
Aku tahu, aku tidak pantas untukmu.
Tapi berharap kamu menjadi masa depanku,
Apakah salah? Karena kamu, rose redku.
---
“Kamu suka bunga berwarna merah ini?” tanya anak lelaki berumur 12 tahun.
“Bunga warna merah?” balas anak perempuan bernama Bulan tersebut sambil ketawa. “Ini namanya bunga mawar, mawar merah. Kata ayah, bahasa inggrisnya rose red.”
“Rose red,”gumam anak lelaki tersebut. “Kamu tau? Mawar merah memiliki arti?”
Bulan menganggukan kepalanya dengan antusias. Cinta sejati
“Aku akan menjadi mawar merahmu,” ucap anak lelaki tersebut.
---
Rembulan memeluk Purnama dengan erat. Dia tidak ingin berpisah dengan abangnya yang super duper banyak aturan. Nyebelin? Iya! Tapi, bagaimanapun jika ada sesuatu yang terjadi dengan Rembulan. Purnama adalah orang pertama yang akan membantunya. Rembulan menyukai hal tersebut, itu tanda perhatian dan kasih sayang Purnama untuknya.
“Dek, lepas!” ucap Purnama sekian kalinya dengan malas. Purnama mempeerhatikan jam ditangannya. Ini sudah 30 menit Rembulan memeluknya. Seperti ada magnet dikedua tangan Rembulan, sulit untuk dilepaskan. Purnama melirik kearah Rossa meminta pertolongan. Dia tidak ingin ketinggalan pesawat lagi, Cukup tahun pertama dia
merasakan ketinggal pesawat! Belum lagi check-in yang memakan waktu.
Sejujurnya Purnama merasa berat untuk meninggalkan Rembulan dan Rossa. Tetapi dia harus pergi dan menyelesaikan teka-teki yang selalu berputar dikepalanya. Teka-teki yang membuat hidup keluarganya menjadi waspada dengan sekitar.
“Tidak mau!” teriak Rembulan kencang dan makin mempererta pelukannya. “Kalau abang pergi, terus yang antar jemput Bulan siapa? yang masakin Bulan siapa? yang bangunin Bulan setiap pagi siapa? yang ngajakin jalan siapa?”
Rossa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib anak perempuannya. Rossa memandang Purnama sekilas seolah-olah berkata, “kamu sih manjain Bulan. Kan lengket kayak lem gitu!”
Purnama yang mengerti arti lirikan mata Rossa hanya senyum tidak bersalah. Melihat tingkat adiknya membuat Purnama merasa nyaman dengan kedekatan mereka. Purnama akan selalu menjadi sosok abang dan sahabat untuk adiknya.
Rossa dapat membaca senyuman di Purnama seolah-olah mengatakan. “Bukan salah Purnamakan bun? Ini juga sudah jalan 2 tahun Purnama kuliah di Eldinios, masih lengket saja sama Purnama!”
“Abang janji bakalan hubungin Rembulan terus. Tapi sekarang lepasin ya! Pesawatnya udah mau terbang itu, nanti pesawatnya ngambek terus ninggalin abang? Kamu tahukan harga pesawat mahal? Daripada beli tiket lagi mendingan untuk jajan kamu.” canda Purnama sambil mengelus rambut Rembulan. “Terus adek kapan pakai hijabnya nih? Abang harap nanti kalau abang udah pulang, adek udah pakai hijab ya.”
__ADS_1
Rembulan masih tetap memeluk Purnama dan kali ini pakai acara nangis, membuat mereka menjadi pusat perhatian. Purnama senyum kearah sekeliling dan berkata maaf untuk keributan yang terjadi.
“Bohong! Kemaren-kemaren saja Rembulan dicuekin terus kalau mau nelpon abang!”
“Lepas, bunda capek lihat kalian. Biarkan Purnama pergi dan Bulan ayo pulang,” omel Rossa yang sudah gemes melihat tingkah ajaib Rembulan.
“Purnama cepat pergi, ketinggalan pesawat nanti,” ingat Rossa. Purnama melihat jam tangannya lagi, dia hanya memiliki waktu 30 menit sebelum benar-benar tertinggal pesawat.
“Oke, bunda. Titip anak manja ini ya buat Purnama,” jawab Purnama memaksa Rembulan untuk melepaskan pelukkannya. “Akhirnya, bebas juga.” Purnama mendekati Rossa, mengambil tangan Rossa dan menciumnya. “Doain Purnama bunda, dengan doa bunda apa yang selama ini Purnama lakukan tidak akan sia-sia.”
“Iya, jaga diri kamu baik-baiknya disana. Bunda akan selalu doain anak bunda. Kamu juga harus ingat mencari jawaban memang penting. Tapi, bunda berharap tidak terjadi apa-apa dengan kamu.”
Purnama memutarkan badannya. Tersenyum melihat Rembulan yang sedang mode ngambek. Dia makin merasa berat meninggalkan adiknya yang manja.
“Abang pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik. Ingat pakai hijab kamu dan jangan pacaran. Dan titip bunda untuk abang. Oke,”
Rembulan hanya menunduk, dia kesal dan sedih dengan Purnama. Purnama tega ninggalin Rembulan!
“Pakai hijab? Jangan pacaran?Di saat hati ini ingin aja ya!”
“Ayo dong, abang bisa-bisa ketinggalan pesawat. Jangan cemberut terus, nanti kamu tidak cantik seperti princess snow white yang kamu suka itu.”
“Wow, coba saja!” Purnama menghela nafasnya, “oke. Abang harus pergi sekarang mana senyumannya?”
Rembulan tetap menunduk diam. Tidak memperdulikan wajah khawatir Purnama yang akan meninggalkannya. Masalahnya adiknya yang satu ini sedikit, oke sebenarnya sangat-sangat tidak mandiri!
“Udah, cepat pergi sana. Benar-benar ketinggalan pesawat nanti. Kirim salam ya sama om Diki.”
“Oke, bunda.” Purnama memeluk Rossa dan berbisik, “Purnama tidak akan bosan minta doa bunda. Semoga Purnama bisa menyelesaikan teka-teki ini. Dan mencari tahu apa benaran dibalik ini semua. Bunda ingat harus hati-hati dengan siapapun, terutama teman-teman Rembulan.”
Rossa mengangguk mengerti perkataan putra sulungnya. Purnama mencium pipi Rossa kemudian mencium Rembulan yang masih dengan acara ngambeknya.
Purnama mengambil tasnya dan pergi untuk segera check-in. Purnama memilih melanjutkan kuliahnya S1 di Eldinios, ibu kota negara Vengal. Jauh dari bunda dan adiknya adalah pengorbanan yang harus dilakukan untuk mencari tahu kebenaran sebuah rahasia.
---
Bersamaan dengan masuknya Purnama kedalam ruang check-in. Seseorang lelaki yang berumur sekitar 20 tahunan melewati Rembulan dan menjatuhkan mawar merah yang indah.
__ADS_1
Rembulan mengambil mawar merah tersebut dan berlari mengejar lelaki tersebut. Saat semakin dekat Rembulan menjadi bingung, bagaimana caranya supaya lelaki tersebut menyadari Rembulan mengikutinya. Tidak mungkin dia berteriak memanggil lelaki tersebut, itu bukan kepribadian Bulan. Mau menarik tangannya, jelas itu dosa. Tidak boleh menyentuh lawan jenis, itu aturan dalam agamanya. Rembulan berdecak kesal, dia memiliki ide menarik tas lelaki itu.
“Rose Red yang indah ini tadi terjatuh, ini punya kamu bukan?”
Rembulan memperhatikan lelaki itu. Matanya seperti terkunci menatap sosok bertopi itu. Topi yang ingin rasanya Rembulan lepaskan! Sehingga dapat melihat wajah lelaki yang sudah mendapatkan perhatiannya. Dari sudut bibirnya Rembulan dapat simpulkan dia sedang tersenyum.
“Manis banget,” gumam Rembulan tanpa sadar.
Lelaki itu tersenyum makin lebar dan makin terlihat manis dimata Rembulan.
“Terimakasih.”
“Astagfirullah,” istifar Rembulan. Dia harus cepat pergi, makin lama disini dia akan makin banyak istifar. “Maaf tidak bermaksud, ini bunganya.” Rembulan mengulurkan tangannya yang memegang rose red. Berharap lelaki manis itu segera mengambil rose red dan Rembulan dapat pergi sekarang!
Lelaki itu membuka topinya dan memberikan pada Rembulan. Kemudian bukannya mengambil rose red tetapi mengulurkan tangannya, “Erlangga.”
Refleks tangan Rembulan mengambil topi pemberian Erlangga. Tapi Rembulan masih terhipnotis dengan senyum lelaki yang menyebutkan namanya Erlangga hanya diam dan tersenyum malu. Rembulan merasakan wajahnya merona merah.
“Ayo sadar!”
Melihat Rembulan hanya diam membuat Erlangga menurunkan tangannya, “aku tidak tahu apa yang ada dikepala cantikmu itu. Dan yang aku tahu rose red yang indah ada untuk wanita yang indah. Rose Red itu mungkin mencari tuan putri show whitenya dan dia menemukannya. Seperti aku yang menemukan masa depanku.”
Setelah mengatakan perkataan yang menurut Rembulan membingungkan, Erlangga langsung pergi. Rembulan sadar dari hipnotis senyum dari Erlangga, dia hanya dapat memperhatikan Erlangga yang mulai menjauh.
Rembulan menundukan kepalanya untuk melihat rose red yang tanpa dia sadari akan menjadi awal perjumpaan dengan kenyataan pahit di masa depan dan masa lalu bersama Erlangga.
Rembulan melihat topi yang diberikan Erlangga tadi. Rembulan mengambil gelang dan kertas didalam topi.
“Kita akan berjumpa kembali. Saat itu kamu akan melihat aku terus-menerus, sampai kamu bosan. Mungkin! Atau kamu tidak akan pernah bosan denganku.”
Rembulan memutar topi tersebut dan tanpa sengaja matanya melihat sebuah nama.
“Erlangga Arya Putra _ El K.R”
“El Kristal Rembulan?”
“Tidak mungkin!”
__ADS_1
Rembulan pergi mencari bundanya. Rossa pasti sudah kesal dengan Rembulan karena meninggalkannya secara tiba-tiba tadi.