Red Thread Of Destiny

Red Thread Of Destiny
Ketidakpastian itu mengerikan


__ADS_3

Jauh berbeda dari apa yang Stella khawatirkan, setelah menghalangi Stella pergi dan meminta secara tersirat untuk tetap diam melalui tatapannya yang mematikan, Orfeo sama sekali tidak memarahi Stella.


Kembali melanjutkan pembicaraan penting bersama Davion yang tertunda, Stella sudah seperti pajangan di ruangan itu. Orfeo benar-benar mendiamkan Stella, tidak satu kali pun mengajak adiknya itu untuk terlibat dalam diskusi penting mereka.


Mau sampai kapan aku harus begini?


Stella memperhatikan dalam diam percakapan antara kakaknya dan Davion. Jujur saja, tidak dimarahi sangat melegakan bagi Stella. Namun, dianggap transparan seperti ini juga tidak menyenangkan. Berkali-kali lipat jauh lebih menyeramkan dibanding ekspresi meledaknya yang biasa, Stella sangatlah cemas dengan diamnya Orfeo sekarang ini.


Rasanya sesak.


Menunggu dalam keheningan seorang diri membuat jantung Stella berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya. Merasa buta karena tidak bisa menebak apa yang akan terjadi nanti, Stella hanya bisa berharap kakaknya itu tetap membiarkannya hidup.


Oh, Dewi Ilythia... hanya pertolongan-Mu yang dapat membantu hambamu ini.


Sangat menyadari alasan dari kemarahan sang Kakak, Stella memanjatkan doa sepenuh hati. Tanpa perlu ada yang memberitahu pun, Stella sadar kali ini dirinya yang salah. Terlibat dalam masalah besar yang membuatnya hampir mati, sangat wajar kalau Orfeo sangat marah sekarang ini.


Aku harus tenang.


Sebelum Davion dan kakaknya itu menyelesaikan percakapan penting mereka, Stella pikir ini waktu yang tepat untuk mengumpulkan kembali keberaniannya yang terpecah. Di dalam ruang kerja yang sudah memiliki warna serba gelap, menambah kesuraman bukanlah ide yang bagus. Stella tidak ingin merasa semakin tercekik oleh rasa cemas atas suasana tegang di dekatnya.


"Stella Aresya Vandesca."


"Ya?!"


Belum sempat Stella memunguti kepingan keberaniannya yang tercerai berai, panggilan lengkap bernada lembut Orfeo tanpa sadar membuat Stella berjengit.


"A-ada apa, Kak?"


Mengangkat kepalanya pelan penuh rasa takut, bertatapan langsung dengan kedua netra biru Orfeo, seketika membuat Stella menyesal memberikan perhatiannya. Saat melihat riak kemarahan yang tersembunyi di balik biru nan indah, nyali yang sedari tadi Stella kumpulkan, kini hancur berantakan. Stella benar-benar kehilangan keberanian saat menatap langsung mata kakaknya!


Sangat menyeramkan!


Stella tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meringis. Kedua netra sebiru lautan yang seharusnya menenangkan, sekarang terasa seperti laut dalam tak berdasar yang mengancam. Di bawah tekanan aura gelap nan menyeramkan, Stella merasa dirinya seperto seorang mangsa empuk yang siap diterkam kapan saja.


"Aku yakin sudah mengingatkanmu agar tidak berkeliaran sembarangan seorang diri. Jadi, bisakah kau mengatakan apa alasan dari tindakanmu kali ini, hm? Adikku tersayang?"


Bagai tikus yang terpojok, Stella hanya bisa memasang senyum kaku. Sejuta kalimat yang sebelumnya terangkai indah dalam kepala Stella, buyar sudah. Kepala Stella sangatlah kosong sekarang ini. Hilang entah ke mana, sekarang Stella tidak bisa memberikan alasan apa pun sebagai jawaban.


"Maaf. Aku mengaku salah," ucap Stella, pada akhirnya mengakui kesalahan yang ia lakukan. Tidak ingin menambahkan ledakan yang lebih besar dalam kemarahan sang Kakak, Stella memutuskan untuk mengatakan dengan jujur alasan dari tindakan yang ia ambil.


"K-karena selama ini tidak ada masalah yang terjadi, aku pikir tidak apa pergi sendirian. P-pergi bersama pengawal hanya akan membuatku terlihat mencolok."


Stella menghindari kontak mata di antara mereka. Apa pun itu, selama tidak menatap langsung kedua mata Orfeo, memperhatikan ruang kerja nan gelap ini jelas jauh lebih baik bagi jantungnya.


"Apakah hanya itu alasan yang kau miliki?"


Stella mengangguk dengan cepat. "Ya! Tidak ada lagi yang lain!" jawabnya.


Sebelum emosi kakaknya tersulut lebih jauh, Stella harap sikapnya sebagai seorang adik yang penurut ini, bisa memadamkan sedikit bara yang mengobar di dalam netra biru itu.


Ah ... aku tidak ingin mati muda.


Bagi Stella, keselamatan adalah nomor satu. Tidak bisa membiarkan jantungnya bekerja lebih keras lagi, Stella benar-benar berharap sesi interogasi ini segera berakhir.


"Bukankah dia jadi begitu karena kau terlalu mengekangnya, Orfeo? Larangan yang kau berikan itu justru membuatnya semakin merasa penasaran dengan dunia luar."


Stella tidak tahu apakah perkataan itu sebuah ejekan atau pembelaan. Sama sekali tidak dapat menebak motif dari selaan Davion yang bersifat provokasi, Stella secara tulus mengharapkan kakaknya diberikan hati nan lapang, karena ia benar-benar tidak ingin mendapatkan tatapan menyeramkan Orfeo lebih jauh lagi.


"Aku tidak ingin mendengar itu dari mulutmu. Kau bahkan jauh lebih parah dariku."


"Setidaknya aku memiliki alasan yang jauh lebih masuk akal darimu."

__ADS_1


Bukannya berhenti, provokasi Davion semakin menjadi. Sebagai sosok yang terjebak di tengah-tengah mereka, Stella menjaga jarak. Kilat tak kasa mata yang beradu di antara mereka berdua, menyalakan alarm tanda bahaya baginya.


Kenapa justru mereka yang berkelahi?!


Pertengkaran seputar siapa yang lebih baik dalam menjaga Adik, terus membesar di antara Orfeo dan Davion. Kini mulai menunjuk satu sama lain, Stella yang sebelumnya takut sekarang justru merasa heran dengan pertengkaran tidak penting keduanya.


"A-apa lagi ini ...." gumam Stella, menarik perhatian dua orang yang sedari tadi sibuk berdebat.


Cairan kental berwarna merah yang terus menetes tanpa henti, membawa keheningan di tengah mereka semua. Entah itu Orfeo, Davion ataupun Stella, mereka semua sama-sama terkejut sekarang ini.


"Kau mimisan."


Menyadari kondisi buruk adiknya lebih cepat, Orfeo mendekati Stella. Mengeluarkan sapu tangan yang tersimpan dalam saku jasnya dan membersihkan cairan berbau karat itu secara telaten, perhatian yang Orfeo berikan melunakkan sedikit ketakutan di mata Stella.


"Kakak, aku bi—"


"Kalau kau tidak ingin terkurung dalam rumah selamanya, diamlah."


Sebelum Stella sempat menyelesaikan protes atas perhatian yang ia beri, Orfeo sudah menyela lebih dulu. Ancaman disertai tatapan tajam Orfeo berhasil membungkam Stella dalam keheningan.


"Terima kasih."


Mengabaikan ketegangan yang mengudara, Stella mengungkapkan secara tulus rasa terima kasihnya. Walaupun tatapan Orfeo masih terasa menyeramkan, dalam keadaan sudah melihat secara langsung emosi itu telah mereda, Stella pikir diperlakukan seperti anak kecil tidak buruk juga.


"Aku pikir Stella harus mengetahui apa yang terjadi padanya, Orfeo."


Davion memecahkan keheningan di antara mereka terlebih dahulu. Reaksi tersentak berlebihan Orfeo, menimbulkan tanda tanya dalam kepala Stella atas gelagat anehnya.


"Ada apa?" tanya Stella, berharap mendapatkan jawaban. Namun, bukannya direspons, pertanyaan Stella justru dianggap angin lalu.


"Memberitahunya asumsi tak berdasar? Kita saja masih belum tahu jawaban pasti dari apa yang telah terjadi. Bagaimana mungkin aku mengatakan hal mengerikan itu ...."


Orfeo yang menanggapi secara serius perkataan Davion, semakin menambah tanda tanya di dalam kepala Stella. Saking seriusnya Orfeo sekarang, Stella bisa melihat kerutan di tengah-tengah alis kakaknya itu hampir menyatu.


"Kalau begitu, apa kau ingin Stella terus berada dalam bahaya? Meski itu masih belum pasti, paling tidak, kita bisa mengurangi kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di masa depan."


Melihat perdebatan mulut dari Davion dan Orfeo tanpa melibatkan dirinya, menorehkan kerutan di antara alis Stella. Perdebatan yang kembali setelah sempat mereda ini, benar-benar membuat Stella tidak habis pikir. Padahal sebelumnya mereka sudah berbaikan, Stella tidak percaya ia harus terjebak dalam ketegangan sekali lagi seperti ini.


"Mengurungnya di dalam sangkar kemewahan hanya akan membuatnya lemah. Kalau kau menginginkan dia bisa mengepakkan sayap, bukankah seharusnya kau membiarkannya terbang bebas mengenal dunia lebih jauh?"


Apa yang Davion katakan, mulai memberikan beberapa petunjuk bagi Stella. Meski Stella sendiri masih belum mengetahui pembicaraan ini mengarah ke mana, Stella secara samar-samar dapat merasakan perdebatan kakaknya dan Davion itu berputar di sekitar masalah yang baru saja melibatkan dirinya.


"Apakah ada rahasia yang Kak Orfeo sembunyikan dariku?"


Stella memberanikan diri untuk bertanya. Dengan tebakannya yang tidak pasti, Stella semakin menginginkan sebuah jawaban. Stella pikir, ia harus mengetahui masalah yang melibatkan masa depan dirinya itu secara langsung dari mulut sang Kakak.


"Apa yang membuat Kakak ragu? Apakah ini sesuatu yang tidak boleh aku ketahui?" tanya Stella sekali lagi, saat Orfeo tidak kunjung memberinya jawaban.


Orfeo yang berpaling, tidak lagi menatap lurus kedua netra birunya, semakin meyakinkan Stella ada suatu hal penting yang disembunyikan darinya.


Apakah memang seberat itu?


Stella tahu, semenjak kematian kakak pertama mereka, kakak keduanya itu berusaha sangat keras dalam melindunginya. Dalam waktu kekosongan yang tidak bisa dibilang sebentar, Orfeo berusaha sebaik mungkin menjaga Stella agar juga tidak ikut menghilang.


Stella sangat mengetahui seberapa besar rasa sayang Orfeo. Sangat tahu. Akan tetapi, jika memang ada sesuatu yang harus Stella ketahui, bukankah lebih baik mengatakannya sekarang?


Supaya Stella bisa lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Agar Stella tidak lagi membuat kakaknya itu khawatir.


Dengan keadaan mereka masih bertatap mata seperti ini, meski itu bukan kabar menyenangkan, Stella pikir lebih baik baginya mendengar hal itu dari mulut kakaknya secara langsung dibanding dari orang lain.


"Dengarkan aku baik-baik, Stella."

__ADS_1


Setelah terdiam cukup lama, Orfeo akhirnya membuka mulut. Entah apa yang akan Orfeo katakan, ekspresinya yang terkesan keberatan mengatakan hal tersembunyi itu, menorehkan rasa sakit dalam dada Stella yang melihatnya.


"Jangan pernah gunakan Benang Merah secara sengaja lagi."


Apa maksudnya itu?


Permintaan yang datang secara tiba-tiba tanpa adanya penjelasan itu, berhasil menghilangkan tatapan penuh perhatian Stella kepada Orfeo. Tanpa adanya sebuah kejelasan, Stella tidak bisa mengabulkan begitu saja permintaan yang lebih seperti perintah dari kakaknya itu.


"Bagaimana caranya? Apa Kakak tahu bagaimana cara menghilangkan kemampuan ini?" tanya Stella sambil menatap lurus ke arah kedua biru serupa yang ada di depannya.


Sebelum ia mengiyakan permintaan kakaknya, Stella memerlukan penjelasan yang masuk akal. Tanpa adanya alasan kuat, Stella tidak bisa berhenti menggunakan Benang Merah yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya begitu saja.


"Kak. Aku sudah besar. Aku juga sudah dewasa."


Orfeo yang hanya diam, kembali berpaling dan tidak lagi menjawab pertanyaan Stella, membuktikan bahwa kini laki-laki itu sedang mencoba menghindar.


"Kalau Kakak mengatakan semuanya, aku bisa lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Jadi, tidak bisakah Kakak juga percaya padaku seperti aku yang mempercayai Kak Orfeo selama ini?" bujuk Stella, berusaha sebaik dan sehalus yang ia bisa.


Sebagai seorang Adik, Stella tidak ingin selalu dilindungi oleh kakaknya. Jadi, kalau memang ada sesuatu yang harus ia hindari dari Benang Merah, selama alasan itu bisa diterima, Stella akan lebih berhati-hati dalam menggunakannya sehingga tidak akan menempatkan kakaknya itu dalam rasa khawatir seperti ini lagi.


"Ini masih sebatas tebakan. Kami pikir, Benang Merah yang ada di generasi ini bukan berkah, melainkan kutukan."


Davion yang tidak tahan dengan diamnya Orfeo, menjawab pertanyaan Stella. Mengabaikan bentakan Orfeo yang memintanya untuk berhenti, Davion berkata, "Setiap kali Benang Merah digunakan, ada harga yang harus kau bayar. Sebagai pewaris Benang Merah, kau berada dalam bahaya jika terlalu bergantung padanya."


Davion mengabaikan reaksi gelisah Orfeo. Seolah itu bukan sesuatu yang menjadi urusannya, Davion mengambil cemilan yang ada di atas meja dan memakannya tanpa beban.


"Orfeo berpikir menghentikanmu menggunakan Benang Merah bisa membuatmu aman. Dengan keadaan harga bayaran yang mahal, dia tidak ingin kemungkinan terburuk yang kami diskusikan menjadi kenyataan."


Benang Merah. Berkah yang bisa melihat ikatan orang lain. Apakah karena pemilik Benang Merah bisa mengintip garis takdir, kakaknya dan Davion berpikir bisa saja Stella sudah terlibat dalam Aturan Dunia, makanya berbahaya?


"Kak, apa itu benar?"


Stella menatap lekat kedua netra biru Orfeo, menuntut penjelasan lebih.


"Apakah Kakak juga berpikir begitu?"


Seperti yang Davion katakan, meski itu masih belum pasti, andai kemungkinan itu benar adanya, Stella jelas bisa dalam bahaya. Jadi, sebelum Stella melakukan kesalahan fatal dan kembali melibatkan dirinya dalam bahaya, Stella berpikir ia harus mendengarkan hasil diskusi panjang kakaknya dan Davion itu.


"Itu masih belum pasti, Stella. Tidak ada catatan yang mengatakan Benang Merah membuat para pewarisnya terlibat dalam situasi berbahaya."


Kalah dari ekspresi memelas Stella, Orfeo akhirnya mau menjawab. Walau masih enggan menatap langsung kedua mata Stella, paling tidak, Stella bersyukur kakaknya itu sudah mau membuka mulutnya.


"Bahkan Kak Fabian saja tidak pernah membahas hal ini. Kasus Benang Merah ini masih sebatas tebakan kami saja."


Berbanding terbalik dari kesan menyeramkan yang diperlihatkan sebelumnya, suara Orfeo sekarang sangat bergetar. Bersama pikiran dari berbagai kemungkinan terburuk, Orfeo tenggelam dalam dunianya sendiri dengan gigi yang bergemelutuk, membuktikan seberapa putus asa dirinya sekarang ini.


"Apa kemungkinan terburuknya, Davion?" tanya Stella kepada Davion yang ada di sampingnya. Tidak ingin mengganggu kakaknya yang kini tenggelam dalam pikiran, Stella mencoba mengandalkan Davion yang juga ikut menerka.


"Apakah ada kemungkinan hidupku bisa terancam?"


Davion memperhatikan Stella. Seakan bukan baru saja mendengarkan kabar buruk, binar penuh tekad Stella, membuatnya tidak bisa berkutik. Davion benar-benar tidak bisa menentang perempuan di sampingnya itu


"Kau yakin ingin mendengarnya?"


Stella mengangguk mantap. "Ya, aku yakin," jawabnya, tanpa ada keraguan sedikit pun.


Keberanian Stella yang setelah sekian lama tidak ia lihat, menenggelamkan sejenak Davion dalam kenangan masa lalu.


Panggilan yang lembut, tawa ceria, serta senyuman nan indah. Seandainya bukan karena hal buruk, Davion yakin mereka tidaklah canggung seperti sekarang.


"Kau bisa terlahap oleh Benang Merah," jawab Davion dengan senyum sendu nan kentara. Mengabaikan raut risih Stella yang merasa aneh akan reaksinya, Davion tidak menyembunyikan sedikit pun apa yang ia rasakan. Davion melukis secara terang-terangan ekspresi khawatir di wajahnya.

__ADS_1


"Lalu—"


Davion menggantung ucapannya. Perasaan berat yang sebelumnya sebisa mungkin ia sembunyikan, kini tidak lagi bisa dibendung. Mengatakan kemungkinan terburuk yang paling ia dan Orfeo takutkan dengan keramahan yang memudar, kedua netra biru terbelalak Stella saat mendengar jawaban darinya itu, berhasil mengembalikan keheningan panjang nan mengerikan di tengah mereka semua.


__ADS_2