
Alvin yang sudah berada di rumah sakit miliknya kemudian segera menemui seorang kepala instalasi gawat darurat. Ia merupakan seorang dokter jenius muda. Pencapaiannya dalam bidang medis sudah sangat banyak, sehingga Alvin sangat mempercayainya.
"dr. Agam, kamu bilang obat itu akan mengatasi masalah istriku, sudah 7 Tahun, kenapa sampai sekarang masih belum ada hasilnya? Apa kau mencoba menipuku?" tanya Alvin yang sudah keburu emosi. Ia bahkan sampai ingin menghajar dr. Agam.
"Pak Alvin, aku tidak menipu mu. Menurut pengamatan ku, seharusnya sudah tidak ada masalah dengan istri anda sekarang. Mungkin dalam sebulan lagi akan hamil." dr. Agam kemudian menjelaskan kepada Alvin yang emosian. Mendengar istrinya akan hamil dalam sebulan, Alvin merasa sangat senang. Namun ia tidak serta-merta percaya begitu saja.
"Bagaimana jika seandainya malah istriku tidak kunjung hamil?" tanya Alvin.
"Maka saya siap angkat kaki dari rumah sakit manapun. Bagaimana mungkin aku menyandang gelar sebagai dokter jenius, kalau hal seperti ini saja tidak bisa aku atasi. Aku sangat yakin akan pengamatan ku." ucap dr. Agam.
Mendengar hal itu, Alvin kemudian segera pergi dengan senyuman di wajahnya. Ia senang, sebab istrinya akan segera hamil. Yah, meskipun hal itu belum pasti.
Tapi tidak mungkin juga seorang dokter akan mempertaruhkan pekerjaan yang paling ia cintai untuk sesuatu yang belum pasti. Keyakinan dr. Agam juga tidak terlihat palsu.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Alvin singgah di resepsionis.
"Istriku ada datang ke rumah sakit ini tidak?" tanya Alvin, mengingat ibunya sempat mengatakan bahwa istrinya pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali.
Namun, jawaban resepsionis malah mengatakan bahwa Lisa tidak pernah datang ke rumah sakit dan tidak ada yang melihatnya.
"Kenapa Lisa pagi-pagi sekali sudah tidak di rumah? Selain itu juga tidak ada di rumah sakit, memangnya Lisa kemana pagi-pagi sekali?" tanya Alvin dalam pikirnya. Ia kemudian segera keluar dari rumah sakit itu.
Alvin kini melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Sesampainya di sana, Alvin heran karena tiba-tiba Karol ternyata tidak masuk kerja dan mengambil cuti selama beberapa hari ini.
Malam hari pun tiba.
Alvin terkejut melihat ibunya yang tidak bisa berhenti tersenyum. Tiba-tiba pikiran Alvin malah menuju istrinya. Mengingat perkataan dr. Agam, Alvin berpikir bahwa istrinya itu akhirnya hamil.
__ADS_1
"Ada apa ini, tumben ibu sering-sering tersenyum hari ini. Apakah ada kabar baik?" tanya Alvin.
"Tentu saja ada kabar baik," balas Bu Sry.
Bagi Bu Sry, Alvin yang akan menikahi Karol barulah kabar baik. Sementara bagi Alvin dan Lisa sebenarnya itu adalah kabar buruk.
"Mas, aku ingin bicara empat mata padamu!" ucap Lisa.
Mendengar hal itu, Alvin menjadi sangat bersemangat.
"Sekarang saja! Aku sudah tidak sabar mendengarkan kabar baiknya." ucap Alvin yang sangat gembira. Ia pikir ia akan segera menjadi seorang Ayah.
Lisa hanya bisa terlihat murung dan seketika mengerti bahwa suaminya salah paham. Lisa mengerti bahwa suaminya itu mengira dirinya sudah hamil.
"Ikutlah denganku ke kamar!" ucap Lisa. Alvin kemudian mengikuti dengan hatinya yang sangat senang. Ia sudah sangat kegeeran dan terlanjur senang dan salah paham.
Alvin kemudian segera memeluk istrinya degan sangat erat dan berkata, "Selamat, aku juga senang mendengarnya. Akhirnya kita akan menjadi orang tua. 10 Tahun menanti, akhirnya kau hamil juga." mendengar apa yang suaminya katakan, Lisa malah tidak senang. Ia menunjukkan ekspresi datar.
"Kau salah paham, aku meminta maaf kepadamu karena tidak bisa memberikan mu keturunan. Maka dari sanalah, aku memutuskan untuk mencarikan mu seorang istri." ucap Lisa meski dengan sangat berat hati.
Apa yang baru saja istrinya katakan, seolah menjadi badai petir yang menyambar berkali-kali di siang hari. Alvin yang mengira istrinya telah hamil, malah ternyata ingin menikahkan dirinya dengan seorang wanita lain?
Apakah otak Lisa bermasalah? Wanita mana yang rela Dipoligami? Kalau pun ada, orang itu hanyalah Lisa.
Mau bagaimana lagi, ia juga tidak berdaya dan terpaksa dengan semua ini.
"Hah?! Aku tidak salah dengar? Jadi ini kabar baik yang ibu maksud? Kau tidak sedang bercanda padaku kan?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Apakah kau melihat ku seperti orang yang sedang bercanda? Apakah aku pernah bercanda padamu mengenai sesuatu yang serius seperti ini?" tanya Lisa.
Alvin tercekat, ia melihat keseriusan di wajah istrinya itu. Alvin kemudian kembali memeluk istrinya itu.
"Lisa, bertahanlah. Kau pasti akan hamil, tunggu saja sebulan lagi. Kau pasti akan hamil." ucap Alvin.
"Sudahlah, berhenti memberikan harapan palsu kepadaku. Itu hanya akan menjadi lebih menyakitkan bagiku, kau tahu tidak?" tanya Lisa dengan nada keras.
Alvin kembali terdiam. Sementara itu, Bu Sry yang mendengar suara Lisa yang kedengaran sampai meja makan hanya santai bahkan nafsu makannya semakin bertambah. Seolah ia senang di atas penderitaan menantunya.
"Aku tidak sedang memberikan harapan palsu kepadamu. Aku jujur mengenai hal ini, kau pasti akan hamil." ucap Alvin.
"Tidak, kau pasti mengatakan ini hanya demi menghibur ku saja. Kau selalu mengatakan hal seperti ini, tanpa sadar kalau apa yang kau katakan itu malah menyakiti hatiku secara perlahan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai harapan dan harapan itu malah tidak pernah terwujud." ucap Lisa.
"Jadi kau pikir aku juga tidak mengharapkan sesuatu? Jadi kau pikir hanya kau saja yang punya harapan?" tanya Alvin dengan nada keras.
Lisa yang kaget tiba-tiba terdiam dan langsung menangis. Melihat istrinya yang seperti itu, Alvin seketika memeluk istrinya.
"Maafkan aku, aku telah menyakitimu. Aku benar-benar pria yang tidak berguna." ucap Alvin.
Jika dilihat-lihat, Alvin orangnya sangat peduli terhadap Lisa istrinya. Apalagi Alvin juga sangat setia. Ia rela melakukan banyak hal demi sang istri.
"Jika memang cara seperti ini tidak bisa membuat mu setuju, maka aku hanya bisa membuatmu terpaksa. Aku hanya bisa meminta maaf kepadamu Mas. Aku sangat bersyukur bisa bersuamikan orang seperti mu." batin Lisa dalam pelukan Alvin.
Kedua pasangan suami istri itu terlihat sangat mesra dan serasi. Saat itu, baik Alvin maupun Lisa tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Mereka berdua saling terjaga sampai pada pagi hari.
Melihat istrinya yang sepertinya butuh dukungan dan perhatian darinya, Alvin menunda setiap pekerjaannya di kantor dan menyerahkannya semua kepada karyawan yang bisa dipercaya. Sementara pekerjaan lain yang memang harus diselesaikan oleh Alvin sendiri kini menumpuk.
__ADS_1
Alvin memutuskan tidak masuk kerja selama beberapa hari. Demi menenangkan istrinya. Namun Alvin tidak akan menyangka, bahwa istrinya itu malah ingin dimadu. Bahkan siap memaksa suaminya.