RINDU YANG TAK TERGAPAI

RINDU YANG TAK TERGAPAI
Bab 1 Ingin Putus


__ADS_3

Asifa dengan Nasihin menjalin kedekatan semenjak sama - sama aktif di organisasi. Hubungan asmara mereka mengalami beberapa rintangan karena LDR dan Rossi yang selalu mendekati Nasihin.


Rossi yang menyukai Nasihin semenjak sama - sama duduk di bangku kuliah dan aktif di satu organisasi. Rossi selalu berjuang untuk mendapatkan Nasihin dengan berbagai cara.


Apakah Asifa akhirnya berjodoh dengan Nasihin? Temukan jawabannya di novel  RINDU YANG TAK TERGAPAI


🪁🪁🪁🪁🪁


Duduk di taman rumah kost mahasiswa. Aku dan laki-laki yang selama ini paling dekat dengan ku. Dia adalah Nasih. Dan aku adalah Asifa.Kami sebentar lagi akan terpisah lantaran kami sudah sama-sama lulus kuliah dan wisuda. Cukup lama kami berpacaran. Walaupun kita sebenarnya beda kampus dan jurusan. Namun Nasih sering datang ke kost ku demikian halnya dengan aku. Apalagi kami  satu organisasi kemahasiswaan dan aktif di dalamnya.


Nasih sengaja mendatangiku di hari minggu pagi. Selain ingin bertemu dengan ku, dia ingin mengajakku keluar untuk jalan-jalan dan makan. Selayaknya berpacaran ala anak remaja kami memang rajin jalan-jalan walaupun sekadar makan di warung tegal ataupun nyari buku di toko buku.


"Kenapa kamu diam saja, Sifa?" tanya Nasih saat aku cukup lama terdiam. Kami masih duduk di taman. Minggu pagi ini anak-anak kost banyak yang nyuci baju dan menyetrika.


"Itu... itu bang! Bagaimana kalau sebaiknya kita putus saja," ucap aku akhirnya.


Nasih tentu saja membulat bola matanya saat aku berkata demikian. Bahkan tangan laki-laki itu menyentuh keningku untuk memastikan kalau aku baik- baik saja dan tidak dalam keadaan panas badanku. Aku menyipitkan bola mataku   saat Nasih menyentuh keningku.


"Tidak panas! Tapi kenapa jadi eror. Tidak ada angin dan hujan tiba-tiba minta putus," omel Nasih.


"Kita lebih baik putus, bang! Daripada jauh dan kita saling berprasangka. Aku merasa tidak sanggup," ucap Aku. Nasih mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Apa kamu takut jika kangen sama aku ketika kita berjauhan?" sahut Nasih dengan percaya diri.

__ADS_1


Aku menjulurkan lidahnya langsung. Betapa pria tampan di sebelahku ini sangat percaya diri. Memang aku akui, Nasih memiliki kharisma dan daya tarik. Tidak heran jika aku sering dibuat cemburu ketika banyak gadis-gadis mahasiswa yang ikut organisasi kemahasiswaan mendekati Nasih. Mereka seperti mencari perhatian pada Nasih.


"Aku takut tidak bisa setia saja, bang!" sahut Aku. Nasih spontan menepuk jidat ku. Asifa terkekeh saat ditepuk jidatnya.


Cukup lama kami tertawa bercanda. Sampai akhirnya Nasih kembali bicara serius.


"Kenapa kamu menyerah dan minta putus? Apakah kamu sudah tidak menyukai aku? Apa kamu tidak ingin menjadi istriku suatu hari nanti?" ucap Nasih.


Ucapan Nasih begitu terdengar lucu bagiku. Aku tertawa setelah mendengar ucapan itu. Kembali hidungku menjadi sasaran ditarik oleh bang Nasih.


"Abang bicara seolah-olah akulah wanita yang abang sayangi. Seolah-olah abang yakin kalau aku bakal menjadi istri abang," sahut Aku sambil terkekeh. Nasih hanya nyengir kuda. Pria itu memang selalu tersenyum ketika aku mengajaknya bercanda.


"Sekarang ini memang aku masih menyayangi kamu. Dan juga serius. Harapannya bisa menjadikan kamu istri," ucap Nasih dengan tersenyum.


"Aku sih berpikir, cepat atau lambat abang mendapatkan seorang yang lebih sempurna dibanding diriku. Apalagi tampang abang tidak jelek-jelek amat," kata aku dengan tertawa.


Bang Nasih ikut tertawa. Sesaat aku menatap wajah tampan pria yang Indeks prestasi nya selalu tinggi. Aku baru menyadarinya kalau bang Nasih memang sangat tampan.


"Ada apa? Jangan terus menerus melihat wajahku yang ganteng ini. Nanti jadi tidak bisa tidur loh," ucap bang Nasih.


"Ternyata abang ganteng juga yah. Makanya banyak cewek-cewek yang suka mendekati abang," kata aku seraya terkekeh. Nasih terlihat mencebikkan bibirnya sendiri mendengar pujianku.


"Pokok nya walaupun kita berjauhan, kita tetap komunikasi dan saling perhatian seperti biasa," ucap Nasih akhirnya.

__ADS_1


"Tapi setelah ini aku akan kembali ke kampung halamanku, Palembang . Aku akan mengajar sesuai gelarku sekarang," sahut aku.


"Iya, aku tidak melarang kok! Demikian juga aku pun akan melanjutkan S2 ku. Pokoknya kita capai dulu cita-cita kita. Oke? Percaya saja kalau kita bakal berjodoh," kata Nasih dengan percaya diri.


"Aamiin!" sahut aku pelan.


Namun sejatinya aku merasa belum yakin kalau hubungan kami bakal sampai ke pernikahan. Namun seperti yang sudah dikatakan oleh bang Nasih, aku dan dia tetap menjalin hubungan. Walaupun setelah ini kami akan terpisah jarak karena kita beda pulau dan dipisahkan oleh lautan yang luas.


Seperti layaknya berpacaran anak muda sekarang, bang Nasih mengajak ku jalan. Kebetulan pagi ini aku belum membeli makanan ataupun masak sendiri. Dengan kendaraan beroda dua, kami menyusuri jalan ke kota. Jangan lupakan kalau aku sudah mandi dan berdandan rapi. Dengan celana jeans dan kemeja kotak-kotak berwarna biru warna favorit ku, aku membonceng di belakang kendaraan bermotor milik bang Nasih.


"Pegangan yang kuat, Sifa! Aku mau ngebut," ucap bang Nasih dengan suara sedikit keras.


"Modusnya gak ilang-ilang," sahut aku seraya mengomel. Mau tidak mau aku berpegangan  di kedua pinggang bang Nasih.


⭐⭐⭐⭐⭐


Ketika malam kembali gelap. Aku masih di dalam kamar menatap langit-langit kamar.


Jika aku bisa menghapus rasa ini,selayaknya kertas yang di coret, mungkin aku tidak pernah punya harapan untuk bersamamu. Kurasa,ini bukan rasa cinta melainkan berawal dari kekagumanku ke kamu yang menjadikan aku berambisi untuk mendapatkan mu. Lebih tepatnya menginginkanmu sebagai pemimpin imamku dikemudian hari. Apakah Itu wajar, jika ada seseorang laki-laki yang mengagumi ku. Selayaknya seorang yang tertarik dengan lawan jenis. Apalagi pria itu memiliki paras yang tampan, penampilan yang menarik dan punya kepribadian unggul.Aku menginginkan seorang laki-laki yang kelak mendukung semua karier dan tujuan hidupku. Menjadi guru dan mengajar di sekolah dan bila memungkinkan menciptakan lapangan pekerjaan mandiri untuk kemaslahatan orang banyak.


Aku bukan siapa- siapa, aku lahir dari keluarga yang bukan agamis. Aku mencari kebenaran dari berbagai sumber. Lebih tepatnya aku mencari sosok Guru spiritual yang bisa menuntunku dari segala aspek. Aku bukan wanita yang sempurna karena aku masih belajar.


Lalu,apakah aku menyerah dengan latar belakang keluarga yang berbeda ini. Sedang aku sudah terlanjur menaruh harapan besar dengan laki-laki itu. Laki-laki yang aku kagumi dan idolakan sejak dulu. Selain pandai berorasi,dia juga tekun dan rajin. Aku  ingin mendukung dan memotivasi nya dalam kegiatan yang bermanfaat. Terlebih lagi, dia suka mengumpulkan anak anak yang tidak mampu untuk bersekolah di pesantren orang tuanya. Membina anak anak itu agar lebih mandiri dengan memberikan pengetahuan bercocok tanam, berternak kambing,beternak ikan,beternak ayam dilahan belakang pesantren bapak.

__ADS_1


__ADS_2