Rela Dipoligami

Rela Dipoligami
Bab 5


__ADS_3

Ketika Alvin Sanjaya telah pergi ke kantor, saat itulah Bu Sry mulai bertindak. Ia mulai menjalankan aksinya dan hendak menjalankan rencananya.


Saat itu, sekitar jam sebelas siang. Bu Sry terlihat sedang duduk manis di sebuah sofa yang di depannya sedang menayangkan acara televisi.


"Iya loh Jeng! Kapan kamu dan menantu mu datang ke sini?" Bu Sry terlihat sedang berbicara dengan salah seorang di telepon.


Karena pembantu di rumahnya kebetulan sedang libur, maka Lisa terpaksa haru mengambil alih banyak pekerjaan. Ia saat itu terlihat sedang mengepel lantai dan secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Bu Sry dengan teman-teman sosialitanya.


Lisa hanya bisa terdiam meskipun ia mendengarkan semua percakapan mertuanya itu. Dalam hati, Lisa hanya bisa berpikir, entah apa lagi yang akan diperbuat oleh mertuanya itu.


Hati Bu Sry seolah tidak bisa damai saat dia tidak mengganggu Lisa menantunya itu. Ia seperti orang kurang kerjaan yang sukanya cari masalah saja.


"Oke Jeng! Aku akan menunggu mu saat malam hari. Kamu jangan sampai tidak datang yah! Oh yah jeng! kalau kamu ke sini, bawa cucu mu juga yah!" ucap Bu Sry di telepon sambil terus tersenyum bahkan sesekali tertawa kecil mendengar suara teman sosialitanya itu.


"Maklum lah, aku ini kan belum punya cucu! Putraku sudah sepuluh tahun tidak punya anak, jadinya aku rindu mendengar suara anak kecil." ucap Bu Sry sambil melirik ke belakangnya.


Rupanya Bu Sry telah lama menyadari keberadaan Lisa di belakangnya.


Lisa membeku seketika saat mendengarkan apa yang diucapkan oleh mertuanya. Ia benar-benar tidak habis pikir.


Pada akhirnya, Lisa hanya bisa bersabar seraya beristighfar dalam hati. Ia berusaha untuk tidak peduli, namun itu terus saja mengganggu pikirannya.


Sementara itu di kantor, Karol ternyata juga mulai beraksi. Ia semakin dan semakin berusaha untuk menggoda Alvin Sanjaya. Sampai pada akhirnya....


"Berhentilah melakukan hal konyol seperti itu atau aku akan benar-benar memecat mu!" ucap Alvin dengan nada marah. Suaranya sangat keras sampai terdengar ke luar.


Melihat kemarahan Alvin, Karol hanya bisa pasrah dan menyerah.


"Santai aja kali, nggak usah sampai marah-marah seperti ini." Karol kemudian segera keluar dari ruang kerja Alvin.

__ADS_1


Alvin kemudian mengusap mukanya dengan agak kesal seraya beristighfar.


Karol dan Bu Sry sudah mulai berusaha melakukan yang terbaik agar rumah tangga Alvin dan Lisa timbul keretakan. Bahkan Karol malah tidak keberatan jika harus menjadi istri kedua. Benar-benar wanita matre. Andai saja Alvin bukanlah orang yang sangat kaya, mungkin Karol akan langsung merasa ilfil dan jijik.


Pada awalnya Karol mendekati Alvin memang hanya karena uang dan kekayaan Alvin saja. Dengan kata lain, Karol hanya mencintai uang Alvin saja.


Setelah kepergian Karol, Alvin kini bisa melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Waktu kemudian berlalu sangat cepat.


Saat malam hari pun tiba!


Saat itu Alvin, Lisa, dan mertuanya itu sedang makan di meja makan. Sedari tadi, Bu Sry hanya menatap sinis ke arah Lisa beberapa kali.


Tuk Tuk Tuk


"Assalamu'alaikum Jeng!" Suara ketuk pintu disertai dengan ucapan salam kini terdengar. Bu Sry kini semakin bersemangat ketika mendengarnya. Ia merasa sangat senang teman-teman sosialitanya akhirnya datang. Dan yang paling membuatnya senang adalah karena temannya itu datang dengan menantunya sekaligus dengan cucunya. Yang mana ini sudah masuk dalam rencana busuk Bu Sry demi memaksa Lisa agar ia sendiri yang mau di madu.


Melalui perasaan bersalah pada suaminya!


Bu Sry yakin, selama ia terus membuat Lisa merasa bersalah, maka lambat laun ia akan langsung rela dimadu. Dan itulah yang menjadi rencana Bu Sry.


"Hehehe, halo Bu Sry!" teman Sosialita Bu Sry kini segera masuk bersama dengan menantu dan cucunya.


"Wah, sedang makan nih?" ucap Bu Lyla, teman sosialita Bu Sry.


"Iya nih, Monggo silahkan duduk. Kita makan bersama!" Bu Sry dengan sopan segera mempersilahkan Bu Lyla teman sosialitanya itu untuk duduk dan bergabung dengan mereka.


Seketika Lisa merasa risih saat melihat ternyata menantu Bu Lyla, si Gina ternyata membawa putranya yang sekarang berumur sekitar enam sampai tujuh tahunan.


"Pergi bikinin teh sana!" seru Bu Sry yang langsung memerintah Lisa.

__ADS_1


Lisa hanya diam dan kemudian menurut. Ia segera memutuskan untuk membuatkan teh hangat untuk Bu Lyla, teman sosialitanya Bu Sry.


Tentu saja semua itu hanyalah akal-akalan Bu Sry saja, agar Lisa segera pergi ke dapur.


Bu Sry kemudian tersenyum ke arah Bu Lyla dan kemudian mempersilahkannya untuk duduk.


"Silahkan Jeng! Jangan malu-malu! Anggap rumah sendiri!" ucap Bu Sry.


Setelah melihat Lisa pergi ke dapur, kini Bu Sry mempunyai niat untuk segera menyusul.


"Ah Jeng, tunggu disini yah! Aku ada urusan sebentar." ucap Bu Sry. Bu Lyla kemudian segera mengangguk.


Bu Sry kini segera menuju ke dapur dan menemukan Lisa yang sedang membuat teh. Bu Sry tanpa ragu memegang tangan Lisa dan segera menariknya sampai akhirnya bisa melihat ke arah meja makan tempat dimana Alvin berada. Bu Sry kemudian menunjuk ke arah Alvin.


"Lihat tuh Alvin! Dia sangat senang dengan anak-anak. Sebenarnya putraku juga sudah kepengen punya keturunan, tapi dia tidak mengatakannya karena takut kamu sedih. Kamunya aja yang tidak tahu malu, pokoknya! Kalau dalam seminggu ini kamu tidak hamil juga, kau harus setuju Alvin menikah lagi, titik! Tidak pakai koma!" ucap Bu Sry.


Kalimat, "Kau harus setuju Alvin menikah lagi," merupakan sebuah kalimat yang ringan untuk diucapkan namun menusuk jika di dengarkan oleh Lisa.


Wanita mana yang hatinya tidak hancur ketika harus membagi suaminya dengan wanita lain? Tidak mungkin ada wanita yang rela berbagi suami dan itu juga berlaku bagi Lisa. Jika saja bisa memilih, Lisa juga tidak mau seperti ini. Jika ditanya, Lisa juga sebenarnya sudah rindu dengan suara anak-anak. Ia sudah tidak sabar untuk mendengarkan suara tangis anaknya ketika bayi. Namun apalah daya, ja tidak kunjung hamil selama sepuluh tahun ini.


Sementara itu di meja makan, Alvin terlihat sedang memangku putra Gina di pangkuannya.


"Siapa namamu?" tanya Alvin.


"Dimas, Paman!" balas Dimas.


Mendengar hal itu, Alvin tersenyum hangat dan berkata, "Wah, nama yang sangat bagus. Sesuai dengan orangnya, sangat tampan!" ucap Alvin.


Alvin terlihat sangat senang ketika Dimas berada di sisinya. Ia sudah lama menantikan kehadiran seorang anak kecil di rumah ini. Namun itu tidak pernah terwujud. Sekalinya terwujud, malah bukan putranya, melainkan putra orang lain.

__ADS_1


Lisa yang menyaksikan suaminya dengan Dimas kini hanya bisa menghela napas seraya bersabar. Dalam hatinya, Lisa sudah merasa sangat bersalah.


__ADS_2