
"Ahh..badanku pegal semua..!"kira menggeliat duduk di kursi cafe sebelum para pelanggan datang.
"Memangnya kamu abis ngapain??"Fenny ikut duduk dihadapannya.
"Kemarin aku jalan-jalan sama Viona mbak"
"Ohhh..Viona.Jarang sekali aku bertemu dengan dia sekarang"
"Haha..iya,dia sekarang sibuk mau ujian mbak.Makanya,mbak Pen juga sering-sering ke rumah aku"
"Iya juga yaa..aku udah lama gak ke rumah kamu"Tersenyum cerah seperti biasa."Ada pelanggan tuh"Langsung berdiri dan bekerja
seperti biasa.
Semakin siang pengunjung semakin ramai..Datang dan pergi.Masuk keluar.Begitu seterusnya.
Hingga siang semakin memuncak.Cuaca panas kembali datang.Kini Kira sedang membereskan meja bekas pelanggan yang sedikit berantakan.
"Kira!"Mbak Pen menepuk pundaknya.
"Aduh,mbak.bikin kaget saja.Kenapa?"
"Kamu kenal orang itu?"menunjuk laki-laki yang duduk di seberang agak jauh dari mereka.
"Wajahnya gak keliatan mbak.Memangnya kenapa?"Masih melihat orang yang ditunjukan mbak Pen.
"Dia nanyain kamu tadi.Kenapa sih banyak sekali orang yang mengenalmu"Menggerutu.Hanya dibalas senyuman oleh Kira."Cepatlah kesana!"
"Iya mba sebentar lagi."Kemudian Fenny melengos pergi.
Setelah selesai membersihkan meja,Kira berniat menghampiri laki-laki yang menyuruh dirinya menemui dia.Dengan dada yang berdebar.Karena orang itu sangat
terlihat mencurigakan.Dia memakai hoodie hitam dan menutupi kepalanya.
Ragu,ia melangkahkan kakinya.Ingin berbalik badan namun hatinya menolak.Kemudian ia melangkah lagi.
"Permisi"Ucapnya agak takut.Laki-laki itu menoleh kemudian tersenyum ke arah Kira.
"Hai Kira!"Ucapnya ramah.
Kira menghembuskan nafas lega."Ah..kak Satria.Aku kira siapa"Ucapnya lega.
"Ia.Tak kusangka kau ingat namaku"Menyeringai."Sini duduk!"
"Tapi ini masih jam kerja aku kak"
"Sebentar!"Menarik tangan Kira untuk duduk."Aku hanya ingin mengobrol"
"Mengobrol apa kak?"
"Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan padamu.Tapi mengingat kamu itu gadis pekerja keras yang selalu sibuk,sepertinya akan susah"
"Haha..tidak kok kak.Pasti bisa mengobrol.Tapi tidak kali ini"
"Kata temanku,kau bekerja di tempat lain.Dimana?"
"Di perpustakaan kak"Dibalas anggukan oleh Satria.
__ADS_1
"berapa gajinya?"
Kenapa dia menanyakan gaji?.Memang kenapa?.Batin Kira
"Tidak banyak kak.Hanya sekian"Menyebutkan
nominal gaji sebagai pustakawan disana."Memang ada perlu apa ya kak?"Penasaran.
"Ah tidak.Aku hanya ingin bercerita"Menarik nafas"Jadi,aku itu penyiar radio bintang.Kau pernah mendengarnya?"Kira menggeleng.
"Maaf kak.Tapi aku jarang mendengarkan radio"Tertawa canggung.
"Ah iya,kenapa aku selalu lupa perempuan dihadapanku ini perempuan pekerja keras!"Menepuk jidatnya dan merutuki kebodohannya."Rekan kerjaku mengundurkan diri beberapa minggu lalu.Jadi beberapa minggu ini aku siaran sendiri.Namun para pendengar merasa kalau aku sendiri yang siaran,kurang seru.Jadi aku berniat untuk mencari rekan penyiar yang baru.Kalau aku menawarimu,kamu bersedia?gajinya sekian"menyebutkan nominal yang membuat Kira menelan ludah.
"Tapi Kenapa harus aku?"Bingung.
"Entahlah,kenapa saat aku memikirkan siapa,yang terlintas difikirkanku hanya gadis imut bernama Kira.Orang yang berada di hadapanku"Menatap Kira lekat."Mungkin,karena aku suka ketika mendengar suaramu yang sangat manis dan enak didengar.Mungkin orang lain juga akan berpendapat begitu
jika mendengar suaramu."
"Kan kakak tau sendiri.Aku bekerja siang sampai malam kak"Ucapnya.
"Ia aku tahu.jadi kamu gak bersedia?"Dibalas anggukan Kira.
"Baiklah kalau begitu.Tapi kalau kamu berubah fikiran,kamu hubungi aku ya"Menyodorkan kartu namanya di meja.Kira mengambilnya pelan.
"aku simpan kak"Tersenyum pada Satria."Aku harus kembali bekerja"Berdiri."Sampai jumpa kak"Menarik bibirnya tersenyum.Dan dibalas oleh Satria.
"Selamat bekerja!"Ucapnya.
Setelah obrolan panjangnya dengan Satria,Kira kembali ke dapur.Ada Fenny sedang menyiapkan jus disana.
"Tidak.Hanya mengobrol biasa."
"Memangnya dia siapa?"
"Teman"Jawabnya singkat.
Kemudian kembali lagi ke pekerjaannya.Kembali balapan dengan keringat yang terus bercucuran.
Sudah waktunya Kira pulang.Kini ia berada di atas motornya.Dilirik jam di tangannya.Menunjuk angka empat.
Kemudian menekan nomor dan menunggu nada panggilan.Tak lama suara di sebrang terdengar.
"Halo pak.Ini Kira______Iya pak.Kira hari ini tidak ke perpus gak papa?______Baiklah.Terima kasih pak"Panggilan terputus.Kira melajukan motornya kembali ke rumah.
Sampai di depan rumah.Kira melihat sepatu Viona disana.Berarti sang empu sudah pulang.
Masuk namun tak melihat Viona di sana.Mungkin di kamarnya."Pioooo..."menongol di balik pintu.Benar saja,yang dicari ada disana.
"Lho,kakak sudah pulang?"
"Iya,tadi kakak izin.Gak ke perpus hari ini.Kamu sudah makan?"
"Sudah kak.tadi aku beli batagor"
"Baiklah."Menutup lagi pintu.
__ADS_1
Kini Kira sudah selesai mandi dan siap dengan baju santainya.
"Pio,kita pasang gantungan itu di tas yuk!"Ucapnya bersemangat.
"Yuk!!"Tak kalah bersemangat.
Kemudian Kira berlari ke kamarnya dan kembali dengan gantungan kunci di tangannya.
"Sini kak,biar aku yang pasang!"Ucap Viona.
Kemudian Kira memberikannya.Kira berjalan ke dapur ingin memasak untuk dirinya makan.Sangat lapar.
Sementara Viona,sudah selesai memasang gantungan kunci pada tasnya masing-masing.Dengan jiwa keingintahuannya,Viona berniat untuk melihat apa saja yang ada di dalam tas kakaknya.
Dibukanya tas Kira.Dikeluarkan isinya.Ada handpone,ada jepitan rambut,permen juga ada.Menyebutkan namanya satu-persatu seperti sedang mereview pada orang lain.
Kemudian membuka kantong kecil yang berada di depan.Menemukan kartu nama.Viona membaca kartu nama itu.Kemudian ia terkejut dan berlari ke arah kakaknya yang sedang berada di dapur.
"Kakakk!!"
"Apa si Pio,kenapa teriak-teriak?"
"Kakak kenal sama Satria Permana?"Menunjukan kartu nama di tangannya.
"Kamu nemuin itu dimana?"
"Di tas kakak.Kakak kok gak bilang kalau kenal kak Satria?"
"Tidak terlalu kenal.Memangnya kenapa?kamu mengenalnya juga?"
"Aku suka sama dia!diakan penyiar radio terkenal.Jadi semua remaja di sekolahku semua suka sama dia.Lihat nih,Radio Bintang!"Menunjuk tulisan di kartu nama."Tapi bagaimana bisa kakak mendapat kartu namanya?"
"Kakak ditawari dia menjadi rekan penyiarnya"Masakannya siap.Menata ke piring lalu membawa ke meja makan.Diekori adiknya yang terus mengoceh.
Kemudian Kira menceritakan apa yang terjadi di cafe tadi.
"Ayolah kak.Aku mendukung kakak menjadi
penyiar seribu persen!"Masih memaksa kakaknya untuk menerima tawaran Satria.
"Kakak tidak punya waktu Pio,lagipula kakak tak bisa bekerja menjadi penyiar."Menyuapkan suapan terakhirnya.
"Pasti bisa kok.Toh kalau marahin aku juga suka lancar ngomongnya!"
"Huss!"Memukul bahu adiknya.Lalu pergi lagi ke dapur untuk mencuci piring.
"Kakak..pliiiss..demi Pio"Masih merengek memaksa sang kakak.
"Nanti kakak fikirkan deh"Sudah kembali dari dapur.
"Benar yaa?"
"ia"Kemudian tenggelam dalam lamunannya menimang-nimang lagi.Gajinya lebih besar si,dan sepertinya tidak terlalu lelah.Tapi bekerja menjadi pustakawan juga menyenangkan.Tidak terlalu lelah,dan bisa sembari menggali ilmu.
Kira terus berfikir.Apa yang harus ia putuskan.Tawaran Satria membuatnya bimbang.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tekan Favorit yaa>_<