Rembulannya Erlangga

Rembulannya Erlangga
7. Kenalan Kembali


__ADS_3

Kembali Berkenalan denganmu.


Awal dari rasa bahagiaku.


Hari ini Luna sudah membuat janji dengan Vita untuk membuat tugas diperpustakaan falkutas. Saat dia sedang fokus dengan tugas-tugasnya. Ada seseorang yang duduk didepannya. Rembulan, El Kristal Rembulan. Wanita yang sejak awal sudah diklaim Erlangga menjadi miliknya.


Luna melihat arah pandang Rembulan yang sedang melihat jendela. Dapat dia lihat Erlangga mendekati sebuah pohon, berdiri dan menyadarkan dirinya. Tidak ada bahu, bersandar dengan batang pohon menurut Luna sudah cukup. Sekedar untuk menghilangkan rasa gelisah Erlangga. Luna mendesis, dia sangat yakin Erlangga masih gelisah dan tidak bisa tenang. Karena Bayu, mengetahui niatnya mendekati Rembulan kembali.


Luna menggelengkan kepalanya kasian melihat Erlangga. Dimata mahasiswi lain mungkin Erlangga akan terlihat keren dengan posisi seperti itu. Bersandar pada batang pohon dengan memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana sadangkan satunya memegang rose red. Tapi tidak untuk Luna, dia hanya lelaki yang terlihat menyedihkan dengan segala cerita hidupnya.


Saat sedang asik memikirkan sahabat dekatnya, Erlangga. Luna dapat merasakan ada yang memperhatikannya. Siapa lagi? Kalau bukan Rembulan. Luna tersenyum ramah dan memandang Rembulan, berharap Rembulan paham dengan arti pandangannya. “Apa ada yang bisa dibantu?”


“Konfirmasi gosip terbaru tentang Erlangga dong,” teriak Vita tiba-tiba membuat Luna terkejut.


“Gosip apaan?” jawab Luna dengan cuek. Luna memilih mengerjakan tugas-tugasnya dari pada mendengar celotehan Vita yang tidak jelas.


“Ada kabar, Erlangga dapat surat cinta lagi ya?” tanya Vita tanpa menyerah untuk mendapatkan informasi tentang Erlangga.


“Tiap hari juga seperti itu, perlu diingat loker dia penuh dengan surat semua.”Luna menjadi teringat dengan cerita Erlangga tentang, surat dari Rembulan. Luna yakin Rembulan akan kecewa jika mengetahui kebenarannya.


Luna masih dapat mengingat surat yang berisi puisi,


Mungkin kita hanya pernah berjumpa dikeramaian.


Mungkin kita hanya pernah berpas-pasan tanpa menyadari satu sama lain.


Mungkin kita hanya sebagian dari memori dikehidupan ini.


Mungkin kita hanya sebagian dari goresan takdir.


Bagi Luna 4 kalimat tersebut bukan apa-apa. Tapi bagi Erlangga, dia sudah mendapatkan Rembulan secara emosi. Rembulan sudah memikirkannya. Dari kata mungkin memiliki bermakna arti.


Luna hanya berharap dengan berjumpa kembali dengan Rembulan dapat membuat Erlangga kembali mempercayai dengan adanya Tuhan. Sangat disayangkan anak yang pintar secara akademik tapi tidak memiliki rasa percaya dengan Tuhan.


--


Rembulan melangkahkan kakinya ke gedung olahraga. Dia menarik nafas dengan kasar dan elihat sekitar gedung olahraga yang sepi. Seperti biasa setiap pagi Rembulan pasti mengunjungi loker Erlangga. Tapi hari ini Elisa dan Erza tidak menemaninnya.


Rembulan membuka pintu yang menghubungkan keruangan loker anak basket. Menurut informasi dari Erza, anak basket latihan rutin di minggu pagi. Jadi ruang ini akan dibuka pagi harinya.


Klik

__ADS_1


Rembulan membuka pintu dengan pelan. Dia mengintip kedalam ruangan dan masuk. Rembulan hanya memiliki waktu 30 menit sebelum anak-anak basket datang. Mereka biasanya datang jam 07.30, sekarang baru 07.00.


Rembulan membuang nafas dengan keras lagi. Sejak tadi malam dia merasa tidak tenang. Pagi ini juga Rembulan kembali merasakan ada sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi.


Rembulan mendekati loker Erlangga, memasukan surat dan bunga melalui cela atas loker. Hari ini Rembulan tidak memberikan bunga dalam bentuk oshibana melainkan lukisan bunga mawar yang dia lukis sendiri.


Dare Elisa memberikan bunga, yang penting bunga kan? mau bentuk bunganya seperti apa itu terserah!.


Belum sempat lagi Rembulan keluar dari rungan loker. Terdengar suara langkah kaki yang semakin medekat, menghilangkan lamunan Rembulan tentang bunga.


Rembulan seketika panik dan langsung mencari tempat untuk sembunyi. Dia melihat sekitar, ada ruang kecil dan sepertinya bersembunyi disana adalah pilihan satu-satunya saat ini.


Klik


Bersamaan pintu ruangan loker yang terbuka, Rembulan masuk ke tempat persembunyiannya. Dilihat sekilas sepertinya ruangan ini adalah gudang. Ada sapu, pel dan bola-bola basket yang sudah rusak disana.


Rembulan mencoba melihat dari cela pintu gudang yang sedikit terbuka.


Siapa yang datang lebih awal?


Dari baju yang dipakainya, dia anak basket. Rembulan tidak dapat melihat wajahnya, dia membelakangi Rembulan. Rembulan menyentuh dadanya tanpa sadar. Perasaannya merasa menghangat melihat punggung anak lelaki.


Rembulan tersadar dari perasaan aneh. Dia harus memikirkan cara untuk segera keluar dari ruangan ini, sebelum anak-anak basket lainnya datang.


Kaki Rembulan menyenggol sapu yang ada dibelakangnya.


Mendengar suara ribut dari arah gudang membuat anak lelaki tadi membalikan badannya. Sekarang Rembulan dapat melihat wajahnya, dia Erlangga.


Erlangga mendekati gudang. Sedangkan Rembulan makin panik, melihat Erlangga yang makin mendekat kearah persembunyiannya


Erlangga yang sudah didepan pintu, mendorong pelan pintu gudang supaya terbuka makin lebar.


“Ngpa-”


Erlangga tidak menyelesaikan ucapannya, terlihat sedikit terkejut. Mungkin karena melihat ada anak perempuan di ruangan loker bukan lebih tepatnya digudang, pada minggu pagi seperti ini?


Rembulan mencoba mengatur raut wajahnya. Dia sangat tidak menyangka akan bertemu Erlangga dengan cara yang seperti ini.


“Hmm… Ngpain kamu disitu?” tanya Erlangga datar.


“Tidak ngpa-ngpain kok,” Rembulan menjawab dengan spontan, “maksudnya, lagi cari cicak” lanjut Rembulan dengan alasan yang tidak masuk akal untuk Erlangga.

__ADS_1


Erlangga merapatkan bibirnya sampai terbentuk sedikit lubang lesung pipi kanannya sebagai bukti Erlangga sedang menahan ketawa.


“Cicak?” tanya Erlangga.


Erlangga yang tidak memasang wajah datar lagi, membuat Rembulan menjadi lebih tenang. “Eh jangan salah sangka, biasa untuk pratikum.”


 “Oh,” respon Erlangga dengan menaikan sebelah alisnya, dia memasang raut wajah seolah-olah percaya dengan ucapan Rembulan.


Rembulan mendengus kecil, sadar Erlangga sedang mengejek alasannya tentang mencari cicak.


Mereka berdua diam beberapa saat, suasana menjadi canggung kembali.


Rembulan yang merasa makin canggung ditambah tatapan Erlangga yang tidak biasa. Erlangga menatap Rembulan dengan sangat intens, membuat Rembulan merinding. Padahal didepannya berbentuk manusia atau jangan-jangan yang didepannya hantu lagi.


Erlanggakan terkenal dengan diamnya, tidak mungkin memasang wajah mau ketawa seperti tadi!


“Duluan ya. Sepertinya Cicaknya tidak ada disini, mau nyoba cari diruangan lain dulu,” pamit Rembulan yang berusaha kabur.


Rembulan melirik Erlangga yang masih diam didepan pintu, menghalangi satu-satunya pintu keluar dari gudang.


Erlangga membalas lirikan Rembulan dan tetap diam.


“Maaf, bisa geser sedikit tidak?”


Rembulan melangkahkan kakinya keluar dari gudang saat Erlangga membuka jalan keluarnya.


Saat kaki Rembulan melangkah keluar dari ruang loker. Ada yang menarik lengan baju Rembulan. Tarikan kecil seperti seorang anak yang tidak mau ibunya pergi. Rembulan membalikan badannya, melihat Erlangga yang masih memegang lengan bajunya. Lagi-lagi perasaan hangat kembali hadir. Erlangga mengingatkannya dengen seseorang dimasa lalu.


“Aku Erlangga. Kamu?”


Rembulan mengedipkan matanya, dia tidak menyangka Erlangga mengajaknya berkenalan. Bagaimanapun Rembulan salah satu fans Erlangga, ya walaupun hanya suka lirik-lirik aja.


Diajak kenalan duluan sama lelaki yang disukai. Eh… lelaki yang suka dilirik aja ya, siapa coba yang tidak


senang?


“Rembulan.”


“Rembulan nama yang cantik,” puji Erlangga yang menatap dalam mata Rembulan. “Kamu tahu? Rembulan biasanya memiliki sinar cantik, dimana sinarnya memberikan ketenangan. Adakala seseorang ingin memiliki Rembulan untuk dirinya sendiri.”


Erlangga mendorong Rembulan keluar dari ruang loker. “Anak-anak udah mau datang. Semoga cicaknya dapat ya,” lanjutnya dengan tersenyum manis.

__ADS_1


Erlangga masuk kedalam ruangan loker dan meninggalkan Rembulan yang terdiam di depan pintu. Rembulan merasa wajahnya merona merah, ucapan Erlangga meninggalkan jejak dihatinya.


__ADS_2