
Tuhan… Aku hanya ingin hidup yang adil.
Hidup dengan kebahagian seperti mereka.
Bukan hidup dengan rasa derita yang sealu menghantuiku!
Aku berlari menembus gelapnya malam, memberanikan diri melawan rasa takut. Aku terus berlari tidak memperdulikan kaki kecilku yang tidak menggunakan alas kaki. Tidak ada rasa sakit yang aku rasakan kecuali ketakutan.
Dibelakangku ada sesosok pria dewasa mengejar dan terus berteriak dengan kemarahan yang memekakkan telinga, berdengung memancing ketakutan tiada tara untukku.
“Berhenti kamu!” teriak pria tersebut.
Aku terlonjak kaget bersamaan dengan rasa takut yang makin berdatangan. Dengan sisa keberanian yang aku punya, aku berlari sekuat yang dapat ku lakukan. Berharap bisa bebas dari sosok yang mengejarku.
Siapapun tolong aku!
Jalan yang aku lalui sangat sepi. Hal wajar, sekarang sudah tengah malam ditambah ini kawasan perdesaan.
“Aku bilang berhenti kamu!” teriak marah pria itu kembali.
Aku tersandung batu, kakiku berdarah. Seharusnya aku menangis sekarang! Tiada air mata melainkan rasa takut yag benar-benar menghilangkan rasa sakit dikakiku.
Aku menangis dan mencoba berdiri. Dapat aku lihat pria yang mengerjaarku makin mendekat. Aku memaksakan kakiku untuk bergerak lagi, berjalan pelan dengan sisa tenaga.
Sedangkan pria itu memelankan langkah kakinya, memamerkan senyum bengis. Dia berjalan pelan semakin mendekat kearah aku. Pria itu merasa senang saat aku tertangkap.
__ADS_1
“Mau kemana kamu? Paman sudah bilang, tetap dirumahkan!” ujar pria tersebut berpura-pura baik. Aku menatap pria itu dengan takut.
“Luka ya?” pria tersebut memegang kakiku yang terluka. Dia tersenyum licik, “ayo kita pulang, kita punya kegiatan bagus hari ini.”
Pria itu menggendongku dan berbisik, “berharap dapat kabur? jangan bermimpi!”
Aku mencoba memukul-mukul dan berteriak kepada pria yang menggedongku.
Aku mungkin berumur 10 tahun tapi aku mengerti apa yang diinginkan lelaki yang berusia sekitar 40 tahun itu. Dia pengasuhku, namanya Verendo. Aku sering memanggilnya paman Ve, setelah kejadian dimana keluargaku tidak menginginkan aku lagi. Paman Ve yang selalu membantuku.
Dan sekarang baru kusadarin paman Ve ternyata seorang pedofil. Dia sudah lama menjadikan aku targetnya. Aku sungguh bodoh terlalu percaya dengan paman Ve.Mungkin kehidupanku makin tidak berarti setelah dibuang keluargaku sendiri.Sekarang aku adalah korban pelecehan seksual.
Paman Ve ketawa terbahak-bahak. Membuatku memasang alaram tanda berbahaya.
Papa, mama.
Tubuhku sudah tidak bisa lagi merasakan apa-apa selain rasa takut.
Paman Ve membuka bajunya, mendekatiku. Aku memberontak, memukul, mengigit atau apapun mencoba melepaskan diri dari Paman Ve.
Usahaku gagal, tidak menghasilkan apapun melainkan aku pukulan-pukulan dari paman Ve. Apa yang bisa dilakukan anak kecil yang baru berumur 10 tahun? Aku hancur, diriku hina.
Aku memejamkan mataku, mungkin ini takdirku. Mati mengenaskan tanpa ada yang mengetahuinya. Jangankan mengetahui, menyadari aku hilang saja tidak akan ada. Aku masih dapat mendengar samar-samar ucapan paman Ve.
--
__ADS_1
Diruangan berwarna putih, seorang anak kecil terbaring dengan infus ditangannya. Dia tidak sadarkan diri, sekujur tubuhnya dapat dilihat ada memar-memar seperti bekas dipukul.
Berhadapan dengan tempat tidur dimana anak kecil tidur, terdapat kursi. Seseorang pria yang diperkirakan berumur 40 tahunan.
Cklek…
Pintu ruangan terbuka dan masuk seorang dokter dan perawat. Dokter meminta izin untuk memeriksa pasien. Setelah beberapa menit giliran perawat yang menyunyikan sesuatu kedalam infuse anak itu.
“Bagaimana dokter Dion, kondisi anak ini?” tanya pria yang sejak awal setia menunggu diruangan.
Raut wajah Dion terlihat kasian, dia tidak berharap menangani pasien seperti ini langsung. Ini menyedihkan!
“Seperti yang kita bicarakan semalam dokter,” ucap Dion dan memberikan berkas yang berisi hasil laboratorium. “Hasilnya positif, saya ikut sedih juga. Anak kecil tanpa dosa harus menghadapi hal keji!”
Pria yang dipanggil dokter itu membuka berkas yang diberikan Dion. Membaca hasil yang ditemukan laboratorium. Selain korban pelecehan anak kecil itu juga menjadi korban penganiaayaan.
Sungguh kejam!
“Anda kenal keluarganya? Ada beberapa yang harus saya sampaikan tentang anak ini,” tanya Dion.
“Saya tidak kenal dokter Dion. Saya tidak sengaja melewati lokasi tersebut saat mencari pasien saya.”
Mereka terdiam sesaat, memikirkan kelanjutan tentang anak kecil itu.
“Bagaimana kalau dokter Dion bicarakan sama saya dulu. Untuk sementara anak ini saya yang jaga.”
__ADS_1
“Baik, mari ke ruangan saya.”