
Dinda baru menyadari, Adrian begitu merindukannya selama ini. Lalu kenapa dia bersama Clara? Kenapa dia seolah menghilang dan menjauh? Kenapa?
Begitu banyak pertanyaan mengganggu pikirannya, hingga Dinda pun spontan menanyakan hal tersebut kepada Adrian.
" Bagaimana dengan clara? Apa yang akan kamu lakukan terhadapnya? " Tanya Dinda sambil melirik kearah Adrian. Mendengar pertanyaan itu, Adrian menegakkan tubuhnya sambil menatap wajah Dinda dan berkata " dia tau tentang kamu, dia tau bagaimana aku begitu mencintai kamu, bahkan dia tau semua tentang hubungan kita. Dia tau segalanya ". jawab Adrian dengan terus menatap wajah Dinda dan tak bergeming sama sekali. " Lalu? " Tanya Dinda semakin penasaran. " Dia menerima semua itu, karena dia begitu mencintaiku. Namun aku tak pernah mencintainya walau hanya sedikitpun. " Ujar adrian dan kemudian kembali duduk di sofa yang berada di samping kirinya. Dinda pun ikut duduk di samping Adrian dengan penuh tanda tanya yang mengganggu pikirannya. " Tapi.... Kamu " Dinda menundukkan kepalanya , dia menghela nafas panjang seolah tak sanggup meneruskan perkataannya. " Iya, aku membiarkannya memiliki tubuhku. Tapi tak sedikitpun aku membiarkan dia memiliki hatiku. " Jawab Adrian sambil menunduk seolah dia menyesali semua perbuatannya. " Dinda, maukah kamu kembali bersamaku? Kita akan memulai semuanya dari awal. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan dahulu. Aku sangat mencintaimu Dinda, sungguh. Demi tuhan, aku bersumpah aku hampir gila karena merindukanmu. Aku tidak sanggup lagi menanggung ini lebih lama ". Ujar Adrian sambil berlutut di hadapan Dinda. Tetesan air mata Adrian jatuh mengenai paha Dinda karena pakaiannya sedikit terbuka.
Dinda menghela nafas panjang, dia tak tau harus berbuat apa. " Tapi Clara? Aku tak ingin menyakiti hatinya. Aku tak ingin bahagia di atas penderitaannya. Aku tau bagaimana rasanya ketika seseorang yang begitu di cintai di rebut orang lain ". Ujar Dinda sambil terisak tangis. Walau dia begitu mencintai Adrian dan sangat merindukan pria itu namun tak mudah baginya menyakiti hati sesama wanita. Dinda beranjak dari duduknya sembari beranjak naik ke atas tempat tidur, kemudian berbaring membelakangi Adrian.
Pagi masih begitu gelap. Fajar belum menampakkan diri. Dinda yang sudah terbangun melihat keadaan sekitar, Adrian sudah tak ada di tempatnya. Adrian pergi tanpa berpamitan, Dinda duduk termenung seolah memikirnya kejadian semalam. " Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku menyakiti hatinya ? Oohhhh ". Dinda mengacak ngacak rambutnya dengan kedua tangannya. Dia membanting tubuhnya di ranjang, matanya menerawang ke segala arah, dan kemudian Dinda pun kembali tertidur.
Tok tok tok
Tepat pukul 08.00 pagi, terdengar ketukan di pintu kamar Dinda.
Walau agak sedikit takut, namun dinda tetap memberanikan diri untuk membukanya. Ternyata itu hanya Adrian, sambil membawakan sarapan pagi dan beberapa pakaian untuk Dinda, Juga perlengkapan mandi dan lainnya.
" Terimakasih ya Adrian, maaf sudah merepotkan ". Ucap dinda.
" Boleh masuk gak ? " Tanya Adrian . " Ohhh, iyaaa, silahkan tuan muda " . Jawab Dinda segera membuka pintunya lebar lebar.
" Aku ganti pakaian dulu ya ? " Ucap dinda dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Dinda melihat pantulan dirinya di cermin, tanpa ekspresi. Dinda hanya berdiri, tanpa tersenyum dan bergerak sama skali. Entah apa yang ada d pikirannya saat itu. Dan tok tok tok
" Dinda " panggil Adrian. " Yaaaa " jawab Dinda. " Kamu kenapa ? Kok lama banget d dalam " . Tanya Adrian karena memang sudah terlalu lama Dinda berada di dalam kamar mandi. Adrian khawatir jika terjadi sesuatu kepada Dinda. " Gak kok, gak papa " . Dinda bergegas membuka pintu dan keluar menemui Adrian. Adrian kaget melihat penampilan dinda saat itu, yang hanya mengenakan daster berwarna biru muda dan rambutnya di kuncir satu. " Jangan liatin gitu dong, aku malu " ucap Dinda sembari
menepuk manja pipi Adrian. " Kamu masih cantik seperti dulu " jawab Adrian sambil memandangi wajah cantik Dinda.
" Yuk makan ". Ucap Dinda mengalihkan pembicaraan.
" Aku udah tadi, di bawah. Kamu aja ." jawab Adrian. " Yaah gak asik dong. " Gerutu Dinda sedikit kecewa. " Yaudah aku temani. Tapi suapin aku ya ". Ucap Adrian sedikit bercanda.
Pagi itu mereka habiskan dengan penuh suka ria, hingga akhirnya handphone Adrian berdering, yaah dari Clara. Melihat itu, jantung Dinda berdebar kencang tak karuan, nafasnya naik turun tak beraturan. " Angkat aja, gak papa kok ". Ucap Dinda seolah sok bijak . " Ya udah, bentar ya ". Jawab Adrian sambil berjalan keluar kamar.
Sebutir air mata jatuh menetes di pipi Dinda, dengan segera dia mengusap air mata itu.
Hatinya terasa sakit
" Bukannya aku yang memintanya untuk tidak meninggalkan Clara ? Kenapa hati ini begitu sakit sekarang ? " Batin Dinda.
Lamunan dinda terhenti saat Adrian tiba2 berjalan ke arahnya dengan sedikit berlari seakan sedang buru buru, dan yah Adrian izin pulang lebih awal katanya ada hal penting yang ingin dia selesaikan. Dinda terdiam, tanpa menjawab sepatah kata pun. Adrian dengan lembut membelai rambut wanita cantik itu dan tersenyum manis lalu berlari pergi.
__ADS_1
" Kemana dia ? Apakah dia akan menemui Clara ? ". Gerutu Dinda kesal.
Dinda tak melanjutkan makannya, Dinda duduk di sofa dan menghidupkan televisi. Hanya itu yang bisa di lakukannya, sendirian dalam kamar yang besar itu, sunyi dan sepi.
Di hotel lama, Adrian segera mengetuk ngetuk pintu kamar dan memanggil manggil nama Clara. Tok tok tok " Ra, Clara ." Panggil Adrian. " Gak di kunci sayang. Masuk aja ". Jawab Clara dari dalam kamar. Adrian pun segera membuka pintu kamarnya, dan woooowwww pemandangan yang begitu dahsyat. Clara duduk di depan ranjang sambil menatap ke arah Adrian dan tak mengenakan pakaian sama sekali.
" Sini sayang ". Ucap Clara sambil mengayunkan tangannya.
Adrian masih berdiri mematung di depan pintu, jantungnya berdebar. Melihat Adrian tak bergeming, Clara datang menghampiri Adrian. Menarik lengannya dan memaksa dia untuk masuk ke dalam kamar. Dan Clara segera mengunci pintu kamarnya kembali.
" Aku sangat merindukanmu sayang " bisik Clara lirih di telinga Adrian, hingga membuat Adrian seakan tak berdaya di buatnya. Clara mulai mengecup garis leher Adrian hingga ke telinga dan kedua tangannya berusaha melepaskan pakaian yang di kenakan Adrian, merasa ada yang aneh Adrian tersadar, dan segera menjauhi Clara. Clara kaget dengan penolakan itu, " kamu kenapa sayang ? ". Tanya Clara sambil mendekati Adrian. " Jangan , hentikan semua ini Clara. Aku ingin mengakhiri semua ini ". Ucap Adrian sambil menggeleng gelengkan kepalanya. " Kenapa ? OOhhh karena dia lagi ? Orang yang sudah membuat hidup kamu hancur seperti ini? Jawab Clara cetus. " Bukan karena dia. Tapi aku yang sudah menghancurkan hidupnya dan hidupku sendiri. Dan kamu, kamu sering membohongiku. Katanya kamu sakit, aku segera kesini dan membelikan obat pesananmu. Nyatanya ... ". Jawab Adrian sangat marah. Mendengar perkataan Adrian, clara menangis. Hatinya begitu hancur, pengorbanannya selama ini sia sia. " Apa yang kurang dari aku? Semua sudah ku berikan. Hidup aku, diri aku, semuaaaannnyyaaaaa Adrian ". Clara teriak histeris, Air matanya sudah tak terbendung lagi. Adrian merasa bersalah, dia mendekati Clara dan segera memeluk wanita itu. " Maafkan aku Clara ". Ucap Adrian sembari menenangkan wanita itu.
" Tolong jangan tinggalkan aku Adrian, aku gak bisa hidup tanpa kamu ". Jawab Clara sambil kembali memeluk adrian erat. Adrian hanya terdiam.
Setelah hatinya sedikit tenang, Clara mengambil segelas air dan meminumnya dan tak lupa juga dia memberikan segelasnya lagi untuk Adrian.
Setelah beberapa saat meminum air itu, kepala Adrian sedikit pusing, Adrian menyandarkan tubuhnya di ranjang, penglihatannya mulai kabur dan Clara mulai menghampirinya , perlahan Clara mulai mencumbuinya, Clara mulai melepaskan pakaian Adrian hingga tak tersisa sehelai benangpun. " Sayang, ini aku Dinda ". Ucap Clara begitu lembut ke telinga Adrian. " Mendengar nama dinda, Adrian dengan sisa tenaganya segera memeluk Clara yang berpura pura menjadi dinda dan membalas cumbuannya.
Adrian yang tenggelam dengan pikirannya sendiri, seolah melihat bayangan Dinda dalam diri Clara. " Dinda " ucapnya bergetar hebat.
Adrian mengubah posisinya, kali ini Clara tepat berada di bawah Adrian. Tangannya bertumpu di atas ranjang agar tubuhnya tidak membebani Clara. Gairah dan gejolak dalam dirinya kembali bangkit.
Bibirnya bermain main dengan dua pahatan merah jambu yang ada di hadapannya. Aaaahhh, ******* Clara seakan menambah kehangatan suasana di siang itu.
Masih dengan penglihatannya yang sangat kabur, Adrian memperhatikan sosok wanita yang berada di hadapannya itu.
Aahh ! Geram Adrian memegangi kepalanya. Bagaimana tidak .. setelah ia perhatikan lagi ternyata itu Clara bukan Dinda. Adrian segera bangkit, dengan sisa tenaganya Adrian Kembali mengenakan pakaiannya. " Maaf, aku tak bisa melakukan ini lagi Clara ". Ujar Adrian sembari membuka pintu dan meninggalkan clara . Clara terdiam membisu dengan posisi yang masih telentang di atas ranjang. Air matanya semakin deras dan tangannya bergetar hebat, dia merasa dunia menjadi sangat gelap dan kosong. Obat bius yang sering dia gunakan untuk Adrian seakan tak mempan lagi.
Aaaaaaaarrrrrggggggg !! Clara berteriak meluapkan kekesalannya. Dia menangis sejadi jadinya. Entah harus bagaimana lagi setelah ini. Dia begitu mencintai Adrian, apapun akan dia lakukan agar Adrian tetap berada di sisinya.
" Dinda, kenapa dia harus kembali ? " . Ucap Clara begitu kesal.
Mobil Adrian melaju dengan kecepatan maximal di tengah derasnya hujan yang melanda kota itu. Dia begitu marah, Clara telah membohonginya. " Anjjrriiiittt " gerutu Adrian kesal.
Dan mobilnya pun berhenti tepat di sebuah hotel mewah yang berada di pusat kota.
Adrian segera menaiki lantai 15 tepat dimana kamar Dinda berada.
Dan tok tok tok
Adrian mengetuk pintu kamar, dengan cepat Dinda pun membuka pintu kamar tersebut lebar lebar.
__ADS_1
" Hay " . Ucap Adrian saat pertama kali bertatapan dengan wanita yang sangat di Cintainya itu.
" Mau masuk atau di sini aja ? " Tanya Dinda bercanda.
" Bisa masuk gak ? " Tanya Adrian sambil tersenyum manis. " Boleh " jawab Dinda mengangguk. " Kalau masuk di hatimu, bisa gak ? ". Bisik Adrian lembut. Kalimat Adrian seakan menusuk hati hingga tembus ke jantung Dinda, hingga membuat mata wanita itu menatap tajam kearah pria tampan yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
" Emang Mau? " Tanya Dinda menantang. " Boleh ? " . Tanya Adrian lagi. Dinda tersenyum, dan keduanya pun tersenyum sambil mata keduanya saling menatap seolah benih benih cinta tumbuh di hati keduanya. Pintu pun di tutup kembali, Adrian mendekati Dinda. Memegang pinggul wanita itu, hingga tubuhnya dan tubuh Dinda seakan tak berbatas lagi, mereka saling mendekap. Perlahan Adrian mulai membelai rambut Dinda, mengecup keningnya, Hingga bibirnya menjalar ke bawah dengan begitu lembut Adrian mengecup bibir mungil Dinda.
Dinda seolah pasrah saat bibirnya dan bibir Adrian saling bersentuhan, setelah penantian yang begitu lama, akhirnya keduanya bisa merasakan sentuhan satu sama lain.
" Hmmmm " Dinda mulai bersuara dengan kedua matanya tertutup rapat.
Tangan Adrian terus meraba raba area sensitif Dinda dan kini berada di bagian dadanya.
" Adrian ". Di saat Dinda mulai bersuara, mulutnya tiba tiba di bungkam dengan ciuman penuh gairah oleh Adrian. Awalnya Dinda tidak merespon dan ingin menolak, namun pada akhirnya dia pun hanyut dalam kemesraan itu.
Tanpa mereka sadari, saat ini mereka sudah berada di tepi ranjang, Adrian berusaha mengangkat tubuh Dinda ke atas ranjang dengan masih sambil berciuman.
Sebenarnya Dinda adalah wanita yang begitu kuat menjaga diri. Namun entah mengapa kali ini dia tak berdaya menghindar ataupun menolak Adrian yang sedang mencumbunya.
Logika Dinda sudah tak bisa di andalkan. Hanya kenikmatan yang di rasakan. Sentuhan lembut Adrian di beberapa bagian tubuh indahnya makin membuatnya terangsang. Namun di saat itu, dia masih bisa berusaha untuk tidak bersuara keras, walaupun gejolak hasrat semakin menguasai dirinya.
Namun akhirnya, wanita cantik itu benar benar hilang kendali. Dia berusaha mengimbangi Adrian walau merasa kewalahan dan hampir tidak bisa bernafas.
Setelah puas menikmati bibir Dinda, Adrian kini berpindah ke bagian leher dan kembali bereaksi. Adrian seolah tahu, leher merupakan bagian sensitif wanita cantik itu. Adrian juga memberikan beberapa kecupan, sebelum bangkit dan merobek daster yang Dinda kenakan.
Dinda tak mampu lagi untuk memikirkan apapun, di saat Adrian menyedot pahatan merah jambunya secara bergantian. Deru nafas mereka saling beradu dalam permainan panas itu. Dan kini Adrian mulai berpindah ke arah perut turun sampai ke selang****annya.. 🫣😱
" Aaahh... " Suara Dinda akhirnya terdengar dengan nafas memburu seperti orang yang baru selesai melakukan maraton.
Kedua paha Dinda yang lumayan berisi itu di angkat Adrian sampai ....... Tembemnya terbuka semakin lebar di depan mata. Dan tanpa menunggu lama Adrian kembali bereaksi. " Aaaahhh .... " Semburan kenikmatan menyembur seiring ******* manja wanita cantik itu. Adrian semakin menggila. Dia menyedot semua cairan yang masih terus menyembur sampai tak tersisa. ( bangganga te ola ti )
Dinda tak hanya tinggal diam. Dia malah menekan kepala Adrian itu semakin dalam di bawah sana. ( Aduh maafkan aku tuhan 😠)
Suara ******* Dinda yang terdengar manja tak kunjung berhenti. Dia hampir gila di buat Adrian. Tanpa berlama lama Adrian bangkit dan memaksa rudalnya untuk lepas landas terjun ke dalam lembah. Saat itu, Dinda masih terus mendesah dengan suara yang tidak terlalu keras karena mulutnya di sumpal bantal.
Suara Dinda tiba tiba tertahan dan nafasnya hampir terhenti saat keperawanannya pecah. Namun sesaat kemudian, dia kembali mendesah lebih kencang, yang membuat Adrian langsung membungkam mulutnya menggunakan sebelah tangannya.
Adrian terus menghujamnya dengan sangat bertenaga. Dinda yang kesakitan sampai menjerit dan menangis. Namun rasa sakit hanya sebentar saja.
Setelah beberapa menit dalam keadaan terlentang pasrah, kini tubuh Dinda dibolak balik secara tiba tiba dan kembali di hujam dari belakang. Semua gaya bercinta mereka lakukan dengan penuh gairah.
__ADS_1
Dan setelah hampir satu jam berpacu, Adrian malah mempercepat tempo permainannya, sambil menarik rambut panjang Dinda sampai kepalanya ikut tertarik. Semburan lahar mengental memenuhi lembah Dinda bercampur dengan cairan merah sampai meluap saking banyaknya.
Dinda tersungkur saking lelahnya, Adrian segera merebahkan tubuhnya tepat di samping wanita yang di cintainya itu.