
Seperti rangkaian bunga yang indah.
Seperti itulah kamu.
Aku suka bingung ingin memberikan rose red atau rose white?
Erlangga memperhatikaan gerak gerik Rembulan dari kajauhan. Rembulannya, sedang berlari mendekati dua sahabatnya Elisa dan Erza Valiona. Dapat Erlangga lihat kedua sahabat Rembulan tertawa melihat tingkah Rembulan. Walaupun Erlangga dapat melihat, ketawa mereka bukan ketawa senang. Melainkan ketawa yang dibuat-buat ada kebimbangan disetiap tawanya.
Erlangga memasuki gedung olahraga menuju lokernya. Senyumnya terbit melihat rose red diatas tas. Tidak salah meminta tolong dengan Sasa, seseorang yang sedang menyamar menjadi sahabat dekat Rembulan.
Sama-sama mencintai seseorang yang seharusnya tidak kami cintai. Mereka adalah alasan kami dapat merasakan
kebahagian hidup walaupun seperti fartamorgana. Terlihat nyata tetapi ketika didekati menghilang. Karena sejatinya itu hanyalah tipuan mata.
Erlangga jadi mengingat kembali percakapan dengan Sasa setelah kejadian di bandara saat Purnama berangkat.
“Aku benar-benar, minta tolong sama kamu. Selagi Purnama pergi, ini kesempatan aku mendekati dia, Sa!” pujuk
Erlangga dengan berharap wanita cantik didepannya ini akan membantunya.
Sasa mendesis pelan, dia tidak bisa membayangkan reaksi Purnama kedepannya. “Kamu lupa? Dia itu kesayangannya Purnama! Jika ketahuan …” Sasa tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, membayangkan saja sudah membuatnya sedih.
“Apapun yang kamu fikirkan, itu tidak akan terjadi! Ini Purnama, bunuh semut saja tidak tega. Bantuin aku ya, kali
ini aja. Kamu dulu pernah bilang, kita senasib. Harus saling membantu!”
Senasib, harus saling membantu. Kalimat yang membuat Sasa teringat kembali tentang hidupnya yang tidak mudah. Hidup seperti hewan karena tindakan manusia-manusia berhati binatang! Dia dan Erlangga hanya korban, Erlangga hanya mencoba mencari alasan untuk hidup, sama sepertinya. “Tapi ini berhubungan dengan Purnama dan Rembulan. Aku tidak bisa!”
Erlangga dan Sasa sama terdiam. Sasa sangat mengetahui apa yang dirasakan Erlangga. Mencintai tapi tidak bisa
mencintai. Sangat hampa, seperti pohon yang hidup tapi mati.
“Oke. Aku akan coba bantu kamu. Tapi hanya diawal saja, sisanya aku tidak ikut-ikut.”
__ADS_1
Erlangga menatap Sasa tidak percaya. Akhirnya Sasa setuju membantunya.
“Oke. Makasih ya Sasa,” ujar Erlangga sambil mendekati Sasa kemudia memeluknya. Mereka sudah seperti saudara.
--
Sejak menjadi mahasiswi, jika ada kelas pagi Rembulan harus bangun pagi. Ditambah beberapa hari kedepan dia akan bangun lebih pagi, untuk memberikan Erlangga surat dan bunga. Sejujurnya dia merasa malu memberikan surat itu pada Erlangga.
Rembulan melihat penampilannya di cermin. Dia sengaja memakai baju gamis warna pink yang dipadukan jiblab pasmina warna biru hari ini. Penampilan Rembulan seperti hari-hari biasa rapi dan tentu saja cantik.
Sejak setahun yang lalu Rembulan memutuskan memakai hijab. Memang belum dari hatinya, ini hanya sekedar tindakan karena ucapan Purnama. Purnama janji akan mengajak Rembulan ke Eldinios.
Berawal dari iming-iming hadiah menjadi terbiasa tidak masalahkan? Rembulan hanya perlu meluruskan niatnya memakai hijab mulai sekarang. Bukan karena Purnama tapi karena dia seorang muslimah. Muslimah yang manis haru menggunakan hijab. Tidak peduli dengan pendapat orang lain, yang penting tindakan yang dia ambil sekarang ambil sudah benar. Ada yang bilang dia munafik? Slow, ini proses. Setahap demi setahap yang penting pasti!
Rembulan mengecek kembali barang bawaannya sebelum pergi kekampus. Menjadi mahasiswi Biologi membuat Rembulan harus lebih teliti, dengan jadwal kuliah yang padat dia tidak akan bisa pulang untuk mengambil barang yang tertinggal.
Rembulan merasa ada yang tertinggal. Dia melihat sekitar kamarnya dan matanya melihat jas laboratorium yang terletak diatas tempat tidur.
bulan kedepan.
"Pagi bunda, ada yang bisa Rembulan bantu?” sapa Rembulan yang menghampiri Rossa.
“Pagi juga. Ini udah selesai. Kamu duduk dulu sana,” balas Rossa meminta Rembulan duduk dikursi. Rossa memberikan piring yang berisi nasi goreng ke Rembulan dan makan bersama.
"Bunda, Rembulan pergi dulu,” pamit Rembulan setelah sarapan. Rembulan mencium tangan bunda Rossa sebelum dia pergi.
“Hati-hati ya dijalan.”
"Oke Bunda. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rembulan mengambil kunci motornya didalam tasnya dan langsung pergi kekampus. Motor scoppy berwarna biru ini selalu menematin Rembulan kemanapun dia pergi.
__ADS_1
---
Sampai dikampus Rembulan langsung melakukan aksinya, memberikan surat dan bunga untuk Erlangga.
“Hai, tuan putri. Siap melakukan aksi?” sapa Elisa dengan senyum yang rasanya ingin Rembulan cakar makin manisnya.
“Yuk. Erza mana?”
“Adaperlu dia, biasa setor muka dulu sama gebetan.”
Mereka berjalan menuju gedung olahraga, tempat dimana loker khusus anak basket berada. Loker anak basket digunakan untuk meletakkan barang-barang saat latihan. Tapi khusus loker Erlangga ada fungsi lain, salah satunya sebagai kotak pos surat cinta dari fansnya.
“Cepat Lan, lagi sepi ini.”
“Iya, sabar.”
“Eh, tapi mana bunganya? Tantangannya surat dan bunga loh Lan.”
“Ada didalam surat.”
“Dalam surat, emang muat bunga dimasukin dalam surat,” tanya Elisa bingung dengan ucapan Rembulan.
Rembulan memutakan matanya. Kalau bukan sahabatnya, Eliza sudah Rembulan buang di sungai mungkin. “Kamu tahu oshibanakan?”
“Oshibana? Yang seni merangkai bunga itu bukan? Kalau aku tidak salah dimata kuliah Herbarium ada cara belajar buatnya.”
“Iya. Benar, tumben pintar,” jawab Rembulan mencemeeh Elisa. “Aku sengaja buat oshibana, jadi gampang kita masukin ke loker Erlangga. Mana muat mau masukin bunga segar ke loker Erlangga.”
“Ya udah masukin ke loker sekarang, Lan. Kekelas lagi kita, sudah mau telat ini,” desak Elisa.
“Yuk kekelas,” ajak Rembulan setelah memasukan surat dan bunga di loker Erlangga. Mereka langsung pergi dengan berlari, mengejar kelas pertama yang sebentar lagi akan dimulai.
Tanpa disadarin ada yang melihat Rembulan dan Elisa. Melihatkan senyuman licik diwajahnya.
__ADS_1