Rembulannya Erlangga

Rembulannya Erlangga
4. Truth or dare


__ADS_3

Aku selalu bingung dengan hati ini!


Aku ingin dekat denganmu, tapi aku merasa malu.


Dan tanpa aku sadari…


Cerita hidupku…


Selalu berakhir dengan namamu.


Erlangga memperhatikan Rembulan berjalan ditaman kampus dari kejauhan. Raut wajah Rembulan tidak seceria biasanya.


Erlangga mendekati Rembulan yang melempar-lempar kunci motornya. Semakin asik dengan dunianya sendiri. Rembulan tidak menyadari ada Erlangga didepannya.


Brukkk


Terjadi tabrakan diantara mereka. Tapi hanya Rembulan saja yang terjatuh sedangkan Erlangga berhasil mengendalikan keseimbangannya.


“Aaaa, sakit banget! Hati-hati kalau jalan,” hardik Rembulan yang masih terduduk ditanah.


“Maaf, kamu tidak apa-apa?”


Rembulan langsung berdiri dan menepis tangan Erlangga, “terimakasih saya bisa sendiri!”


Ucapan Rembulan membuat Erlangga tersenyum.


“Kalau jalan perhatikan sekitar dong!”


“Maksudnya, jangan main kunci bukan sih?”


“Aku disini untuk kamu. Apakah kamu tidak senang?”


 “Oke. Saya salah dan kamu benar. Jadi maafkan saya tuan putri,” canda Erlangga melihat Rembulan merasa canggung. Rembulan memejamkan matanya.


“Kenapa matanya? Kelilipan? Mau aku tiupkan?” tanya Erlangga mendekatkan bibirnya bersiap untuk meniup mata Rembulan.


Refleks Rembulan membuka mata dan mundur selangkah, “bukan! yang pasti lain kali kamu hati-hati kalau mau jalan!” lanjut Rembulan dan pergi.


Erlangga ketawa melihat wajah Rembulan yang merona merah. “Kamu malu?”


Erlangga mengejar Rembulan dan memberikan rose red, “Dunia sempit banget ya! Ini buat kamu, jangan lupa pulangkan gelang aku ya! Tapi sebenarnya itu untuk kamu sih.”


Rembulan sebentar lagi akan meledak karena kesal. Erlangga langsung berlari setelah memberi rose red. Dia lebih baik bersembunyi diantara bunga-bunga. Daripada menjadi korban amukan Rembulan.


“Seharusnya aku kasih rose white,” gumam pelan Erlanngga sambil memegang mawar berwarna putih.


--


Matahari bersinar cerah, tidak dengan El Kristal Rembulan. Menurutnya hari ini mendung karena kata dare.


Dengan tampilan sedikit acak-acakan Rembulan berlari menuju pintu gedung olahraga menuju kedua sahabat kembarnya, Elisa Valiona dan Erza Valiona.


Rembulan berdoa semoga tidak ada yang melihatnya. Dia baru saja meletakkan surat cinta dan bunga untuk Erlangga, anak pindahan yang terkenal dingin. Erlangga juga pintar main basket dan dalam waktu sebentar langsung terkenal di kampus. Dan yang paling penting ini Erlangga yang ditunggui setahun terakhir.


Rembulan dapat melihat Eliza dan Erza tersenyum kepadanya. Mereka terlihat senang dengan penderitaan yang Rembulan.


Seriusan harus lakukan ini? Bisa digantikan darenya tidak?” bisik Rembulan dengan beharap saat sudah didekat sahabatnya. Rembulan sebenarnya masih merasa berat dengan dare dari Elisa. Bagaimanapun akhir dare ini dia harus bilang suka. Mungkin dizaman sekarang bilang suka sama cowok adalah hal yang wajar. Dan jika diingat bukankan istri Nabi yang bernama Khadijah juga yang duluan menyatakan suka dengan nabi Muhammad. Jadi siapapun yang mumulai bukanlah masalah, selama kedua pihak mau. Hanya saja dalam kasus Rembulan. Mereka hanya akan terjebak dengan nafsu yang bernama pacaran. Sebuah status yang tidak seharusnya dimiliki


oleh seorang muslim. Rembulan benar-benar merasa dilemma.


Elisa tersenyum jail. “Maafkan hamba tuan putri, hamba tidak bisa. Tantangan tetaplah tantangan.”

__ADS_1


“Tapi kalian tau kan? Aku tidak mau pacaran, hari terakhir itu loh!” rengek Rembulan. Dia menarik-narik tangan Elisa berharap Elisa bersedia mengganti darenya, setidaknya untuk hari terakhirnya nanti.


“Rembulanku sayang. Aku tau kamu itu suka lirik-lirik Erlangga ya. Jangan sok jaim didepan kami!”


Rembulan memasang muka cemberut. Dia memang suka lihat Erlangga yang manis banget menurutnya. Apalagi saat Erlangga senyum melihatkan lesung pipi dibagian kanan yang dalam banget. Tapi dia tidak ingin mendekati  rlangga, hanya sekedar fans mungkin. Boleh tidak berdoa, “Semoga Erlangga bisa jadi iman dalam rumah tangga aku. Oke harus tetap optimis.”


Rembulan mengingat kembali awal mula permainan truth or dare. Dimana Elisa dan Erza menginap dirumahnya beberapa hari yang lalu yang berakhir dengan surat cinta untuk Erlangga.


Flashback


Brukk


Suara pintu yang dibuka dengan semangat dan menimbulkan suara dentuman yang cukup kuat membuat Rembulan terkejut.


Rembulan melihat pelakunya dengan kesal. Siapa lagi kalau bukan Elisa dan Erza!


 “Pintu rusak terus dimarahin bunda Rossa aku tidak ikut-ikutan ya!” ungkap Rembulan dengan kesal.


Elisa dan Erza menyengir tanpa rasa bersalah dengan menunjukan tanda V ditangannya.Mereka menuju tempat tidur Rembulan dan duduk disisi ranjang.


“Eh, main truth or dare yuk. Kita tidak pernah nyoba main saatnya memcoba,” ajak Elisa yang merasa bosan.


“Truth or dare? Malas!” tolak Rembulan mentah-mentah.


Erza berjalan mendekati Rembulan yang berdiri didapan jendela, memandang rumah sebelah. Rembulan jadi teringat cerita cinta monyet masa-masa SDnya, membuat ingin ketawa sendiri. Mengingat betapa dulu dia sangat mengyukai anak cowok yang sering dia sebut kue manis.


Erza memegang tangan Rembulan dan memohon, “ayo dong Rembulanku tersayang. Sekali-kali kita main, kali ini saja.”


“Ayo Rembulan main yuk. Darenyayang gampang-gampang aja nanti,” seru Elisa yang tak mau kalah dengan aksi memujuk Erza.


Rembulan tetap menolak, dia tidak ingin menjadi korban dare. Sedangkan Eliza dan Erza terus mencoba membujuk Rembulan.


 “Oke. Oke aku ikut,” ucap Rembulan mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah.


“Yehhhhhhhhhhhh.”


Mereka bertiga langsung mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk bermain truth or dare. Hanya Elisa dan Erza yang mecari sebenarnya. Rembulan duduk diam, dia malas mau ikut mencari.


“Pakai ini saja ya,” ujar Erza melihatkan botol kosong yang dia pegangnya. Mereka bertiga pun duduk melingkar dengan urutan Elisa, Erza dan Rembulan.


Elisa mulai menjelaskan aturan mainnya.


“Jadi aturannya setelah milih dare harus milih truth dan sebaliknya kalau sudah milih truth harus milih dare. Tidak boleh dare terus atau truth terus.”


Erza dan Rembulan menganggukan kepala menandakan telah memahami penjelasan dari Elisa.


“Terus ada lagi tantangan tambahan, siapa yang kena dare sampai tiga kali dapat tantangan special,” lanjut Elisa yang tersenyum licik.


Rembulan dan Erza saing memandang dan sama-sama menaikan alisnya seperti berkata maksudnya?


Elisa membuka tasnya, mencari sesuatu. “Ini dia,” pamer Elisa yang memegang tiga potongan kecil kertas kosong dan memberikan ke Rembulan dan Erza.


“Jadi kita bertiga akan menulis tantangannya disini, setiap orang bebas menulis apapun. Nanti yang dapat dare tiga kali duluan akan mengambil salah satu dari tiga kertas ini,” jelas Elisa.


“Oke,” serentak Erza dan Rembulan menjawab.


Botol pun mulai di putar. Ujung mulut botol berhenti menghadap ke Erza.


“Truth atau …”


“Truth,” potong Erza langsung tanpa mendengar pertanyaan Rembulan sampai selesai.

__ADS_1


“Kamu emang suka sama bang Purnama ya?” tanya Eliza dengan iseng.


“Pertanyaannya kurang privasi. Itu semua juga udah tahu,” protes Rembulan.


“Mumpung depan adeknya, mana tahu dapat restu kamu,” Elisa mengangkat dua alisnya menggoda Erza.


 “Iya,” jawab Erza malu-malu.


Rembulan tersenyum mendengar ucapan Elisa dan Erza. Dia tidak masalah Erza menyukai Purnama,


yang penting Purnamanya mau atau tidak.


Pernah Erza nekad menyatakan rasa sukanya dengan Purnama. Tapi ya, akhirnya sudah dapat ditebak! Erza ditolak. Perlu diingat Purnama memegang prinsip hidup tidak boleh pacaran karena itu mendekati zina. Setelah kejadian penolakan Erza. Purnama baperan dan memilih curhat dengan Rembulan, tentang rasa yang dia


miliki.


Permainan pun berlanjut, sudah hampir 30 menit mereka bermain.


“Yah, kok aku yang kenak dare 3 kali!” gerutu Rembulan dengan kesal.


“Oke, tuan putri El Kristal Rembulan. Silakan mengambil satu kertas sebagai tantangan untuk anda yang mulia,” ucap Eliza dan memberikan tiga kertas berisi tantangan yang sudah digulung kecil-kecil.


“Baiklah, tuan putri akan mengambilnya,” jawab Rembulan. Dia mengambil dengan percaya


diri dan terkesan cuek.


Dari tadi dare-dare yang dilakukan mereka biasa aja seperti like foto Purnama, telepon Hendy bilang besok balikin buku, belikan pizza, dan hal-hal receh lainnya.


Rembulan membuka kertas yang diambilnya. Dia memandang Elisa, dari tulisan sudah ketahuan siapa pembuat tantangan.


“Elisa ini bisa diganti tidak?” teriak Rembulan spontan.


Erza yang terkejut dengan reaksi Rembulan mengambil kertas ditangan Rembulan dan membacanya.


“Berikan surat cinta dan bunga selama 30 hari berturut-turut pada anak cowok pindahan dikampus. Jangan lupa hari terakhir kamu harus bilang suka sama dia.”


Erza mengingat-ingat anak pindahan yang dimaksud Elisa siapa. “Anak pindahan? Yang


pintar main basket ya?”


Elisa mengangguk.


“Tenang muka dia oke kok untuk dijadikn cowok kalau diterima. Lagi pula kabarnya dia tidak suka dikasih surat, bikin ilfil.”


“Seriusan? Dia ilfil? Tapi kalau Purnama tau gimana?” protes Rembulan. Dia sebenarnya ragu melakukan dare ini. Mengingat pesan Purnama, bahwa Rembulan tidak boleh pacaran. Tapi, kalau tidak dijalankan dia pengecut dong.


Ini demi harga diri!


“Ini cuma sekedar buat senang-senang aja, banyak yang kirim surat ke dia dan suratnya dibuang semua,” jelas Elisa.


“Oke deh.” Rembulan setuju dengan berat hati


“Siapa namanya ?”


“Erlangga Arga Putra”


Wajah Rembulan jadi pucat saat mendengar nama itu. “Dia? Seriusan?”


“Yes,” jawab Elisa dengan mantap.


“Kalau dia ilfil sama aku gimana? Ini Erlangga yang aku cari dari dulukan? Nangis boleh tidak sih?”

__ADS_1


End Flashback


__ADS_2