Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny
Kebenaran yang tersembunyi


__ADS_3

Pada akhirnya, kelebihan Stella yang selama ini dianggap menyebalkan oleh Orfeo, digunakan pada tempat yang seharusnya. Kini digunakan untuk menerjemahkan bahasa kuno di setiap lembaran catatan yang sudah diuraikan oleh Davion, salah satu penyebab lain Stella sering kabur itu tidak disangka bisa berfungsi kepada selain artefak biasa.


Membantu Davion menerjemahkan setiap bagian dari pohon Pengetahuan yang sudah diuraikan, Stella yakin dirinya menjadi orang paling beruntung di antara para kolektor artefak sekarang ini.


Bagaimana tidak? Jauh lebih antik dari artefak yang selama ini Stella dapatkan di pelelangan, setiap informasi yang tersimpan di pohon Pengetahuan ini dua kali lipat lebih langka dari benda-benda bersejarah yang tersedia di tempat lelang.


Pohon berwarna putih dengan ukuran raksasa yang berada dalam perlindungan para penyihir ini, sudah berdiri bahkan sebelum kekaisaran Ormanda terbentuk. Sudah menjadi saksi bisu dari banyak kehidupan, pohon Pengetahuan yang ada di dekat Stella ini bahkan bisa dibilang bentuk lain dari dunia itu sendiri.


Mencatat begitu banyak kejadian dari waktu ke waktu, sesuai namanya, pohon Pengetahuan benar-benar menjadi sumber dari segala informasi. Mengetahui apa yang dilewatkan oleh manusia, informasi mengenai kejadian besar masa lampau yang tersimpan di dalamnya sangat lengkap, tertulis secara rinci tanpa ada satu pun kekurangan.


"Catatan berdirinya kerajaan Ormanda."


Setelah sekian banyak catatan yang Stella terjemahkan, judul besar dari catatan yang baru saja dibacanya itu menjadi yang paling menarik perhatian. Kini sudah berubah menjadi sebuah kekaisaran, catatan mengenai Ormanda yang Stella temukan sekarang ini sudah jelas merupakan harta karun.


Satu tahun lagi genap berusia dua ratus tahun sebagai penguasa sebagian besar benua, catatan saat Ormanda masih bagian dari kerajaan kecil ini, Stella yakin tidak mungkin lagi bisa ditemukan di perpustakaan istana. Menghilang bersamaan tertulisnya sejarah baru yang jauh lebih bernilai, masa lalu dari Ormanda yang sudah terlupakan itu, membangkitkan rasa penasaran dan antusias secara bersamaan kepada Stella.


"Hei, Davion. Aku pikir kau perlu melihat ini," panggil Stella, meminta Davion untuk segera menghentikan kegiatan mengurai yang dilakukannya.


Davion menuruti permintaan Stella untuk mendekat. Saat laki-laki berambut sekelam malam itu sudah ada di sisinya, Stella menunjuk judul dari catatan yang sudah ia terjemahkan kepada Davion.


"Kalau kerajaan ... berarti apa yang tertulis di sini berusia hampir 300 tahun."


Kedua netra kelam Davion memperhatikan secara saksama setiap bagian yang Stella terjemahkan. Mengangguk-angguk, Davion meminta Stella untuk meneruskan menerjemahkan bagian lain dari catatan itu.


"Karena keluarga Vandesca termasuk salah satu penopang Ormanda, kau bisa langsung menerjemahkan bagian khusus keluarga Vandesca saja, Stella," ucap Davion, sembari menyerahkan catatan yang ada di tangannya.


"Baiklah."


Tidak seperti sebelumnya yang merasa keberatan, sekarang Stella membantu secara sukarela. Tanpa banyak memberikan protes Stella mengikuti perkataan Davion.


Mencatat hasil terjemahan di kertas sihir dengan ditemani Davion yang juga ikut membaca di sampingnya, Stella membaca setiap baris yang ditulisnya itu penuh perhatian.


Memperlihatkan begitu banyak reaksi mulai dari mengerutkan alis sampai tersenyum tipis, tangan Stella yang tidak lagi melanjutkan mencatat hasil terjemahan, menarik perhatian Davion yang sedari tadi juga ikut membaca dalam diam.


"Jadi, ini alasannya, ya?" bisik Davion sambil melirik Stella yang kini terdiam dengan raut tercengang. Mengambil alih catatan di tangan Stella, Davion mencoba membandingkan isi catatan itu dengan apa yang sudah terjadi selama beberapa hari terakhir.


Saat Davion menemukan Stella tidak sadarkan diri sambil menggenggam erat kalung berhiaskan batu kusam, sejujurnya Davion sudah merasa agak aneh.

__ADS_1


Seandainya Davion tidak mengenal Stella dengan baik, saat melihat kesatuan nan janggal antara pakaian mewah dan kalung biasa, mungkin Davion hanya akan berpikir bahwa Stella memiliki selera yang aneh. Namun, karena Davion sangat mengetahui bahwa Stella tidak mungkin membeli kalung berpenampilan buruk tanpa adanya pertimbangan mengincar kekuatan tersembunyi di baliknya ... maka apa yang tertulis dalam catatan di tangan Davion sekarang ini sedikit masuk akal.


Pada dahulu kala, tepatnya di saat Ormanda masih dikenal sebagai kerajaan kecil dan hampir berusia genap seratus tahun, ada sebuah tragedi yang terjadi.


Di tahun itu, salah satu keluarga yang menopang Ormanda memiliki dua orang pewaris Benang Merah di satu generasi yang sama. Tidak pernah sekalipun terjadi sejak kerajaan baru saja dibentuk, berita mengenai dua pewaris itu dirahasiakan dari publik dan hanya raja yang memimpin di waktu itu saja yang mengetahuinya.


Tidak ada yang salah dari keberadaan dua orang pewaris Benang Merah, semua tetap normal sebagaimana para pewaris tunggal di generasi sebelumnya.


Bisa mengintip goresan takdir dan memperbaiki ikatan hubungan orang lain, Benang Merah yang kedua orang itu miliki tidak jauh berbeda dari yang dimiliki para pendahulunya. Sampai ... ada satu kejadian yang mengubah segalanya.


Di dalam catatan yang tertulis, yakni tepatnya satu tahun sebelum kerajaan Ormanda genap berusia seratus tahun, terungkap bahwa Benang Merah yang dimiliki oleh dua pewaris itu lebih kuat dibanding yang diwarisi oleh satu orang saja.


Terbongkarnya fakta bahwa anak kedua, yakni adik kembar dari Duchess kecil yang juga sama-sama terpilih sebagai pewaris Benang Merah bisa mengintip kilasan masa depan, membuat kebenaran itu semakin sulit untuk dipublikasikan.


Bukan tanpa alasan Raja menyembunyikan fakta luar biasa itu dari keluarga bangsawan lain. Masa depan yang dilihat oleh bungsu Vandesca di generasi itu ... memang tidak bisa diungkapkan secara sembarangan.


Tanpa melibatkan saudaranya yang juga mewarisi kemampuan Benang Merah, Filips Gelsi Vandesca–Adik kembar dari Selena Panthea Vandesca itu, memberitahu raja mengenai apa yang ia lihat.


Di masa depan yang diperlihatkan Benang Merah, Filips melihat Ormanda berubah menjadi lautan darah. Bisa dibelokkan tergantung tindakan yang diambil oleh raja saat ini ... masa depan mengenai kehancuran Ormanda, bergantung dengan seberapa besar tekad yang dimiliki raja untuk mengambil alih tanggung jawab atas apa yang Selena lakukan.


"Apakah Yang Mulia sanggup melakukannya?"


Mengorbankan orang banyak demi satu orang, atau menumbalkan satu orang demi kebaikan banyak orang.


Sebagai seorang pemimpin, sudah jelas raja Ormanda saat itu memilih kesejahteraan rakyatnya. Menanggung beban dari apa yang akan segera Selena lakukan, dikarenakan keputusan yang diambilnya, Ormanda berubah menjadi kekaisaran.


Sebagai Kaisar pertama Ormanda, Cedric Farrel Ormanda mendapatkan julukan Kaisar Tiran.


Di dalam catatan yang tersimpan rapat di istana, Ormanda berubah menjadi kekaisaran sebab kepiawaian Kaisar Cedric dalam menaklukkan kerajaan kecil di sekitarnya. Namun, karena catatan yang ada di tangan Davion sekarang ini adalah kejadian nyata di masa lampau .... Maka, jejak prestasi itu tidak lebih dari kebenaran yang sengaja disembunyikan demi menjaga nama baik Selena dan juga Vandesca.


Pada tahun Ormanda genap berusia ke seratus, Benang Merah menelan Selena. Berakhir mengamuk dan menghancurkan kerajaan tetangga, jejak yang sengaja ditutupi dan diambil alih sebagai pencapaian itu, merupakan antisipasi yang dimaksud oleh Filips demi kebaikan orang banyak.


Ini cukup gila.


Davion menghentikan sejenak membaca hasil terjemahan itu. Melirik Stella yang saat ini tengah tenggelam dalam pikiran, Davion dapat mengerti mengapa perempuan berambut pirang itu kini menggigit erat bibirnya.


Dari apa yang sudah Davion baca, masa depan yang pertama kali dilihat oleh Filips melalui Benang Merah adalah saudarinya yang kehilangan kendali atas diri sendiri.

__ADS_1


"Jangan gigit bibirmu begitu, Stella. Aku tidak ingin mati muda di tangan Orfeo, kau tau," tegur Davion sambil mengetuk pelan dahi Stella.


"Aku yakin ada cara untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi, kita tidak boleh menyerah begitu saja."


Davion membawa Stella ke dalam pelukannya. Sembari mengelus pelan punggung perempuan itu, kedua netra malam Davion kembali melanjutkan kegiatan membacanya.


"Kau bisa mempercayaiku, Stella."


Meski Davion sendiri juga sangat terkejut, ia tidak bisa membiarkan keterkejutan itu menguasai dirinya.


Kebenaran yang mereka dapatkan ini, memang mengerikan. Namun, Davion tidak bisa berdiam begitu saja. Jika memang hal itu pernah terjadi ... Davion yakin pasti ada hal lainnya. Entah itu pemicu ataupun cara penyelesaian. Bagaimanapun caranya, Davion tidak bisa membiarkan akhir mengerikan seperti kematian atau berakhir ditelan menimpa Stella, sosok perempuan berharga dalam hidupnya.


Selain kegilaan, Selena tidak pernah kehilangan ingatan.


Davion tidak tahu, apakah karena kini Fabian selaku pewaris lain dari Benang Merah tidak ada, situasi saat ini menjadi berbeda dari masa lalu. Hanya memiliki satu kesamaan sebelum kehilangan kendali, sekarang Davion semakin yakin kalung yang Stella dapatkan di tempat lelang waktu itu bukanlah suatu kebetulan.


Dari apa yang tertulis, Selena mulai kehilangan jati dirinya dari sosok nan baik hati menjadi sadis ... tidak lama setelah perempuan itu mendapatkan kalung dengan permata gelap di hari ulang tahunnya yang ke-16.


Dimulai dari temperamen yang semakin sensitif dan menyiksa orang-orang terdekat, Selena berubah menjadi sosok yang berbeda dari waktu ke waktu secara bertahap.


Setelah menerima kalung yang merupakan hadiah di upacara kedewasaan, konsentrasi dan kecakapan Selena terus menurun. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti. Sampai ... puncaknya, perempuan itu menyalahgunakan berkah Dewi.


Membangkitkan kemampuan lain dari Benang Merah, Selena yang terjebak dalam kegilaan memutuskan secara sepihak goresan takdir kehidupan orang lain.


Membenarkan ramalan berdarah yang Filips berikan kepada Raja Cedric, tidak cukup hanya dengan orang-orang di kediaman Vandesca, Selena juga mengamuk di tempat lain.


Bagai orang kerasukan, tanpa memedulikan tubuhnya yang rusak akibat melanggar tabu dan harus menanggung bayaran dari menggunakan Benang Merah, Selena menginvasi negara lain seorang diri.


Berubah menjadi sosok yang haus darah dan tergila-gila dengan jeritan penderitaan orang lain, kalung itu tetap melekat erat di leher Selena, bahkan di saat dirinya terbunuh di tangan Filips.


Ya ampun. Bagaimana caranya aku memberitahu hal ini kepada Orfeo?


Setelah menyelesaikan membaca kebenaran tersembunyi dari meluasnya kekuasaan Ormanda, Davion benar-benar dibuat kebingungan.


Tidak hanya merasa tidak tahu harus memulai dari mana, setelah selesai membaca catatan itu pun, Davion tidak menemukan jalan keluar lain.


Selain dibunuh atau berakhir kehilangan nyawa karena terlalu banyak ikut campur dalam 'takdir' orang lain, tidak ada penyelesaian yang lebih baik untuk menghentikan 'harga' yang harus ditanggung oleh dua pewaris di generasi yang sama.

__ADS_1


Tidak adanya Fabian selaku pewaris lain Benang Merah di generasi ini ... menjadi masalah yang paling Davion khawatirkan.


Tidak bisa dilepaskan kecuali oleh pengguna Benang Merah di generasi yang sama, hanya menunggu waktu saja kalung itu mengubah Stella menjadi seperti Selena.


__ADS_2