
Didalam kamar Asifa dengan Ita sedang asyik ngobrol. Asifa, sudah membereskan barang barangnya untuk dipaketkan ke kampungnya. Iya, setelah ini Asifa meninggalkan universitas negeri yang ia cintai dan kostnya yang letaknya di dekat kampusnya. Waktu 9 semester telah ia lalui hingga kini sudah wisuda, meninggalkan kenangan bersama kawan kawan kampusnya maupun kawan organisasi kemahasiswaan yang ia ikuti. Perjumpaan Nasihin di organisasi kemahasiswaan itu memberi kesan mendalam sampai hubungan yang erat terjalin dengan Nasihin.
"Rasanya baru kemarin kita menjalani Ospek di kampus ini yah. Kini sudah tiba saatnya, terjun ke masyarakat mengaplikasikan ilmu yang kita dapatkan saat belajar di kampus," ucap Ita.
Asifa masih terlihat sibuk memasukkan barang-barangnya termasuk buku-buku yang berkaitan dengan ilmu yang dia tekuni selama ini.
"Iya kamu benar, Ita! Paling tidak beberapa tahun ini kita bersama-sama jadi keluarga, bersamamu aku mulai belajar banyak. Dan kamu sahabat yang paling baik," sahut Asifa.
"Kamu juga, Sifa! Aku juga banyak belajar dengan kamu. Kamu sahabat yang paling pengertian," ucap Ita.
Asifa tersenyum lebar dan menghentikan aktivitas nya membereskan barang-barangnya yang akan Asifa paketkan terlebih dahulu ke kampung halaman nya.
"Oh Iyah, bagaimana kabar kamu dengan Nasih?" tanya Ita. Asifa menyipit bola matanya seraya menatap ke arah Ita.
"Aku dan abang baik-baik saja. Sebenarnya kemarin itu aku mengajaknya putus hubungan. Tapi abang gak mau," jawab Asifa.
"Kamu ini sangat aneh! Ngapain ngajak putus coba? Nasih itu selain ganteng, pinter, aku rasa dia berasal dari keluarga yang terpandang. Bahkan cewek-cewek kampus saja berusaha menarik perhatian Nasih. Kamu malah ingin mengajaknya putus," omel Ita.
Asifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelahnya menjatuhkan tubuh nya ke atas kasur di mana Ita dari tadi tiduran di atas tempat tidur kamar kost nya.
"Habisnya setelah ini aku kan pulang kampung dan mulai mengajar di sana. Hubungan jarak jauh itu gak enak, Ita. Setiap malam minggu tidak apel. Terus tidak ada agenda jalan-jalan, makan, nonton film bersama. Duh, mana enak pacaran jarak jauh yang hanya teleponan dan chating doang," kata Asifa panjang lebar. Ita menepuk jidat Asifa pelan. Asifa hanya bisa nyengir kuda.
"Kamu ini benar-benar yah!" sahut Ita.
"Sebenarnya kami sama-sama sepakat meneruskan cita-cita masing masing. Aku mengajar menjadi guru dan abang melanjutkan kuliah S2 nya. Dan abang tetap ingin menjalin hubungan dengan ku. Walaupun kita terpisah jarak yang cukup jauh," terang Asifa.
"Bagus itu!" sahut Ita.
"Aku tidak yakin jika pacaran jarak jauh ini, abang Nasih bisa setia. Kamu tahu dengan pasti bukan saat aku di dekatnya saja cewek-cewek tetap berusaha mencari perhatian dan berusaha mendekati bang Nasih. Padahal jelas-jelas mereka sangat tahu kalau aku ini kekasihnya. Aku adalah pacar nya," ucap Asifa yang terlihat geram jika mengingat hal itu. Ita justru terkekeh mendengar nya.
"Resikonya punya pacar yang ganteng, pinter dan tajir. Selain itu cool dan kharismatik. Jelas-jelas tidak ada cewek yang tidak mengidolakan pria seperti Nasih itu," kata Ita.
"Pacaran jarak jauh pasti bikin sakit perut," sahut Asifa. Ita langsung mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Sakit perut gimana, maksud kamu?" ucap Ita.
"Aku pasti kangen dengan abang. Terus aku malas makan hingga perut ku jadi sakit," jelas Asifa. Ita tertawa lepas mendengar ucapan Asifa.
"Asifa, Asifa! Kangen artinya kamu benar-benar menyayangi Nasih," ucap Ita.
"Ih menyebalkan banget. Apa enaknya jika kangen tidak bisa ketemu. Kalaupun ketemuan nunggu liburan. Aku sibuk demikian juga abang," kata Asifa.
"Hehehe sudahlah, Sifa! Jalani saja dulu," ucap Ita berusaha membuat Asifa tidak terlalu berpikir jauh.
"Aku juga tidak yakin bisa setia loh," sahut Asifa.
Ucapan itu sukses mendapat pukulan dengan bantal di badan Asifa oleh Ita. Asifa tertawa terbahak-bahak seraya ikut membalas memukul Ita dengan bantal. Jangan lupakan kalau bantal yang mereka pakai untuk memukul bukan bantal dari kapas yang jahitan nya tidak kuat hingga kapasnya berterbangan mengotori ruangan. Namun bantal yang mereka gunakan berbahan lain.
"Oh iya, Nasihin akan melanjutkan kemana sih?" tanya Ita.
"Dia sudah diterima di UI, ambil Fakultas Ilmu sosial dan ilmu politik. Aku berdoa supaya abang sukses dan cepat lulus S2 nya. Kalau cepat lulus kan bisa melamar aku," sahut Asifa. Ita yang mendengar nya terkekeh.
"Dasar gatel! Kenapa kamu tidak nikah saja sekarang ini? Terus kamu nyari kerjaan di kota di mana berdekatan dengan Nasih. Jadi kalian tidak perlu berpacaran jarak jauh," kata Ita. Asifa diam seperti berpikir.
"Hooh! Bagaimana menurut kamu?" tanya Ita.
"Aku sih mau-mau saja! Tapi bang Nasih masih kuliah dan belum bekerja," kata Asifa.
"Nah, ya sudah! Ajak Nasih kamu itu nikah. Bekerja dan kuliah kan bisa berjalan setelah kalian hidup bersama dalam sebuah pernikahan," ucap Ita. Asifa diam dan terlihat mulai menimbang-nimbang.
"Bagus juga masukan kamu. Tapi bagaimana kalau aku hamil, terus aku melahirkan anak? Bakalan repot gak tuh? Setelah itu aku tidak bekerja lagi dong. Karier ku sebagai seorang guru terhenti," ucap Asifa.
"Apakah itu sangat penting menurut kamu? Masalah bekerja itu tanggung jawab Nasih sebagai suami kamu yang menafkahi istri dan anaknya," kata Ita.
"Benar! Menjadi guru adalah cita-cita ku sejak dulu. Kalau aku harus berhenti mengajar dan fokus menjadi ibu rumah tangga dan istri, rasanya kok seperti sia-sia aku kuliah sampai di pulau ini yang pada akhirnya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak saja tanpa harus mengajar di sekolah," protes Asifa. Ita menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan Asifa.
"Soal itu kamu bisa membicarakan nya pada Nasih, bagaimana supaya kamu bisa tetap mengajar walaupun sudah menjadi istrinya," sahut Ita. Asifa kembali diam dan mulai mencerna ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ita,kamu tahu? Aku merasa sekarang ini kok tidak yakin, hubungan ini bisa langgeng sampai kami menikah," Kembali Asifa ragu dengan hubungan nya dengan Nasih.
"Itu lagi yang dibahas! Bukannya tadi sudah aku katakan jalani saja dulu. Soal kalian berjodoh atau tidak yang terpenting kalian sudah berupaya dan berdoa," sahut Ita.
"Aku lihat kamu dengan bang Nasih itu pasangan yang cocok. Semoga saja hubungan kalian bisa sampai ke pelaminan dan kalian berjodoh," sambung Ita.
"Aamiin! Iya deh, aku harus optimis dengan hubungan ini," sahut Asifa.
"Cuma dalam hatiku berdoa juga jika bang Nasih tidak berjodoh dengan ku, abang akan mendapatkan jodoh yang lebih pas dan sempurna dibanding aku," kata Asifa.
"Kamu ini, jangan putus asa begitu dong! Perjalanan masih panjang," sahut Ita.
"Bukan putus asa, Ita! Cuma sadar diri saja," ucap Asifa. Ita mengerutkan dahinya lalu mulai membenarkan duduknya menatap sahabat nya yang sedang tiduran di sampingnya.
"Bagaimana kalo kamu ke Jakarta saja supaya dekat dengan Nasih dan rasa ketakutan kamu kehilangan Nasih hilang. Ini akan mendekatkan pada calon suami dan jodoh kamu," usul Ita.
"Apa tidak mengganggu abang jika aku didekatnya? Semakin dekat dan keseringan bertemu, apa tidak menimbulkan fitnah? Terus terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," kata Asifa.
"Ih kamu itu nyebelin sih! Pacaran jauh ingin putus. Saat aku usulkan berdekatan dengan Nasih, takut terjadi sesuatu yang enak-enak. Terus mau kamu apa? Terus aku usulkan menikah cepat tidak mau," omel Ita.
"Ah sudahlah! Bingung aku. Ayo lebih baik kita cari makan saja dulu! Sudah lapar nih," kata Asifa akhirnya. Ita hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
⭐⭐⭐⭐⭐
Di warung makan sederhana Asifa dan Ita menikmati hidangan yang mereka pesan. Asifa terlihat kurang berselera makan berbanding terbalik dengan Ita.
"Aku mau bantu kamu agar kamu bisa kembali merantau di Jakarta. Pokok nya nanti aku minta fotocopy ijazah kamu yang sudah dilegalisir beserta persyaratan yang lain nya. Jika sewaktu-waktu kamu mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Jakarta, kamu bisa mengajar dan bekerja di sini saja," kata Ita. Asifa menoleh ke arah Ita. Sejak tadi Asifa hanya memainkan sendok di piringnya tanpa makan sesuap pun.
"Terserah kamu saja deh! Tapi aku ke Palembang dulu. Kalau sudah pasti dapat kerjaan di Jakarta, mungkin bisa aku pertimbangkan lagi," ucap Asifa akhirnya.
"Nah begitu dong! Ayo sekarang di makan soto babad nya. Dari tadi dibiarkan saja tidak di makan," kata Ita.
"Iya iya, ini mau di makan," sahut Asifa akhirnya. Dia mulai menyendok soto di piringnya sedikit demi sedikit dan memasukkan nya ke dalam mulutnya. Asifa masih memperhatikan sahabatnya itu seraya tersenyum.
__ADS_1
"Kalau kangen Nasih kamu itu, telepon saja dia! Jangan sampai kamu tidak berselera makan seperti itu. Yang ada nanti kamu sakit. Kalau sakit yang repot siapa?" omel Ita.
"Paling kamu yang repot! Bang Nasih mana peduli dengan aku," sahut Asifa dengan menjulurkan lidahnya ke arah Ita. Ita spontan menarik hidung sahabatnya lantaran gemas.