
Tidak peduli seberapa keras Davion mencoba mencari jalan keluar, pada akhirnya ia hanya menemui jalan buntu. Tidak ada pilihan lain yang dapat ia pikirkan, selain menyingkirkan sejauh mungkin kalung itu dari Stella untuk sementara waktu.
Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil. Tapi, ini layak dicoba.
Menghembuskan napas lelah, Davion memasang berlapis-lapis pelindung pada kalung yang ada di tangannya. Selama stabilitas kekuatan Stella masih belum pasti, tidak ada salahnya ia melakukan hal ini sebagai bentuk antisipasi atas kemungkinan tak terduga.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?"
Keadaan Stella yang masih syok atas kebenaran masa lalu yang mereka dapatkan, jauh lebih buruk dari yang Davion kira.
Itu pasti sangat mengguncang hatinya.
Kalau boleh jujur, Davion sendiri pun sebenarnya juga masih tidak menyangka akan jejak masa lalu satu itu.
Terbunuh karena kegilaan. Mungkin, Selena melakukannya secara tidak sadar. Namun, sebagai seseorang yang aslinya memiliki hati selembut kapas, Davion tidak dapat membayangkan seberapa menderita perempuan itu andai kegilaan itu hanya berupa pada tindakannya yang tidak terkendali saja.
Sayang sekali, pohon Pengetahuan hanya mencatat bagian luar saja.
Seandainya saja, ada kekuatan yang memungkinkan Davion dapat menyaksikan secara langsung melalui sudut pandang Selena, Davion tidak keberatan mencoba. Sebab, kalau ia bisa melihat dari sisi Selena, Davion berpikir, mungkin saja ia bisa menemukan cara untuk membantu Stella agar tidak terjatuh ke dalam kegilaan, sama seperti perempuan malang satu itu.
"Ini teh Chamomile. Aku harap ini bisa menenangkanmu."
Meski saat ini isi sudut hatinya tidak kalah berkecamuk dari Stella, Davion tidak memperlihatkan secara terang-terangan rasa frustrasinya.
Di saat seperti ini, paling tidak harus ada seseorang yang memiliki kepala dingin. Jika tidak, hal itu hanya akan membuat mereka semakin berada di jalan buntu dikarenakan tidak bisa berpikir jernih.
Aku harap dia tidak datang terlalu cepat.
Walau sedikit sulit, mau tidak mau Davion tetap harus memberitahu Orfeo mengenai apa yang ia dan Stella temukan selama di perpustakaan Terlarang. Sebagai partner kerja sama Davion dan Kakak dari Stella, menyembunyikan kebenaran itu dari Orfeo hanya akan membuat situasi buruk saja.
Stella yang biasanya mampu menghadapi segala situasi dengan tenang saja, sampai tidak bisa berkata-kata seperti ini. Davion tidak dapat membayangkan separah apa reaksi yang akan diperlihatkan oleh Orfeo saat sudah mendengar laporan darinya nanti.
"Bocah? Ada apa kau memanggilku di tengah kesibukan begini?"
Sebelum Orfeo bergabung, Davion sudah memanggil seseorang untuk membandingkan hasil dari catatan yang mereka dapatkan.
Davion tahu, pohon Pengetahuan tidak mungkin bisa dimanipulasi oleh penyihir maupun manusia biasa. Jadi, karena keasliannya itu sudahlah terjamin, ia mencoba menggali informasi lewat jalur lain supaya semakin akurat.
Keberadaan Felix, sosok yang sudah menyaksikan perubahan Ormanda hampir selama dua abad, menjadi solusi terbaik lain yang dapat Davion pikirkan. Meski tidak terlalu banyak, setidaknya kesaksian dari penyihir sepuh seperti Felix bisa saja memberikan jalan keluar lain bagi mereka.
"Aku ingin berdiskusi denganmu, Felix. Tolong tinggalkan pekerjaanmu itu sebentar."
Walau tingkah usil Felix sering kali berhasil memancing emosi. Otak maupun kemampuan dari kepala menara itu, tidak bisa dianggap remeh. Sebagai seseorang yang sudah mendampingi Felix mulai dari usia 12 tahun sampai sekarang, Davion tahu, Felix sangat bisa diandalkan di saat-saat seperti ini. Pengetahuan yang laki-laki itu miliki bisa saja berguna.
"Ini mengenai Benang Merah," ucap Davion saat mendapatkan tatapan tidak terima dari Felix yang dipaksa untuk meninggalkan setumpuk pekerjaannya.
Sebelum kena amuk karena menginterupsi kesibukan Felix, Davion sebisa mungkin memasang perisai terlebih dahulu. Selama topik yang ia angkat bukan hal remeh, Felix tidak bisa memarahi Davion secara sembarangan.
"Benang Merah?"
"Ya, Benang Merah."
Kebetulan, mengalihkan perhatian juga termasuk dalam salah satu keahlian Davion. Mengandalkan kejujurannya yang terkenal langka di kalangan penyihir, Davion memberikan jawaban sembari melirik Stella yang saat ini tengah melamun sambil meminum teh miliknya.
"Kau bisa kan, Felix?"
"Ah~ Kau ingin bertanya tentang itu, rupanya. Aku mengerti, aku mengerti."
Perubahan suasana hati Felix yang begitu cepat saat mengikuti pandangan Davion yang memperhatikan Stella, mengundang alis Davion untuk mengerut. Biarpun itu hanya samar, Davion dapat merasakan ada kesalahan pahaman di sini.
"Kalau untuk satu itu, aku bisa meluangkan waktu secara khusus untukmu."
__ADS_1
Benar saja seperti dugaan Davion, Felix salah menangkap maksud dari perkataannya. Jika memang Felix menangkap dengan baik perkataan Davion, maka tidak mungkin senyum menyebalkan bisa terpasang di bibir laki-laki itu.
Bukankah, sekarang ini kau tidak memiliki waktu untuk bercanda?
Davion memasang ekspresi datar. Entah apa yang ada di pikiran Felix. Biarpun Davion sendiri tidak bisa membaca isi kepalanya, Davion pikir, ia dapat menebak sebagian besar dari pikiran atasan sekaligus ayah angkatnya itu.
"Aku mengatakan ini untuk berjaga-jaga. Benang Merah yang aku maksud adalah, berkah turun temurun di keluarga Vandesca," jelas Davion, sebelum isi kepala Felix menglanglang buana terlalu jauh.
Davion tahu, seorang penyihir terikat kuat dengan imajinasi. Tanpa adanya gambaran yang jelas dan kuat, sihir sulit untuk terwujud. Namun, khusus untuk Felix ... ada saat-saat tertentu imajinasinya sampai ke tahap meresahkan. Jika sudah salah menangkap maksud awal perkataan dari lawan bicaranya, Felix harus cepat dihentikan. Sebab, kalau sampai tidak disadarkan ... kesalahpahaman Felix selalu saja menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Eh? Bukan itu, ya? Aku pikir ka—"
"Apa kau pernah melihat Benang Merah yang mengamuk?" sela Davion, sengaja memotong perkataan Felix.
Selain karena saat ini dirinya sedang diburu oleh waktu, Davion tidak ingin mendengarkan ocehan Felix yang tidak terlalu penting.
Setelah mendengar kabar bahwa mereka sudah menemukan catatan mengenai Benang Merah, Davion yakin Orfeo tidak akan menunda kedatangannya. Jadi, sebelum Duke terlampau sayang dengan Adik satu itu sampai di menara penyihir, sebisa mungkin Davion mengorek informasi dari Felix. Davion tidak bisa mempercayakan sesi tanya jawab ini kepada Orfeo, laki-laki yang memiliki kemungkinan besar bisa kehilangan ketenangannya.
"Apakah yang kau maksud adalah awal terbentuknya kekaisaran ini?"
Davion mengangguk. "Iya, itu benar," jawabnya dengan raut muka yang tidak kalah serius dari Felix.
"Karena tragedi itu hanya tertulis di pohon Pengetahuan, aku akan menganggapmu sudah mengetahui sebagian garis besarnya melalui catatan perpustakaan Terlarang."
Syukurlah, Felix tidak meneruskan percakapan tidak berarti mereka sebelumnya. Ekspresi menyebalkan yang kini menghilang dan digantikan dengan keseriusan, terasa melegakan bagi Davion yang melihatnya.
"Hmm ... kejadian 180 tahun lalu, ya? Kira-kira, apa yang mungkin dilewatkan pohon Pengetahuan?"
Alis perak Felix yang menekuk tajam tanda bahwa saat ini sedang berpikir keras, Davion perhatikan. Tidak seperti tingkah biasanya yang kelewat cerewet, kali ini Davion membiarkan saja laki-laki itu mengabaikannya dan menunggu penuh kesabaran tanpa banyak protes.
"Menilai dari sifatmu yang tidak sabaran itu dan alasan mengapa kau memanggilku kemari. Apakah kau berniat mencari tahu, aku terlibat atau tidak sebagai pemimpin menara saat itu?"
Saat ini. Dalam keadaan hanya menemukan sepotong kecil dari catatan pohon Pengetahuan, Davion sangat memerlukan informasi dari Felix. Selaku pemilik menara dan pemimpin dari para penyihir, kesaksian Felix bisa saja membuka kemungkinan tersembunyi yang tidak tertulis di catatan pohon Pengetahuan. Meski hanya sedikit, informasi Felix sangat berarti baginya.
"Saat itu, aku tidak terlibat langsung. Tapi, aku pikir bisa menjawab beberapa pertanyaan darimu."
Tanggapan positif Felix, Davion sambut dengan baik.
"Kalau begitu ... pertama-tama, aku ingin menanyakan perihal kalung ini terlebih dahulu."
Davion memperlihatkan kalung yang sudah ia segel kepada Felix. Kalung berhiaskan permata kusam itu sekarang ini tertutupi oleh pola dari sihir perlindungan.
"Ah. Ini kalung waktu itu, ya?"
"Ya. Apa kau mengetahui siapa yang memberi kalung ini kepada pemilik Benang Merah sebelumnya?"
Kedua mata hijau Felix yang menelisik permata, dipenuhi oleh keseriusan. Sesekali bergumam saat memperhatikan detail bandul kalung, Felix menyerahkan kalung itu ketika merasa sudah cukup puas memeriksanya.
"Meski ini samar, aku dapat merasakan kekuatan dari berkah yang diturunkan di keluarga Cassie."
Perkataan tak terduga Felix membuat Davion refleks melirik Stella.
"Cassie? Apa kau yakin ini barang milik keluarga Duke yang melindungi wilayah selatan Ormanda?"
Setahu Davion, setiap barang mengandung berkah Dewi Ilythia yang dimiliki oleh para keluarga Duke, tidak boleh diperjual belikan. Dianggap sebagai benda pusaka karena merupakan barang bukti dari pencapaian para leluhur, kira-kira apa alasan benda yang berharga seperti kalung ini bisa sampai ke tangan orang lain?
Terlebih lagi, jatuh ke tangan keluarga Vandesca.
Kejanggalan dari benda pusaka yang bisa jatuh ke keluarga lain begitu mudahnya tanpa ketahuan anggota kekaisaran ini, menimbulkan banyak tanda tanya dalam kepala Davion.
Meski kini nama keluarganya diambil kembali oleh kekaisaran karena bangkrut, Davion tahu, benda yang berkali-kali lipat lebih berharga dari artefak ini tidak bisa sembarangan jatuh ke tangan orang lain.
__ADS_1
Tanpa adanya izin dari sang pemilik atupun kasus seperti keturunan langsung yang tidak memiliki pewaris, Tuan dari benda berisi berkah Dewi ini tidak bisa diubah begitu saja.
Harus melalui banyak prosedur rumit nan panjang terlebih dahulu, setelah melewati banyak hal, tidak sedikit juga yang gagal selama proses penyambutan kekuatan hebat itu.
"Apakah pemindahan kemampuan turun-temurun memungkinkan kepada orang lain yang tidak sedarah?" tanya Davion, mengungkapkan rasa bingungnya atas informasi yang tidak terduga.
"Jangankan, seorang ahli waris. Bukankah menjadi seorang penyihir saja tidak mudah?"
Tanggapan yang Felix berikan, berhasil membuat suasana berubah menjadi hening dalam sekejap.
Entah itu Davion ataupun Felix, kedua laki-laki itu terdiam dengan isi kepala yang berkecamuk.
"Itu mustahil, Davion."
Di tengah suasana yang mulai memberat, Stella memecahkan keheningan nan menyesakkan di antara mereka.
"Ahli waris hanya bisa terpilih dari keluarga terdekat saja. Tidak pernah ada keluarga lebih jauh dari sepupu yang terpilih menjadi seorang pemilik kemampuan yang baru," jelas Stella, menambahkan.
Sekarang, setelah menenangkan diri dengan secangkir teh yang diberikan oleh Davion, Stella merasa jauh lebih baik. Kini sudah tenang dan bisa berpikir rasional kembali, selaku sosok yang menjadi alasan perbincangan berat ini muncul, Stella tidak membiarkan Davion menyelesaikan semuanya sendirian. Stella tidak ingin terlalu merepotkan, apalagi sampai dilindungi seperti seorang Nona Muda yang rapuh.
"Contohnya, keluarga Balges. Duke Balges saat ini kehilangan putra dan istrinya karena kecelakaan. Sebagai keponakan dari Duke, Veronica dan Vincent, anak dari Adik Duke-lah yang terpilih sebagai ahli waris baru."
"Ah, apakah itu berarti keluarga jauh yang hanya memiliki seperempat darah Duke, tidak memiliki kemungkinan menjadi ahli waris baru?"
Stella mengangguk. Ia membenarkan tebakan dari Davion.
"Selama itu mewarisi setengah darah saja, anak haram pun, juga bisa terpilih. Jika tidak ada lagi ahli waris lain di keluarga utama yang meneruskan, selama memiliki setengah darah Duke, anak di luar nikah pun bisa menjadi pemilik kemampuan yang baru," ucap Stella, menjelaskan kemampuan turun-temurun yang hanya dimiliki oleh empat keluarga besar penopang Ormanda yang ia ketahui dari Fabian, kakaknya.
"Bagaimana dengan pernikahan dari dua keluarga? Apakah pernah ada kasus anak hasil dari pernikahan yang mewarisi dua kemampuan berbeda sekaligus?"
Stella menggeleng. "Tidak. Tidak pernah ada kasus yang seperti itu," jawabnya atas pertanyaan Felix.
Seingat Stella, meski mewarisi darah dari keluarga yang lain pun, tidak pernah ada seorang ahli waris yang memiliki dua kemampuan.
Untuk dua orang anak mewarisi salah satu kemampuan dari orang tuanya, mungkin itu masih memungkinkan. Namun, satu orang anak mewarisi dua kemampuan sekaligus? Sepertinya itu sedikit sulit.
Dari spekulasi yang Davion buat sebelumnya, sebagai ahli waris Benang Merah Stella mengakui beberapa hal.
Menimbang catatan yang tersimpan di keluarga mereka maupun mengambil kesimpulan dari rumor yang ia dapatkan setiap kali menghadiri pesta ... Stella pikir, setiap kemampuan memiliki bayaran yang berbeda.
Kalau tidak salah, dulu aku pernah mendengar Nona Muda Sanchez tidak sadarkan diri selama lebih dari seminggu.
Benang Merah dengan harga kehilangan sebagian umur, pemilik Buku Ajaib yang selalu tertidur setiap kali pemakaian. Lalu, Parodio dan mimpi buruknya. Meski Stella tidak tahu apa harga yang harus dibayarkan atas kemampuan Pengendali Mimpi di keluarga Cassie. Stella pikir, semakin besar dan kuat kemampuan itu, maka semakin besar pula bayarannya.
Karena keberadaan kemampuan ini saja sudah melanggar aturan dunia.
Sesuai perkataan Davion dua hari ke belakang, kekuatan yang bisa ikut campur dalam garis takdir orang lain ini, Stella akui tidak terikat dengan aturan dunia. Tergantung dari seberapa intens keterlibatan ahli waris dengan catatan hidup orang lain dalam menggunakan kemampuannya. Setelah menganalisa dan menimbang keadaan ahli waris di keluarga lain, selama itu tidak melibatkan diri secara langsung dalam takdir orang lain, maka kemampuan ini Stella pikir tidak akan berakhir menjadi kutukan.
Tapi, apakah memang benar begitu?
Stella juga tidak terlalu yakin dengan kesimpulan yang ia ambil itu. Masih belum pasti apakah bayaran disesuaikan dengan keterlibatan setiap pemilik kemampuan atau tidak, sebelum mereka menemukan jawabannya, Stella sudah menekankan kepada dirinya sendiri untuk tidak menggunakan Benang Merah sembarangan selama tidak terjebak dalam keadaan mendesak.
"Pada akhirnya, kalung ini pun juga menemui jalan buntu. Apa alasan kalung ini bisa ada di tangan Selena, mengapa Benang Merah bisa mengamuk, ataupun bagaimana cara mengendalikannya ... sepertinya akan terjawab satu persatu setelah kita mengetahui alasan kalung ini diberikan."
Hembusan nafas lelah Davion dan keluhannya, menyadarkan Stella dari lamunan. Diam-diam menyetujui apa yang Davion katakan tadi, Stella juga berpikir mereka harus menyelidiki lebih jauh kalung yang 'kebetulan' bisa ada di tangannya dalam generasi ini.
"Yang menjadi masalah, bagaimana caranya kita menginterogasi seseorang yang kini telah tiada? Tidak mungkin kan, kita harus menggali kuburan orang itu?" cerca Davion sembari mengacak-acak rambut ikal serupa langit malam miliknya.
Benang Merah, kalung, dan masa lalu. Kebenaran yang tertimbun dan mencuat kembali bersamaan masalah baru ini, benar-benar membuat Davion sakit kepala.
Jika mereka tidak dapat menemukan titik terang dari kejadian masa lampau, sebagai pemilik Benang Merah di generasi ini, Stella bisa menjadi ancaman. Menjadi sosok yang kehilangan jati dirinya ... Davion tidak dapat membayangkan, seberapa menderita Stella kalau tragedi itu diulang kembali olehnya.
__ADS_1