RINDU YANG TAK TERGAPAI

RINDU YANG TAK TERGAPAI
Bab 3 Cemburu


__ADS_3

Pagi ini sangat cerah. Angin bertiup sepoi-sepoi. Pohon pohon melambai- lambai menari tarian alam yang penuh keakraban. Masih dilingkungan kampus dengan tempat kost Asifa yang tidak jauh dari Fakultas Bahasa dan Sastra. Dengan kecepatan sedang, Nasih mengendarai motornya menuju kost Asifa. Dikeluarkannya ponsel yang ada di dalam tasnya. Nasih mengetik sesuatu di ponsel nya.


"Abang sudah di depan kost," tulis Nasih.


"Bentar adik keluar," balas Asifa.


"Assalammualaikum bang! Sudah lama di luar?" sapa Asifa saat dia sudah berada di depan kost nya.


Asifa berjalan menghampiri pemuda yang masih duduk di atas motor nya. Pemuda itu cukup tampan dan berpenampilan menarik. Diambilnya tangan kanan Nasih dan dicium punggung tangannya oleh Asifa. Kebiasaan itu selalu dilakukan oleh Asifa setelah mereka berpacaran.


"Cukup lama sih? Dandan dulu biar cantik yah?" tebak Nasih. Asifa tersenyum seraya menepuk baju pemuda yang masih berada di atas motor nya itu.


"Tidak duduk dulu bang? Mau minum mungkin?" tawar Asifa.


"Tidak usah! Kita langsung berangkat saja. Sebentar lagi acara nya akan dimulai," kata Nasih. Asifa masih saja berdiri bengong belum juga naik ke atas boncengan motor pemuda tampan itu.


"Ayo Asifa naik! Tunggu apa lagi?" ucap Nasih memerintah.


"Oke, baiklah!" kata Asifa seraya naik ke atas boncengan kendaraan beroda dua itu. Setelah nya, Nasih mulai menghidupkan mesin motor nya.


"Sudah siap?" tanya Nasih memastikan.


"Sudah, bang! Ayo berangkat!" sahut Asifa. Namun Nasih kembali mematikan mesin motor nya karena dia merasa ada yang belum lengkap.


"Mau begini saja, tidak bawa baju ganti?" tanya Nasih seraya menengok ke belakang di mana Asifa masih duduk di boncengan motor Nasih.


"Oh iya, lupa! Sebentar adik ambil dulu yah!" kata Asifa tanpa merasa bersalah.


Nasihin menggelengkan kepalanya dan menatap Asifa dengan langkahnya yang terburu - buru. Tidak lama kemudian, Asifa sudah kembali keluar  dengan membawa tas ransel dipundaknya dan tas selempang kecilnya untuk menyimpan ponsel dan dompetnya.


"Ayo sekarang kita berangkat!" ajak Asifa bersemangat.


"Sudah pamit dengan Ibu kost belum? Minimal bilang sama kawan kost yang lain biar mereka tidak mencari kamu," ucap Nasih.


"Sudah Abang Sayang!" sahut Asifa.


"Hehe! Yo wes pegangan yang kuat!" kata Nasih seraya menjalankan motor nya meninggalkan tempat kost Asifa.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah tiba di lokasi latihan kaderisasi kemahasiswaan, Asifa lebih memilih tidak bergabung dengan anak-anak yang lain. Asifa duduk sendiri menyelesaikan tulisannya. Di kejauhan Asifa menatap pemuda tampan yang berkharisma itu yang tidak lain adalah Nasih. Namun tiba-tiba Asifa menjadi cemburu ketika seorang gadis mendekati Nasih dengan gaya centilnya. Namun demikian Asifa berusaha fokus dengan tulisannya.


Asifa merasa cemburu hanya melihat Nasih dekat dengan gadis yang bernama Rosi. Demikian halnya Rosi pun merasa tidak suka ketika Nasih datang dengan mengajak pacarnya yaitu Asifa.


Rosi tampak agak sedikit terganggu dengan hadirnya Asifa. Iyah Rosi dari dulu suka dengan Nasih dan pernah mengungkapkan perasaannya pada Nasih. Tentu saja Asifa tahu, Naluri wanita jarang sekali salah.


Asifa bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet wanita yang letaknya tidak jauh dari ruangan panitia.


Asifa memperhatikan kedekatan Nasih dengan Rosi. Ada sesak rasanya menghimpit dadanya. Mungkin kecemburuan sudah merasuk dipikirannya. Asifa tidak cukup berani kembali mendekati ruangan panitia itu. Akhirnya Asyifa memilih duduk santai di bangku panjang dibawah pohon mangga. Dikeluarkan ponselnya didalam tas kecilnya.


Namun saat sesi berikutnya dengan pemateri bang Nasih, Asifa mulai masuk ke gedung di mana para kaderisasi duduk di kursi masing-masing. Dan Asifa ingin melihat Nasih membawakan materinya.


Asifa pelan pelan melangkahkan kakinya keruangan gedung tempat pengkaderan berlangsung. Akhirnya Asifa duduk di kursi belakang yang masih kosong yang letaknya dipojok tidak jauh dari peserta kader duduk.


Sambil mengamati Nasih memberikan materi.. Asia menatap penuh kekaguman pemuda itu hingga mata nya tidak berkedip. Sesekali Asifa tersenyum kecil menatap Nasih yang memberikan arahan dan teori-teori itu. Merasa diperhatikan oleh Asifa sesekali Nasih ikut membalas dengan senyum kecilnya. Hanya mereka saja yang tahu,rasanya lempar lempar senyuman yang tak jelas itu.


Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik lengan Asifa hingga keluar dari ruangan itu.


"Heh, kamu itu jangan sok kecentilan yah! Kamu itu tidak pantas dekat-dekat dengan bang Nasih. Karena bang Nasih itu telah dijodohkan dengan aku," ucap Rosi. Asifa mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Rosi.


"Oh iya? Kok Nasih tidak bilang itu padaku. Nasih hanya bilang kalau aku lah yang akan menjadi calon istrinya," sahut Asifa tidak kalah membuat emosi Rosi. Rosi melebar bola matanya karena Asifa seperti menantang dirinya dan tidak mempercayai ucapannya.


"Terserah saja kalau kamu tidak percaya! Orang tua ku dan orang tua bang Nasih telah sepakat untuk menjodohkan kami. Jadi, mulai sekarang kamu jangan lagi dekat-dekat dengan bang Nasih. Karena mulai sekarang bang Nasih adalah pacar sekaligus calon suamiku," ucap Rosi seraya mendorong tubuh


Asifa hingga terdorong ke belakang. Sementara itu setelah berkata seperti itu Rosi pergi meninggalkan Asifa yang masih berdiri mematung di dalam gudang itu.


"Apa benar yang dikatakan  Rosi kalau mereka telah dijodohkan oleh orang tua mereka?" gumam Asifa.


*****


Setelah selesai mengisi materi di acara pengkaderan organisasi kemahasiswaan, Nasih mencari keberadaan Asifa. Sementara jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sementara Asifa menyingkir dari gedung serba guna itu ke suatu tempat tidak jauh dari lokasi kegiatan.


"Kak Nasih!" panggil Rosi yang mendapati Nasih celingukan mencari keberadaan Asifa. Sekarang ini mereka berada di luar gedung serba guna. Merasa dirinya dipanggil, Nasih menengok ke arah Rosi. Rosi mendekati Nasih.


"Rosi, kamu tahu di mana Asifa?" tanya Nasih.

__ADS_1


"Tidak! Sejak tadi aku tidak melihat nya," sahut Rosi disertai gelengan kepalanya. Nasih mulai berpikir, kemana Asifa pergi.


"Kemana  Asifa yah?" gumam Nasih.


"Mungkin di kamar mandi wanita," sahut Rosi.


"Tadi aku sudah mencarinya di sana. Tapi tidak ada kok," ucap Nasih. Nasih berjalan menuju parkiran di mana motor nya terparkir di sana.


"Kak Nasih mau kemana kak? Aku ikut!" ucap Rosi. Nasih mengerutkan dahinya menatap ke arah Rosi.


"Maaf, kamu tidak boleh ikut. Aku hanya mencari Asifa sebentar kok," tolak Nasih. Hal itu sukses membuat bibir Rosi seketika manyun ke depan.


"Ih nyebelin banget sih? Kenapa juga harus Asifa yang selalu diperhatikan oleh kak Nasih. Padahal jelas-jelas aku ini wanita yang akan menjadi calon istrinya kak Nasih. Bukankah aku dan kak Nasih telah dijodohkan orang tua kita," protes Rosi. Nasih tidak memperdulikan Rosi yang menggerutu.


"Maaf, Rosi! Asifa adalah kekasihku. Tadi aku datang bersama dengan Asifa karena akulah yang mengajaknya ke acara pengkaderan ini," kata Nasih sambil menghidupkan mesin motor nya dan dengan cuek meninggalkan Rosi yang cemberut dan masih berdiri mematung di tempat itu.


"Nyebelin banget sih! Semua gara-gara Asifa! Aku akan mengadukan semua ini pada mama papa," ucap Rosi geram sambil menghentakkan kaki nya karena marah.


Sementara itu Nasih yang mengendarai motor nya mencari keberadaan Asifa. Laju kendaraan nya dijalankan dengan pelan sambil matanya celingukan ke pinggir jalan.


"Ya ampun, itu kan Asifa! Syukur lah kalau dia ada di warung bakso itu, hehehe," gumam Nasih dengan tersenyum lebar. Dia telah lega bisa menemukan Asifa nya yang sekarang ini sedang berada di warung bakso.


"Aku yang sibuk nyariin dia. Dianya malah enak-enakkan makan bakso sendirian tanpa rasa bersalah. Awas saja, akan aku tarik hidung nya yang mancung tertunda itu," ucap Nasih dengan tertawa sendiri.


Benar saja! Asifa memiliki hidung yang tidak begitu mancung. Ini perbandingan dengan hidung Nasih yang mancung. Makanya Nasih suka sekali menarik hidung Asifa supaya lebih panjang daripada Pinokio.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah menemukan Asifa di warung bakso itu, Nasih pun ikutan memesan bakso dan juga es jeruk. Sedangkan Asifa yang sudah selesai dengan satu mangkok baksonya menatap wajah Nasih yang sedang menikmati bakso nya.


"Jadi benar? Kalau abang dan Rosi telah di jodohkan oleh orang tua kalian?" tanya Asifa. Nasih terlihat mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Asifa. Hampir saja Nasih tersedak mendengar pertanyaan dari Asifa. Asifa menyodorkan air minum untuk laki-laki yang membuat dirinya jatuh hati.


"Kamu tahu dari mana?" sahut Nasih. Asifa menyipitkan bola matanya.


"Jadi benar kalau kalian sudah dijodohkan oleh orang tua kalian? Astaga! Ternyata aku keliru menilai Rosi. Rosi benar! Aku harus menjauh dari bang Nasih," ucap Asifa.


Raut wajahnya tiba-tiba menjadi sedih. Nasih menghentikan acara makan baksonya dan segera membayar bakso yang telah dimakan oleh dirinya dan juga Asifa. Setelahnya mengajak Asifa membonceng motor nya. Dia ingin menjelaskan semuanya pada Asifa. Iya, semua nya supaya Asifa tidak salah paham dengan perjodohan itu.

__ADS_1


__ADS_2