RINDU YANG TAK TERGAPAI

RINDU YANG TAK TERGAPAI
Bab 8 Kangen


__ADS_3

"Bagaimana kegiatan kamu hari ini, Sifa?" Tanya Nasih pada Asifa melalui sambungan telepon.


Saat ini Asifa sudah di rumah setelah seharian di sekolah. Menjadi guru honorer tentu pendapatan nya dalam satu bulan belum memenuhi kebutuhan. Namun karena Asifa masih ikut orang tuanya, orang tua nya masih menanggung semua kebutuhannya termasuk jajan dan bensin untuk berangkat ke sekolah menjadi guru honorer. Namun demikian ini bukan suatu masalah karena seiringnya waktu Asifa bisa menjadi guru tetap maupun guru pegawai negeri yang mendapatkan gaji sesuai pendapatan minimum. 


"Pokoknya nyebelin banget, bang! Apalagi kalau sudah berhadapan dengan guru senior di sekolah itu. Awak akan dipandang sebelah mata saja," adu Asifa. Nasih yang mendengar Asifa menceritakan tentang kekesalannya hari ini jadi terkekeh-kekeh. Asifa jadi tambah sebal karena kekasih nya justru mentertawakan dirinya. 


"Abang kenapa mentertawakan aku sih?" protes Asifa. Kekasihnya yang diseberang sana justru semakin terkekeh.


"Habis kamu lucu, sayang! Ya sudah, jangan diambil hati yah," sahut Nasih dengan sikap sabarnya.


Beberapa detik keduanya diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Ada rasa rindu yang menggunung. Namun jarak diantara keduanya sekarang terpisah diantara lautan yang membentang.


"Hem, bagaimana dengan abang sendiri?" tanya Asifa.

__ADS_1


"Tidak ada masalah dong! Oh iya, aku mau kasih kamu nih. Ada sedikit rejeki dari mengisi seminar kemarin. Uangnya bisa buat jajan kamu atau keperluan lainnya seperti skincare,hehe," kata Nasih.


"Ndak usah bang! Bukan kewajiban kamu untuk memberikan aku uang. Bukankah aku di sini masih ada bapak dan ibu? Lebih baik abang simpan saja untuk keperluan kuliah abang di sana. Biaya kuliah S2 mungkin juga banyak bukan?" kata Asifa.


"Aku juga masih punya orang tua yang mampu membiayai sekolah ku yang lebih tinggi. Jadi diterima saja yah, calon suamimu ini sudah mulai menghasilkan cuan," desak Nasih. Asifa diam dan bingung. Dia takut kalau di bilang sudah menuntut kekasih nya soal materi.


"Hai malah diam! Habis ini aku transfer ke rekening kamu yah. Kamu bisa ikut menikmati nya. Jajan bakso atau mie ayam," kata Nasih.


"Gak enak banget kalau jajan ndak ada kamu, bang! Aku kangen tau!" ucap Asifa.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku di sini?" kata Asifa.


"Tinggalin saja!" sahut Nasih seenaknya. Dia memang paling paham siapa Asifa. Makanya pria itu suka sekali asal bicara karena meninggalkan kewajiban nya itu bukan tipe Asifa.

__ADS_1


"Beneran nih? Aku boleh ke Jakarta?" kata Asifa mulai nekat.


"Eh kamu ini? Baru juga beberapa hari mulai mengajar di sekolah di tempat baru, sudah main bolos saja," omel Nasih akhirnya. Asifa cemberut dibuat kekasih nya itu.


"Habis gak enak hidup di kampung itu. Apalagi jauh sama abang," keluh Asifa.


"Ya sudah, nanti aku usahakan supaya kamu bisa mengajar di yayasan yah. Ajaran baru nanti kamu bisa mulai mengajar di sini," janji Nasih.


"Lama lagi nunggu nya. Masih satu tahun lagi dong!" protes Asifa.


"Eh kamu! Kamu tidak boleh lari dari tanggung jawab dong, sayang! Paling tidak habiskan dulu satu semester mengajar di sana. Oke?" kata Nasih.


"Baiklah! Padahal aku sudah kangen banget dengan kamu," rengek Asifa.

__ADS_1


"Iya, aku tahu itu kok! Aku juga lebih kangen kamu, Sifa!" sahut Nasih membuat Asifa kembali berbunga-bunga.


__ADS_2