Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun

Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun
Episode 10 : GADIS PETUNJUK


__ADS_3

Dokter Ziva memberikan bubur dan menyuruhnya makan terlebih dahulu sebelum membiarkannya pulang. Agar ia tidak lemas karena belum makan nasi sejak tadi pagi.


Sekarang ia tampak sudah baik-baik saja. Bahkan perutnya sudah tidak ada lagi tanda rasa sakit sedikitpun.


Dokter Ziva mengantar Ran sampai di depan rumah kontrakannya menggunakan motor.


Ia berterima kasih kepada Dokter Ziva. Juga melambaikan tangannya ketika dokter itu akan pamit untuk pulang.


Aku memutar kepala, memandang takut rumah-rumah kontrakan itu.


"Umm .... "


Ia berjalan memasuki kawasan itu, tetapi ia menghentikan langkahnya kemudian jalan berbalik arah.


"Tidak! "


"Aish ..." desisnya sambil kembali melangkah ke rumah kontrakan yang lagi-lagi terhenti kemudian membalikan badannya.


Ia jadi sangat takut masuk ke dalam rumah kontrakannya setelah tahu pernah ada kejadian mengerikan disana. Ia takut akan membayangkan kejadian itu kembali setiap detiknya di dalam sana. Entah saat ia makan, mandi, mencuci, menonton TV, ataupun tidur.


Angin berhembus pelan melewati celah pori-pori dan kulitnya yang berkeringat, membuat bulu kuduknya semakin merinding.


Ran mencoba memberanikan dirinya untuk menuju tempat tinggalnya.


"Yeah ...! Aku berani! Aku pintar! Aku anak pintar yang pemberani!" puji nya pada diri sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya.


Ran melangkahkan kakinya setapak demi setapak di atas beping yang menandakan ia sudah memasuki kawasan kontrakan tempat tinggalnya.


Sampai pada saatnya ia sudah berada di depan rumah kontrakan yang berdempetan dengannya dan melihat seorang wanita cantik yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


Saat akan mengetuk, tangan wanita itu terhenti ketika ia melihatku datang. Aku menghampirinya.


"Maaf, cari siapa, ya?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku sedang mencari Ran anaknya supir pamanku. Tapi, sepertinya tidak ada orang didalam. Atau mereka sudah pindah, ya?"


Ran, anak supir pamannya? Oh iya, ayahku dulu bekerja menjadi supir kerja bos-nya. Walaupun bos nya tidak selalu di piloti oleh ayahku, tetapi walaupun begitu gajinya lumayan besar.


Tapi sebelumnya ayahku bekerja di kantor perusahaan P.T Surya. Ayah juga pernah mengatakan kalau ia berteman baik dengan bos nya dan sudah di anggap seperti saudara sendiri.


Tapi, siapa orang ini? Kenapa dia kenal namaku sedangkan aku tidak? Padahal aku sudah dapat ingatan dari tubuh ini.


"Aku, Ran. Senang bertemu denganmu." Ran menghentangkan tangannya untuk berjabat tangan.


Wanita itu tampak ragu untuk berjabatan denganya. Namun ia tetap menjabat tangannya hanya saja ... terlihat seperti orang yang akan membuang isi tong sampah.


"Panggil saja aku, Ecca," ucapnya pelan.


"Dia tidak membalas 'senang bertemu denganmu' juga," batin Ran sedikit kesal.


Aku mencoba tersenyum, membiarkan sifat ramah yang biasa Ran perlihatkan timbul begitu saja. Tetapi aku sedikit tersinggung dengan balasan jabatannya yang seperti di pegang oleh sesuatu yang menjijikkan.


Wanita itu mengeluarkan Hand Sanitizer semprot dari kantung tas nya, kemudian menyemprotkan nya di telapak tangan.


"Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Ran membubarkan rasa canggung ini.


Ecca memasukkan Hand Sanitizer nya kedalam tas. "Tidak. Aku bahkan baru kali ini ketemu kamu. Aku kesini karena ingin membicarakan tentang kasus yang pernah terjadi pada pamanku dulu." Tiba-tiba saja wajah Ecca berubah murung.


"Kalau begitu, ayo kita bicarakan. Tapi jangan disini." Ini menjadi alasan bagi dirinya untuk menghindari masuk sementara ke dalam kontrakannya.


Ran mengajak Ecca ke tempat Resto Aoi tempatnya bekerja.


Keadaan di saat kami memasuki Resto Aoi hanya ada lima pembeli saja. Syukurlah tidak terlalu ramai. Karena sudah menjelang sore, mungkin satu atau dua jam lagi tutup.


Kami duduk di meja pojok dekat dinding kaca. Aku mempersilahkannya duduk.


Ada seorang pelayan yang menghampiri kami.

__ADS_1


"Mau pesan apa, Mbak?" Pelayan itu bernama Vika. Ia berteman dengan Ran namun tidak terlalu dekat dengannya.


"Eh! Ran, Alex bilang kau sedang izin karena sekarat di rumah sakit."


Glekk!!!


Vika adalah orang yang blak-blakan, tidak bisa menjaga rahasia, dan jujur apa adanya. Jika ia bilang Alex bicara begitu, berarti itu benar nyatanya.


Baru saja ia berpikir ternyata laki-laki dingin itu lumayan baik juga. Tapi, perasaan budinya atas pertolongan sewaktu di sekolah tadi tiba-tiba lenyap begitu saja.


"Oh, iya. Kalian mau pesan apa?" tanya Vika sambil memegang buku pesanan dan sebuah pena yang menggantung di dalam buku itu.


"Aku mau pesan lemon tea saja," ucap Acca memandang Vika yang kemudian mencatat apa yang diucapkannya.


Ran merebut buku catatan di tangannya dan menyuruh Vika untuk melayani pelanggan yang lain. Vika mencuri pandang ke belakang dan ada seorang pelanggan yang sedang memanggil nya. Meminta pesanan.


Kemudian Ran lah yang akan membuatkan Acca minuman itu, sementara Vika pergi ke arah meja pelanggan Resto yang baru datang tadi.


Ran meminta Acca menunggunya. Membuatkannya minuman. Ia pergi ke dapur melewati kasir dan tempat racikan pembuatan kopi oleh para barista.


Ran mengambil sebuh lemon lalu mulai meraciknya. Menjadikannya ice lemon tea yang segar.


Tiba-tiba saja Alex datang entah dari mana dan langsung menyergap kedua tangannya.


"Kenapa kau baru datang sekarang?! Sebentar lagi sudah waktunya tutup! Sebenernya kau ini niat bekerja tidak?!" bentak Alex memandang sinis wanita itu.


Dia ini berlagak sekali pura-pura tidak tahu. Padahal bukanlah dirinya yang pertama kali menemukanku pingsan lalu membawaku ke Dokter Ziva. Dari matanya saja aku sudah tahu kalau dia berbohong. Apa maksudnya? Apakah dia malu karena sudah menolongku?


"Siapa juga yang datang ke sini untuk bekerja?" Ran memberanikan diri berbicara dengannya tanpa berpaling sedikit pun dengan ekspresi wajah yang datar. "Aku kesini dengan temanku sebagai pembeli. Tapi karena pelayan disini sangat sibuk, aku berbaik hati membuat minuman sendiri."


Alex tampak terkejut. Bagaimana tidak? Ran yang kini dengan Ran dulu begitu sangat jauh berbeda. Ran yang dulu saat sedang dimarahi pasti ia akan menciut dan tertunduk. Walaupun tahu ia tidak bersalah, tetapi ia tetap diam tak berkutik alias tak berani membela diri. Apalagi berbicara jelas begini secara terang-terangan di depan wajah orang yang sudah memarahinya.


"Pembeli adalah Raja dan Ratu, bukan? Jadi, hormatilah aku!" jelasnya kepada Alex kemudian pergi membawa dua gelas ice lemon tea di tangannya.

__ADS_1


Namun setelah ia sudah akan pergi dari dapur, tepatnya berada di tengah pintu keluar-masuk dapur, ia berkata, "Oh, iya. Terimakasih untuk pertolongan mu tadi disekolah. Kalau kamu tidak cepat-cepat membawaku ke klinik sekolah, pasti aku tidak sembuh secepat ini," ucapnya kemudian pergi.


Alex hanya bisa memandang Ran dengan tatapan sinisnya yang bercampur aduk dengan rasa malu. Namun ia berusaha untuk tidak jelas memperlihatkannya.


__ADS_2