Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun

Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun
Episode 6 : SMA PART 2


__ADS_3

"Selesai!"


Bu Henny dan semua yang ada di kelas terbelalak menyaksikan Ran menyelesaikan soal Matematika dengan pengerjaan rumus yang hampir memenuhi seisi papan tulis.


Yuna sangat yakin, kalau Ran beberapa kali sedang melamun dan tidak memperhatikan apa yang sedang diajarkan Bu Henny. "Jangan senang dulu, kita lihat apakah jawaban nya salah, atau tidak tepat? Hehehe... " remehnya dengan senyuman ala tokoh antagonis.


Bu Henny sedang memeriksa. Jawaban dari hasil pengerjaannya tepat dan benar. Rumus yang ia pakai pun tidak pernah Bu Henny lihat sebelumnya. Caranya unik, panjang, namun mudah untuk dipahami.


"Hebat! Jawabanmu sangat ekstrim namun, hasilnya sungguh eksotis!" kagum Bu Henny sambil menggerakkan kacamatanya naik turun memelototi papan tulis.


Ran tersenyum lebar penuh bangga menuju tempat duduknya. Dengan bangganya ia berjalan sambil di kelilingi mata yang memandang.


Bisikan setan mulai mereka laksanakan. Beberapa murid sedang membicarakan dirinya.


"Kenapa Ran sekarang mendadak pintar, ya?"


"Aku tidak yakin jawaban itu hasil otaknya."


"Atau semalam dia melakukan ritual abal-abal, meminta kepada mbah dukun supaya menjadi pintar!"


"Aku rasa itu cuma kebetulan. Mungkin esoknya dia bodoh lagi."


Telinganya mulai memanas. Alisnya menurun, matanya mulai menajam, namun ia tetap berusaha menahan emosinya.


"Memangnya seberapa bodoh Ran ini sebelumnya?" decak ku kesal.


...°°°...


Pada jam istirahat, aku berjalan bersama Sheila menuju kantin sekolah.


Ran melihat sekelilingnya. Pandangan nya terhenti ketika ia menemukan seseorang yang tengah duduk sendiri sambil memakan semangkuk bakso. Yang tak lain lagi adalah, Alex.


Aku mulai berjalan kearah nya. Namun ia terlalu fokus pada makanan sehingga tidak menyadari aku kini ada di depannya.


Beberapa detik ia tatap pria itu dengan mata tajam namun orang itu tidak menoleh dan menyadari kehadirannya sedikit pun. Alex terkejut saat Ran tiba-tiba saja duduk di depannya.


Beberapa kali ia mencuri pandang ke arah Ran. Namun setelah itu ia fokuskan lagi tujuannya untuk si bakso.


"Orang ini laper atau doyan? Cara makannya seperti orang yang tidak makan selama ratusan tahun," batin Ran bergidik ngeri.


Alex ini walaupun tampan, tetapi jika di perhatikan lagi badannya memang terlihat sedikit kurus. Tapi justru inilah yang membuat dirinya menjadi lebih berdamage.


Tiga puluh detik sudah berlalu. Alex tidak mengucapkan satu patah kata pun. Padahal aku menunggunya bicara duluan. Baiklah kalau begitu.


"Alex, kau mampu menghabis-"


Tiba-tiba saja Alex mendobrak meja di depannya. Seketika mangkuk baksonya bergetar lalu menumpahkan beberapa kuah ke atas meja.

__ADS_1


Aku terkejut hingga membuat pikiran ku menjadi kosong. Alex bangun dari duduknya dan mengambil botol soda yang tinggal separuh. Kulihat apa dan kemana Alex bergerak. Hingga aku hanya melihat sisa punggungnya yang perlahan semakin menjauh.


Beberapa detik aku diam tak berkutik. Berusaha mencerna apa salahku. Dan kenapa Alex tiba-tiba saja seperti itu. Apakah dia marah? Tapi, alasan apa yang membuatnya marah kepada ku.


"Tidak, tidak! Sudah satu menit sejak dia pergi. Arghh... dia berhasil membuat ku gila karena memikirkannya!"


Kenapa Ran bisa-bisanya tergila-gila dengan pria seperti ini? Apakah hanya karena wajahnya yang tamvan?


Ran memanjakan keningnya dengan pijatan-pijatan kecil dari jarinya. Karena Alex, ia sampai lupa apa tujuan utamanya ke kantin.


Sheila datang membawa semangkuk mi ayam beserta dua buah roti mentega yang besar. Ia duduk dengan perhahan di samping Ran sambil membawa makanan yang di bawanya.


"Kenapa kamu belum pesan makanan, Ran?" tanya Sheila.


"Aku sedang tidak selera makan."


Sheila tahu kalau tadi Ran menghampiri Alex yang sedang makan. Tetapi saat ia selesai memesan makanan Alex sudah tidak terlihat lagi. Jadi Sheila rasa Alex lah penyebab Ran menjadi murung seperti ini. Ya, murung seperti biasanya. Ngambek tidak mau makan karena cintanya di tolak.


"Sudah, jangan sedih.... Hati yang tersakiti itu sudah biasa di mata permasyarakatan. Walaupun cinta mu di tepis keras oleh Alex, tetapi kamu jangan sampai menyiksa diri sendiri seperti ini, donkk...."


"Dia kira aku habis melamar pria aneh itu?!" batin Ran.


Tetapi ucapan Sheila itu ada benarnya juga. Jangan menyiksa diri sendiri demi orang yang tidak mempedulikan mu sama sekali. Walaupun kau mati sekalipun, mereka tidak akan peduli padamu. Jadi, jangan sia-siakan kehidupan mu.


Sheila menggeser dua buah rotinya ke hadapan Ran. "Nih! Aku kasih roti! Dengan iklas dan penuuuh kasih sayang!"


"Makasih ya, Sheila."


"Iyyuoe, kafmu -famuo. Fanfuiii samou akhfju mah!"


("Iya, sama-sama. Santuiii sama aku mah,")


"Habiskan dulu makananmu, lalu bicara." Ran tertawa geli mendengar temannya.


Disaat aku sedang memakan roti yang diberi Sheila, aku merasakan ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan kami berdua. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku rasa mereka bukan teman sekelas ku.


Samar-samar kulihat mereka dari sudut ekor mataku. Wajah mereka tampak asing. Aku berpura-pura kembali melanjutkan makanku.


Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi, yang menandakan waktu jam istirahat telah selesai. Reflek aku langsung berdiri dan membalik badanku untuk cepat-cepat kembali ke kelas.


Tapi di waktu yang sama saat aku membalik badanku, aku menabrak seseorang dan membuat berantakan makanan yang sedang di bawanya.


Hal itu membuat Sheila terkejut dan tersedak "Ada apa, Ran? Uhukk ... uhukk!"


"Maaf, maafkan aku," sesal lelaki itu. Kemudian memungut kembali makanan yang telah di bawanya.


Lelaki ini berjongkok sehingga membuat kosong penghalang antara aku dan orang-orang tadi. Mereka tersenyum lalu pergi meninggalkan kantin bersama rombongannya. Entah mengapa senyuman itu terasa aneh dan tidak enak di lihat.

__ADS_1


Aku belum tahu, sebanyak apa orang-orang yang tidak menyukai Ran ini. Baik kaum wanita, atau pria, mereka sama saja.


"Eh, Ran kenapa kamu tidak membantunya dan malah melamun, begitu?"


"Eh?" Aku tersadar bahwa lelaki yang menabrakku tadi masih memungut makanannya yang terjatuh. Aku dan Sheila kemudian membantunya.


Suasana kantin yang ramai membuat kami susah untuk berjongkok. Banyak sekali murid-murid yang kesana kemari walaupun bel sudah berbunyi.


Makanan lelaki ini lumayan banyak dan membuatnya kesusahan saat kami memberinya satu persatu makanan yang telah kami bantu ambil.


"Lain kali kau harus membawa kantung saat pergi ke kantin. Mau nyestok, ya?"


"Yaa, begitu lah!" pria itu menjawabku dengan malu-malu.


"Wah! Lain kali bolehlah bagi-bagi!" seru Sheila.


"I-iya ...." jawab pria itu dengan senyum terpaksa.


"Sudahlah Sheila, kau membuatnya merasa berhutang kepada kita. Cepat habiskan dulu makananmu, nanti takutnya guru-guru itu datang terlalu cepat. "


"Okey dokey!"


Pria itu pergi dengan makanan yang memenuhi kantung tangannya. Dan Sheila buru-buru menghabiskan mi ayam nya. Setelah itu kami kembali menuju kelas masing-masing.


Suasana di depan kelas Ran sudah terasa sepi. Tidak ada tanda-tanda satu murid pun yang masih ada di luar kelas.


"Oh, tidak! Apakah guru sudah datang?" resahnya.


Ran menambah kecepatan berjalannya. Dimana saatnya dia telah sampai di depan pintu kelas, namun ragu membukanya. Tetapi mau tidak mau, ia harus membukanya.


Glekk...


Suara pintu terbuka. Dan tiba-tiba ada sebuah benda dari atas yang berisi tepung hampir jatuh mengenaiku.


"Apa-apaan, ini?" ku ambil benda tersebut dan melihat seisi kelas.


Semua orang di kelas itu sudah lengkap kecuali aku. Tatapan mereka terlihat kecewa karena benda ini tidak jatuh mengenaiku. Jadi, mereka lah yang melakukan nya?


Ran berjalan ketengah dan di depan semua orang. "Siapa yang melakukan ini?!"


Pertanyaan pertama tidak ada satu orang pun yang menjawab nya. Dan mereka malah berpura-pura mengerjakan hal lain seperti membuka lembaran buku, menulis sesuatu, menepuk nyamuk, dan mengkuncir rambut.


"Aku tanya siapa yang melakukan ini?!" Mereka masih tidak mempedulikan ku. "Jika tidak, maka-"


"Ran!" Seorang guru telah berdiri di sampingku. Membuat diriku mengurungkan apa niatku.


Aku kembali ke tempat duduk sambil memperhatikan kanan dan kiri ku.

__ADS_1


Ran duduk dengan wajah kesal. Terlihat Yuna sedang memandangi ku dengan bibir jontor nya yang menurun dan menanjak. Ku balas dia dengan tatapan sinis ala njiplak si Alex.


__ADS_2