
Asifa dan Nasih kembali ke lokasi pengkaderan diselenggarakan. Diperjalanan mereka tidak banyak yang diobrolkan. Demikian Asifa masih saja diam, enggan untuk memulai bicara. Pertanyaan belum di jawab oleh Nasih. Tentu saja hal itu membuat Asifa geram.
"Jadi benar kalau kalian sudah dijodohkan oleh orang tua kalian?" kembali Asifa bertanya.
Namun sebelum sampai di lokasi pengkaderan, Nasih menghentikan laju motor nya di kafe. Dia menarik tangan Asifa untuk masuk ke dalam kafe itu. Pilihannya adalah di sudut ruang kafe itu supaya Nasih bisa menjelaskan semuanya. Selesai memesan minuman dan pelayan kafe mengantarkan minuman pesanan Nasih, baru dia mulai bicara dengan Asifa.
"Aku menyukai kamu, Asifa! Dan aku pikir selama nya akan seperti itu. Dan soal Rosi, memang dia telah dijodohkan dengan aku. Tapi aku tidak mau. Itu saja!" jelas Nasih. Asifa menatap lekat wajah serius Nasih.
"Tapi kedua orang tua kalian sudah sama-sama sepakat untuk menyatukan kamu dan Rosi, bang! Jadi..." ucap Asifa. Asifa tidak melanjutkan bicaranya. Nasih meraih tangan Asifa lalu menggenggam nya.
"Jadi aku harus menyudahi hubungan dengan kamu, bang!" sambung Asifa. Nasih melebar bola matanya. Dikecup dengan lembut punggung tangan Asifa dengan lembut.
"Tidak! Aku tidak mau! Sudahlah Asifa, sayang! Jangan lagi bicara soal putus hubungan. Bukankah kemarin kita sudah membahas nya?" sahut Nasih.
"Tapi bang!" ucap Asifa.
"Perjalanan kita masih panjang. Lagipula aku juga masih melanjutkan kuliahku. Demikian halnya kamu sendiri akan memulai karier kamu sebagai seorang pengajar," kata Nasih.
Asifa diam. Dia menyesap kopi cappucino dingin di depan nya. Demikian hal nya Nasih. Sementara keduanya hening dalam sibuknya pikiran masing-masing.
⭐⭐⭐⭐⭐
Setiba di lokasi pengkaderan.
"Kurang 5 menit sayang, Abang harus mengisi materi di pengkaderan," ucap Nasih yang segera bangkit dari tempat duduknya. Di depan gedung itu Asifa masih duduk di sana. Lalu Asifa ikut berdiri seraya mendekati telinga Nasih disamping kanan.
"Oke, selamat berjuang calon suamiku!" bisik Asifa. Sengaja dia menggoda Nasih dengan cara itu. Nasih terkekeh mendengar nya. Dia rangkum kedua pipi Asifa yang membuat sukses Asifa melebar bola matanya. Nasih melihat kanan dan kiri memastikan kalau tidak ada panitia maupun peserta pengkaderan yang melihat dirinya. Nasih mengecup kening Asifa dan selanjutnya turun menempelkan bibirnya yang basah. Sukses membuat Asifa sangat terkejut dibuatnya.
__ADS_1
"Bang!" gumam Asifa yang tiba-tiba berubah menjadi patung hidup tidak mampu berkata-kata. Sedangkan Nasih ngacir meninggalkan Asifa tanpa rasa berdosa. Nasih masuk ke dalam gedung yang digunakan untuk acara pengkaderan. Di mana semua peserta sudah duduk berkumpul untuk bersiap mengikuti sesi selanjutnya.
Di saat itulah tiba-tiba Rosi datang menghampiri Asifa.
"Dasar tidak tahu malu. Sudah jelas-jelas kalau kak Nasih itu calon suamiku. Tapi kamu tetap saja menggoda nya. Bahkan kedua orang tua kami sudah bertemu membicarakan masalah perjodohan antara aku dengan kak Nasih," ucap Rosi.
"Dasar jiwa pelakor seperti nya sudah mendarah daging pada kamu," kata Rosi. Sukses membuat bola mata Asifa memerah. Dia tentu saja ingin marah. Tapi seperti nya jika harus meladeni Rosi tidak ada gunanya. Benar! Yang sebenarnya adalah Rosi adalah calon istri Nasih. Bukan dirinya.
"Hai tunggu! Aku belum selesai bicara, Sifa! Tidak sopan banget sih!" teriak Rosi seraya menarik lengan tangan Asifa.
"Aduh! Rosi lepaskan!" ucap Asifa yang merasa cengkraman tangan Rosi membuat sakit lengannya.
"Ingat, Asifa! Apapun yang akan kamu lakukan dan berupaya supaya dekat dengan kak Nasih, tetap kamu akan kalah. Karena aku sebentar lagi akan bertunangan terlebih dahulu dengan kak Nasih. Dan kamu lebih baik tahu diri," kata Rosi tajam dan setajam silet.
"Kak Naish itu lahir dari keluarga terhormat dan terpandang. Sedangkan kamu? Hah, paling lahir dari keluarga tidak mampu. Bisa kuliah saja lantaran mengandalkan bea siswa," urai Rosi. Sukses kata-kata itu membuat Asifa menciut. Kedua matanya jadi berkaca. Dia ingin berlari meninggalkan Rosi. Tapi tangan Rosi masih mencengkram lengannya.
Rosi melepaskan cengkraman tangannya di lengan Asifa dan meninggalkan Asifa yang kembali bengong dengan mata yang sudah berair. Di saat rasa sedih itu Asifa masih bisa menatap jauh Nasih yang masih memandu acara pengkaderan.
Sesekali mata mereka bertemu dan Nasih melemparkan senyum ke arah Asifa. Senyum itu tulus tetapi membuat Asifa resah dan menjadi pupus lagi untuk hubungan mereka nanti. Waktu masih sangat jauh untuk memulai lagi hubungan yang lebih baik dengan Nasih. Tetapi menurut Ita, semua harus di perjuangkan. Sekalipun harus merantau ke Jakarta. Pikir Asifa.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Peserta pengkaderan dikumpulkan di ruang gedung utama. Acara ini adalah agenda renungan malam yang dipandu oleh semua panitia pengkaderan.Panita sudah sibuk mempersiapkan segalanya. Sedangkan Asifa masih di ruang kepanitiaan putri.
"Kamu tidak ikut bergabung ke Aula?" tanya Rosi yang sukses membuat Asifa terkejut. Asifa terlihat mengantuk karena sejak tadi belum bisa tidur. Sekedar memejamkan mata pun rasanya sulit karena Asifa merasa gelisah. Entah apa yang Asifa pikirkan sehingga dirinya resah dan sulit tidur walaupun hanya sebentar.
"Apa ada tugas untukku?" sahut Asifa. Rosi menyipit bola matanya. Dia mulai terlihat memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Oh Iyah, tolong ambilkan beberapa kertas folio di ruang panitia yah. Setelah itu antar ke aula," kata Rosi.
"Kertas itu nanti akan dibagikan ke peserta pengkaderan," sambung Rosi. Asifa menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baik, aku akan mengambil kertasnya di ruang panitia," kata Asifa yang segera bergegas meninggalkan Rosi yang masih berada di kamar istirahat untuk panitia cewek.
Asifa berjalan ke ruangan panitia tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Sedangkan semua panitia sudah berkumpul di aula beserta semua peserta pengkaderan. Saat tiba di ruang panitia, Asifa mulai mencari kertas yang diminta Rosi. Namun cukup lama Asifa masih belum menemukan kertas itu disimpan. Sampai seseorang masuk ke ruangan itu.
"Loh ada Asifa yah? Apa yang kamu lakukan di ruangan ini?" tanya seorang pemuda sebut saja Andi.
"Nyari lembaran kertas kosong kak. Kok sudah tidak ada kertas yang kosong sih kak? Di letakkan di mana yah kak? Tadi disuruh Rosi untuk mengambil di ruang paniti. Sepertinya habis yah kertasnya," ucap Asifa. Andi terlihat tersenyum dengan Asifa.
"Masih ada kok! Sebentar aku ambilkan karena aku yang menyimpannya di lemari," sahut Andi. Pemuda yang bernama Andi itu mengambil kertas kosong yang diminta Asifa. Dia yang telah menyimpannya di dalam lemari kecil penyimpanan berkas. Sedangkan Asifa hanya diam mematung.
"Nah ini kertasnya!" ucap Andi seraya menyodorkan beberapa kertas kosong pada Asifa. Asifa menerima kertas kosong itu.
"Ya sudah yuk! Acara sudah dimulai. Kita gabung dengan semuanya," ajak Andi.
Andi dan Asifa hendak keluar dari ruang panitia itu namun tiba-tiba keduanya saling pandang. Sedangkan Andi berusaha membuka handle pintu ruangan itu yang sebelumnya dibiarkan terbuka dan tidak tertutup. Namun sekarang justru dikunci dari luar.
"Kok tidak bisa dibuka sih? Bukankah tadi pintu terbuka dan tidak aku tutup saat masuk. Ini kenapa jadi terkunci di luar," kata Andi yang berusaha membuka handle pintu ruangan itu.
"Mungkin saja ada hantu nya, kak!" sahut Asifa. Sukses ucapan Asifa justru membuat tawa Andi.
"Hahaha astaga Asifa! Disaat tegang seperti ini kamu masih bisa bercanda sih? Acara sudah dimulai. Sedangkan kita masih di dalam sini. Apa kata teman-teman kalau melihat kita di sini? Apalagi kita hanya berdua saja," ucap Andi.
"Yah kita bilang saja kalau ada hantu di gedung ini. Jadi teman-teman akan mempercayai nya. Hantu kan tidak bisa dilihat oleh mereka," kata Asifa. Ucapan Asifa membuat Andi terkekeh-kekeh. Di saat Andi panik justru gadis di depannya membuat lelucon. Apa ada hantu jail menutup pintu dari luar. Ah benar-benar Asifa.
__ADS_1