
Bel sekolah berbunyi yang menandakan jam pelajaran sudah selesai. Semua murid bersiap untuk pulang, kecuali murid yang bertugas untuk piket. Mereka harus tetap di sekolah sampai kelas dan ruang aula sekolah benar-benar bersih.
Aku menghampiri Sheila ke kelasnya. Dan aku melihat Sheila yang sedang duduk lemas di bangkunya. Wajahnya pucat, dan beberapa kali kulihat matanya menyipit menahan sakit. Ia terus memegangi perutnya. Dan saat kutanya pun ia masih meringkuk tangan di atas meja.
"Kau kenapa, Sheila? Ada apa dengan perutmu?"
Sheila berusaha menjawab ku sambil menahan rasa sakit di perutnya. "Perutku, sakit sekali."
"Kenapa tadi tidak bilang pada guru atau teman yang lain, sih? Ayo kuantar ke UKS sekarang juga!"
Ran berdiri lalu membopong temannya berjalan. Ia heran, temannya sedang sakit, tetapi mengapa orang-orang di kelasnya tidak ada yang menyadarinya? Bahkan Alex yang sekelas dengannya pun diam saja. Atau mereka benar-benar tidak tahu? Masa, sih makhluk sebesar ini tidak kelihatan kalau sedang sakit padahal jelas-jelas wajahnya terlihat sangat pucat.
...°°°...
Akhirnya kami sampai ke UKS. Seorang dokter mempersilahkanku membaringkannya di atas ranjang kereta dorong. Sementara dia menyiapkan peralatan yang akan di gunakannya.
Dokter itu mulai memeriksa perutnya. Btw dokternya perempuan. Jadi Sheila tidak perlu malu diperiksa oleh nya.
Lima belas menit sudah berlalu, setelah Sheila meminum obat dari dokter. Sekarang ia tampak tenang dan sedikit lebih baik.
Dokter memberikan resep obat nya dan menyarankan Sheila besok untuk tidak masuk sekolah terlebih dahulu. Dan dokter itu yang akan memberikan surat izin keterangan sakit kepada pihak sekolah.
Aku membantu Sheila berjalan sampai ke gerbang depan sekolah. Kami memberhentikan taxi yang lewat lalu aku mendudukkan Sheila dengan sangat hati-hati.
Aku menyuruh Sheila untuk pulang lebih dulu sementara aku tetap disini dengan alasan ada urusan di dalam kelas yang belum ku kerjakan. Sheila hanya mengangguk dan menyuruh nya untuk berhati-hati saat pulang nanti.
Ran akhirnya kembali ke dalam gedung sekolah. Namun, ia tidak berjalan menuju kelas, melainkan menuju ke kantin sekolah. Disana suasananya sepi, hanya menyisakan ibu kantin dan dua siswa yang masih nongkrong disana. Berbeda dengan tadi waktu jam istirahat yang penuh dengan lautan siswa.
Aku menghampiri ibu kantin dan memesan semangkuk mi ayam seperti yang dipesan Sheila. Diam-diam aku mengambil stempel kuah, mi, dan ayam nya kedalam plastik lalu mengikatnya dan menyembunyikan ke dalam saku bajuku.
__ADS_1
Ran bisa saja meminta makanan itu di bungkus, namun tidak boleh ia bawa. Karena ini sudah peraturan dari sekolah kalau makanan dari kantin sekolah tidak boleh di bawa pergi ke luar kantin kecuali, makanan instan yang di kemas dengan higienis.
Ran curiga Sheila sakit perut karena makanan dari kantin ini. Itu sebabnya ia mencari tahu apakah benar atau tidak. Dia tetap memakan mi nya walaupun sebenarnya ia takut.
Beberapa menit kemudian mangkuk nya kosong tanpa ada sisa kuah setetes pun. Mungkin karena efek cacing diperutnya yang kelaparan. Walaupun istirahat tadi sempat memakan roti yang diberikan Sheila, namun hal itu tidak cukup untuk mengganjal perutnya.
"Mi ayam nya enak, kuahnya juga enak! Tidak ada tanda-tanda rasa yang menyesatkan."
Ran membayar makanannya sambil pergi membawa botol air mineral dari dalam prezer.
Ran berjalan cepat menuju ruang UKS. Kulihat dokter tadi yang sedang membereskan tas selempang nya dan bersiap untuk pulang.
Ran menyapa dokter itu lalu meminta bantuannya untuk memeriksa stemple makanan dari kantin itu. Dokter itu segera menuju ke ruang lab dan ia menyuruhku untuk segera pulang, hasil lab nya akan keluar besok. Walaupun jadwal dokter itu sudah akan segera habis.
Ran kemudian pulang ke kontrakkan, walaupun sebenarnya ia tidak sabar menunggu hasilnya. Sesampainya di kontrakan, ia tidak berdiam diri lama-lama karena harus langsung pergi ke Resto Aoi tempatnya bekerja.
"Fiuhhh ... akhirnya sampai juga! Kali ini masih banyak menit jam yang tersisa untuk sampai kesini. Alex, dia juga belum datang. Sebaiknya aku bantu-bantu yang lain dulu."
Saat ia sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba saja Alex muncul di depannya dengan tak terduga, berjalan melewatinya tanpa bergeleng sedikit pun.
"Cih!" decak nya kesal.
Alex memakai topi khusus yang digantung di dapur lalu mulai membuat sesuatu. Ia mulai memasak makanan sesuai kertas pesanan yang pelayanan lain berikan.
"Aku tidak akan mendekatinya, tidak akan menggangunya, dan tidak akan berbicara dengannya. Melihat ekspresinya saja aku sudah muak."
Setelah selang dari beberapa menit,
"Ran! Antarkan pesanan meja no lima!"
__ADS_1
"Ran! Antarkan pesanan meja no tiga, juga dengan kentang gorengnya!"
"Ran! Pasta Penne untuk meja no sebelas!"
"Ran! Stik keju untuk meja no enam! Jangan sampai kejunya membeku!"
"Ran! Ran! Ran! Dasar tukang mandor!" ketus nya karena suara Alex terngiang-ngiang di telinganya. "Lelah sekali! Aku belum terbiasa melakukan kerja yang seperti ini."
Ran beristirahat di pojok dapur sambil mengipasi wajahnya menggunakan talenan. Ia melepas rasa pegalnya dengan menyenderkan tubuhnya ke kursi yang ia duduki. Kemudian memejamkan matanya.
Tak selang beberapa saat setelah ia beristirahat, Alex sudah memanggilnya kembali untuk mengantarkan makanan.
"Ran! Antarkan pesanan meja no delapan!" ucap Alex sambil menunjuk spaghetti yang telah dibuatnya.
Ran memainkan ekspresi nya dan mengoceh tanpa suara.
Ia berjalan menuju meja no delapan. Terlihat seseorang yang sedang duduk memakai jaket jeans, bertopi hitam, dan wajahnya yang seperti pria berusia dua puluh tahunan.
Sesampainya di meja no delapan, ia menaruh spaghetti itu lalu kembali berbalik menuju dapur. Namun pelanggan yang memesan makanan itu memegang tangannya dan mendekatkan telinga Ran pada wajahnya.
Ia mencoba memberontak. Tetapi orang itu sudah mengunci tangan nya dan membuatnya merasa kesakitan. Ran tidak peduli apa yang dilakukan orang ini. Karena disini adalah tempat yang ramai maka dia tidak akan berani berbuat macam-macam.
Orang itu membisikkan sesuatu ke telinga nya.
"Aku tahu dimana kakak mu berada," bisiknya ditelinga Ran.
"Apa maksudmu? Aku tidak punya kakak!" balasnya.
Apa maksudnya? Aku yakin kalau Ran tidak mempunyai seorang kakak. Dia sekarang hidup sebatang kara tanpa adanya sepupu atau saudara lainnya. Tetapi kalaupun benar, mengapa ia tidak tinggal saja dengan kakaknya? Bukankah mereka saudara?
__ADS_1
Satu demi satu pertanyaan muncul di benaknya. Ia perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hidup seorang Ran. Kalaupun belum, ia tidak akan pernah tenang akan rasa penasaran yang menghantui dirinya.