
Teriakan yang saling bersahutan dan semakin keras saja dari waktu ke waktu, terasa bagai melodi pengantar menuju maut.
Bagi mereka yang tidak pernah mendapatkan serangan monster, apa yang terjadi sekarang ini sudah seperti kiamat. Penuh kekacauan dan tidak memiliki kemungkinan bisa selamat.
Bersama satu tali kehidupan yang lagi-lagi terputus, harapan yang dimiliki oleh setiap orang di sana juga ikut memudar. Mereka yang masih selamat hanya bisa gemetar, merasa was-was akan siapa orang tidak beruntung berikutnya yang terpilih.
"Kita harus mengambil tindakan."
Di tengah orang-orang yang mulai kehilangan harapan, Stella sebisa mungkin menggunakan otaknya. Sebagai seseorang yang sering terjebak dalam serangan monster selama di wilayah Vandesca, Stella tidak bisa membiarkan makhluk menyeramkan itu membasmi mereka semua tanpa sisa. Sebelum mereka semua ditaklukkan, pantang bagi Stella menyerah di saat ia belum berjuang.
"Kau yakin bisa mengalahkannya, Nona?"
Pertanyaan penuh rasa tidak percaya dari Dante yang secara aneh kembali menempel padanya, Stella abaikan.
Selain masih merasa jengkel, mendengarkan ocehan tidak berguna Dante dengan penuh perhatian juga tidak akan menjadi solusi bagi Stella. Jadi, sengaja menganggap laki-laki berambut segelap malam itu tidak pernah ada, Stella memusatkan seluruh perhatiannya kepada Dire Wolf yang masih mengamuk. Ia mengabaikan sepenuhnya Dante yang ikut bersembunyi di sebelahnya.
Bagaimana cara mengalahkannya?
Walaupun situasi penuh kekacauan ini sudah sering Stella temui selama masih berada di kediaman utama keluarganya, berhadapan secara langsung dengan monster itu seperti sekarang ini, merupakan kali pertama bagi Stella.
Selama masih di wilayah Vandesca, Stella hanya memperhatikan kedua kakaknya bertarung dari kejauhan. Mengamati sekalian mengagumi cara kedua kakaknya menaklukkan monster, Stella tidak pernah dibiarkan terlibat secara langsung dalam proses membereskan kekacauan.
Inilah kenapa aku membenci sikap protektif mereka.
Di saat mereka sedang bersama waktu itu, Stella mungkin bisa selamat. Namun, lihatlah situasi sekarang ini. Meski Stella sendiri sadar kedua kakaknya melarang karena takut dirinya kenapa-kenapa, pada akhirnya menjadi seorang pengamat saja tidak cukup. Di saat dirinya terjebak seorang diri seperti ini, pada akhirnya perhatian yang kedua kakaknya berikan menjadi bumerang. Stella hanya tahu bahwa Dire Wolf itu cepat tanpa memiliki pengalaman dan mengetahui bagaimana cara mengalahkannya.
Apa yang harus aku lakukan?
Pertarungan yang pernah Stella amati dari kejauhan, bisa berakhir dengan cepat karena kepiawaian kedua kakaknya dalam menaklukan monster. Memiliki kekuatan sekaligus kerja sama yang bagus, Stella ingat Fabian dan Orfeo memadukan kelebihan yang masing-masing mereka miliki dengan sangat baik.
Apakah ada seseorang yang bisa membantu?
Stella mengedarkan pandangannya. Benang Merah yang terbentang dalam pandangan, Stella telaah satu persatu.
Di tengah-tengah situasi yang sangat tidak menguntungkan ini, Stella sangat berharap ada seseorang yang bisa memberikan bantuan.
Mereka semua ketakutan.
Selama memperhatikan orang-orang di sekitar dengan Benang Merah miliknya, Stella dapat menemukan beberapa dari mereka memiliki kekuatan. Namun, tidak seperti apa yang Benang Merah perlihatkan, ketakutan dan kurangnya pengalaman menjadi masalah. Dalam keadaan kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa, orang-orang itu tidak bisa mengeluarkan secara maksimal kekuatan yang mereka miliki.
Tidak adakah seorang kesatria di sini?
Sepupu, teman, dan anggota keluarga. Sejauh Stella mengintip garis hubungan orang-orang di tempat lelang dengan menggunakan Benang Merah, tidak ada seorang pun yang Stella dapati menjabat sebagai seorang kesatria resmi.
Rata-rata dari mereka hanya memiliki koneksi saja, bukan seseorang yang dilantik secara langsung oleh Kaisar.
Apakah ini akan menjadi hari terakhirku hidup di dunia?
Sebagai seseorang yang selalu suka mengabaikan peringatan sang Kakak, Stella yakin kesialan yang terus terjadi ini merupakan sebuah peringatan agar lebih mendengarkan permintaan kakaknya.
"Hei, apa kau sudah menemukan cara untuk mengalahkan monster itu?"
Bisikan dari Dante disertai sentuhannya di tangan, menyadarkan Stella dari lamunan. Terlalu fokus mencari membuat Stella tanpa sadar melupakan sepenuhnya keberadaan laki-laki itu.
Kalau tidak salah, dia berasal dari keluarga Cassie, kan?
Saat kedua netra sebiru lautan Stella saling beradu dengan warna kelabu iris Dante, nama lengkap yang sebelumnya laki-laki itu ucapkan, kembali terputar dalam kepala Stella.
Duke Cassie. Salah satu penopang kekaisaran yang berkuasa atas wilayah selatan Ormanda.
Berdasarkan dua hal itu, walau Stella sendiri tidak mengetahui kemampuan seperti apa yang diturunkan di keluarga Cassie karena dirahasiakan, Stella dapat sedikit berharap dengan kelebihan yang disembunyikan atas perintah Kaisar itu, kan?
"Ada apa?"
Sadar menjadi pusat perhatian Stella, Dante tidak bisa menyembunyikan ekspresi gugupnya. Berbanding terbalik dari semangat yang diperlihatkan sebelumnya, Dante beringsut menjauhi Stella. Seakan mendapatkan tanda bahaya, gelagat yang Dante perlihatkan sudah seperti orang yang akan diterkam hewan buas saja.
"Kalau tidak salah nama belakangmu adalah Cassie, kan?"
Tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, Stella memberikan pertanyaan langsung ke intinya. Bisa atau tidak. Sekarang keselamatan mereka semua tergantung jawaban yang Dante berikan.
"Apa kau pewaris di generasi ini?"
Mengesampingkan keanehan karena tidak pernah melihat Dante di pesta debut, Stella menggantungkan sedikit harapannya. Jika Dante adalah pewaris berkah Dewi di generasi ini, maka risiko yang dapat Stella terima bisa diperkecil. Namun, kalau Dante belum mendapatkannya ... Stella tidak memiliki pilihan selain mengurangi kekacauan ini sebatas kemampuannya seorang diri saja.
"Tidak. Aku belum mendapatkannya."
Gelengan disertai ekspresi masam Dante, sudah cukup menjadi penentu kegilaan Stella. Segera melompat keluar dari persembunyian begitu mengetahui hanya dirinya seorang saja yang dapat berjuang, Stella berhasil mengubah ekspresi Dante dalam sekejap mata.
"Hei! Apa yang ingin kau lakukan!?"
Stella menulikan telinga dari teriakan penuh rasa terkejut Dante. Terus berlari menuju monster, sekarang Stella benar-benar maju hanya bermodalkan nekat dan insting yang dimilikinya sebagai seorang pemilik kemampuan Benang Merah.
Dalam setiap detik dan langkah yang berharga, Stella mengumpulkan konsentrasinya dalam satu titik. Bersama tekad kalau kakaknya Fabian saja bisa, maka ia juga bisa, Stella bergerak mengikuti naluri yang ditunjukkan Benang Merah padanya.
"Stella. Bagimu Benang Merah hanya terbatas melihat ikatan hubungan seseorang saja, kan? Namun, bagaimana kalau aku mengatakan Benang Merah ternyata memiliki jangkauan yang lebih luas?"
Stella tidak tahu apakah ingatan yang tiba-tiba muncul ini adalah kilas balik karena ia sebentar lagi akan mati atau dimaksudkan sebagai penyelamat.
"Sebagai pemilik Benang Merah, aku pikir kita bisa mengendalikan takdir makhluk hidup. Meskipun aku tidak tahu apakah bisa ikut campur dalam ranah kehidupan dan kematian yang merupakan kuasa mutlak Dewi Ilythia. Aku pikir, kita bisa menggunakan Benang Merah sebagai senjata dalam pertarungan."
__ADS_1
Apa yang dulu Fabian katakan sebagai sesama pengguna Benang Merah, Stella yakin, karena hal itulah ia jadi memiliki keberanian. Masih teringat jelas ekspresi serius mendiang kakaknya itu dalam benak, Stella menerapkan apa yang pernah kakak pertamanya itu contohkan padanya.
"Mungkin tidak bisa fatal. Akan tetapi, selama itu cukup menghentikan pergerakan musuh di hadapan kita untuk sementara, hal itu lumayan patut dicoba."
Memproyeksikan Benang Merah dalam bentuk garis yang lebih tertata, Stella menggunakan imajinasinya sebagai patokan.
Dari apa yang pernah kakaknya katakan, Benang Merah tidak jauh berbeda dengan sihir. Agar bisa mengendalikannya dengan lebih mudah, Stella hanya perlu mengembangkan imajinasinya.
Kalau sebelumnya Stella melihat Benang Merah bagai tali yang menghubungkan dengan setiap hal layaknya peta penunjuk arah, kini Stella menggambarkan Benang Merah dalam bentuk gumpalan.
Fokus.
Stella mengumpulkan Benang Merah dalam satu titik. Memfokuskan bentuk Benang Merah layaknya pembuluh darah, monster yang sebelumnya terkesan berbahaya menjadi terlihat seperti mangsa yang bisa ditaklukkan.
Dalam keadaan tubuh monster yang kini terlihat seperti transparan, Stella dapat menyadari kalau Benang Merah sekarang membentuk jaringan penting monster.
Nasib berikutnya dari monster itu kini sudah berada dalam kendali, sekarang sisanya bergantung pada pilihan Stella
Aku harus menghentikannya.
Kalau Stella tidak menghentikan pergerakan monster itu sekarang, maka akan ada kemungkinan korban bertambah. Oleh karena itu, meski ini kali pertama Stella menggunakan Benang Merah dengan tujuan berbeda, Stella tidak bisa membiarkan keraguan mengendalikannya.
Maafkan aku.
Di saat wajah menyeramkan monster itu kini sudah berada tepat di depannya, Stella menarik secara paksa Benang Merah yang terhubung dengan monster itu. Menggunakan banyak tenaga untuk melakukan satu tarikan, Stella berhasil memutus Benang Merah milik monster dan menghentikan pergerakan cepatnya dalam satu kedipan mata.
"Aku ... berhasil."
Bersama bunyi gedebuk nan nyaring, bukti bahwa monster itu telah dihentikan, Benang Merah yang Stella putus sebelumnya juga ikut memudar.
Berubah menjadi serpihan kecil yang berkilauan, bagian lain Benang Merah secara berangsur menghilang mengikuti fokus Stella yang terpecah karena kelelahan.
"Sekarang kami hanya perlu menunggu diselamatkan saja lagi, kan?"
Stella bergumam pada dirinya sendiri. Seandainya saja tidak ada denyut sekaligus lelah yang ia rasakan, Stella mungkin mengira apa yang baru saja terjadi adalah mimpi, bukan kenyataan.
Aku ... menghentikannya, kan?
Monster yang tidak lagi bergerak dan hanya bisa meringik dalam posisi tiarap, Stella perhatikan. Walau kini ia dan monster itu sama-sama tidak bisa bergerak, debaran penuh rasa takut itu tidak kunjung menghilang. Stella masih dapat merasakan ketakutan menyelimuti tubuhnya.
Aku pikir ini sudah cukup.
Sekarang, dengan keadaan si monster tidak lagi bisa bergerak, salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan mereka semua telah menghilang. Orang-orang yang tersisa bisa bernafas lega karena mereka bisa menunggu tanpa perlu takut akan bayang-bayang kematian.
Tubuhku rasanya panas.
Sebagai seseorang yang bisa menaklukkan Dire Wolf, walau tubuhnya sendiri masih tidak berhenti gemetar, Stella mengurangi sedikit kewaspadaannya terhadap sekitar. Rasa sakit yang muncul akibat terlalu memaksakan diri, terlalu sulit untuk Stella abaikan.
...~o0o~...
Berbeda dari keadaan kota bagian atas yang sangat tenang, ruang bawah tanah setiap toko yang Davion lewati sangat kacau. Barang berhamburan, orang berlari ketakutan, ataupun mayat yang bergelimpangan. Seakan ingin menambah kadar kesuraman dari tempat tersembunyi menyimpan sisi gelap para rakyat ibukota ini, darah yang tersebar di sana-sini, semakin memperparah pemandangan ruang bawah tanah nan mengerikan saja.
"Bau darah."
Entah sudah berapa banyak korban yang berjatuhan dari amukan monster, sepatu Davion yang sebelumnya bersih, kini ditutupi oleh noda darah sepenuhnya. Seolah sepatu Davion bukan hitam, melainkan merah tua, warna dari darah berhasil menutupi warna asli dari sepatu Davion dengan sempurna.
"Teater, toko pakaian, dan toko peralatan sihir."
Dalam perjalanannya yang begitu suram, Davion menandai satu persatu daftar nama tempat yang sudah ia bereskan. Dengan adanya beberapa tempat yang sudah mendapat tanda centang, hanya ada satu lagi saja tempat yang tersisa.
"Toko kue."
Di antara semua tempat dalam laporan yang sudah Davion datangi, ruang bawah tanah dari toko kue menjadi bagian terakhir yang harus diperiksa.
Ha ... dasar orang-orang menyebalkan.
Apa yang ada di pikiran para penyelenggara lelang ilegal, sama sekali tidak dapat Davion mengerti.
Menggunakan ruang bawah tanah untuk tindakan tercela .... Walaupun Davion tahu mereka melakukan ini agar bisa menghindari pandangan Kaisar, tetap saja Davion merasa mereka bodoh. Tidak peduli seberapa lembut Kaisar saat ini, seorang Kaisar tetaplah Kaisar. Tidak mungkin bagi seorang pemimpin membiarkan hama merusak tatanan kota nan berharga, apalagi sampai membiarkan orang-orang keji itu menghancurkannya.
"Mari pergi ke tempat selanjutnya."
Setelah memastikan korban terakhir yang selamat sudah berhasil ia manipulasi ingatannya dan dikirim langsung ke istana, Davion menggunakan sihir yang terhubung dengan alam untuk menghancurkan ruang bawah tanah.
Tanpa perlu repot-repot mengucapkan mantra, Davion memadatkan bagian kosong menggunakan sihir miliknya. Dari tanah, kembali lagi ke tanah. Itulah gambaran yang Davion gunakan.
Mungkin, sihir berskala besar ini akan terasa sulit bagi orang lain. Akan tetapi, berhubung pemilik menara sihir memilih seorang utusan yang tepat, Davion tidak sedikit pun merasa kesulitan mewujudkan imajinasinya dalam kenyataan.
"Sekarang mari menuju tempat berikutnya."
Begitu tempat ketiga yang ia datangi sudah beres, sekarang waktunya bagi Davion untuk menuju toko kue pemilik ruang bawah tanah lainnya. Dalam satu kedipan mata, sebelum tanah menimbun dirinya, Davion berpindah tempat dalam sekejap.
Aku akan membereskannya secepat mungkin.
Mengabaikan pandangan aneh orang-orang, Davion memasuki toko kue dengan langkah penuh percaya diri. Tidak peduli seberapa menusuk tatapan yang mengarah padanya, Davion terus berjalan santai. Sebab, mau seberapa pun hebohnya reaksi yang orang-orang perlihatkan, dalam beberapa menit ke depan, mereka semua tidak akan bisa mengingat apa yang telah Davion lakukan. Ia akan memanipulasi ingatan mereka agar tidak ada berita yang menyebar.
...~o0o~...
Tempat terakhir yang kini Davion datangi tidak jauh berbeda dari tiga tempat sebelumnya.
__ADS_1
Dipenuhi oleh kekacauan dan genangan darah di sepanjang mata memandang, tempat ini bahkan bisa dibilang jauh lebih buruk dari tiga tempat yang lain.
Ini mengerikan.
Satu-satunya perbedaan yang bisa Davion temukan di tempat ini hanya satu. Yakni, tidak ada seorang pun yang selamat. Bagai kapal yang hancur menabrak karang, hanya ada jejak dari kekacauan dan manusia bernasib malang saja lagi yang tersisa.
Sihir blokir tingkat menengah.
Kepekatan udara di ruangan yang terkesan janggal, menarik perhatian Davion. Memperhatikan langit-langit dari ruang bawah tanah itu, ia mencoba mencari sumber dari pembantaian sepihak monster.
Tidak ada pola sihir yang terukir.
Sama seperti lantai tempatnya kini berpijak, Davion tidak dapat menemukan pola apa pun di sana. Tidak peduli seberapa keras Davion mencari, ia tidak melihat adanya pola sihir, bukti dari terciptanya keadaan mengerikan ini di mana pun.
Karena sihir ini, orang yang terjebak tidak bisa melarikan diri.
Davion mengerutkan alisnya. Berbeda dari tempat sebelumnya yang masih memungkinkan orang-orang untuk selamat, tempat tersembunyi di toko kue yang masih belum sampai seumur jagung ini benar-benar terisolasi dari dunia luar.
Sihir blokir tingkat menengah yang secara otomatis memutus kontak dari toko kue dengan ruang bawah tanah rahasia ini, tidak lebih dari petaka bagi orang-orang yang terjebak. Tanpa adanya artefak berupa gulungan sihir teleportasi dengan tingkat lebih tinggi atau kekuatan jauh lebih besar, maka hanya kematian menjadi satu-satunya jalan keluar yang tersisa.
"Pembatas ini lemah, tapi tidak ada seorang pun yang selamat. Ini aneh."
Banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, dapat Davion lihat sebagian besar memakai pakaian mewah. Bagi seorang bangsawan, artefak teleportasi tingkat tinggi yang memiliki harga selangit, adalah sesuatu yang mudah didapat seperti halnya bernapas. Memiliki begitu banyak uang untuk dihamburkan, Davion yakin seharusnya paling tidak, ada empat atau lima orang yang selamat.
Ini tidak mungkin hanya kebetulan semata.
Seolah-olah tempat ini sengaja dijadikan sebagai kuburan bagi bangsawan, Davion tidak menemukan tanda-tanda dari kepergian manusia dari tempat ini. Entah itu yang memiliki artefak ataupun tidak, pada akhirnya mereka semua berubah menjadi mayat. Terbelah dan berakhir secara tragis menjadi makanan monster.
"Apa itu mungkin dilakukan sihir tingkat menengah?"
Kejanggalan dari keadaan ruang bawah tanah toko kue ini, lumayan mengusik Davion. Dari apa yang Davion pelajari selama ini, sihir blokir terbagi dua, yakni sebagian dan menyeluruh.
Sihir blokir yang bisa juga disebut sebagai pembatas sihir ini, berada di tingkatan yang tinggi kalau skalanya luas. Sedangkan untuk tingkat menengah, hanya bisa memblokir antara dua saja, yakni menghalangi jalan masuk atau keluar.
"Aku bisa keluar dari sini, tapi sepertinya memerlukan sedikit usaha."
Seharusnya selama itu bukan Felix, bukan hal sulit bagi Davion untuk menggunakan sihir lebih leluasa. Namun, seakan pembatas itu sudah dipadu padankan dengan kekuatan lain, ada beberapa batasan yang menghalau Davion untuk menggunakan mana secara bebas di tempat ini. Davion dapat merasakan aliran mana miliknya sekarang sedang dikacaukan oleh sesuatu yang tidak biasa.
Agar lebih mudah, aku harus tahu monster seperti apa yang menyerang mereka.
Tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari lantai nan janggal, Davion mencoba mengenali jejak yang ditinggalkan monster pada mayat yang bergelimpangan. Potongan yang begitu rapi, seakan baru saja dibelah oleh benda tajam yang Davion temukan sebagai jawaban, membuat alis Davion semakin mengerut dalam.
"Dire Wolf di tengah kota? Ini jelas suatu kesengajaan yang dilakukan oleh seseorang."
Monster yang seharusnya menghindari keramaian bisa berada di ibukota seperti ini ..., jelas saja bukan sesuatu yang wajar.
Sihir berskala luas yang diterapkan tanpa adanya pola khusus, lalu keberadaan Dire Wolf nan janggal. Tanpa perlu menerka lebih jauh, Davion yakin kekacauan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan pertimbangan yang matang.
"Hm? Apakah masih ada orang yang selamat?"
Pendar cahaya berwarna merah pertanda dari kehadiran seorang pemilik mana melimpah, mengalihkan perhatian Davion dari jejak yang dibuat oleh Dire Wolf.
Merah pekat?
Mengingat semakin terang warna mana yang mengalir, semakin murni dan besar juga kekuatan yang dihasilkan, jujur saja warna ini baru pertama kali Davion lihat. Dari sekian banyak aliran mana yang pernah Davion perhatikan, baru kali ini Davion menemukan mana yang memiliki pendar merah pekat nan besar.
"Dia ...."
Mengikuti aliran mana yang unik itu, Davion menemukan seorang perempuan sedang duduk sambil sibuk menutupi mulutnya.
Merasa ada yang janggal dari gelagat perempuan itu, Davion mempercepat langkahnya. Warna rambut gelapnya yang perlahan berubah menjadi pirang, entah mengapa memberikan rasa cemas nan janggal. Meski wajahnya tertutupi oleh rambut pirangnya yang berantakan, Davion merasa yakin mengenali perempuan itu.
"Stella?"
Benar saja. Sesuai apa yang Davion pikirkan, perempuan pemilik julukan 'Bintang Emas' dari timur ini, merupakan orang yang Davion kenal.
Sebagai satu-satunya Nona Muda di keluarga Vandesca dan menjadi pemilik kemampuan benang merah lainnya di generasi ini, Stella Aresya Vandesca, anak bungsu dari keluarga Duke Vandesca sebelumnya ini merupakan sosok yang selalu mendapatkan sorotan di mana pun ia berada.
Selalu masuk ke dalam surat kabar dan berita mingguan kekaisaran Ormanda, rumor seorang Stella yang terkenal akan kecantikan dan keanggunannya, selalu menjadi berita hangat di antara para penyihir menara. Tidak pernah tertinggal, ketenaran Stella bahkan, bisa dibilang menjadi pemanis kehidupan suram para penyihir di menara yang terkenal sulit diakses.
"Apa yang terjadi?"
Batuk Stella yang tidak kunjung berhenti, menyusupkan kepanikan dalam sikap tenang Davion. Stella yang kesakitan sendirian di tengah situasi mengerikan ini ... tidak bisa mencegah Davion untuk tidak bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi pada tempat ini.
"Kenapa kau bisa seperti ini, Stella?"
Bau amis yang menguar, mengalihkan sepenuhnya perhatian Davion dari kejanggalan lain yang ada di ruangan. Merasa ada yang aneh, Davion dapat melihat tangan Stella yang sebelumnya bersih, kini dipenuhi oleh darah.
"S-sakit. Ini sangat menyakitkan."
Genggaman erat Stella di jubahnya, berhasil menodai biru yang indah dengan warna merah. Semakin dipenuhi oleh kepanikan, Davion yang dapat merasakan tubuh Stella berubah menjadi panas, membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Aku akan membawamu pergi dari sini. Jadi, tolong bertahanlah sebentar lagi," bisik Davion. "Sekarang kau sudah aman, Stella."
Davion mengabaikan darah Stella yang mengotori bajunya. Sebisa mungkin memberikan rasa nyaman, Davion melindungi Stella dalam balutan jubah miliknya.
Di tengah tempat yang sangat kacau ini, hanya ada Stella seorang yang selamat. Davion tidak menemukan adanya kehidupan lain yang tersisa. Jadi, membereskan sisa kekacauan itu sambil memeluk erat Stella, Davion menghancurkan ruang lelang ini. Sama seperti tiga tempat yang ia datangi sebelumnya, Davion tidak sedikit pun menunjukkan belas kasihnya.
"Mari kita pergi menemui kakakmu."
__ADS_1
Begitu memastikan tempat terakhir yang ada dalam daftar sudah ia bereskan, Davion meninggalkan ruangan itu. Bersama firasat buruk dan tanda tanya, mereka pergi meninggalkan salah satu jejak kekacauan di ibukota.