
Pagi ini Pak Han/ Ayah Hani kedatangan seorang tamu yang sudah dari beberapa hari lalu berusaha untuk menemuinya dikantornya. Namun karena kesibukan Han, tamu itu hanya bisa menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya ia mendapat kesempatan.
Bu Gea, yaitu wali kelas Hani. Hari ini ia menceramahi pak Han di kantornya sendiri. Bu Gea menyebut bahwa pak Han adalah ayah yang buruk bagi setiap anak. Suara bu Gea yang lantang, membuat karyawan lain yang sedang berlalu lalang melewati ruangan pak Han mendengarnya.
Dan ketika Bu Gea akan hendak melangkah pergi dari kantornya, ia menyebut, "Hari ini adalah hari ulang tahun anakmu. Apakah kau lupa? Andai saja anak itu tidak pernah berasal dari orang tua sepertimu." Nada bicara yang mencekam itu membuat siapa saja menjadi tercekik mendengarnya.
•••
Suara laju mobil mini bus yang halus membuat lingkungan sekitar tidak menjadi bising dan terganggu akan kehadiran mobil itu.
Didalamnya terduduk empat ekor anak badung yang sedang tidur saling nyender-menyender, dan salah satunya ada yang sedang dilema karena mabuk perjalanan. Lalu di kursi depan sebelah kanan, duduklah seorang pak supir yang pandangannya fokus ke arah jalan.
Terlihat jalanan pegunungan yang berlika-liku, menanjak, dan menurun. Dipingir kanan dan kiri jalan tumbuh pohon-pohon pinus dan cemara yang berjejer di sepanjang perjalanan.
"Kuesya, apa kau sudah mendingan?" tanya Hani sambil tangannya yang menyingkirkan senderan El dan Al dari bahunya.
"Aku-"
Pletak!
suara kepala El yang menghantam kaca mobil karena pak sopir mengarahkan laju mobil kekanan dengan tiba-tiba sesuai jalanan yang ada.
Sedangkan Kuesya yang awalnya sudah sedikit tenang, kini kembali mabuk dan muntah sejadi-jadinya.
El yang merasa kepalanya sakit dan pusing pun terbangun. Sambil mengeluskan kepalanya dan menatap linglung sekeliling isi mobil dengan mata merah nan belekan.
"Pak, berapa lama lagi kita sampai kesana?" tanya Hani.
"Kurang lebih tiga jam lagi, Neng."
Kuesya yang duduk dikursi belakang dengan wajah pasrah dan menyesal telah ikut bersama mereka, dan bahwa ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia harus tersiksa selama tiga jam lagi.
•••
🕙
Tiga jam telah berlalu. Kini mobil mereka telah sampai di villa mewah yang terletak diantara kebun teh milik warga. Walaupun sudah jam sepuluh malam, suasana disekitar sedikit ramai oleh orang berlalu lalang. Karena diatas bukit tak jauh dari villa terdapat pasar malam, dan bukit sebelah kiri villa terdapat sebuah masjid yang tak kalah arsitektur dengan bangunan masjid yang ada di kota.
__ADS_1
"Aku enggak bisa bayangin seperti apa lagi rasanya setelah pulang dari sini nanti," ujar Kuesya sembari keluar dari mobil dengan dibopong tampah oleh El dan Al.
Mereka disambut oleh penjaga villa yang heran karena kedatangan anak boss-nya. Sedangkan villa ini seharusnya tidak boleh ditempati oleh orang lain selagi menunggu Sold-out nya.
Pak supir dan penjaga villa sedang sibuk membawa barang-barang kedalam sedangkan El dan Al membopong Kuesya kedalam. Hani yang ingin menyusul mereka tiba-tiba kagum karena ia melihat kunang-kunang berwarna biru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kunang-kunang itu terbang mengarah kebun teh dibelakang villa. Hani ingin mengejanya namun terhenti karena ia sudah dipanggil oleh para sepupunya.
•••
Waktu sebelumnya ketika sudah sekitar sejam yang lalu mereka berngkat.
Pintu rumah yang sudah terkunci tiba-tiba dibuka kembali oleh Bi Indah (Pembatu rumah tangga keluarga Hani). Sosok Han muncul didepan pintu yang membuat Bi Indah terkejut. "Tuan Ayah sudah pulang?" kata Bi Indah sambil menelan ludah.
Tuan Ayah adalah julukan Bi Indah untuk mengajarkan agar Hani memanggil ayahnya dengan sebutan "Ayah". Karena awalnya Hani memanggil ayahnya dengan panggilan "Han".
"Bukankah ini adalah hari ulang tahun putriku. Hari ini aku membelikannya kado, dan hari ini aku akan mengajaknya bermain keluar bersama."
Bi Indah tampak senang dengan perubahan sikap tuannya yang tiba-tiba itu. Namun kini ia juga merasa tegang karena Hani sedang berada di Villa. Terlebih lagi villa itu...
"Hani ... Hani ...." Tanpa Bi Indah sadari, Pak Han sudah berada di dalam kamar Hani.
"Hani dimana, Bi?" tanya pak Han.
"Itu ...." Bi Indah diam sesaat. Lalu ia menceritakan semuanya dan kemana Hani pergi kepada pak Han.
•••
"Hani! Tunggu aku!" teriak Kuesya ditengah kegelapan perkebunan teh.
"Ayolah Kuesya, kau harus lebih cepat. Nanti kunang-kunang itu kabur lagi," ujarnya sembari mengejar kunang-kunang.
Hani melihat kunang-kunang itu terbang keatas dan menjauh darinya. Lalu kunang-kunang itu mendarat kededaunan teh yang ada di sebrang jalan.
Hani turun dari tanah yang tinggi kerendah, lalu akan menyebrangi jalanan yang sepi. Saat ia ingin menyeberang-
"HANI AWAS!!!" teriak Kuesya dengan sangat kencang.
__ADS_1
Ada sebuah mobil sedan putih yang melaju sangat kencang, lampu dari mobil tersebut juga menyilaukan matanya dan tiba-tiba...
Hani merasa dirinya terpental sesaat. Namun dirinya baik-baik saja yang menandakan kalau ia selamat. Sedangkan mobil sedan itu terus melaju dengan kecepatan yang sama.
Hani tidak mempedulikan mobil itu, kini ia malah masih mengejar kunang-kunang biru itu. "Akhirnya kau tertangkap juga!" bangganya.
Hani tak sengaja menyenggol rerumputan dengan tangannya. Muncullah beribu-ribu kunang-kunang dihadapannya. Mereka beterbangan kesana kemari.
Hani memperhatikan nya sampai ia tidak menyadari bahwa Kuesya sedang menangis dibelakangnya. Ia melihat Kuesya terus memandangi jalanan gelap sambil menangis ketakutan dengan flash Handphone yang mengarah entah kemana.
"Kuesya, ayo kesini! Jangan-jangan kamu takut, ya mau nyebrang karena aku hampir ketabrak tadi. Atau, kamu takut gelap, makanya nangis?"
Kuesya menaikkan dagu dan menatapnya. Lalu ia berjalan perlahan kearahnya dengan wajah yang masih berlinang air mata. Kini Kuesya akan memeluknya. Hani juga memberikan ancang-ancang dan bersiap memeluk Kuesya.
Namun apa yang terjadi. Tubuhnya menembus tubuh Kuesya yang disusul dengan tangan dan pelukan dari pak Han untuk Kuesya.
Hani sendiri tidak menyadari apa yang telah terjadi padanya. Kenapa Kuesya bisa menembus tubuhnya. Hani melihat Kuesya memeluk ayahnya dengan erat dan ketakutan. Ayah Kuesya juga memeluk Kuesya lalu menangis.
Ia tidak pernah melihat ayahnya seperti itu. Kini ia tidak melihat wajah galak dan dingin ayahnya yang biasa ayahnya perlihatkan kepada dirinya dan orang lain.
"Kenapa Kuesya bisa menembus tubuhku? Atau, malah aku yang menembus tubuh Kuesya?"
Diperhatikannya jalanan yang dilewatinya tadi. Terlihat banyak darah dan daging yang berceceran. Terdapat cipratan darah di kanan dan kiri jalan, juga seperti ada yang mengalir di atas trotoar jalan yang gelap. Ia mengikuti sebuah aliran darah yang sepertinya ada sesuatu habis terseret cukup jauh.
Dan dilihatnya seseorang mayat perempuan yang tak lain lagi adalah dirinya sendiri sudah dipenuhi banyak darah serta kedua kakinya yang sudah entah kemana.
wajahnya yang pucat serta rambut yang hampir menutupi seluruh wajah nya. Matanya yang menghitam setengah terbuka dan posisi matinya dia sekarang membuat dirinya bergetar ketakutan.
Ia merasa bahwa kejadian ini hanyalah mimpi belaka. "Ya, hanya mimpi!" begitu kata decakan hatinya.
Ia terus mengitari perkebunan teh milik warga disekeliling villa. Ada banyak kunang-kunang yang terlihat terbang bebas tanpa ia merasa tertarik sedikitpun. Ia merasa kebingungan dengan apa yang terjadi. Dihatinya, ia telah menyesal apa yang telah ia perbuat kepada orang-orang yang pernah dia temuinya.
Malam semakin larut dan semakin dingin. Lonceng jam Ding dong berbunyi sangat keras entah dari mana asalnya yang menyebutkan pukul dua belas tepat.
...Hari Selasa,...
...tanggal 25 Mei 2013,...
__ADS_1
...adalah hari kematiannya....