Rindu Dan Air Mata

Rindu Dan Air Mata
Sang Perindu


__ADS_3

Dinda pun merebahkan tubuhnya di ranjang dengan rasa penasaran yang masih melanda pikirannya.


" Siapa wanita itu? Aku seperti mengenali suara itu. Ucap Dinda dalam benaknya.


Karena rasa kantuk yang tak tertahankan lagi, Dinda pun tertidur kembali.


Tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 11.00 siang. Dinda baru terbangun dari tidurnya setelah semalaman menangis.


Di bukanya gorden kamarnya, di pandanginya pemandangan di sekitar, dan matanya tertuju di sebuah tempat parkiran mobil, terparkir sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna putih. Yaaah, Dinda sangat mengenali mobil itu. Mobil yang berplat nomor KB 1 DND, Mobil itu adalah milik Adrian dengan plat nomor yang masih sama.


" Mengapa dia belum mengganti plat nomornya ? " Tanya Dinda dalam hatinya.


Dan tok tok tok


Ada yang mengetuk pintu kamar Dinda. Dinda pun segera membuka pintunya. Dan yah, seorang kurir pengantar makanan. Dinda memesan makanan online karena takut keluar hotel. Sambil menunggu uang kembalian, Clara tiba2 lewat di depan kamar Dinda dan masuk ke kamar di sebelah kamarnya. Dinda syok, dia begitu kaget, dia segera menutup pintunya. " Jadi.... Yang semalam ???? Ooohhhh tidak ". Ucapnya dengan pilu sembari menundukkan wajahnya menangis, tangannya menutupi mulutnya agar tak terdengar suara tangisannya.


Rasa lapar yang sedari tadi di tahannya mendadak hilang digantikan dengan rasa sakit yang teramat dalam.


Kini, rasa sayangnya berubah menjadi benci terhadap Adrian. Sosok yang begitu di rindukannya ternyata sudah berbahagia bersama wanita lain. Di usapnya air matanya " aku bersumpah akan membalaskan semua pengkhianatanmu. Takkan pernah ku teteskan sebutir air mata pun untukmu. Kamu tak pantas mendapatkan itu. " Ucap Dinda dengan penuh amarah.


Dinda bangkit dari duduknya, di pandanginya wajah cantiknya di cermin. Di ambilnya sebuah sisir, kemudian dia mulai menyisir rambutnya. Dia berdandan secantik mungkin siang itu. Dia mengenakan dres hitam yang pernah di pakainya pertama kali bertemu Adrian. Entah apa yang ada di benak Dinda saat itu. Di bukanya pintu kamar, dia duduk menghadap pintu seolah menunggu seseorang.


Dan yaah, yang di tunggu tunggu pun tiba. Adrian lewat di depan pintu kamar Dinda, tanpa pikir panjang Dinda memanggil " Adrian " dengan segera dia menghampirinya. " Hay , kamu tinggal di sini juga ? Tanya Dinda sambil tersenyum manis. " Eeee,,, i...iy...aaa. Hay Dinda " jawab Adrian terbata bata, seolah kaget melihat sosok wanita cantik yang begitu di cintainya dahulu. " Kamu tinggal di kamar sebelah ya ? " Tanya Dinda lagi. " Eeee,, iyyaaahh " jawab Adrian. " Boleh dong aku main ke tempat kamu ? kamu juga boleh kok main ke tempat aku. " Ucap Dinda lagi sembari mengedipkan mata nakalnya ke arah Adrian.


" Eeeee, iyaaaahh " jawab Adrian. Dinda pun tersenyum dan memalingkan badannya masuk kembali ke dalam kamar, seketika raut wajah Dinda berubah, senyumannya mendadak hilang digantikan dengan raut wajah yang begitu cemberut dan memerah. Seakan ada amarah yang di tahannya.

__ADS_1


Dinda bermaksud akan membalaskan dendamnya kepada Adrian dengan cara yang sama di lakukan Adrian kepadanya.


Tepat jam 7 malam, Dinda kembali berdandan secantik mungkin, dinda berdiri di depan jendela kamarnya memandangi parkiran seolah memperhatikan sesuatu. Dan yaaaah beberapa lama kemudian mobil Lamborghini Aventador berwarna putih pun berhenti. Seorang pria dan wanita turun dari mobil itu, berjalan menuju ke dalam gedung hotel. Dengan cepat Dinda berlari ke arah pintu, di bukanya pintu kamarnya dan pura pura sedang menelvon seseorang. Di sadarinya Adrian dan Clara mendekat, dengan cepat Dinda menambrakkan diri tepat mengenai Adrian, dengan cepat pula Adrian menahan tubuh Dinda agar tak jatuh. Kini Dinda berada dalam pelukan adiran. Adrian dan Dinda pun saling tatap tatapan, jantung keduanya berdegup kencang tak beraturan. Clara segera menarik Dinda agar terlepas dari pelukan Adrian. " Maaf " ucap Dinda berpura pura.


Clara dengan raut wajahnya yang seperti tak suka melihat Dinda segera mengajak Adrian untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah mereka berdua masuk, Dinda tertawa sinis merasa dia berhasil.


Tak lama kemudian terdengar suara laki laki dan perempuan saling berdebat. Tak begitu jelas di telinga Dinda, yang terdengar hanya suara tangisan seorang wanita yang meminta si pria untuk tak meninggalkannya. Dan kreekkk, terdengar pula bunyi Gagang pintu di barengi dengan suara pintu yang di tutup dengan begitu keras. " Adriaaaannnnn " panggil Clara keras.


Adrian pergi meninggalkan Clara, dan Dinda tersenyum lebar.


Dinda segera pergi ke arah jendela, Di pandanginya lagi area parkiran dan yaaahh Adrian berjalan cepat menuju mobilnya sementara Clara mengejar Adrian namun Adrian terlanjur masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan Clara begitu saja. Tak tinggal diam, Clara segera mengejar mobil Adrian dengan motornya. Melihat kejadian itu sontak membuat dinda tertawa sangat kencang seolah dia begitu bahagia karena misinya berhasil.


Di cafe, Clara Mencari kesana kemari tapi tak menemukan Adrian. Clara menangis tersedu sedu di belakang pantry bar, dia tengah mencoba menghubungi Vicky dan menimbang nimbang apakah dia harus menceritakan semua ini.


Clara begitu kebingungan sehingga Clara tak lagi mampu mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang.


Oh ya , perkenalkan. Vicky merupakan sahabat Adrian, tapi juga merupakan teman dekat Clara. Vicky seorang pria tampan, memiliki rambut sedikit ikal, berkulit sawo matang dan memiliki lesung pipit di kedua pipinya.


Malam begitu gelap tanpa adanya cahaya bulan maupun bintang menghiasi langit luas.


Setelah membersihkan wajah dan berganti pakaian. Dinda langsung beranjak naik ke atas tempar tidur.


Hujan lebat tiba tiba mengguyur disertai angin kencang. Dinda yang sudah tenggelam di alam mimpi sama sekali tidak terusik.


Tanpa di sadari wanita cantik itu, ada sesosok pria sedang berdiri di samping tempat tidurnya, menatapnya dalam kegelapan tanpa sehelai benangpun.

__ADS_1


" Hhhhmmmm " Dinda mulai bersuara tanpa membuka mata, saat ada sentuhan tangan di bagian betis sampai di bagian pahanya yang putih mulus.


Tangan itu terus meraba dan kini sudah berada di bagian dadanya. Dinda yang menyadari sesuatu berusaha membuka matanya. Dinda kaget melihat ada sesosok pria misterius berada tepat di hadapannya. Dengan sigap Dinda berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Pria itu pun dengan begitu cepat mengejar Dinda hingga Dinda pun tak ada pilihan lain, dia menendang rudal pria itu hingga pria itu tersungkur kesakitan.


Dinda dengan cepat membuka pintu kamarnya dan menguncinya Kembali dari luar. Dinda berlari menuju area lobi berharap ada seseorang yang masih terjaga di kegelapan seperti ini. Hari ini Dinda benar benar baru menyadari bahwa hotel ini sungguh tidak layak, penjagaannya tidak ketat. Seseorang bisa masuk entah dari mana. " dasar hotel tua " . Ucap Dinda dalam benaknya. Sesampainya di lobi, yah seperti perkiraan Dinda tak ada sama sekali yang berada di ruangan itu. Bahkan pos security pun sudah terlihat usang dan di penuhi rumput rumput liar. " Hhhrrrgggg " geram Dinda. Dinda tak tau lagi harus kemana, di tengah hujan yang melanda kota itu Dinda terus berlari mencari bantuan. Dia berlari di tengah jalan yang sudah di genangi air hingga betis. " Ohh tuhaaannn, kenapa ini harus terjadi kepadaku ? " Tanya Dinda dalam benaknya dan terus berlari.


Tiba tiba dari arah yang berlawanan, cahaya lampu mobil memantulkan sinarnya tepat ke arah mata Dinda, Dinda menutupi kedua matanya dengan sebelah tangannya. Mobil itu tiba tiba berhenti tepat di hadapan Dinda, Dia begitu ketakutan. " Tolong, tolong jangan aku mohon " pintu Dinda sambil berlutut memohon kepada seseorang yang keluar dari mobil itu.


" Heeyy " terdengar suara pria itu sambil meminta Dinda untuk berdiri. " Dinda, ini aku. Aku " ucap pria itu lagi. " Buka mata kamu " mendengar perkataan pria itu, Dinda pun membuka kedua matanya. Dan , yah itu Adrian. Dinda segera memeluk adrian erat. Dinda menangis dalam pelukan mantan kekasih yang masih sangat di cintainya itu. Adrian pun membalas pelukan Dinda. Dengan cepat Adrian meminta Dinda untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Adrian menanyakan apa yang terjadi " kenapa kamu main ujan malam malam begini. Kamu gak takut sakit ? " Tanya Adrian sambil sesekali menoleh kearah wanita cantik itu. " Ada orang di dalam kamar aku, dia berusaha memperkosa aku. Aku takut Adrian. Aku takut. " Jawab Dinda sambil terisak , badannya bergetar. Dinda kedinginan. " Trus tujuan kamu kemana ? " Tanya Adrian lagi. " Aku gak tau, aku gak tau harus kemana Adrian. Aku gak tau ". Tangisan Dinda Pecah, mengingat dia tak punya siapa siapa lagi saat ini. Tak tau harus kemana , bahkan dia tak membawa apapun saat ini. Hanya sepasang baju yang ada di badannya dan basah.


Adrian berusaha menenangkan Dinda. " Gimana kalau aku antar kamu ke hotel, kamu bisa tidur di sana, soal barang barang kamu di hotel lama, biar aku yang urus. " Ucap Adrian. Dinda terdiam, dia tak ingin menyusahkan Adrian ,tapi dia juga takut balik lagi ke hotel itu. " Maaf ya Adrian, aku nyusahin kamu ". Ucap Dinda lirih sambil menundukkan wajahnya.


Adrian menambah kecepatan mobilnya, dan melaju menuju hotel bintang 3 yang ada di kota itu.


Jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari, mereka memasuki area lobi memesan sebuah kamar, setelah mendapatkan kunci mereka berdua bergegas memasuki kamar tersebut. Di dalam kamar, keduanya terlihat canggung. Sesekali saling melirik namun dengan segera menundukkan kepala.


Dinda kedinginan, dengan cepat Adrian menyodorkan sebuah baju mandi yang di ambilnya dari dalam lemari. Dinda menatap ke arah Adrian, karena tak punya pilihan lain, dinda pun mengambilnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Dinda melihat dirinya sendiri di pantulan cermin, dia begitu malu mengenakan pakaian ini dengan tanpa menggunakan dalaman sama sekali. namun di tak punya pilihan lain.


Karena sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi, Dinda pun akhirnya keluar. Di lihatnya Adrian sudah tertidur di atas sofa dekat televisi dengan posisi memeluk guling. Karena merasa kasihan, Di ambilnya sebuah selimut di pakaikannya kepada Adrian, merasa ada yang aneh Adrian akhirnya terbangun dan membuka matanya, mata mereka saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Dengan hujan yang masih mengguyur kota itu di sertai petir yang menyambar, malam itu Adrian beranjak bangun dari tempat tidurnya mendekati Dinda yang sedang memeluk tubuhnya sendiri. Adrian mendekati wajah Dinda, nafasnya seakan menyentuh leher Dinda, Dinda terperanjat sambil menggigit bibir bawahnya dan menutup kedua matanya, seolah tak dapat melakukan apapun. Dinda berdiri mematung seakan tak berdaya.


" Aku sangat merindukanmu Dinda " bisik Adrian lirih, sambil menopang dagunya di atas bahu Dinda. Dinda membuka kedua matanya lebar lebar, dia begitu kaget mendengar ucapan Adrian. Masih dengan posisinya, Dinda tak tau harus berbuat apa. Adrian terus menangis, dinda berusaha menenangkan Adrian, Dinda mengelus kepala Adrian dan dengan mata berkaca kaca Dinda pun menutup kembali kedua matanya.


Adrian Terus menangis di pelukan Dinda, Seperti seseorang yang baru melihat seseorang yang tidak pernah dia jumpai selama ini dan dia sangat merindukannya.

__ADS_1


" Aku tak tau ini mimpi atau tidak " ujar Adrian . " Tetaplah seperti ini, aku ingin ini berlangsung sedikit lama. Dan jangan pergi lagi " lanjut Adrian yang membuat dinda tak sanggup Lagi menahan air matanya yang terus menetes di kedua pipinya.


Dinda baru menyadari, Adrian begitu merindukannya selama ini. Lalu kenapa dia bersama Clara? Kenapa dia seolah menghilang dan menjauh ? Kenapa ?


__ADS_2