
Acara Penutupan kegiatan pengkaderan telah selesai. Kegiatan pelatihan kader sudah selesai. Serentetan acara sudah selesai dilaksanakan. Panitia membereskan segala peralatan dan bersiap siap untuk pulang. Peserta pelatihan sudah terlebih dahulu pulang ke tempat tinggalnya masing masing. Asifa mengambil tas ransel di ruangan cewek. Didalam masih ada Rosi sedang memasukkan barang- barangnya kedalam koper kecilnya.
Asifa cuek keluar ruangan itu. Dia malas menyapa Rosi yang sudah mengunci nya di gudang bersama dengan Andi. Tentu saja Asifa masih jengkel dan marah. Walaupun tidak ada timbul masalah dari kejadian itu.
Asifa mengikuti Nasih menuju parkiran. Di mana motornya terparkir di sana. Setelah memakai helm dan duduk di belakang, Asifa berpegangan di pundak Nasih. Setelahnya memberi salam semua orang yang masih ada di lokasi.
Motor itu melaju dengan cepat. Nasih menarik tangan Asifa agar pegangan nya lebih kuat. Sebenarnya Nasih masih berat untuk mengantarkan Asifa pulang di kost nya. Nasih ingin berlama-lama dengan Asifa sebelum dia pulang ke kampung halamannya.
Perjalanan masih panjang. Cita cita diantara keduanya ingin diwujudkan. Harapan harapan indah selalu dicapai. Tapi mungkin mereka belum bisa bersama-sama dalam tiap detik dan waktu. Hanya sesekali saja mereka berjumpa dan melepas rindu yang terdalam.
Asifa masuk ke dalam kamar kostnya. Merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang sudah beberapa hari ini tidak ditidurinya. Besok lusa Asifa akan meninggalkan kost ini. Meninggalkan kenangan manis di kampus ini. Bersama kawan kawan kostnya, bersama kawan sekampusnya, bersama kawan organisasinya.
Asifa akan meninggalkan kenangan manis bersama pria yang selama ini sangat dekat dengan dirinya yaitu Nasih.
"Capek juga tiga hari ikut Nasih di acara pelatihan pengkaderan. Walaupun aku tidak ngapa-ngapain dan tidak aktif di kepanitiaan, rasanya ikut merasa letih nya. Bagaimana dengan Nasih yang selalu memandu acara di pelatihan pengkaderan itu," gumam Asifa sambil menatap langit-langit di kamar kost nya.
"Setelah ini aku dan Nasih akan berpacaran jarak jauh. Bagaimana rasa nya sih LDR itu? Pasti sangat menyebalkan banget. Apalagi kalau chat belum di balas dan telepon tidak diangkat. Apalagi saat rindu sudah menggunung. Ah itu pasti sangat menguras emosi dan pikiran," pikir Asifa.
"Tidak jarang orang yang berpacaran jarak jauh kebanyakan pada selingkuh dan mengkhianati kekasih nya. Bagaimana dengan aku dan juga Nasih nanti? Apakah kami berdua bisa setia? Lalu berapa lama lagi aku bertemu dengan Nasih kalau sudah terpisah pulau nanti?" gumam Asifa.
"Ah sudahlah! Seharusnya aku tidak perlu pusing memikirkan semua itu. Kalau jodoh pasti aku dan Nasih bakal dipertemukan. Jika benar Rosi menjadi jodoh Nasih, mau tidak mau aku harus ikhlas dengan semuanya," kata Asifa yang sekarang bermonolog sendiri.
"Jahat tidak sih kalau aku mulai membuka hatiku dengan pria lain yang menyukai aku? Hahaha," kata Asifa lagi sambil berpikir nakal untuk mendua.
"Lagipula siapa yang menyukai aku selain Nasih?" gumam Asifa sambil menepuk jidatnya sendiri.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tiba-tiba pintu kamar kost Asifa diketuk seseorang. Suara khas nya sudah sangat dikenal oleh Asifa. Siapa lagi kalau bukan Ita.
"Asifa! Bukakan pintu nya!" teriakan Ita jelas membuat Asifa terganggu istirahat nya. Dengan malas Asifa membuka pintu kamar kost nya.
"Ada apa sih Ta! Menggangu istirahat ku saja!" omel Asifa.
"Astaga! Ayo kita keluar! Aku mau mentraktir kamu bakso. Hari ini aku ulang tahun. Pasti kamu lupa kan?" kata Ita.
"Hah, ya ampun! Maaf Ita, aku benar-benar lupa! Ayo kalau begitu!"sahut Asifa bersemangat.
*****
Hari kepulangan Asifa ke kampung halamannya telah tiba. Asifa sudah berpamitan kepada penghuni kos dan beserta ibu dan bapak kost. Barang barang sudah Asifa paketkan terlebih dulu ke alamat di kampungnya. Asifa pergi meninggalkan kost nya setelah Nasih menjemputnya. Ada kesedihan jika mengenang kebersamaan hampir 4,5 tahun di sini. Di kampus di mana Asifa meraih gelar sarjana pendidikan di bidang studi bahasa sastra Indonesia.
Dari mulai orientasi pengenalan seputar kampus atau ospek. Praktek pembelajaran lapangan sampai dengan kuliah kerja nyata hingga wisuda kemarin. Nasih terdiam di atas motornya. Tidak ada candaan seperti kemarin- kemarin. Entah apa yang dipikirkannya. Kepulangan Asifa mungkin saja membuat sedih yang mendalam di hati Nasih yang masih menganggap Asifa gadis yang paling dekat dengan dirinya.
"Mungkin tiga bulan lagi aku akan datang ke kampung halaman kamu, Sifa!" ucap Nasih. Asifa tahu itu semua masih rencana saja. Belum tentu pastinya.
"Mau ngapain ke kampung ku di Palembang? sahut Asifa. Dia nyengir kuda. Asifa bermaksud menjahili Nasih yang masih menunjukkan tampak sedih karena sebentar lagi Asifa akan berangkat ke kampung halamannya.
"Apa? Ngapain kamu bilang? Tentu saja aku ingin bertemu dengan kamu, Sifa! Sekaligus berkenalan dengan calon mertuaku," kata Nasih. Asifa cekikikan mendengar ucapan Nasih.
"Baiklah! Aku akan menunggu saat itu. Semoga saja aku belum dilamar oleh seorang pria di kampung," kembali Asifa menggoda. Nasih semakin cemberut di buatnya.
"Awas saja kalau kamu menerima lamaran dari seseorang dan bukan dari aku," Nasih pura-pura mengancam Asifa.
"Kalau kamu tidak juga datang dan melamar aku, aku tidak janji loh, bisa setia dengan kamu, bang!" kata Asifa.
__ADS_1
"Asifa! Jangan suka membuat aku khawatir dong! Kalau kamu menakut-nakuti aku seperti itu, aku bisa saja menculik kamu hari ini supaya kamu tidak bisa pulang ke kampung halaman mu," ucap Nasih. Asifa cekikikan mendengar ucapan Nasih.
"Iya, iya aku janji akan menunggu kamu datang melamar ku. Tapi jika takdir berbicara lain, di mana kamu yang ternyata mengkhianati aku, aku tidak akan menikah sebelum kamu menikah terlebih dahulu. Aku pastikan kamu menikah dan bahagia dengan wanita pilihan kamu. Setelah itu aku baru menikah dengan laki-laki lain," kata Asifa. Nasih mengerucut bibirnya.
"Aku pastikan kalau aku selalu setia dengan kamu," sahut Nasih yakin.
"Semoga saja yah, bang! Aku juga berharap kita berjodoh sampai ke jenjang pernikahan," kata Asifa.
"Ya sudah, sekarang naik lah! Aku akan mengantarkan kamu ke loket," ucap Nasih.
"Ayolah!" sahut Asifa seraya naik ke atas boncengan motor milik Nasih. Nasih mulai menghidupkan mesin motor nya. Beberapa teman-teman kost yang masih menunggu keberangkatan Asifa hanya bisa melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
"Kenapa tidak naik pesawat saja sih?" kata Nasih saat motor itu sudah berlalu meninggalkan kost Asifa.
"Maaf, aku masih takut! Perjalanan lewat darat cukup menyenangkan daripada melalui udara," ucap Asifa.
"Awas saja kalau kamu mendapatkan teman bangku laki-laki. Aku pastikan supaya kamu pindah tempat duduk nya," kata Nasih.
"Hahaha, ada-ada saja kamu bang!" sahut Asifa dengan cekikikan.
⭐⭐⭐⭐⭐
Saat sudah tiba di loket bis. Bis jurusan Palembang akan segera diberangkatkan. Asifa untuk terakhir kalinya menghampiri Nasih yang berdiri mematung melepaskan kepergian nya.
Nasih menarik tubuh Asifa. Memberanikan diri untuk memeluknya. Asifa melotot kaget. Ada getaran yang tidak bisa diungkap. Ada damai dan kenyamanan yang tak terlukiskan. Ada jiwa yang memberontak ingin tertumpah kan. Tetapi semua masih dijaga. Asifa memberanikan diri menyambut pelukan Nasih. Asifa sedih dan ada ketakutan kehilangan Nasih. Tetapi ia tidak ingin menangis dan meneteskan air mata. Apalagi kata-kata Rosi sangat mengancam hubungan mereka.
"Ada apa," tanya Nasih.
"Tidak apa apa," jawab Asifa.
__ADS_1
Baru sekarang Asifa mulai sedih. Dia benar-benar akan meninggalkan pria itu. Dan mungkin saja akan lama bertemu lagi. Nasihin mencium kening Asifa lembut. Asifa semakin bergetar merasakan aliran hangat di seluruh tubuhnya. Sedih, senang, bahagia bercampur jadi satu.
Asifa meninggalkan kota Semarang. Meninggalkan kenangan manis nya bersama seseorang yang paling dekat dengan dirinya. Namun sekarang? Nyatanya Asifa telah mewujudkan cita-cita nya yaitu menjadi sarjana pendidikan. Dan sebentar lagi, Asifa akan menjadi seorang guru.