
" Maaakksssuudd kamu? Di lamar ? Sama siapa ? " . Tanya Nadia semakin penasaran, karena setahunya Dinda gak memilik pacar.
" Anak bos papaku ". Jawab Dinda. " What ?? Anaknya pak Indrawan? Maksud kamu Raka ? " Tanya Nadia lagi.
" Yah , Nadia tolong aku " . Pinta Dinda memohon. " Yah trus gimana Din, gimana kalau ketahuan? " Tanya Nadia lagi. " Gak bakal " jawab Dinda meyakinkan Nadia. " Trus caranya ? " Tanya Nadia lagi. " Kamu cariin aku asrama kek, hotel kek atau apa aja untuk sementara. Aku hanya ingin sembunyi beberapa hari, lalu aku akan ke luar kota. Plis nad, aku mohon ". Sekali lagi Dinda memohon kepada Nadia. Karena merasa kasihan kepada sahabatnya, Nadia pun mengiyakan permintaan Dinda.
Dengan segera Dinda mempersiapkan diri, Dinda membawa beberapa pakaian dan barang barang penting lainnya dan segera di kemas ke dalam tas kecil berwarna hitam. Setelah keluar dari kamarnya, Dinda kembali masuk lagi ke dalam kamarnya seakan melupakan sesuatu. Yah, foto kenangannya bersama Adrian. Di pandanginya foto itu, bulir bulir air mata pun menetes di pipinya. " Adrian, aku rindu" ucap Nadia dengan sangat lirih. Di peluknya erat foto itu seakan dia benar benar sangat merindukan Adrian.
Dan ring ring, Handphone Dinda berdering. Pesan masuk dari Nadia. " Hotel bidadari, alamat (#+$-$(!#?@(&";6$) . Hotel itu gak jauh dari tempat kerja aku ". Setelah membaca pesan dari Nadia, Dinda bergegas pergi sebelum ada yang melihatnya.
Dinda segera ke alamat yang di kirimkan Nadia. 15 menit pun berlalu, Dinda pun sampai di sebuah hotel tua , dindingnya sangat kusam, tumbuhan liar tumbuh di mana mana. Namun itu tak membuat dinda mengulurkan niatnya. Dinda bergegas mencari area loby. Setelah mendapatkannya, Dinda segera memesan sebuah kamar. Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Dinda menuju lift untuk segera naik ke lantai 2 tepat dimana kamarnya berada.
Dengan cepat Dinda berjalan seakan takut akan ada yang melihat dan mengenalinya di tempat itu. Namun di persimpangan jalan Dinda berpapasan dengan sepasang kekasih yang tak lain adalah Adrian dan Clara. ( Astagaah )
Mereka berjalan bergandengan tangan dan begitu mesra.
Dinda tersentak, dia begitu kaget, matanya melotot, mulutnya menganga, jantungnya berdebar kencang. " Adrian " panggil Dinda dengan sangat pelan. Adrian pun menoleh ke arah Dinda, tak hanya Dinda Adrian pun sangat kaget melihat Dinda. " Dinda " ucap Adrian. Mendengar nama Dinda, Clara pun semakin mempererat genggaman tangannya seolah dia mengenali siapa Dinda. " Ayo sayang kita akan terlambat " . Kata Clara sembari mempercepat langkahnya.
Dinda berdiri mematung sambil terus melihat kearah mereka berdua. Adrian pun sesekali menoleh kearah Dinda. Namun Clara terus menarik tengannya seakan tak ingin Adrian memandangi Dinda lebih lama.
Bulir bulir air mata tak bisa dia bendung dengan wajahnya yang memerah karena amarah yang tak bisa dia sembunyikan. Dadanya sesak, hatinya begitu sakit.
Dinda menangis tersedu sedu, dia tak habis pikir Adrian pria yang begitu dia rindukan ternyata sedang berbahagia dengan kekasih barunya.
Tangisannya pun tak mampu menggambarkan bagaimana hatinya begitu hancur saat itu.
" Dinda jangan menangis, kamu harus kuat, lupakan dia Dinda. Dia sudah melupakanmu " keluh Dinda melihat pantulan dirinya di cermin lift.
Dia mengusap air matanya yang tak henti hentinya menetes di pipinya. Dan menahan sakit hati yang teramat sangat di dadanya.
Sesampainya di dalam kamar, dengan cepat Dinda mengunci pintu kamar itu. Diambilnya sebuah foto kenangan dirinya bersama Adrian, di robeknya foto itu dan dia berteriaaak sekencang kencangnya. Dia tersungkur di lantai, menangis tersedu sedu seakan betapa sakit yang dia rasakan saat itu. ( Ya Allah, b tulis ini sampe manangis ey 😭 )
__ADS_1
Dinda menangis sesegukan, dia mengeluhkan nasibnya, salah apa yang telah dia perbuat hingga dirinya harus menanggung beban yang seberat dan sesakit ini.
" Yaaa tuhan, aku gak kuaaaat. Ini terlalu sakit. Aku mohon hentikan semua ini tuhan. Aku tidak sanggup lagi. " Di tengah rasa sakit yang di rasakan, Dinda mengingat kembali kenangannya bersama Adrian. Dengan berderai air mata, Dinda seolah menyesali semuanya " kenapa kita harus bertemu? Kenapa aku harus begitu mencintai kamu? Kenapa kamu begitu tega ? Kenapa adrian ? Kenapa ? " . Dinda terus menangis, sambil menatap langit langit kamarnya , Dinda tidur terlentang seakan pasrah dengan apapun yang akan nenimpanya hari itu. Dinda menangis dan terus menangis tiada henti hingga dia pun tertidur di atas lantai depan pintu kamarnya.
Tiba tiba handphone Dinda berdering. Ring ring ring
Sembari menghela nafasnya dan mengusap air matanya, dinda menjawab panggilan telepon adiknya, Rio.
" Halo Rio, ada a ..... ? Belum selesai Dinda berbicara, sudah terdengar suara Rio panik.
" Kak, papa masuk rumah sakit. Papa Anfal ". Kata Rio panik
Hal yang sangat di takuti Dinda terjadi. Tangannya bergetar hebat dan tatapannya menjadi kosong.
" I.... Iy... Yaaahh " . Hanya itu jawaban Dinda sebelum Rio mematikan telvonnya.
Rasa sakit di hatinya seolah menumpuk dan tak bisa dia jelaskan Bagaimana dia hancur saat ini.
Tak menunggu waktu lama, Dinda bergegas kerumah sakit.
Kenapa hidup sangat berat, tak ada hari baik sehari pun untuk Dinda 😭
Dinda menangis lesu di sudut ruangan, dia tak tahu lagi harus bagaimana.
Karena terlalu lama menangis, matanya terasa capek dan Dinda pun tertidur.
Tak terasa sudah pukul 20.00 malam, Dinda terbangun dari tidurnya. di lihatnya begitu banyak orang yang berada di dalam ruangan itu. Mata Dinda tertuju kepada pak penghulu dan Raka duduk di dekat penghulu itu tepat di hadapan ayahnya.
" Ini maksudnya apa? " Tanya Dinda seakan merasa bingung melihat semua keluarganya dan keluarga Raka berkumpul di ruangan itu.
" Kini kamu sudah sah menjadi istriku Dinda. " Ucap Raka sambil memandangi wajah Dinda sambil tersenyum.
__ADS_1
Seperti terkena pukulan keras di dadanya, jantung Dinda berdebar kencang, nafasnya tersendat. Dinda seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya itu. " Gak, ini gak mungkin " kata Dinda sembari bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Ayahnya bergegas memanggil Dinda, " nak, papa mohon jangan pergi " . Perkataan ayahnya membuat langkah kaki Dinda terhenti.
Raka menghampiri Dinda, mengajak Dinda untuk masuk kembali sambil memegang tangan Dinda. Dinda menepis tangan Raka dan berkata " jangan sentuh aku ". Mendengar ucapan Dinda, Raka terdiam. Yaaah, itu bukan kali pertama Raka mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dinda. Namun karena rasa cintanya yang begitu besar untuk Dinda membuat Raka selalu memaklumi tingkah Dinda yang seolah sangat membencinya.
Dinda duduk di dekat ayahnya meminta izin untuk pulang lebih dulu. Namun ayahnya meminta Dinda untuk pulang bersama Raka. Jelas Dinda menolak permintaan ayahnya, namun karena melihat kondisi ayahnya dengan nafas yang tersendat sendat, Dinda pun akhirnya mengiyakan permintaan ayahnya. Dengan terpaksa dinda pun pulang bersama Raka yang saat itu sudah resmi menjadi suaminya.
Sepanjang perjalanan Dinda diam seribu bahasa, di palingkan wajahnya menghadap keluar sambil memandangi kenderaan berlalu lalang di sebelahnya. Raka pun ikut Diam sambil terus mengendarai mobilnya.
Sesampainya di rumah, Dinda segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Raka pun berusaha meminta Dinda untuk membukakan pintunya. Namun dinda seolah tak menghiraukan Raka, bahkan dia menutup kedua telinganya dengan bantal. Raka memohon , Raka pun berjanji takkan berbuat macam macam. Dia hanya tidak ingin ayah Dinda kecewa dan penyakitnya kambuh lagi. Mendengar hal itu, Dinda pun terenyuh. karena dia tak ingin penyakit ayahnya kambuh lagi, akhirnya dengan berat hati Dinda pun membukakan pintu kamarnya.
Setelah pintunya terbuka, mata Raka terbelalak melihat begitu banyak foto kemesraan Dinda bersama Adrian di setiap sudut kamar itu.
Namun, dengan besar hati Raka seakan memakluminya lagi. Raka menahan sakit hatinya. Berharap suatu saat Dinda akan menerimanya.
Tak seperti kebanyakan orang, di malam pertama mereka berdua, mereka tidur terpisah. Dinda tidur di ranjangnya dan Raka tidur di sofa dekat televisi.
Beberapa hari pun berlalu, perlakuan Dinda masih tetap dingin kepada Raka. Karena merasa seakan harga dirinya di injak injak oleh Dinda, Raka pun akhirnya tak tahan lagi. Dia pergi meninggalkan rumah, Seperti tak tau arah tujuan Raka terus memacu mobilnya dengan kecepatan maximal. Sampai di suatu tempat hiburan, Raka menghentikan mobilnya dan memasuki gedung itu. Begitu banyak wanita dengan pakaian yang sangat sexy mendekatinya . Raka pun duduk memesan minuman, seorang bartender mendekatinya dan menyuguhkan minuman pesanan Raka.
Raka menghabiskan minuman itu hingga membuatnya mabuk.
Setelah puas bersenang senang, Raka kembali kerumah Dinda. Raka memasuki kamar Dinda dan segera memeluk wanita itu. Dinda terbangun dari tidurnya, dengan cepat Dinda melompat menjauhi Raka. " jangan Raka aku mohon " . Pinta Dinda dengan badan bergetar sambil memeluk guling. Karena amarah dan alkohol telah menguasainya, membuat Raka tak peduli dan mengabaikan permohonan Dinda. Menurutnya, Dinda adalah istrinya yang sah. Dia berhak atas Dinda dan berhak atas tubuh Dinda. Raka menarik tangan dinda, dengan kekuatan penuh Dinda berusaha menjauhi Raka, tapi dengan kekuatan seorang laki2 dengan sangat muda Raka mampu mengalahkan Dinda. Raka berhasil menggendong Dinda dan menidurkannya di atas ranjang. Dengan cepat dinda berusaha bangkit, namun Raka tak kalah cepat segera menekan tubuh Dinda dengan Tubuhnya. Tangan raka memegang tangan Dinda hingga membuat Dinda tak berdaya. Dinda menangis namun Raka seolah tak memperdulikan itu. Raka dengan rakusnya mendaratkan kecupan dari sepanjang telinga, garis leher hingga bahu.
Raka kemudian membuka pakaian Dinda dengan paksa hingga pakaian Dinda pun koyak di bagian dadanya. Raka melahap santai pada pahatan indah milik seorang wanita yang berada di hadapannya itu.
Dengan sisa tenaga yang di milikinya Dinda berusaha kembali melawan dan mendorong Raka, namun sayang semua seakan percuma. Raka bahkan tak berkutik sama sekali.
Dinda pun berteriak meminta tolong daaaann dia terbangun dari tidurnya. Yaaah ternyata itu hanyalah mimpi buruk Dinda 😄🙏🏻
Kembali ke kamar hotel bidadari. Jam pun menunjukan pukul 4 dini hari, terdengar sayup sayup di telinga Dinda suara seorang wanita dari kamar sebelah. Dengan rasa penasarannya, Dinda mendekatkan telinganya di dinding, berusaha mendengarkan apa yang di bicarakan tetangga sebelah kamarnya itu. Setelah diteliti dengan seksama, itu hanya merupakan sebuah ******* manja seorang wanita. Astagaaahh , Dinda terperanjat dan segera menjauhi dinding itu sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Dinda pun merebahkan badannya dengan rasa penasaran yang masih melanda pikirannya.
" Siapa wanita itu ? Aku seperti mengenali suara itu ? " Ucap Dinda dalam benaknya.