Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun

Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun
Episode 3 : NEW LIFE


__ADS_3

Sampai sekarang, aku masih bisa merasakan cahaya dari mobil sedan putih itu yang menabrakku. Dan bagaimana rasanya diriku terpental sehingga membuat tubuhku terseret hingga cukup jauh. Sampai dimana semuanya menjadi gelap dan tak terlihat.


Hidup menjadi terasa lelah. Dunia tertutup darah, bulan berubah menjadi merah. Dan tangisan itu yang selalu menggema di pikiran ku.


Entah mengapa ku teringat semua dosa yang ku perbuat.


Keputus asa'an yang tiba-tiba saja singgah dibenakku.


Semangat ku telah redup dan pikiran ini mulai menghapus semuanya.


Namun aku tidak ingin melupakannya.


El, Al, Kuesya, Ayah,Ibu , dan semuanya.


•••


Aku membuka mata dengan perlahan dan hati-hati. Terasa sedikit sakit pada area mataku. Namun mata ini semakin menyipit ketika sinar matahari masuk ke dalam pupil mata ku.


Ku alihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Terlihat banyak sekali barang-barang yang berantakan. Dan juga ada banyak bekas bungkus makanan diatas meja kaca bening yang berdebu.


Disampingnya terdapat sofa panjang dan selimut yang terjatuh dilantai bersama posisi nya sekarang. Sepertinya ia habis jatuh dari sofa itu sejak semalam tertidur.


"Apa aku masih hidup?" Dilihatnya kedua tangan dengan saksama kemudian meraba wajahnya dengan rasa tidak percaya.


Ia mencoba bangun dari posisinya sekarang. Entah mengapa, ia merasa aneh. Ia merasa jaraknya berdiri sekarang dengan kedua kakinya sedikit jauh dari biasanya.


Dia memutar badan untuk mengamati tempat disekelilingnya. Tempat yang asing, sunyi, berantakan, dan kotorlah yang dilihatnya.


Ada salah satu pintu kamar mandi yang terbuka. Dengan perlahan ia berjalan menuju kamar mandi tersebut.


Suasana didalamnya lembab, berlumut, dan licin. Ia hampir saja terpeleset karenanya.


Ada sebuah kotak sabun dan peralatan mengikat gigi terpaku di tembok. Diatasnya ada sebuah cermin gantung yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dan dipojokan ada sebuah bak air dengan keran yang tertutup.


Diambilnya sebuah gayung yang setengahnya tertampung air bersih dari bak tersebut. Ia mulai membasuh wajahnya dengan air itu. Kemudian ia melihat cermin yang ada disebelahnya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajahnya yang berbeda. Mata yang sebelumnya bulat, kini menjadi lebih besar dan panjang. Bibirnya yang semula mungil dan bergelombang, kini menjadi lebih tipis namun menghitam. Wajahnya menjadi putih pucat dengan mata panda yang menghitam disekeliling kelopak. Namun hidungnya sedikit ada perubahan. Menjadi lebih mancung namun, hanya saja memiliki beberapa komedo.


Tanpa ia sadari ia berjalan mundur dan jatuh terduduk akibat lantai berlumut itu.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada wajahku?" ujarnya terheran-heran tanpa mempedulikan rasa sakit di bokongnya.


"Apa ini akibatnya karena selama ini aku menjadi anak yang nakal."


Tok... tok... tok....


Seseorang telah mengetuk pintu rumahnya.


"Ran!!! Cepat buka pintunya, Ran!" Nada bicaranya terdengar seperti orang yang sedang marah. "Aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak mau buka juga maka-"


Cklak!


"Ada apa?" ucapnya dengan terheran-heran.


"Ada apa, ada apa!!! Sudah berapa bulan kamu tidak bayar kontrakan ini, ha?! Sudah berapa bulan?!!!"


Ran adalah seorang mahasiswi kelas XII SMA Negeri Awan. Ia hidup sebatang kara semenjak kepergian orang tuanya yang sama-sama telah melakukan bunuh diri. Entah apa sebabnya.


Dan ia memiliki pekerjaan menjadi pelayan di beberapa restoran. Ia juga sering masuk ranking sepuluh besar dikelasnya.


Namun karena sikapnya yang terlalu polos dan terlalu baik, ia malah sering di-bully oleh teman-teman disekolahnya. Disepelekan, perlakuan fisik yang kasar, dicaci-maki, adalah makanan sehari-harinya.


Tengokknya kekanan dan kiri ruangan. "Siapapun Ran yang kau maksud itu, aku akan memberitahukannya saat ia pulang nanti."


"Kamu!!! Dasar gila! Sekarang kamu berpura-pura amnesia agar aku luluh, begitu?!!!"


"Maafkan aku, Bu. Aku akan melunasinya besok." Tanpa ia sadari kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutnya. "Ada apa ini? Kenapa aku bicara sendiri?" batinnya.


"Sekarang kamu mencoba memohon padaku!!! Tidak besok, tidak juga nanti sore. Kamu harus membayarnya sekarang!!"


Orang-orang yang tinggal di area kontrakan ini mulai keluar dari kamarnya. Mereka ada yang sekedar melihat, mengintip dan ada juga yang menguping serta mencari tahu keributan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Salah satu diantara mereka berbisik, "Lihat! Ran lagi, Ran lagi. Ini baru kepada ibu Fatma pemilik kontrakan, belum tentu ia bisa selamat dari rentenir yang kemarin baru saja meminjamkannya uang."


"Aku bukan Ran!!! Aku ini Hani! Hani!!" teriaknya dengan sangat keras kearah orang itu.


Setelah beberapa detik tergelak, lalu mereka tertawa yang disusul dengan semua orang yang mendengar teriakannya tadi.


"Ohhhhh ... apakah kau Hani anak dari Han Pemilik PT.Surya sekaligus si pembunuh itu?" kata salah seorang dari mereka. Lalu mereka semua kembali tertawa. "Berarti selama ini kau adalah orang kaya, dong."


Riuhan tawa ejek mereka menggema disepanjang sudut kontrakan.


"Ap- apa maksudmu si pembunuh?"


"Hah! Apakah anaknya sendiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh ayahnya?" Mereka kembali tertawa.


"Apakah kau benar-benar sudah gila?!! Hani anak sultan itu sudah mati ditabrak oleh ayahnya sendiri delapan tahun yang lalu. Sudahlah! Kali ini aku akan membiarkanmu. Karena, percuma saja jika aku bicara dengan orang gila sepertimu."


Ia tergelak. Perasaan aneh tiba-tiba saja menginfeksi dirinya. Namun ia tidak akan percaya begitu saja dari mulut orang lain. Ia ingin mencari tahu sendiri buktinya secara langsung dan langsung dilihat oleh mata kepalanya sendiri.


Lagipula, mana mungkin ayahnya yang banyak dihormati orang itu membunuh anaknya sendiri. Mana mungkin juga kan, ia mati dan melintasi waktu dalam semalam. Memang tidak bisa dipercaya dengan teori dan ilmiah.


"Ran!" Seseorang telah membuyarkan lamunannya.


Postur badan yang tinggi dan langsing, dandanan natural, dan memakai seragam SMA, biar ku tebak dia adalah anak sekolahan.


"Kamu hari ini tidak sekolah? Aku khawatir kamu takut ditagih hutang sama ibu kantin lagi."


Dengan cepat Ran menjawab, "Bukan ibu kantin, tapi ibu pemilik kontrakan."


"Wah, tidak biasanya kau bicara terus terang begini. Biasanya kau berbohong kalau orang lain yang kamu tagih utang. Kau sangat tidak pandai berbohong. Whahahaha ... " jelas orang itu sambil cengar-cengir merangkul pundaknya.


"Memangnya aku kaya gitu ... " batinnya, sambil sinis.


"Oh, iya. Hari ini Alex membacakan puisi romantis di depan kelas, lho! Kira-kira puisi itu ditunjukkan untuk siapa, ya?"


"Kamu itu cuma ingin membuatku ke ge-eran, kan? Aku tau itu. Kalau kamu suka, ambilah!" ujarnya tidak peduli. "Lagipula, aku tidak kenal siapa Alex. Aku juga tidak tertarik drama percintaan orang dewasa," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2