
Disebuah warung makan yang sederhana, terpajang beberapa makanan didalam lemari kaca dengan lauk dan sayur seadanya. Bangkunya terbuat dari bahan kayu yang dibentuk sedemikian rupa. Dalamnya tidak cukup luas namun, membuat orang lain yang sedang makan menjadi betah dikarenakan tempatnya yang sangat menjaga kebersihan.
Ia duduk dibangku tersebut dan akan segera memesan makanan yang sama sekali tidak pernah ia makan sebelumnya.
"Tempe, lontong sayur, tahu, lodeh atau apapun itu, mana yang paling enak?" bingungnya.
"Kalau Nak Ran bingung, bibi sarankan pesan saja yang biasa Ran pesan," kata bi Mary pemilik warung makan.
"Kalau gitu, pesan yang biasa ku pesan saja, ya Bi."
"Hookay! Bibi siapkan!"
"Memang makanan apa yang biasa aku pesan?" gumamnya.
Tak lama kemudian datanglah sepiring makanan yang berisikan daun kates plus sambalnya dan dua buah tempe goreng dengan nasi sebagai pendampingnya.
Dari baunya saja ia sama sekali tidak tergiur, apalagi bentuknya. Kalau tempe, tentu saja ia tahu. Tetapi, "Apa ini? Rumput?" ucapnya sambil mencuil daun kates itu ke udara.
Bi Mary terdiam seribu bahasa. Ran yang biasanya sangat menggemari daun kates tiba-tiba tidak tahu makanan yang disukainya.
Coba bayangkan saja bagaimana perasaan daun kates itu sekarang mengetahui pecintanya telah melupakannya begitu saja.
Depresi yang dideritanya pasti lebih menyakitkan daripada saat aku merebusnya.
Biarkan saja ia mati di tangan kekasihnya daripada ia harus menanggung beban berat yang ia derita. Setidaknya ia bahagia disaat terakhirnya. Karena ia sudah mengikhlaskan kepergian kekasihnya untuk jatuh cinta kepada sayur lain.
Bi Mary menangis melihat daun kates itu masuk kedalam mulut Ran yang kemudian di kunyahnya. "Semoga engkau tenang di alam sana," ucap bi Mary sambil mengusap air mata.
"Doorr!!!"
Suara itu mengagetkan Hani, eh maksudnya Ran sehingga membuatnya yang sedang makan menjadi tersedak.
"Maaf, maaf. Ini, minumlah!" Orang itu adalah Sheila, teman Ran yang kemarin menyusulnya ke kontrakkan.
__ADS_1
"Eh, bukannya ini air kobokan?"
Ran menyembur minuman yang di minum nya. Perut serta tenggorokannya terasa dingin oleh beberapa teguk air yang tadi di minumnya. Tetapi mengingat air itu sudah terkontaminasi, rasanya ingin sekali isi perut ini kembali keluar.
Diliriknya segelas air putih dengan gelas yang sepertinya hasil bonusan beli Sanlait. Tanpa basa-basi ia meminumnya dan hilang sudah rasa air kobokan dari perut dan tenggorokannya.
Sheila duduk di sampingnya lalu memakan sebuah tempe. Ran hanya mandang sinis melihat tempenya dimakan.
"Tumben kamu tidak bekerja."
Hani yang kini menjadi Ran tidak tahu pekerjaan apa yang di maksud Sheila."Bekerja apa?"
"Baiklah kalau begitu, kau ini cuma modus, kan? Ingin aku menemanimu kesana."
Sejenak ia berpikir, bagaimana Ran si pemilik tubuh ini bisa memulai pertemanan, dengannya?
"Let's go lah!" Ajaknya sambil menarik kerah baju milik Ran.
"Eh tunggu dulu!"
Ran yang perutnya masih lapar dengan terpaksa mengikuti ajakan Sheila. Namun ia terkejut karena harganya begitu sangat murah. Pantas saja Ran suka memesan porsi itu.
Disisi lain, bi Mary melambai-lambaikan uang goceng yang baru didapatnya itu. "Uang nya kurang! Aku anggap itu sebagai hutang," Ucap bi Mary tersenyum dengan tangan yang masih melambai.
...•••...
Sebuah restoran sederhana yang terletak di pinggir jalan diantara manusia dan kendaraan yang berlalu lalang. Namun restoran ini selalu ramai dan tidak pernah sepi pembeli. Tempatnya sangat strategis, jadi tidak heran banyak pendatang yang datang ke restoran ini.
Warna temboknya coklat dan diukir kasar seperti kayu. Di dalamnya terlihat restoran ini seperti terbuat dari kayu dan bebatuan alami, padahal tidak. Sebelum itu, di atas pintu masuknya terdapat tulisan "Selamat Datang di Resto Aoi" dengan tulisan timbul yang cukup besar.
Disini terdapat barang-barang yang diletakkan dengan sangat Artistik. Meja-meja disini sangat cantik. Suasananya yang simple namun elegan, mengingatkannya akan kehidupannya dulu.
"Buru, gih!" suara itu membuyarkan lamunannya. "Cepat, cepat! kalau tidak kamu nanti dimarahin bos mu, lho."
__ADS_1
Ran bingung pekerjaannya apa dan menjadi apa. "Aku harus kemana?!" ucapnya panik.
"Alah ... jangan pura-pura begitu, lah! Walaupun cinta mu ditolak beberapa kali oleh Alex, tetapi tidak harus begini juga. Lihatlah! Alex datang! Semoga kamu beruntung hari ini. Aku pergi dulu, daaa ...."
Sheila pergi yang kemudian disusul dengan kedatangan seorang pria di belakangnya.
"Darimana saja, kau?!" suara itu terdengar berat dan sangar.
Ia mencoba memberanikan diri dengan membalikkan badan. Dilihatnya seorang pria maskulin dengan tinggi badan sekitar 175 cm keatas sedang berdiri melipat lengan di pusarnya.
Matanya tajam seperti elang, hidungnya mancung, alisnya tebal namun tetap rapih, dan kulitnya terlihat begitu putih, bersih, dan licin. Wajahnya tirus, badannya ramping, rambutnya hitam mengkilat. Gayanya so cool .... Perfect!!! Orang ini sudah hampir sempurna!! Ran hanya bengong memandangi pria itu. Sedangkan pria itu sekarang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Apa yang kau lihat! Cepat pergi ke belakang dan segera kerjakan pekerjaanmu!" Pria itu begitu marah dengannya. Dari caranya berpakaian serta ada sehelai celemek mengikat di tubuhnya, sepertinya ia adalah bos koki atau koki biasa atau apalah itu.
Walaupun ia begitu tampan, tetapi setidaknya ia memiliki rasa malu untuk memarahi orang lain di depan umum seperti ini. Apalagi di depan pelanggan dan tamu restoran ini.
Ran melirik kanan dan kirinya sambil berjalan. Terlihat beberapa orang yang sedang memandang mereka berdua. Terdengar juga beberapa omongan mereka yang sudah mereka pelankan namun tetap saja terdengar.
Ada yang berpendapat Ran adalah adik pria itu yang kabur dari PR sekolahnya, ada yang berpendapat bahwa Ran adalah orang yang tidak becus bekerja, dan ada juga yang berpendapat bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Kau mau kemana?!" mulai lagi si pria itu.
Kini pria itu mendekat dan menariknya ke dalam ruangan dengan pintu yang terletak di belakang kasir.
Ternyata ini adalah dapur dari restoran ini. Ada banyak orang yang sedang sibuk di dalam dapur ini baik pria dan wanita, baik koki, ataupun pekerja pelayan.
"Cepat antarkan pesanan kursi no-9, dan setelah itu kembali lagi kesini untuk mencuci piring!" Taruhnya pria itu sepiring makanan di telapak tangan Ran. "Cepat!!!"
Ran berjalan keluar dengan rasa bingung yang hampir menjalar keseluruh bagian tubuhnya.
"Meja no-9, meja no-9, dimana meja no-9?" Hampir satu menit ia berputar-putar disana.
Ia berhasil menemukan meja itu, namun ...
__ADS_1
"Apa, ini?! Makanannya sudah dingin dan kejunya sudah membeku! Aku disini ingin mencicipi keju lumer kalian yang terkenal itu!"