella pikir, saat mendengar rumor itu semua orang hanya melebih-lebihkan. Sebab, perpustakaan pada akhirnya tetap saja perpustakaan. Akan tetapi, setelah melihat langsung tempat ini dengan kedua matanya sendiri, Stella mengakui tempat ini luar biasa dan menyadari bahwa perpustakaan pribadi para penyihir menara ini bahkan melebihi ekspektasi semua orang.
"Ini Perpustakaan Terlarang?"
Di banding perpustakaan, Stella pikir tempat ini lebih cocok disebut sebagai dunia lain dari menara.
Berlatarkan langit siang hari nan cerah dan pemandangan padang rumput yang luas, bersama angin yang menyapu lembut, sejauh mata memandang Stella tidak menemukan satu pun rak berisi penuh buku. Sebaliknya, dibanding penuh buku dan berbagai macam media yang menyimpan informasi di dalamnya, tempat ini justru dipenuhi oleh berbagai macam jenis makhluk hidup berwarna putih.
"Karena tidak ada satu pun buku yang terlihat, apa mungkin semua makhluk hidup berwarna putih itu adalah buku perpustakaan ini?" ucap Stella, mencoba menerka. Kini tidak lagi mempermasalahkan Davion yang membawa paksa dirinya pergi, perhatian Stella sudah teralihkan sepenuhnya. Saat ini Stella sibuk menganggumi keajaiban yang ada di perpustakaan Terlarang.
"Cantik."
Stella menatap penuh rasa antusias salah satu keajaiban milik para penyihir yang mendekatinya. Kupu-kupu putih yang baru saja hinggap di tangannya saat ini, dapat Stella rasakan terasa sangat nyata, hidup dan bernapas tidak jauh berbeda dari kupu-kupu normal.
"Oh, tebakanku benar!"
"Tidak semua. Tapi, sebagian besar dari mereka menyimpan pengetahuan tentang sihir."
Davion memberikan jawaban sambil mengambil alih kupu-kupu itu dari tangan Stella. Bersama sentuhan dan mana yang Davion salurkan di sayap kupu-kupu, catatan yang muncul dalam bentuk lembaran melayang di udara, semakin menambah rasa takjub Stella yang melihatnya.
"Woah!"
Padahal Stella yakin kupu-kupu tadi tidak sebesar genggaman tangannya. Begitu kupu-kupu tersebut berubah kembali menjadi bentuk aslinya, Stella tidak menyangka ternyata ada banyak sekali informasi yang tersimpan di dalamnya.
"Ayo pergi. Apa yang kita cari tidak ada di sini."
Davion menyeret Stella yang sibuk memperhatikan sekitar penuh rasa takjub agar tetap ikut melangkah bersamanya. Seolah kini dia sedang membawa anak kecil yang bisa lepas kapan saja, Davion tidak satu kali pun melepaskan genggaman tangannya dari Stella sebelum mereka sampai ke tempat tujuan.
"Davion! Davion! Apa Rusa putih itu juga buku?!"
Sepanjang jalan yang mereka lewati, Stella tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merasa antusias. Melepas topeng keanggunan miliknya, Stella tidak keberatan andai dianggap anak kecil sekarang ini. Rasanya sangat disayangkan kalau Stella tidak menanyakan apa pun di kesempatan langka seperti sekarang ini. Keajaiban di sekitarnya saat ini, tidak akan Stella biarkan berakhir sia-sia hanya karena kesan yang harus dijaga.
"Tidak. Rusa itu bukan buku. Merupakan simbol dari para penyihir, bisa dibilang Rusa tersebut adalah pelindung tempat ini."
Setiap penjelasan dari Davion, Stella balas berupa anggukan mengerti. Davion yang menjelaskan penuh kesabaran setiap rasa penasarannya, menyusupkan kesan yang lebih baik bagi Stella.
Mengingat sifat tidak sabaran Davion di pertemuan pertama mereka, Stella tentu tidak pernah menyangka ternyata Davion juga memiliki sisi manis seperti ini. Sosoknya yang mau menjelaskan banyak hal tanpa mengeluh itu ... Stella pikir, sangat menakjubkan.
"Kalau begitu, bagaimana dengan para kelinci yang ada di sana?" tanya Stella sambil menunjuk gerombolan kelinci putih bergaris hitam yang sedang memakan rumput. Saat melihat para kelinci itu, entah mengapa mengingatkan Stella dengan gumpalan bola salju yang sering ia buat di masa kecilnya.
Jangan ingat.
__ADS_1
Stella menggeleng. Kenangan buruk di musim dingin yang ingin mendatanginya, tidak ia biarkan mengganggu di tengah momen membahagiakan ini. Stella tidak ingin pengalaman barunya ini dirusak kenangan musim dingin yang tidak sengaja ia ingat.
"Para kelinci itu menyimpan formula sihir. Di sana terdapat petunjuk bagi para penyihir pemula."
Mata merah para kelinci yang menatap ke arah mereka begitu ditunjuk, semakin memperbesar antusiasme Stella. Dengan pipi yang masih dipenuhi oleh makanan, keimutan yang para kelinci itu miliki membuatnya semakin bertambah berkali lipat.
Imut sekali!
Seandainya saja Davion tidak memegangi secara erat tangannya, Stella tentu tanpa perlu berpikir panjang akan langsung pergi ke tempat para kelinci itu dan membawa makhluk berbulu nan imut itu ke dalam pelukannya.
"Kita berjalan terlalu lambat. Ayo."
Sebelum Stella teralihkan sepenuhnya dan berakhir membuat Davion juga melupakan tujuan awal mereka, Davion mempercepat langkahnya. Ia berjalan cepat dengan setengah menyeret Stella yang sibuk menganggumi sekitarnya.
"Hei! Pelan-pelan!" teriak Stella saat ia hampir saja terjatuh. Langkah Davion yang terlalu cepat, sangat sulit untuk Stella imbangi.
"Kau boleh bertanya apa saja padaku, tapi jangan pernah berpikir untuk pergi menjauh dariku, mengerti?"
Bagai menasihati anak kecil agar tidak pergi sembarangan di tempat ramai, Davion mengingatkan Stella layaknya seorang Ayah. Kedua netra segelap malam miliknya yang menatap lurus kepada netra serupa lautan Stella, memberikan perasaan aneh seperti sedang menyelami seluk beluk tersembunyi di hati perempuan itu.
"Aku mengerti."
Stella mengangguk dengan patuh. Tidak ingin terjebak dalam kegelapan memukau milik Davion terlalu lama, ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Maaf karena sudah terlalu asik sendiri. Aku akan mencoba menahan diri," ucap Stella, sambil memberanikan diri untuk menatap permata hitam laki-laki itu kembali. Davion yang tersenyum, merasa puas atas jawabannya, secara refleks langsung membuat Stella menghembuskan napas lega.
"Bagus."
Elusan pelan Davion di atas kepalanya, terasa sangat aneh. Stella memperhatikan ekspresi Davion begitu mereka kembali berjalan santai. Walau ekspresi di wajahnya terlihat tenang seperti biasa, meski sekilas, Stella dapat melihat ada riak cemas di dalam netra serupa langit malam Davion.
"Kau mau membawaku ke mana, Davion?"
Melupakan sejenak pemandangan menakjubkan di sekitar mereka, Stella mencoba bertanya. Terlalu antusias atas rasa penasarannya sendiri, membuat Stella menyadari sudah melakukan kesalahan karena melupakan Davion. Tidak seharusnya bagi Stella asik sendiri sehingga melupakan tujuan awal mereka datang ke tempat ini.
"Pohon Pengetahuan. Aku ingin membawamu ke tempat itu."
Nama dari tempat yang akan mereka tuju yang Davion katakan, menarik perhatian Stella.
"Apakah di tempat itu menyimpan seluruh pengetahuan perpustakaan terlarang?" tanya Stella, mencoba memastikan. Menilai dari namanya, Stella pikir tempat itu merupakan tempat yang memiliki seluruh catatan para penyihir.
Mempertimbangkan kupu-kupu kecil sebelumnya saja sudah memiliki banyak catatan, Stella pikir apa yang tersimpan di pohon Pengetahuan pastilah berkali-kali lipat lebih banyak, jauh melebihi catatan yang tersimpan di kupu-kupu.
"Kau bisa menyebutnya begitu."
Jawaban yang Davion berikan, membuat Stella terdiam. Berbanding terbalik dari tebakannya, Davion justru merasa ragu. Sikap yang Davion perlihatkan sekarang ini terkesan seperti kurang yakin akan pilihannya sendiri di mata Stella.
Sebenarnya apa yang kau cari?
Tidak mengatakan dengan jelas apa yang ingin dipastikan dan hanya mengajak Stella pergi bersama, Davion benar-benar membuat Stella kebingungan dengan apa yang ingin dicarinya.
"Kita sudah sampai," ucap Davion, sembari menatap lurus pohon yang ada di hadapannya.
"Ini adalah pohon Pengetahuan."
Di sisi Davion, Stella juga memperhatikan pohon berwarna putih besar yang menjulang di hadapan mereka. Padahal Stella yakin sebelumnya tidak ada pohon seperti ini di depannya. Namun, bagai baru saja memasuki dunia lainnya dari perpustakaan Terlarang, pohon itu tiba-tiba saja muncul dengan begitu mengejutkannya di depan Stella seperti hantu yang tidak menunjukkan tanda apa pun.
"Aku tidak tahu apakah di tempat ini terdapat informasi yang kita inginkan. Namun, karena tempat ini sudah ada bahkan sebelum menara sihir dibentuk, apa yang tersimpan di dalamnya bisa saja memberikan kita beberapa petunjuk," ucap Davion dengan senyuman tipis terlukis di bibirnya.
Seolah kecemasan yang sempat Stella lihat di kedua mata Davion sebelumnya hanya ilusi, sekarang binar kedua netra serupa malam milik Davion dipenuhi oleh antusiasme. Berbanding terbalik dari ucapan tidak percaya diri yang Stella dengar, saat ini Davion menunjukkan semangat yang menggebu.
__ADS_1
"Baiklah! Sekarang waktunya mencari!"
Davion sekali lagi menyeret Stella agar mengikutinya. Menanggapi teguran yang Stella berikan dengan memberikan tantangan, Davion mulai menguraikan setiap bagian pohon Pengetahuan sembari menertawakan Stella yang terus menggerutu di sisinya.