Rembulannya Erlangga

Rembulannya Erlangga
3. Bertemu Kembali


__ADS_3

“Aku dan kamu menjadi kita,


seperti janji masa kecil kita.”


 


“Aku akan menjadi mawar merahmu,” ucap anak lelaki tersebut.


Bulan memandang anak lelaki yang sudah dia kagumi sejak beberapa tahun ini. “Benarkah?”


“Iya, kamu dapat memegang janjiku,” janji anak lelaki tersebut.


--


Erlangga ingin berbicara walaupun hanya sebentar dengan Rembulan. Sebelum itu Erlangga harus memisahkan Rembulan dan Rossa. Dia sengaja menjatuhkan rose red untuk mengalihkan perhatian Rembulan kepadanya.


Pertemuansingkat mereka dibandara sudah cukup untuk Erlangga. Erlangga akan berusaha sebisanya untuk keluar dari rumah mewah yang seperti penjara itu. Rumah yang katanya bisa membantunya melawan rasa bersalah. Rumah yang tidak boleh dia tinggalkan jika tidak bisa mengendalikan rasa takut dan trauma yang selalu menghantuinya.


“Manis banget,” ujar Rembulan yang berhasil membuat Erlangga makin merasa senang.


Erlangga memperhatikan penampilan Rembulan. Pujaan hatinya memakai baju kaos warna biru bergambar panda yang lucu, celana jins, sepatu berwarna hitam. Rambut panjang Rembulan sedikit acak-acakan, wajahnya juga terlihat sembab mungkin efek menangis sebelum berpisah dengan Purnama.


Rembulan yang seperti terhipnotis hanya terdiam. Erlangga membuka topinya yang pada bagian dalamnya sengaja disulam nama Erlangga Arya Putra _ El K.R. Erlangga juga menyelipkan kertas pada topinya kemudian memberikan kepada Rembulan. Rembulan reflleks menerima topi pemberian Erlangga.


“Erlangga.”


Erlangga sekilas melihat orang-orang yang ditugaskan mengawasinya disekitar bandara. Sedangkan Rembulan masih terdiam didepannya.


“Erlangga menurunkan uluran tangannya, “aku tidak tahu apa yang ada dikepala cantikmu itu. Dan rose red yang indah ada untuk wanita yang indah. Rose Red itu mungkin mencari tuan putri show whitenya dan dia  menemukannya. Seperti aku yang menemukan masa depanku.”

__ADS_1


Erlangga pergi meninggalkan Rembulan. Dari kejauhan dapat Erlangga rasakan, Rembulannya sedang memperhatikannya.


“Aku dan kamu akan menjadi kita, seperti janji masa kecil kita”


--


Rembulan berjalan memutari taman dikampus untuk menghilangkan rasa sedihnya. Sudah satu tahun sejak perjumpaan singkat Rembulan dan Erlangga. Sosok misterius dengan sejuta pesona bagi Rembuulan. Rembulan selalu menantikan perjumpaan kedua kalinya.


“Mungkin ini namanya cinta pandangan pertama.”


“Mungkin benar kata Purnama. Jangan terjebak dengan rasa suka, terutama rasa suka yang tidak menghadirkan Allah. Rasa cinta karena Allah lebih baik daripada rasa cinta karena sekedar nafsu. Cinta yang dipersatukan dalam pernikah.”


Rembulan memperhatikan gelang dipergelangan tangannya. Gelang yang terukir nama Erlangga. Bukan Rembulan yang dengan percaya dirinya membuat gelang kemudian mengukir nama pria cinta pertamanya tersebut. Tapi gelang ini ada di topi Erlangga dan setiap melihat gelang tersebut selalu ada rasa ingin memakainya. Mungkin Erlangga sengaja meninggalkannya! Iya, pasti sengaja!


Rembulan berjalan sambil memandangi bunga-bunga ditaman yang sudah disusun indah. Rembulan sering erdebat dengan Elisa dan Erza kenapa kampus mereka mau-maunya membuang uang hanya untuk taman. Cantik sih, seperti taman cantik yang tersembunyi dikasstil yang suram. Seperti kampus ini, suram! Laporan, ujian, pratikum dan tugas.


Sekali-kali Rembulan memainkan kunci motornya dengan melempar-lempar keatas dan menangkapnya kembali.


Brukkk


Terjadi tabrakan diantara mereka. Tapi hanya Rembulan saja yang terjatuh sedangkan lelaki tersebut masih berdiri didepan Rembulan.


“Aaaa, sakit banget! Hati-hati kalau jalan,” hardik Rembulan yang masih terduduk ditanah.


“Pasti kotor deh rok! Ngeselin banget sih, pasti anak kelas sebelah yang lagi nyari perhatian!”


“Maaf, kamu tidak apa-apa?” tanya lelaki itu menahan tawa dan berniat membantu Rembulan berdiri. Niatnya hanya sekedar niat, sebelum dia membantu Rembulan sudah berdiri sendiri.


Rembulan menepis tangan lelaki tersebut, “terimakasih saya bisa sendiri!”

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum melihat tingkah Rembulan.


“Kalau jalan perhatikan sekitar dong!”


“Maksudnya, jangan main kunci bukan sih?”


Rembulan menutup rapat bibirnya, dia di skatmat dengan lelaki didepannya.


“Aduh malu banget. Mau nyalahin dia, malah kenak sendiri!”


“Oke. Saya salah dan kamu benar. Jadi maafkan saya tuan putri,” canda lelaki berwajah manis, sadar dengan tingkah Rembulan.


Rembulan memejamkan matanya mencoba mencari cara untuk mempertahankan harga dirinya.


“Kenapa matanya? Kelilipan? Mau aku tiupkan?” tanya Erlangga mendekatkan bibirnya bersiap untuk meniup mata Rembulan.


Refleks Rembulan membuka mata dan mundur selangkah, “bukan! yang pasti lain kali kamu hati-hati kalau mau jalan!” lanjut Rembulan dan pergi. Rembulan dapat mendengar suara ketawa lelaki tersebut.


“Apa yang lucu coba!”


Lelaki tersebut mengejar Rembulan dan memberikan rose red, “Dunia sempit banget ya! Ini buat kamu, jangan lupa pulangkan gelang aku ya! Tapi sebenarnya itu untuk kamu sih.”


Rembulan menyadari sesuatu, dia ingin mengejar kembali lelaki tersebut. Lelaki yang selama ini Rembulan tunggu. Ya, lelaki tersebut pasti Erlangga. Pantasan wajahnya sangat familiar dimata Rembulan, apalagi senyumannya!


Mata Rembulan melihat sekeliling taman, mencari sosok Erlangga yang muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba.


Rembulan kembali merasakan bad mood. Dia melihat rose red ditangannya dan ingin membuangnya. Tindakannya terhenti karena adanya kertas dibunga tersebut.


Siap berjumpa dengan pangeran dan pemilikmu?

__ADS_1


Snow white? Kamu serius, seharusnya rose white bukan?


__ADS_2