Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun

Reinkarnasi Ke Tubuh Gadis Culun
Episode 9 : KENANGAN YANG MENGERIKAN


__ADS_3

Terlihat samar-samar wajah seorang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki yang mengajaknya bermain.


Wajah dan perawakan mereka terasa tidak asing baginya. Senyuman itu, tawa itu, membuat nya merindukan suatu tempat yang entah bisa ia gapai lagi atau tidak.


Siapa anak kecil yang sering bermain bersamaku itu?


Ia sulit sekali untuk mengingatnya. Ran tahu jika dia sedang menjalani kehidupan menjadi orang lain. Tetapi sekarang ia tidak ingat orang-orang yang sering bersamanya dulu. Dan siapa dia sebenarnya?


Berfokuskan menjalani kehidupan yang sekarang membuat ia lupa siapa dia sebenarnya dan kenapa dia bisa menjadi seorang Ran.


Kenapa aku ... tidak bisa mengingatnya?


Kenapa aku bisa ada disini?


Siapa, mereka?


Aku ... aku, siapa?


Ingatannya tentang kehidupan nya yang dulu hanyut begitu saja seperti mimpi yang hilang di gantikan dengan dunia nyata. Layaknya putri salju yang baru bangun dari mimpi indahnya.


Ia melihat sepasang suami istri yang sedang menimangnya. Saat itu ia hanya bisa bergeliat dan tertawa bahagia.


Gambaran wajah seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya yang tak lain lagi adalah dirinya. Beberapa kali ia menyemburkan bubur keluar dari mulutnya. Dan dengan sabar ibunya mengelap makanan yang telah disembur olehnya.


Saat ia terjatuh dan terluka kedua insan itu dengan sigap mengobati lukanya sambil mendiamkan tangisannya.


Tunggu dulu! Apakah ini adalah sebuah memori ingatan dari tubuh ini? Memori yang indah dan menyenangkan. Aku belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya.


Lambat perlahan memori kecil ini masuk satu persatu ke dalam ingatannya. Tentang masa kecilnya, ayah dan ibunya, seseorang yang berharga, dan janji yang ia buat dengan seseorang.


Namun tak lama kemudian ada sebuah memori yang sangat amat mengerikan. Dimana diriku menyaksikan sepanjang suami istri yang tak lain lagi adalah orang tua tubuh ini yang sudah tergantung tak bernyawa.


Tubuhnya tergantung di sebuah ruangan yang tak lain lagi adalah di kamar kontrakan tempat nya tinggal.


Leher mereka memerah dan seluruh tubuh mereka membiru. Juga ada sesuatu seperti busa yang keluar dari mulut mereka.


Saat itu Ran berjalan mundur sambil gemetaran, hingga langkahnya terhenti karena tubuhnya menyentuh sebuah tembok.


Ia terus memandangi kedua orang tuanya yang sudah mati tergantung hingga ada seseorang yang membuka pintu dan melihat apa yang ia lihat juga. Kemudian orang itu menaruh telapak tangannya di atas kelopak mata Ran dan membawa Ran pergi.


Kehidupan yang dulunya cerah seketika berubah mendung hingga saat ini.

__ADS_1


Ran menjadi culun dan mudah dimanfaatkan oleh orang lain.


"Bangun, bangunlah! Tolong bangunlah walaupun sebentar saja!" tegas seseorang yang mencoba menyadarkannya.


Ia melihat ada seorang wanita dicermin yang sedang berbicara.


"Dengarkan aku! Aku adalah Ran, dan kau sekarang adalah satu-satunya yang bisa pengendalikan tubuhku saat ini. Aku meminta tolong padamu buat aku merasakan hari-hari bahagia ku lagi. Walaupun aku harus berbagi tubuh dengan mu, aku akan selalu tetap ada kemanapun kau pergi membawa tubuhku." Suara wanita itu terdengar lirih.


Ran mencoba bersuara namun suaranya pelan seperti angin.


"Tolong bukakan pintu kebahagiaan yang tertutup dari diriku! Aku mohon, selalu bahagiakan juga orang-orang yang baik kepadaku. Aku percaya padamu!" Jarak antara dia dengan cermin didepannya mulai menjauh.


Tidak, tunggu! Jangan pergi dulu! Aku ingin bertanya apa kau tahu siapa aku.


Wanita di cermin itu tersenyum seolah mengerti isi hati yang baru di ucapkannya itu.


"Iya, aku tahu!"


Sekeliling mereka hanya ada warna hitam pekat. Bayangan di cermin itu mulai memudar lambat perlahan.


"Kau adalah ... H-" Akhirnya bayangan itu menghilang sebelum ia menyelesaikan kalimat terakhirnya.


...°°°...


Perasaan apa, ini? Tubuhku terasa melayang seperti di angkasa. Begitu ringan dan nyaman.


Walaupun perutnya kini terasa menyakitkan, namun suasana ini membuatnya merasa tenang.


Ran membuka matanya perlahan. Ia melihat dengan dekat wajah seseorang yang sedang berjalan memandang jalan. Tangan orang itu merangkul pundak dan paha kakinya.


Ia sedang di gendong oleh seorang pria yang entah siapa karena pandangannya yang kabur.


Siapa dia? Tolong biarkan aku melihat wajah orang ini.


Ran terasa sangat mengantuk tetapi ia terus mencoba untuk membuka kedua matanya. Sebelum ia memejamkan matanya kembali, samar-samar ia melihat orang itu dari bawah dagunya sedang menatap kearahnya. Dan ia pun tertidur di gendongannya.


Beberapa saat kemudian, Ran kembali terbangun karena ada yang mengoleskan minyak mint aroma terapi di bawah hidungnya.


"Syukurlah kau sudah bangun," ucap seorang dokter yang suara nya terdengar tidak asing lagi baginya.


Author lupa memperkenalkan, nama dokter itu adalah Ziva Tabira, atau sering dipanggil Dokter Ziva.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa disini, dokter?" tanya Ran kebingungan.


"Tadi ada seseorang yang membawamu kesini. Katanya kau pingsan di lorong sekolah." Dokter itu memeriksa kening Ran. "Cowok, putih, tinggi, mempesona, dan terlihat sangat LAKIKK!"


Pikiran Ran sedang loading mengingat orang yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan dokter itu.


"Hah! Hmm ... tidak mungkin Alex, kan?" ucapnya ragu.


"Apa dia pacarmu, hmm?" goda Dokter Ziva.


"Tidak, dok .... Sebenernya dia sangat membenci ku karena aku sering sekali menempel padanya walaupun ia tidak suka." Tepatnya Ran yang dulu.


"Walaupun yang kamu bilang benar, tapi orang yang mengantarkan mu tadi memang benar Alex. Dokter tahu, itu!" ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ya ... yang benar, dok?" Wajahnya terlihat terkejut namun hatinya tidak percaya. Orang cuek dan dingin seperti Alex, ternyata bisa peduli juga. Saat Sheila sakit di kelas, ia nampaknya cuek saja dan tidak membantunya.


Dan juga, bisa saja, kan dia meminta bantuan orang lain untuk mengangkatku dan mengantarkanku kesini. Dengan begitu dia tidak akan menyentuhku. Karena sepertinya dia paling tidak suka kalau ku sentuh, kecuali dia sendiri saat keadaan marah.


"Ngomong-ngomong, kenapa bisa kau sakit perut begini? Apa tadi yang sudah kau makan?"


"Tidak banyak, dok. Hanya makan roti saja dan beli air mineral biasa di kantin."


Ekspresi wajah dokter Ziva yang tadinya ceria, kini berubah menjadi serius. "Benda apa yang ada di kantung mu itu?"


Ada plastik bening di dalam sakunya. Ia kemudian mengeluarkannya dan baru menyadari telah memasukkan bekas bungkus plastik roti yang tadi ia makan.


"Ini, kan ... bungkus roti tadi!"


"Ahaha! Kenapa kau memasukkan sampah ke dalam saku mu?" Tawa dokter Ziva membuatku merasa malu. Ia mengambil bungkus roti itu dari tanganku dengan segera. Ia melihat-lihat benda yang kini berada di tangannya.


"Aku tidak sengaja memasukkan nya ke dalam saku," jawab Ran dengan nada Rendah pelan.


Dokter Ziva tersenyum ke arahku. "Dan kau makan roti begitu saja tanpa melihat expired, nya? Untung kau sekarang sudah baik-baik saja."


Aku nampak terkejut. Bagaimana tidak, roti itu kedua nya berasal dari Sheila. Tetapi, saat ia memakan roti yang pertama ia nampak baik-baik saja. Tetapi roti yang kedua ternyata sudah expired. Pantas saja tadi ada rasa pahit bin aneh di lidahku setelah memakannya.


Tetapi jika ku perhatikan lagi, bungkus roti itu dengan yang kemarin sedikit berbeda. Padahal Sheila memberikan dua buah roti mentega yang sama mereknya maupun varian rasanya.


"Ah sudahlah lupakan! Karena teman-teman mu yang lain sudah pulang sejak tadi, kau juga harus pulang, kalau tidak nanti orang tuamu khawatir."


Entah mengapa setelah mendengar kata "orangtua" ia menjadi lemas dan murung. Mengingat kejadian mengerikan itu yang baru di mimpikannya. Walaupun ada indahnya juga, sih ....

__ADS_1


__ADS_2