
"Ibu, aku tidak mencintai Supri, ibu. Ibu jelas tahu kalau aku sudah punya pacar dan sekarang masih kuliah di Jakarta," terang Asifa pada ibu nya saat ibu kandung Asifa mengatakan sesuatu pada Asifa bahwasanya sebelum Asifa kembali ke kampung nya ada satu keluarga datang ingin menjodohkan dengan Asifa.
Ibu Asifa yang bernama bu Marwah dan ayahnya Asifa bernama pak Dirja belum bisa mengambil keputusan. Semua karena belum membicarakan pada Asifa, putri nya.
"Pacar kamu itu belum pernah ke sini, Sifa! Bahkan ibu dan ayah belum pernah ketemu dengan pacar kamu. Apa benar dia serius akan menikahi kamu, Sifa? Sedangkan usia kamu sudah cukup untuk menikah. Apalagi ada yang serius melamar kamu. Bahkan sekeluarga juga sudah bicara dengan ibu dan ayahmu," sahut bu Marwah.
"Namanya Nasih bu. Kami serius untuk menikah. Tapi untuk sekarang ini kami menunda dulu untuk menikah. Selain bang Nasih masih melanjutkan kuliah s2 nya, aku juga baru memulai bekerja menjadi guru. Walaupun aku masih menjadi guru honor, bu!" kata Asifa.
Bu Marwah dan pak Dirja saling berpandangan. Keduanya sama-sama menarik napas panjang. Mereka memaklumi kalau Asifa sebenarnya belum siap menikah.
__ADS_1
"Ya, ya semua kami serahkan pada kamu, Sifa. Kamu yang menentukan pasangan hidup kamu. Cuma kami berharap, jika pacar kamu itu serius ingin menikahi kamu, mbok ya setidaknya sekali saja datang ke rumah ini, bicara dengan kami ayah dan ibu kamu ini. Jadi kalau ada seseorang yang mau melamar kamu, kami bisa menolaknya bukan? Terus jangan lama-lama juga. Kami tidak mau kamu ini menjadi perawan tua," ucap pak Dirja saling panjang dan lebar. Bu Marwah ikut manggut-manggut membenarkan.
"Bagaimana, Sifa?" sahut bu Marwah.
"Mas Nasih baru saja kuliah S2 nya. Lagipula selain kuliah, dia juga bekerja mengurus bisnisnya dan juga menjadi pemateri dalam seminar. Jadi aku tidak yakin, bu, yah! Kalau mas Nasih dalam waktu dekat ini bisa datang ke sini menjumpai ibu dan ayah," kata Asifa.
Bu Marwah dan pak Dirja saling berpandangan. Keduanya lalu tersenyum lebar.
"Hah? Apa itu tidak sopan to, yah? Masa mau bicara serius ingin mengikat aku pakai video call? Terus kalau putus hubungan apa juga video call?" protes Asifa.
__ADS_1
Pak Dirja dan bu Marwah terkekeh mendengar ucapan Asifa.
"Memang lebih baiknya, mas Nasih mu itu datang ke sini bersama orang tua nya. Yah, minimal kalau laki-laki yah datang sendiri tidak masalah. Yang penting ada pernyataan yang jelas kalau kamu mau diikat oleh beliau nya. Jangan sampai kamu menunggu-nunggu dia, tapi ternyata tanpa kamu tahu, pacar kamu itu sudah bertunangan atau bahkan menikah," terang pak Dirja lagi.
"Nah, betul itu Sifa! Nanti bisa-bisa kamu patah hati loh!" sahut bu Marwah.
Asifa diam membisu. Benar kalau Nasih gosipnya telah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tua nya. Bahkan katanya kedua keluarga besar antara Nasih dan gadis itu sudah saling bertemu membicarakan rencana pernikahan mereka. Namun demikian Nasih sendiri masih berhubungan dengan Asifa. Hal inilah yang mungkin ditakutkan oleh orang tua nya. Di mana anak gadisnya tidak ingin mengalami kegagalan dalam bercinta.
"Nanti saya sampaikan pada mas Nasih soal ini yah, bu, Yah!" kata Asifa akhirnya.
__ADS_1
"Nah, iya! Bilang dengan kekasih kamu itu, kalau di kampung ini sudah banyak pria yang ingin melamar kamu. Kalau tidak buru-buru mengikat kamu, jangan salahkan kami kalau menerima lamaran salah satu dari mereka," ucap bu Marwah.
Asifa terlihat tertunduk lesu. Dirinya sekarang juga mulai ragu dengan hubungan nya dengan Nasih. Mengingat Rosi pernah mengaku kalau dirinya adalah tunangan dari Nasih. Makanya gadis itu ikut melanjutkan kuliah nya di kota besar supaya dekat dengan Nasih.