Rela Dipoligami

Rela Dipoligami
Bab 4


__ADS_3

Mendengar suara mertuanya yang sudah pasti akan mencari masalah, Lisa memilih untuk tidak menggubris perkataan mertuanya. Karena tidak digubris dan Lisa masih tetap melipat, kini mertua Lisa menjadi teramat kesal.


"Lisa, berani kamu tidak menghiraukan aku lagi? Jangan lupa kalau aku adalah mertuamu!" ucap Bu Sry.


Tangan Lisa kini berhenti untuk melipat pakaian dan kemudian menatap mertuanya dengan wajah malas.


"Ada apa sih?" tanya Lisa, Bu Sry segera mendekat dan berdiri di depan Lisa kemudian berkata, "Tadi aku menguping dan mendengarkan percakapan kamu dan Alvin. Pantas saja putraku tidak kunjung punya putra, ternyata kamu biang keroknya." ucap Bu Sry yang seolah ingin memarahi Lisa. Seketika raut wajah Lisa berubah menjadi lesu saat itu juga.


Lisa tidak pernah berharap mertuanya itu akan tahu mengenai masalah itu. Namun apalah daya, semuanya sudah terlanjur terjadi. Lisa hanya bisa terdiam seribu bahasa. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan untuk membantah mertuanya itu.


Apalagi Lisa tahu dan sadar betul, betapa mertuanya sudah sangat mengidam-idamkan seorang cucu, dan ia malah tidak bisa memberikan cucu kepadanya.


"Lisa, kamu jangan egois! Alvin juga butuh seorang penerus untuk meneruskan perusahaannya. Alvin juga kepengen punya anak, kamu jangan egois donk." ucap Bu Sry kemudian memalingkan wajahnya dengan gaya khasnya kemudian kembali berkata, "Dianya aja yang tidak mau bicara denganmu, karena takut kamu sedih nantinya." ucap Bu Sry lagi.


Lagi-lagi Lisa hanya bisa terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus mengatakan apa dalam hal ini. Ia seperti di skakmat.


"Terus aku harus apa?" tanya Lisa frustasi, air matanya lagi-lagi keluar karena omongan mertuanya itu.


"Pokoknya, kamu harus membiarkan Alvin menikah lagi, kalau tidak, bagaimana dia akan bisa punya penerus kalau terus-terusan mengharap dari kamu?" tanya Bu Sry sambil berjalan menjauh.


"Dasar gadis cengeng!" gumam Bu Sry sebelum meninggalkan Lisa di kamar seorang diri.


Setelah kepergian mertuanya itu, Lisa kini tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.


Sementara itu, Bu Sry tersenyum saat sudah duduk di sofa.

__ADS_1


"Langkah pertama sudah berhasil!" pikirnya sambil tersenyum. Bu Sry terlihat sedang memegang smartphone miliknya dan masuk ke kontak dan mencari nama Karolina Dinari, sekretaris pribadi Alvin Sanjaya di kantor.


"Aku yakin, perlahan tapi pasti, Lisa akan membiarkan Alvin untuk menikah lagi. Dan aku sudah menemukan gadis cantik yang akan menjadi calon ibu dari cucu-cucu ku nantinya." pikir Bu Sry kemudian dengan sekali pencet, ia menelepon Karol dengan smartphone miliknya.


Sesaat setelahnya, telepon kemudian terhubung.


[Ya Halo, dengan siapa dimana?] Karol masih bersikap formal, sebab yang meneleponnya adalah seorang yang tidak ada di daftar kontaknya.


[Saya ada Sry Rahayu, Ibu kandungnya Alvin Sanjaya, bos mu itu!] Bu Sry kemudian memperkenalkan diri.


[Oh, Bu Sry yah? Ada urusan apa menelepon ku?] Karol yang saat itu berada di ruang kerjanya kini berhenti dari menatap laptop di depannya dan segera fokus bicara dengan Bu Sry karena saking senangnya ditelepon oleh Ibunya Alvin.


[Aku tahu kau menyukai putraku, bagaimana kalau aku buat kesepakatan denganmu?] tanya Bu Sry dengan sangat bersemangat.


[Kesepakatan apa?] Karol pun semakin bersemangat.


Karol tentu saja langsung menyetujui ajakan sang calon mertua bahkan dengan sukarela dan dengan senang hati tentunya. Karol seolah melihat peluang yang berasal dari Bu Sry untuk bisa mendekati Alvin Sanjaya yang selama ini telah menolaknya mentah-mentah.


Karol yakin, dengan dukungan dari sang mertua, ia akan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu dekat dengan Alvin atau bahkan bisa menjadi istrinya. Karol tidak masalah meskipun itu harus menjadi istri kedua dari Alvin. Sebab incaran Karol sebenarnya bukanlah Alvin, tapi kekayaannya yang melimpah ruah.


Sementara itu, hati Lisa semakin hancur ketika ternyata ia mendengarkan pembicaraan mertuanya dengan Karol, meskipun sebenarnya Lisa tidak tahu mertuanya itu bicara dengan siapa.


Pada akhirnya, Lisa hanya memilih diam dan masuk ke dalam kamar kemudian mengunci pintu. Ia hanya bisa pasrah dengan segala keadaannya. Bahkan mertuanya sendiri menginginkan kehancuran rumah tangga putra kesayangannya dengan Lisa. Benar-benar miris.


Siang Hari kemudian, Hotel Merbabu!

__ADS_1


"Aku kesal banget, sudah sepuluh tahun menikah, tidak juga hamil. Pokoknya, aku ingin kamu menikah dengan putraku, kau tidak keberatan bukan?" tanya Bu Sry seketika.


Mendengar keluh kesah Bu Sry, Karol sangat bahagia bagaikan melihat setitik harapan untuk bisa bersama Alvin.


"Tentu saja tidak keberatan, lagian gadis mana coba yang tidak mau menikah dengan Alvin Sanjaya, seorang pemuda tampan, mapan, dan baik hati. Aku bahkan lebih dari bersedia." ucap Karol.


Saking senangnya hati Karol sekarang, ia seolah ingin berjoget-joget saking girangnya. Namun demi menjaga image di depan sang calon mertua, dan agar calon mertuanya tidak langsung ilfil, Karol hanya bisa menahannya dan tetap duduk manis dan berusaha terlihat anggun.


"Tapi bukankah Alvin sangat setia dengan istri pertamanya yah Bu? Faktanya setiap hari aku godain nggak luluh juga tuh." ucap Karol.


"Tenang saja, aku akan membantumu dalam hal ini. Pokoknya, kita akan memaksanya sampai dia bersedia." ucap Bu Sry dengan percaya diri.


"Caranya bagaimana?" tanya Karol semakin penasaran.


"Kalau aku langsung menyuruh Alvin memang aku sendiri ragu dia akan bersedia, tapi jika istrinya sendiri yang menjodohkan kalian berdua, aku yakin Alvin tidak akan punya alasan untuk menolak. Jadi, kita hanya perlu membuat Lisa sendiri yang bersedia dimadu." ucap Bu Sry.


Karol kini menunjukkan ekspresi malas.


"Lagian wanita mana yang akan rela Dipoligami? Pasti nggak mau lah." ucap Karol.


"Yah kalau nggak mau kita paksa, kita buat dia merasa bersalah secara terus menerus dengan kekurangannya itu, aku yakin dia pasti akan menyerah pada akhirnya." ucap Bu Sry lagi.


Karol dan Bu Sry kini tersenyum, di kepala masing-masing, mereka memikirkan rencana-rencana buruk dan busuk di kepalanya. Mereka siap menindas Lisa sampai ke keadaan terpuruk agar ia sendiri yang bersedia di poligami. Benar-benar kejam rencana mereka itu.


Malam hari kemudian...

__ADS_1


Alvin kini sudah berada di dalam kamar. Ia heran melihat tingkah laku istrinya yang tidak biasanya. Padahal sudah tahu tidak akan hamil, tapi Lisa malah tidak menyerah. Malam itu, Lisa minta jatah pada suaminya, dan hubungan itu pun terjadi. Berharap, Lisa bisa segera hamil.


Waktu tidak terasa berjalan begitu cepat sampai pada akhirnya pagi hari telah tiba. Alvin kini telah berpakaian rapi siap pergi ke kantor. Lisa terlihat baru saja mengikat dan memasangkan dasi untuk suaminya. Alvin hanya bisa terdiam melihat harapan istrinya untuk bisa hamil sangat besar. Alvin menjadi ragu untuk mengatakan niatnya untuk mengadopsi anak panti asuhan kepada istrinya itu.


__ADS_2