
Ran memandangi kertas laporan hasil lab kemarin yang menunjukkan kalau tidak ada bahan berbahaya yang terkandung dalam makanan di kantin. Hasil itu terbukti dengan kondisi Ran yang sekarang sedang baik-baik saja. Teman-teman lain yang memakan mi ayam di waktu yang sama dengan Sheila pun baik-baik saja.
Saat kutanya Sheila kemarin ia belum sarapan dari rumahnya dan ia tidak makan apa-apa lagi setelah kembali dari kantin. Bisa saja Sheila sakit perut karena belum sarapan di rumah. Tapi, ia sudah terbiasa seperti itu, dan sebelumnya juga baik-baik saja.
Hal ini membuat Ran menjadi semakin bingung. Belum lagi ia terpikirkan oleh perkataan seseorang yang mengaku tahu dimana keberadaan kakak nya berada. Sedangkan adiknya saja tidak tahu kalau mempunyai seorang kakak. Lalu, apakah kakaknya sendiri tahu keberadaan adiknya?
Ia membuka bungkus roti yang diberikan Sheila kemarin dan memakan nya. Memikirkan tentang hal ini membuat perutnya terasa lapar.
Jika penyebab Sheila sakit perut berasal setelah kembali dari kantin, namun makanan kantin yang Sheila makan tidak mengandung bahan yang mencurigakan, berarti ada seseorang yang memasukkan sesuatu ke dalam makanan Sheila.
Tetapi, Ibu kantin tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu. Hanya ada dua orang yang menyentuh makanan itu. Pembuat, dan pembelinya. Jika ibu kantin tidak melakukannya, maka Sheila tidak akan mungkin juga melakukannya ya, kan? Hal itu sama saja seperti bom bunuh diri. Untuk apa dia melakukannya?
Kemarin juga kami terus duduk selama makan kecuali, saat aku panik oleh beberapa orang yang terus memandangi kami dan akhirnya menabrak seseorang saat aku akan meninggalkan tempat kami makan.
Ran terus memutar lidahnya ke langit-langit mulut karena merasakan ada sedikit rasa pahit dai lidahnya.
"Apakah orang yang kemarin itu yang melakukannya?" Ran berdiri dari bangkunya dan pergi. Namun ia secara tidak sadar memasukkan sesuatu ke dalam saku.
Hani, seorang anak berusia sembilan tahun. Sifat nya sombong dan angkuh. Ia senang sekali membuat onar di sekolahnya bersama ketiga sepupunya.
Namun, ia memiliki IQ yang sangat tinggi. Dengan umurnya yang masih sembilan tahun, ia mampu mengimbangi kepintaran anak SMA. Tingkat rasa penasaran nya pun sangat tinggi. Jika ia ingin melakukan sesuatu, tidak ada orang yang bisa mencegah dan menghentikannya.
Tetapi sayangnya delapan tahun yang lalu, ia di tabrak oleh sebuah mobil sedan putih yang di curigai milik ayahnya sendiri. Ayahnya Han, pemilik P.T Surya sekaligus orang terkaya no-tiga di Indonesia.
Mengenai sidangnya ...
"Ahhh .... Aku kehilangan jejak! Sepertinya ada yang sudah memblokir nya. Kalau begini bagaimana aku bisa menyelesaikan tugas ku?!" kesalnya. Ia mencoba membuka kembali laman web tentang berita tersebut dari ponselnya.
"Sudahlah Bondan, kita cari saja topik yang lain untuk kelompok kita," ucap temannya yang sedang duduk berpangku tangan di depannya.
Dan ada segelas ice tea dan segelas ice lemon didepan mereka.
"Tapi, ini menarik sekali .... Aku yakin akan mendapatkan nilai A plus jika kita memakai berita ini," jawabnya yakin.
__ADS_1
"Seluk beluk keluarga mereka pun belum ada reporter yang berhasil mengetahui nya. Apalagi anak SMA seperti kita."
Ran masuk ke dalam kantin dengan sorot matanya yang langsung tertuju kepada mereka berdua. Ran berjalan mendekati meja makan mereka dengan aura yang tidak biasa. Tatapannya tajam dan tidak bisa ditebak.
"Ad- ada, apa?"
Ia menengok perlahan ke orang itu dengan wajah datar seperti hantu. "Kenapa kau panik sekali? Padahal aku cuma lewat saja," ucap Ran santai dengan nada yang terdengar agak aneh dan menyeramkan.
Ran melewati mereka begitu saja. Seketika rasa panik mereka hilang di tiup angin begitu saja.
"Psstt! Apakah tadi dia mendengar suara mu? Kau tahu kan, ayahnya adalah mantan pekerja dari perusahaan P.T Surya."
"Iya, aku tahu! Bagaimana ini, dari ekspresi wajahnya tadi, seperti nya ia dengar," ucapnya tegang.
"Dasar Bondan! Bisa-bisanya kau menyukai orang culun dan aneh seperti dia."
Ran terus berjalan seolah tidak dengar apa yang barusan mereka bicarakan.
"Jadi namanya Bondan."
"Aku rasa Bondan bukan pelakunya. Karena tampaknya dia menyukaiku. Dilihat dari sudut manapun juga tidak ada yang mencurigakan darinya." Ran kembali meneguk minumannya.
"Tetapi, gadis perempuan yang bernama Hani itu, siapa dia? Aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya."
...°°°...
Brakkk!
Seseorang telah mendobrak pintu kelas dengan sangat keras.
"Sial! Alex masih saja menolakku!"
"Kalau aku jadi dia pun akan melakukan hal yang sama," ucap seorang laki-laki berkacamata yang duduk di barisan depan dekat pintu yang wajahnya tertutupi dengan sebuah buku.
__ADS_1
"Cih! Kalau Alex adalah kau, untuk apa aku mendekatinya."
Pria itu menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja. "Pria normal mana yang mau dengan wanita genit dan licik seperti mu," ucapnya dengan wajah datar.
"Diam kau, Kevin bodoh!" sahut Maya yang duduk di sebelahnya.
Kevin memandang Maya kesal. "Ingat, aku ranking satu berturut-turut di kelas ini!" balas Kevin tak terima.
"Yah, yah, yah! kau yang terhebat di kelas ini." Maya berdiri di depan meja Kevin sambil menyenderkan tubuhnya ke tembok.
"Yah, kayaknya sih, Ran lah gara-garanya. Dia yang paling menekan Alex untuk suka padanya. " Maya meletakkan telapak tangannya di kepala Kevin. "Apa kau punya rencana, pintar?"
Kevin langsung menepis tangan Maya. Namun perlakuan itu tampak sudah biasa bagi mereka.
Nagisa mendekat ke depan meja Kevin dengan penuh harap. "Kalau kau berhasil membantuku, aku ajak nonton bioskop bersamaku!"
"Maaf, aku tidak tertarik." Ia berdiri dan menjauh dari mereka berdua kemudian duduk di bangku milik Nagisa. "Aku lebih tertarik tawaran dari kelas sebelah," ucapnya sambil kembali membaca buku.
"Huh! Cuma laki-laki ini yang tidak terpengaruh pesona Gisa," decak Maya kesal.
"Ya, tawaran kelas sebelah!" Dibalik buku yang tebal, wajahnya terlihat seperti ular beracun yang siap mematuk mangsanya kapan saja dan dimana pun berada.
Ternyata Kevin lah yang membuat Sheila mengalami sakit perut. Ia memasukkan sesuatu ke dalam mangkuk mi milik Sheila saat mereka sedang membantu Bondan memungut makanannya. Keadaan kantin yang ramai pun mendukungnya sehingga membuat aksi nya tertutupi oleh orang yang berlalu lalang.
Dia juga telah menukar roti yang diberikan Sheila kepada Ran dengan roti yang sudah kadaluarsa. Itu sebabnya tadi Ran merasakan rasa pahit di lidahnya.
...°°°...
Ran berjalan di lorong kelas dengan sempoyongan. Beberapa kali ia hendak jatuh tapi di tunda nya.
Waktu jam istirahat telah berakhir. Dan semua murid sudah kembali ke kelasnya masing-masing membuat lorong itu menjadi sepi. Sementara dirinya masih berjalan diantara sudut tembok dan kelas.
Perlu melewati lima kelas lagi untuk sampai ke kelasnya. Tetapi tenaga nya sudah tidak kuat lagi. Perutnya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang bergejolak.
__ADS_1
Ia tak bisa berkata-kata lagi secara langsung maupun dalam hati.
Tiba-tiba penglihatannya menjadi buram dan menghitam. Tubuhnya kehilangan keseimbangan kemudian ia jatuh pingsan di lorong yang sepi itu.