
Dari dulu aku selalu bertanya-tanya?
Kapan aku mendapatkan Rembulanku kembali!
Erlangga mengikuti Rembulan yang berlari kecil menuju kantin. Dia menatap Rembulan saat memasuki kantin. Tatapan mata mereka bertemu, kemudian Rembulan memalingkan mukanya kearah lain. Dapat terlihat rona merah dipipinya.
Dia malu?
Erlangga mendekati Vino, seniornya yang sedang memesan makanan. Erlangga sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres antara Vino dan Elisa.
“Biar, aku saja kak yang bawakan punya Rembulan kak,” ucap Erlangga saat makanan pesanan Rembulan datang.
Vino menaikkan bahunya, membiarkan Erlangga mengambil makanan Rembulan.
“Kak …” ucap Rembulan kepada Vino melihat makanan yang mereka bawak adalah nasi.
“Aku yang tukar makanannya,” potong Erlangga duduk disebelah Rembulan.
“Kamu kok ganti makanan aku tanpa tanya dulu?” tanya Rembulan dengan kesal.
“Suttt,” Erlangga mendekatkan jarinya ke bibir Erlangga. “Makan!”
Erlangga melihat Rembulan akan kembali protes. Sebelum hal itu terjadi Erlangga mendekatan jarinya ke bibirnya sendiri. Menandakan bahwa Rembulan tidak boleh protes. “Kamu punya waktu 1 jam untuk makan sebelum pratikum.”
Sejak perkenalan mereka diloker. Erlangga sengaja selalu berada disekitar Rembulan Erlangga menatap Rembulan dengan intens. Erlangga merasakan seperti mimpi bisa kembalii dekat dengan Rembulan.
“Kenapa kamu menatap aku?” tanya Rembulan. Membuatku sadar untuk mendekati Rembulan masih perlu waktu.
Aku harus sabar dan pelan-pelan.
“Hanya ingin.”
“Tidak ada kerja lain ya?”
“Tidak.”
--
Ini mendebarkan, seharunya Rembulan pulang bukan mengiyakan ajakan Erlangga untuk melihatnya latihan basket persahabatan hari ini. Latihan gabungan dengan falkutas lain selalu dilakukan setiap 3 bulan sekali, katanya untuk mempererat persahabatan antara pemain basket.
Gedung olahraga kampus ramai, banyak yang datang untuk menyemangati teman-teman sekampus atau sekedar melihat pemain favorit mereka.
Erlangga menunggu Rembulan didepan gedung olahraga kampus. Dia tersenyum, melihat Rembulan yang berjalan santai mendekatinya. Erlangga meminta Rembulan untuk langsung datang setelah kelasnya berakhir.
“Baru jam 3. Mulainya jam 4 kan? Aku kecepatan datangnya,” ujar Rembulan mengeluh. Aku kecepatan!
“Tidak apa-apa,” jawab Erlangga dan mengajak Rembulan masuk ke gedung olahraga.
“Kita duduk disana aja ya,” ajak Erlangga menunjuk kursi dimana anak-anak basket berada.
“Itukan kursi khusus pemain?”
“Terus?”
“Segan. Aku duduk diatas aja ya,” pujuk Rembulan.
“Mereka tidak akan marahin kamu. Ayo!”
Disinilah Rembulan sekarang, duduk disebelah Erlangga yang dikelilingin anak-anak basket lainnya. Mereka menghabiskan waktu dengan bicara hal-hal meyenangkan sambil menunggu jam 4 sore.
---
Latihan persahabatan anak basket tidak pernah menghitung poin atau skor. Bagi mereka yang terpenting adalah menjaga ikatan pertemanan antara pemain bukan setelah main langsung kelahi, seperti yang banyak dilakukan anak-anak lain.
Tim basket Erlangga makan-makan bersama, setelah latihan selesai. Rembulan awalnya tidak ingin ikut tapi dipaksa Erlangga.
__ADS_1
Sebenarnya Rembulan merasakan gelisah sejak tadi. Hari ini bertetapan 1 bulan dare yang diberikan Elisa. Rembulan masih ingat bahwa hari ke 30, dia harus bilang suka dengan Erlangga.
Perasaan Rembulan terombak-ambik. Rembulan tidak ingin memainkan perasaan Erlangga. Rembulan yakin Erlangga akan salah mengartikan kata sukanya. Melihat lingkungan pertemanan Erlangga dimana pacaran adalah hal yang wajar. Mengatakan aku suka kamu sama saja dengan kamu mau tidak jadi pacarku?
Rembulan akui dirinya bukan siapa-siapa, bisa baca sholat lima waktu saja sudah syukur banget. Tapi selama ini dia sengaja tidak pacaran karena ingin Taaruf saja. Berharap mendapatkan pria baik-baik, minimal tidak ada kata perceraian didalam rumah tangganya. Dizaman sekarng nikah dan perceraian terlalu sering, membuat Rembulan takut sendiri melihatnya.
Rembulan sejak tadi sudah mencoba menghubungi Elisa dan Erza. Meminta persetujuan untuk membatalkan keharusannya Rembulan bilang suka dengan Erlangga. Sampai saat ini belum ada respon dari Elisa dan Erza. Dia akan melakukan apapun yang Elisa dan Erza minta sebagai gantinya selama yang mereka inginkan masih batas wajar.
“Hm …” deheman Erlanggga membuat Rembulan kembali ke dunin nyatanya. “Bengong aja dari tadi. Mau makan apa? Biar aku pesanin,” lanjut Erlangga dengan tersenyum manis.
“Wow, bakalan ada bucin baru ini?” teriak teman Erlangga yang bernama Aldo.
“Neng,makasih ya sudah hadir di kehidupan mas Erlangga yang suram. Sejak ada neng, mas Erlangganya lebih terlihat manusiawi beda saat baru masuk kayak kulkas,” lanjut Aldo panjang lebar, seolah-olah dia adalah orangtua yang terharu dengan perubahan positif anaknya.
Rembulan ketawa lucu dengan perkataan Erlangga. Sedangkan Erlangga salah tingkah.
“Iya neng. Neng tadi tidak lihat mas Erlangga senyum-senyum sendiri, tapi sekarang juga senyum-senyum sendiri sih neng! Kami sangka mas Erlangganya sakit atau kerasukan jin. Eh, tau-taunya pas latihan ngajak neng Rembulan datang,” ejek Kelvin, teman Erlangga.
Teman-teman Erlangga masih tetap ingin menjahilinnya. Jadilah acara makan-makan mereka berubah pembullyan untuk Erlangga dan Rembulan. Mereka berdua sama-sama malu, apat dilihat muka mereka merona merah.
Rembulan sudah tidak sanggup lagi diejek sama teman-teman Erlangga. Dia memutuskan ke toilet dulu, menghilangkan rasa gugupnya.
---
Rembulan duduk kembali dikursinya. Dia mencari handphonenya yang ditas, tapi tidak menemukannya.
Erlangga yang menyadari Rembulan mencari handphonenya meletakkan handphone Rembulan di atas
meja.
“Ini, tadi pas kamu pergi handphonenya bunyi. Jadi aku angkat,” jelas Erlangga.
Rembulan mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Erlangga. “Makasih ya. Dari siapa?”
“Oke.”
“Kamu marah sama aku?” tanya Erlangga khawatir dengan jawaban Rembulan yang serba singkat
dari tadi.
Rembulan mengerjapkan matanya kemudian tersenyum. “Tidak kok. Aku kepikiran hal lain aja, bukan tentang kamu.”
Sepanjang waktu makan-makan Rembulan dan Erlangga hanya diam. Erlangga juga dari tadi dengan terang-terangan memandang Rembulan. Saat ditanya ada apa, Erlangga hanya diam dan tersenyum.
---
Rembulan masih mengingat kembali saat Erlangga tetap ingin mengantarnya pulang. Sekalipun harus pakai taksi dan motornya ditinggalkan.
Rembulan merasakan Erlangga menatapnya kembali. Dia balik menatap Erlangga seperti bertanya Ada apa?
“Kamu tidak ada yang mau dibicarakan? Diberikan sama aku mungkin?”
Rembulan tetap diam dan menggelengkan kepalanya, menandakan tidak ada yang ingin Rembulan lakukan, “pulang sana, udah malam.”
“Aku mau jadi pacar kamu” ucap Erlangga tiba-tiba.
Rembulan melototkan matanya, dia sangat terkejut dengan apa yang Erlangga katakana. Mau jadi pacar aku? Kapan aku bilang suka sama dia?
“Maaf tadi pas ambil Hp kamu aku tidak sengaja lihat surat ditas kamu” Erlangga menjelaskan, dia memegang belakang kepalanya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Erlangga menarik nafasnya “Aku tau selama ini surat-surat yang berisi puisi itu dari kamu. Memang itu bukan surat cinta, tapi bagiku puisimu adalah ungkapan cinta untukku.”
“Aku ingin dekat sama kamu, ingin mengenalmu lebih dekat”
Erlangga menatap Rembulan dan tersenyum manis “Jadi aku akan lakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai cowok”
__ADS_1
Erlangga mengambil sesuatu ditasnya dan berlutut didepan Rembulan. Membuka kotak yang berisi cincin. Ini seperti di film-film romantic, jujur Rembulan senang. Tapi ini terasa salah bagi Rembulan.
“Rembulan, maukah kamu menjadi sinar Rembulanku?”
Rembulan menelan ludahnya kasar.
“Mimpinya kok manis tapi bisa menghadirkan bencana ya?”
Erlangga berdiri di depan Rembulan dan memakaikan cincin di jari manis Rembulan. “Kamu pasti lelah, selamat istirahat ya. Besok aku jemput, kamu masuk sana.” Erlangga mendorong Rembulan supaya masuk ke dalam.
“Ini gembok pintunya.” Erlangga menunggu sampai Rembulan selesai mengunci gerbang depan. Rembulan melihat Erlangga pergi dengan taksi online yang Erlangga pesan melalui teras kamarnya.
Getaran handphone Rembulan mendakan adanya pesan. Dari Erlangga, sebuah video. Rembulan membuka video.
“Sama seperti lagu yang mau aku nyanyikan untuk kamu. Itu yang aku rasakan sekarang
denganmu. Selamat menikmati.”
Jangan dekat atau jangan datangkepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu
Ku coba jalani hari dengan penganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta … dia …
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh
Dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta … dia …
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesunguhnya aku terlalu cinta … dia …
Ho … ho …
Aku terlalu cinta … dia …
Rembulan masih bingung apa yang harus dilakukan? Satu sisi dia mengetahui pacaran sama Erlangga adalah perbuatan yang salah. Satu sisi lagi dia tidak tega mau jujur denganErlangga. Rembulan akan mencari waktu yang tepat untuk jujur dengan Erlangga.
__ADS_1