
Kamu tahu? Tanpa sadar aku suka melihatmu
dan tersenyum sendiri.
Tok tok tok
“Mas Erlangga sudah pagi, katanya ada latihan basket pagi ini,” teriak bibi Naila, pembantu Erlangga. Tadi malam
Erlangga meminta tolong dengan Naila untuk membangunkannya.
Naila masih mengetok pintu kamar Erlangga. Tapi, tetap tidak terdapat jawaban sama sekali. Naila memegang gagang pintu dan membukanya. Naila sendiri tidak tahu mengapa setiap minggu pagi Erlangga perlu dibangunkan. Pada hari-hari biasa Erlangga akan bangun sendiri.
‘’“Bangun, mas sudah pagi,” ucap Naila sambil mengguncang tubuh Erlangga.
“Masih jam 5 subuh bibi, nanti jam 6.30 bangunkan Erlangga lagi ya.”
“Jangan gitu mas, sholat subuh dulu.”
“Bibi…” ucap Erlangga memperingatkan Naila. Erlangga sangat tidak suka jika ada yang memperingatinya untuk sholat. Erlangga tidak mempercayai adanya Tuhan. Jika Tuhan ada, kenapa hidupnya seperti ini? Walaupun ada, mungkin Tuhan tidak ingin Erlangga menjadi hambanyaa. Hidupnya rumit, seperti benang yang sangat kusut.
“Ya sudah, bibi keluar dulu ya.” Naila pergi keluar dari kamar Erlangga. “Mas, tadi nona Sasa telpon, katanya kalau
mas datang lebih cepat dari biasanya. Mungkin bisa berjumpa dengan dia.”
Refleks Erlangga langsung bangun, kata dia dari Sasa pasti Rembulan.
Datang lebih cepat? Jam berapa?
Erlangga mengambil handphonenya mencoba menghubungi nomor Sasa.
Nomor yang sedang ada hubungi sedang diluar jangkauan.
Erlangga tetap mencoba menghubungu Sasa beberapa kali. Tetapyang menjawabnya adalah mbak-mbak operator. Erlangga menarik rambutnya kesal, Sasa terlalu suka member informasi yang tidak lengkap.
“Huuu,” frustrasi Erlangga. Erlangga melihat jam didinding kamarnya. Baru jam 05.30, mungkin hari ini dia akan cepat pergi kekampus.
Erlangga berakhir kekampus jam 6 pagi. Disaat teman-temannya masih enak tidur, dia harus terjebak disini. Sudah hampir 1 jam Erlangga dilapangan basket. Erlangga merasa kesal tiba-tiba, apa Sasa mengerjain dia?
Erlangga memutuskan kelokernya saja. Lebih baik menunggu teman-temannua diloker dari pada tidak jelas dilapangan sendiri.
--
Erlangga memasukin ruangan loker. Dia mendekati lokernya, membuang sampah-sampah yang ada dilokernya. Saat membuka loker mata Erlangga tertuju pada surat beramplok merah dan putih. Ciri-ciri surat dari Rembulan, senyumnya terbit. Dia membuka surat tersebut.
Aku lupa bahwa hidup ini sementara
Aku lupa bahwa hidup ini fana
Aku lupa bahwa hidup ini tidak dapat ditebak-tebak
Seperti cerita diantara kita
Sekuat apapun aku mencoba menghilangkan baying-bayangmu
Sekuat itu juga kamu selalu hadir dalam hidupku.
Erlangga membalikan kertas tersebut. Ada gambar yang cantik, sebuah gambar tentang mereka, rose red. Mata Erlangga menelusuri sekitar ruangan.
Apa Rembulan sudah pergi?
__ADS_1
Lamunan Erlangga hilang, karena mendengar suara berisik dari arah gudang. Erlangga mendekati gudang.
“Ngpa-,” ucapan Erlangga terpotong saat melihat Rembulan di gudang. Erlangga mencoba mengatur raut wajahnya. “Hmm… Ngpain kamu disitu?” tanya Erlangga mencoba datar. Erlangga sekarang mengerti maksud dari Sasa. Rembulan akan ke loker pagi ini, tanpa ditemanin siapapun. Erlangga harus memanfaatkan kesepatan ini.
“Tidak ngpa-ngpain kok,” jawab Rembulan dengan spontan, “maksudnya, lagi cari cicak” lanjutnya.
Erlangga menahan ketawanya mendengar alasan tidak masuk akal dari Rembulan. “Cicak?”
“Eh jangan salah sangka, biasa untuk pratikum.”
“Oh,” jawab Erlangga memasang wajah seolah-olah percaya dengan ucapan Rembulan.
Rembulan mendengus kecil. “Duluan ya. Sepertinya Cicaknya tidak ada disini, mau nyoba cari diruangan lain dulu.”
Rembulan sengaja tetap berdiri didepan pintu, menghalangi Rembulan untuk pergi. Ada rasa tidak rela untuk membiarkan Rembulan pergi.
“Maaf, bisa geser sedikit tidak?” ucap Rembulan. Spontan Erlangga menggeserkan badannya supaya Rembulan apat keluar dari gudang.
Erlangga menarik lengan baju Rembulan, dia harus berkenalan secara langsung dengan Rembulan. “Aku Erlangga. Kamu?”
Rembulan tampak mengedipkan matanya. “Rembulan.”
“Rembulan nama yang cantik,” puji Erlangga dengan tulus. “Kamu tahu? Rembulan biasanya memiliki sinar cantik, dimana sinarnya memberikan ketenangan. Adakala seseorang ingin memiliki Rembulan untuk dirinya sendiri.”
Erlangga mendorong Rembulan keluar dari ruang loker, dia menyadari anak-anak basket sebentar lagi akan menuju ke ruang loker. “Anak-anak udah mau datang. Semoga cicaknya dapat ya.” Erlangga meninggalkan Rembulan yang masih terdiam.
--
Dengan baju gamis warna dongker Rembulan terlihat anggun hari ini. Dia berlari kecil menuju kantin, disana Elisa dan Erza sudah menunggunya. Jadwal kuliah yang selalu padat membuat kami ingat makan saja sudah bersyukur.
Rembulan dapat melihat sahabatnya dari kejauhan yang sudah duduk dimeja makan kantin.
“Udah lama nunggunya?” ujar Rembulan sambil duduk disebelah Erza. Didepannya ada Elisa dan Vino disamping Elisa. Walaupun mereka bertiga mencoba menghilangkan suasana tegang, tetap Rembulan dapat merasakan kecanggungan.
“Udah pada pesan makan?” tanya Rembulan yang hanya mendapat gelengan kepala dari Erza. Elisa yang dari tadi terlihat cemberut hanya diam.
“Kalian mau mesan apa? Biar aku yang pesanin,” kali ini Vino yang buka suara.
“Mie ayam” jawab Elisa, Erza dan Rembulan kompak.
Vino berdiri akan memesan makanan.
“Minumnya air putih aja ya,” ucap Rembulan dan dibalas anggukan kepala.
Elisa dapat merasakan Vino meliriknya sebelum pergi. Elisa sadar harapannya untuk makan mie ayam hanya tinggal kenangan.
Rembulan melihat kearah Elisa yang menggerutu tidak jelas dari tadi. Kemudian melihat kearah Erza. Berharap ada yang mau menjelaskan padanya, keganjilan yang terjadi sejak tadi.
“Kalian kenapa, kok tegang gitu? Itu kakak Vino kan?” tanya Rembulan menyerah dengan acara diam-diamnya Elisa maupun Erza.
“Iya itu kak Vino,” jawab Elisa santai. “Gantengkan?” lanjutnya dengan senyum manis khas bucin.
Erza memutarkan bola matanya kesal, “tadi pagi ada yang ngambek tidak jelas, sekarang muji-muji Vino ganteng! Capek lihat drama kalian.”
“Oke. Bisa jelaskan, maksudnya apa ya?”
“Belum saatnya tuan putri tau,” ucap Erza.
Rembulan jadi badmood mendengar jawaban Erza, terlalu banyak rahasia mereka yang tidak dia tau.
__ADS_1
Rembulan mengalihkan padangannya ke sekitar kantin. Bola matanya membesar saat melihat Erlangga yang baru masuk ke kantin. Tatapan mata mereka bertemu, Rembulan merasakan seperti ada lubang hitam yang
menyedotnya didalam tatapan Erlangga.
Rembulan membuang tatapan kearah lain, kemana saja yang penting bukan Erlangga yang menjadi objeknya. Wajah Rembulan sekarang mungkin sudah merah merona . Rembulan masih melirik Erlangga sekilas.
Erlangga pergi memesan makanan dan berjumpa dengan Vino, kakak senior satu jurusannya.Mereka terlihat dekat.
--
“Gimana dengan kasus yang kamu selidiki?” tanya Vino.
“Belum ada hasil, semua seperti hilang ditelan bumi! Padahal kami berdua sangat yakin, bisa menemukan titik terang dilokasi D.”
“Wajar, yang kalian selidiki tentang dokter. Mengingat bagaimana orang-orang mengenalnya, pasti banyak pihak pro dan kontra.”
“Apalagi dari pihak keluarga besar, ada yang aneh dengan mereka.”
“Dokter berasal dari keluarga yang berpengaruh. Jelas banyak hal yang disembunyikan dari mereka.”
Erlangga setuju dengan pendapat Vino. Banyak keganjilan dalam kecelakaan dokter. Dia mungkin harus mengusulkan penyusunan rencana ulang.
“Mau pesan apa dek?” tanya ibu kantin.
Erlangga dan Vino menyebutkan pesannan mereka ank e meja makan setelah mendapatkan makanan mereka.
Rembulan yang suka makan, merasa senang melihat Vino dan bingung saat bersamaan.
“Kak …”
“Aku yang tukar makanannya,” potong Erlangga tanpa bersalah`
Rembulan spontan memandang Erlangga dengan kesel. Dia ingin makan mie ayam bukan nasi berwarna putih yang banyak seperti ini!
“Kamu kok ganti makanan aku tanpa tanya dulu?”
Erlangga menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rembulan, “Suttt. Makan!”
Bibir Rembulan sudah mau terbuka untuk protes kembali. Erlangga yang menyadarinya, menempelkan kembali jari telunjuknya ke bibir Rembulan.
“Kamu punya waktu 1 jam untuk makan sebelum pratikum.”
Rembulan menyadari sejak kejadian diloker membuat mereka dekat. Dia merasakan Erlangga selalu ada disekitarnya kapanpun itu. Mungkin itu hanya perasaan Rembulan saja, dia akan mencoba biasa aja. Sejujurnya Rembulan menikmati semua ini, berada disekitar Erlangga.
Rembulan melihat Erlangga, dia merasakan Erlangga menatapnya.
Bikin merinding tau!
“Kenapa kamu menatap aku?”
“Hanyaingin.”
“Tidak ada kerja lain ya?”
“Tidak,” jawab singkat Erlangga tanpa mengalihkan pandangannya dari Rembulan.
Rembulan menghela nafas lelah melihat Erlangga. Percuma meminta Erlangga mengubah keputusan yang dibuatnya. Terlahir sebagai anak yang pintar membuat Erlangga sering mengambil kuputusan sendiri atas indakannya dan sulit untuk diubah.
Erlangga tersenyum dan mengedipkan matanya, menggoda Rembulan yang masih kesal dengannya.
__ADS_1
Di satu sisi Elisa dan Erza memandang Vino dengan kesal. Mereka mengalami nasib yang sama dengan Rembulan, mie ayam yang berubah menjadi nasi berwarna putih. Vinonya? Santai seperti tidak ada kesalahan.