
"Ibu, aku tidak pernah mengusir Karol, dia hanya sedang membuat drama saja." ucap Alvin.
Karol kini meneruskan tangisnya di depan Bu Sry kemudian langsung menarik kopernya hendak pergi. Alvin malah diam dan membiarkannya pergi begitu saja.
Bisa dibilang, hanya Bu Sry yang menahan kepergian Karol. Melihat kelakuan Karol yang sengaja menciptakan pertengkaran diantara Alvin dan ibunya, Lisa merasa sangat kesal.
Karol benar-benar wanita ****** yang tidak tahu malu.
"Alvin, jika kamu tidak menghentikan istrimu dan membawanya kembali, maka jangan kau anggap aku ibu lagi." ucap Bu Sry.
Mendengar ancaman ini, Alvin hanya bisa istighfar.
"Karol, jika kau berani melangkah keluar dari rumah ini, maka aku akan menalak mu saat ini juga." ucap Alvin dengan terpaksa. Padahal, Alvin pun sebenarnya akan lebih senang jika Karol benar-benar pergi.
Lagi pula, dia hanyalah perusak rumah tangga orang saja, sangat meresahkan.
Mendengar hal itu, mata Karol membulat sempurna. Jika ia melangkah, maka Alvin akan langsung menalaknya?
Kalimat itu jelas, Alvin menyuruhnya untuk tetap tinggal. Karol dengan harga dirinya yang tinggi tidak serta Merta kembali. Ia menunggu reaksi dari Bu Sry.
"Karol, kau sedang hamil, tidak baik jika kau pergi meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini. Mungkin Alvin tidak serius mengatakan hal itu, aku juga sudah menghukumnya di depan mu bukan? Kau sudah seharusnya memaafkan suami mu itu." ucap Bu Sry.
"Maaf? Aku sama sekali tidak mendengar permintaan maafnya." ucap Karol.
Alvin semakin kesal mendengarnya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Karol lakukan.
"Alvin, jika kau masih menganggap aku sebagai ibumu, maka kau harus meminta maaf pada Karol sekarang juga." ucap Bu Sry.
Karol pun tersenyum senang karena dibela oleh sang mertua. Karena tidak mau hubungannya dengan sang ibu hancur, Alvin terpaksa meminta maaf kepada Karol demi memuaskan hati ibunya.
"Maaf Karol, aku tidak bermaksud demikian. Kuharap kau tidak pergi." ucap Alvin.
Setelah ucapan ini, Karol pun segera mengembalikan semua barang-barangnya. Tujuan akhir Karol sedari tadi memang hanyalah untuk membuat Alvin meminta maaf kepadanya bagaimanapun juga. Namun itu justru membuat Alvin semakin ilfil dan membenci dirinya.
__ADS_1
Bisa dibilang, Karol juga agak bodoh. Alih-alih mengambil hati Alvin perlahan, ia malah bertindak gegabah sesuai dengan perasaannya.
Hanya karena mementingkan perasaannya yang egois, ia malah membuat Alvin semakin benci terhadapnya. Benar-benar bodoh!
Mungkin, Karol adalah jenis wanita yang mempunyai pemikiran sempit.
Setelah kejadian 'drama rumah tangga' itu berlalu, Alvin segera pergi meninggalkan rumah demi menyibukkan dirinya. Ia merasa kesal dan tidak ingin berada di rumah disebabkan keberadaan Karol.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alvin sudah pergi ke kantor. Ia sama sekali tidak berminat berurusan dengan wanita ****** seperti Karol.
"Pagi-pagi begini kok sudah cantik, mau kemana?" tanya Bu Sry. Karol kemudian tersenyum, ia berusaha sebaik mungkin mengambil hati Bu Sry, mertuanya itu. Sebab hanya Bu Sry yang akan membelanya kelak.
"Tentu saja aku mau ke kantor. Aku kan masih sekertaris pribadi Alvin. Jika aku tidak masuk kantor, bisa-bisa Alvin akan kesulitan menyelesaikan pekerjaannya." ucap Karol.
Mendengar hal itu, Bu Sry merasa senang dan semakin membanggakan Karol.
"Lihat tuh Lisa, Karol benar-benar menantu idamanku. Cantik, berpenampilan menarik, bisa hamil, dan masih bisa membantu pekerjaan Alvin di kantor. Emangnya kamu? Bisanya cuma makan tidur doank." ucap Bu Sry.
Lisa yang saat itu kebetulan lewat hanya bisa istighfar. Padahal sebelumnya Lisa melakukan banyak hal dan tidak pernah bermalas-malasan di rumah ini.
Meskipun begitu, Lisa memilih diam dan tidak mengatakan apapun. Ia malas berurusan dengan 'Mak Lampir' itu. Yang ada, Lisa hanya akan berujung sakit hati jika berurusan dengannya.
Karol sempat menatap Lisa dan mencibirnya dengan nada menghina.
"Kok ada yah, istri orang terkaya malah penampilannya seperti pembantu. Lihat tuh, kerjaannya seperti pembantu setiap hari." cibir Karol.
Mendengar apa yang Karol katakan, Lisa merasa sakit hati. Bagaikan hatinya ini dibelah menjadi dua. Sangat sakit dan menyesakkan. Sungguh tidak tahu malu.
Sudah merebut suami orang, masih melakukan hal serendah ini pula.
"Baiklah Bu, aku akan segera berangkat ke kantor. Alvin mungkin sudah menunggu kehadiran ku di kantor sekarang." ucap Karol.
Setelah mencium tangan Bu Sry, Karol pun akhirnya pergi. Lisa hanya bisa terdiam seribu bahasa menyaksikan hal itu.
__ADS_1
Alvin yang sengaja ingin menyibukkan diri di kantor, malah akan diganggu oleh Karol kelak. Benar-benar seperti parasit saja.
***
Alvin kini sibuk mengerjakan banyak hal di kantor. Saat ia sibuk memeriksa sebuah berkas, seseorang wanita cantik seketika menyajikan sebuah kopi untuk Alvin.
"Terima kasih," balas Alvin. Namun saat menengadah ke atas, Alvin kaget melihat Karol.
"Kenapa? Bukankah hal wajar jika seorang istri membuatkan kopi untuk suaminya?" tanya Karol.
Alvin yang tadinya mau minum kopi, kini jadi tidak nafsu minum.
"Sialan, nih perempuan ****** kenapa ada di mana-mana sih? Bikin kesal saja." batin Alvin.
"Mulai sekarang, aku akan sering-sering menemui mu. Jika ada yang bisa aku bantu, maka aku akan dengan senang hati membantu mu." ucap Karol.
Alvin berusaha tidak menghiraukannya, namun yang namanya perempuan ******, tidak akan mengerti. Karol seketika berjalan mendekati tempat duduk Alvin dan kemudian duduk di meja lalu memegang dagu Alvin.
"Suamiku, kau terlihat sangat tampan." ucap Karol.
"Karol, kau sudah keterlaluan kali ini. Apakah kau tidak bisa melihatku sedang sibuk? Aku pikir kamu benar-benar sangat tidak tahu malu yah." ucap Alvin dengan suara keras. Membuat orang-orang di luar mendengar suara Alvin.
Namun bukannya malu, Karol malah hanya tersenyum.
"Suamiku yang tampan, dikarenakan sekarang aku sudah menjadi istri mu, maka aku juga mempunyai kekuasaan yang sangat tinggi di perusahaan ini kan?" tanya Karol. Alvin hanya terdiam mendengarnya.
Alvin takut mengatakan sesuatu, jika sampai ia nantinya membenarkan hal itu. Alvin takut Karol akan membuat keributan dan masalah besar di kantornya.
Tentu Alvin tidak menginginkan hal seperti itu terjadi. Apalagi selama bertahun-tahun menjadi sekretaris pribadinya, Alvin tahu betul Karol orang yang seperti apa.
"Kenapa tidak jawab? Aku tidak akan pergi dari sini jika kau tidak mau menjawab." ucap Karol.
Salah seorang karyawan wanita kini segera mengetuk pintu dan langsung menengok masuk.
__ADS_1
"Pak Alvin, ini ada berkas yang membutuhkan tanda tangan Pak Al..." suara perempuan itu terhenti ketika melihat Karol yang sangat dekat dengan Alvin.