Rela Dipoligami

Rela Dipoligami
Bab 2


__ADS_3

Alvin Sanjaya, seorang pengusaha sukses nan kaya raya memutuskan pulang lebih awal sebab ingin mengajak istrinya ke panti asuhan untuk coba mengadopsi anak. Alvin pulang saat jam menunjukkan pukul dua belas lewat. Alvin sampai di rumah sekitar jam satu siang. Dengan wajah tersenyum, Alvin melangkah masuk sudah tidak sabar ingin melihat wajah istrinya.


Diketuk-lah kemudian sebuah pintu yang merupakan pintu kamar Alvin dan istrinya. Namun beberapa kali mengetuk pintu juga tidak ada jawaban.


"Eh, kamu sudah pulang ya Nak?" tanya Sry, ibu Alvin. Alvin hanya tersenyum menanggapi.


"Liat tuh kelakuan istrimu, makin hari makin menjadi-jadi. Sejak tadi pagi ia mengurung diri di dalam kamar. Sampai sekarang belum keluar. Aku panggil-panggil juga nggak nyahut. Bikin kesal saja. Tanya tuh sama istrimu, kalau ditanya jawab donk!" ucap Sry yang langsung mengomel di depan Alvin putranya.


Bu Sry merasa kesal atas kelakuan Lisa yang tidak menyahut ketika dipanggil olehnya sampai ia kesal. Namun pada akhirnya, yang menjadi tempat pelampiasan malah Alvin yang kena batunya. Alvin hanya bisa menghela napas dan langsung menenangkan ibunya.


Sebetulnya ibu Sry sudah sedari awal menentang pernikahan Alvin dan Lisa karena Lisa adalah seorang anak petani miskin sementara Alvin merupakan pengusaha sukses.


Sangat tidak sebanding dalam sisi derajat ekonomi. Namun karena Alvin bersikeras dan nekat menikahi Alvin, Bu Sry hanya bisa pasrah melihat pernikahan putranya. Sebab Alvin akan melaksanakan pernikahan dengan atau tanpa restu ibunya waktu itu.


Karena tidak mau ditinggalkan oleh putranya, Bu Sry terpaksa setuju, meski sebenarnya sangat berat hati. Hal itu semakin diperparah dengan Lisa yang tidak kunjung hamil, membuat Bu Sry semakin menjadi-jadi dan sangat tidak menyukai Lisa.


"Ibu juga sih, tiap hari yang dibahas itu mulu. Sekali-kali yang dibahas yang lain kek." ucap Alvin sambil menenangkan ibunya.


"Ya ampun, kalian itu sudah sepuluh tahun menikah masa ia belum mempunyai anak sih?" ucap Bu Sry yang tiba-tiba terdiam seribu bahasa ketika memikirkan sesuatu. Bu Sry kemudian menunjuk ke arah Alvin dengan mulut yang terbuka.


"Ada apa?" tanya Alvin yang kini merasa heran atas tingkah laku ibunya.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan... kamu yang mandul?" Bu Sry langsung berburuk sangka terhadap putranya. Padahal, yang sebenarnya bermasalah adalah Lisa menantunya. Hanya saja, Alvin selalu menyembunyikan kebenaran ini.


Alvin hanya tersenyum dan mendorong ibunya dengan lembut agar pergi.


"Tapi...." Bu Sry masih terlihat Ling-Lung saat disuruh pergi oleh putranya.


"Mah, kalau mamah terus-menerus ikut campur urusan rumah tangga Alvin, serius deh. Alvin akan pergi dari rumah ini!" ucap Alvin seketika. Ia terlihat sangat serius. Bu Sry hanya bisa menghela napas dan memilih pergi. Ia tentu saja tidak mau kehilangan putranya. Apalagi di rumah yang sebesar ini, mereka hanya tinggal bertiga.


Ayah Alvin sudah meninggal dua belas tahun yang lalu karena terkena serangan jantung. Ayah Alvin juga sebelumnya adalah seorang yatim piatu yang sama sekali tidak mempunyai keluarga. Sedangkan dari keluarga ibunya, hanya ada nenek dan kakek yang sudah tua di kampung.


Sehingga bisa dibilang, keluarga Bu Sry hanya ayah dan ibunya yang sudah tua namun juga tidak mau diajak tinggal bersama di kota. Alasannya sangat Membagongkan, mereka berdua ingin menghabiskan sisa hidupnya di tanah kelahirannya. Ia ingin tinggal sampai mati di kampung.


Selain orang tuanya, Bu Sry hanya punya Alvin dan Lisa sebagai keluarganya. Jika Alvin jadi pergi dari rumah ini, maka Bu Sry akan kesepian sendiri di rumah besar itu. Tentu saja Bu Sry tidak ingin hal itu terjadi. Bagaimanapun, ia masih sangat menyayangi putranya. Apalagi ia hanya mempunyai Alvin sebagai satu-satunya anak yang ia miliki. Sebenarnya Bu Sry mempunyai tiga orang anak. Dua putra dan satu putri.


Kabar kematian dua orang anaknya itulah yang membuat Ayah Alvin terkena serangan jantung dan akhirnya menyusul tidak lama setelahnya.


Hari itu adalah hari paling berat untuk keluarga Alvin. Mereka kehilangan tiga anggota keluarga sekaligus. Sungguh menyakitkan bagi Alvin dan sekeluarga.


***


Alvin kemudian sudah berada di depan pintu kamarnya dan kembali mengetuk pintu seperti sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Sayang, kok kamu gitu sih? Ini aku loh!" ucap Alvin yang berusaha membujuk istrinya.


Sementara itu, Lisa terlihat sedang mengelap air matanya. Ia tidak menyangka penyebab dirinya dan sang suami tidak kunjung mempunyai anak itu karena dirinya yang ternyata tidak bisa mengandung. Lisa juga sangat menyesalkan sebab suaminya malah memilih untuk menyembunyikan kenyataan besar ini. Perasaan Lisa benar-benar tercampur aduk sekarang.


Setelah mengelap air matanya, Lisa kemudian bergegas membuka pintu dengan masih memegang kertas yang sudah berusia tujuh tahun, sebuah kertas yang merupakan hasil tes laboratorium yang menyatakan bahwa Lisa sebenarnya tidak bisa mengandung.


Saat pintu sudah terbuka, Alvin akhirnya masuk ke dalam dengan wajah tersenyum dan tanpa rasa bersalah. Ia sebenarnya hanya ingin menyampaikan pendapatnya untuk mengadopsi anak dari panti asuhan saja. Namun melihat Lisa yang seperti baru saja selesai menangis membuat Alvin agak ragu mau menyampaikan pendapatnya.


Alvin seketika dibuat kaget ketika Lisa tiba-tiba menutup pintu dan langsung menguncinya. Sepertinya, Alvin akan segera disidang oleh istri sendiri.


Setelah Alvin masuk dan pintu kembali tertutup, Bu Sry yang super kepo langsung bergegas megendap mendekat hanya untuk menguping. Telinganya sudah ia tempelkan ke arah pintu siap untuk menguping semua pembicaraan kedua suami istri ini.


Alvin kemudian duduk di kasur dekat laci penyimpanan yang sekarang sudah terbuka. Mata Alvin langsung terbuka lebar saat melihat kondisi laci itu. Ia seketika teringat dengan sebuah lembaran dari rumah sakit. Mata Alvin kemudian terkunci pada sebuah kertas yang dipegang oleh Lisa sang istri. Alvin kemudian menelan ludahnya.


"Apa ini? Jadi selama ini kau telah membohongi aku, ibumu, dan semua orang?" Lisa terlihat sangat marah juga kecewa atas tindakan suaminya itu.


"I-itu-itu...." Alvin terbata-bata, ia terlihat mati kutu. Mulutnya seolah tidak sanggup mengucapkan sebuah kalimat untuk menjawab istrinya itu. Bu Sry yang sedari tadi menguping kini semakin kepo. Ia semakin fokus mendengarkan suara dari dalam.


Melihat suaminya yang hanya membuka mulut lebar tapi ujung-ujungnya tidak bisa berkata apa-apa membuat Lisa seketika menangis.


"Andai saja kamu tidak menyembunyikan kebenaran ini, andai saja kamu tidak membohongiku, aku tidak akan pernah berharap akan hamil. Kau membuatku berharap untuk sesuatu yang mustahil terjadi. Kau benar-benar kejam." ucap Lisa yang langsung membuang dirinya ke kasur dan menutupi wajahnya dan menangis.

__ADS_1


Bu Sry mengernyitkan keningnya saat mendengar percakapan barusan.


Sementara itu, Alvin sekarang merasa sangat bersalah. Ia memperhatikan istrinya yang sedang bersedih hatinya hancur sehancur-hancurnya.


__ADS_2