RINDU YANG TAK TERGAPAI

RINDU YANG TAK TERGAPAI
Bab 5 Ingin Tahu


__ADS_3

Andi dan Asifa masih didalam ruangan itu. Sudah hampir satu jam tetapi belum ada orang yang membukakan pintu ruangan itu. Sedangkan mereka terkunci di dalam. Sehingga keduanya jadi serba salah mau ngapain. Andi mulai mengajak Asifa berbincang-bincang untuk menghilangkan rasa kecanggungan dan juga bosan selama di ruangan itu. Apalagi mereka belum begitu akrab dan dekat.


"Kamu selama berpacaran dengan Nasih. Nasih sudah ngapain saja dengan kamu?" Pertanyaan aneh dan ambigu keluar dari mulut Andi. Asifa mengerutkan dahinya. Dia mulai memahami maksud dari pertanyaan dari Andi.


"Apa? Ini maksudnya apa yah, kakak bertanya soal itu?" sahut Asifa yang terlihat tidak suka dengan pertanyaan Andi.


"Hahaha," Andi justru tertawa terbahak-bahak melihat perubahan ekspresi Asifa.


"Iyah, kalau sudah 2 tahun berpacaran, itu artinya kalian berdua semakin dekat dan mengenal satu dengan yang lain. Terus sejauh ini apa yang kalian lakukan saat berpacaran?" Andi menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Ih nyebelin banget kak Andi ini! Kami hanya berpacaran biasa saja kok! Lagipula aku dan bang Nasih beda kampus dan juga kost. Setiap hari pun belum tentu ketemu. Kadang-kadang satu bulan sekali jalan nonton film dan sekedar makan bareng," jelas Asifa.


"Pernah ke hotel gak?" sahut Andi. Sukses bola mata Asifa melebar dengan sempurna.


"Astaga kak Andi! Kami tidak ngapa-ngapain loh. Lagipula ke hotel mau ngapain, kak?" omel Asifa dengan marah. Justru Andi tertawa terbahak-bahak. Sukses membuat Asifa semakin marah.


"Kak Andi kalau berpacaran sejauh itu yah?" tuduh Asifa karena emosi. Andi semakin tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha kamu marah yah? Maaf aku hanya bercanda kok! Maaf, maaf Asifa! Lagipula aku yakin jika Nasih tidak seperti itu. Dia pria polos dan selalu menjaga wanita yang ia sayangi," kata Andi meluruskan.


"Kak Andi bercandanya tidak banget. Aku tidak suka. Sekarang jawab pertanyaan ku, kak! Kakak memangnya pacaran nya sudah sejauh itu?" tuduh Asifa.


"Kalau aku sih sudah saling terbuka! Hahaha," jawab Andi. Asifa menyipit bola matanya menatap Andi penuh tanya.


"Maksud nya saling terbuka  itu kak? Aku tidak tahu?" sahut Asifa.


"Hahaha, lupakan saja! Nanti tanya saja dengan abang kamu itu! Aku tidak mau menjelaskan," kata Andi dengan tertawa terbahak-bahak. Asifa mulai berpikir dan melihat Andi penuh selidik.


"Jadi kak Andi sudah sering ke hotel dengan pacar kakak? Terus kakak dengan pacar kakak melakukan itu sebelum menikah?" Asifa berusaha bertanya secara transparan.


"Ya begitu lah! Kamu tidak ingin seperti itu dengan Nasih? Atau mungkin Nasih pernah mengajak kamu begituan tapi kamu tidak mau?" tebak Andi.


"Tidak! Sudah aku katakan kalau kami berpacaran biasa saja. Kadang diskusi masalah ilmu politik maupun karya sastra," jelas Asifa. Andi terkekeh mendengar cerita Asifa.


"Kalian kuno banget!" sahut Andi. Asifa lagi-lagi menyipit bola matanya.


"Bersyukur banget, Bang Nasih tidak seperti kak Andi," gumam Asifa.

__ADS_1


"Hahaha, mungkin saja belum, Asifa!" sahut Andi. Asifa tiba-tiba menjadi takut jika suatu saat Bang Nasih seperti itu jika mereka tidak menyegerakan untuk menikah dan menghalalkan hubungan mereka.


"Aku menjadi berpikir. Kenapa kak Andi menilai kami berpacaran nya sejauh itu, kak?" Asifa tergelitik untuk bertanya.


"Karena aku sudah sejauh itu berpacaran nya, Asifa! Lagi pula Nasih itu ,banyak fans nya. Banyak pula cewek cewek yang berusaha dekat dengannya. Nasih di cap play boy di kampus. Jadi kalau tidak dengan kamu mungkin saja dengan cewek yang lain, yah mungkin saja yang satu kampus dengan Nasih," urai Andi yang menilai buruk Nasih.


"Ya ampun!" sahut Asifa dengan melongo tidak percaya.


"Hai, itu hanya dugaan ku saja Asifa! Kamu jangan menyampaikan nya pada Nasih yah. Nanti aku bisa dihajar Nasih," kata Andi. Asifa diam dan mencoba menelaah ucapan Andi.


"Apa benar, Nasih seburuk itu?" pikir Asifa.


"Asal kamu tahu, Asifa! Tiap hari Nasih tuh ganti-ganti cewek ketika jalan dengan nya," kata Andi lagi disaat Asifa diam memikirkan kebenaran ucapan Andi.


Andi menatap penuh selidik ekspresi Asifa. Dia berusaha mencari adakah kecemburuan, kemarahan atau semacamnya ketika Andi menginformasikan apa yang telah Andi lihat, dengar soal Nasih selama di kampus.


"Kamu tentu saja mengenal Rosi bukan? Dialah yang paling sering menjumpai Nasih di  di tempat kostnya. Dan sering jalan dengan dia," Kembali Andi membakar rasa cemburu pada Asifa. Asifa terdiam tiba-tiba menjadi sedih.


"Eh...ada suara orang menuju ke ruangan ini. Pasti acara renungan sudah selesai," Andi kembali ribut.


*****


Mereka masih duduk di depan aula. Antara Nasihin dan Asifa masih sama-sama terdiam. Mereka belum ada yang memulai berbicara. Padahal sudah hampir menjelang fajar. Nasih terlihat sangat kelelahan dengan kegiatan hari ini. Habis jalan jalan dengan Asifa langsung memberi materi sampai malam. Lalu di tengah malam ada acara renungan.


Nasih terpejam matanya dengan kepala yang disandarkan di kursi duduknya.Asifa memberanikan diri mengambil tangan Nasih menggenggamnya lebih erat. Asifa ingin memberikan kehangatan pada pria itu.


"Masuk ke dalam yuk. Kamu butuh istirahat!


Sudah pagi sebentar lagi subuh," kata Asifa seraya mengusap telapak tangan Nasih.


Nasih tak bergeming, kepalanya justru direbahkan dipangkuan Asifa. Di kursi yang panjang itu, Nasih tertidur dipangkuan Asifa.


Asifa memegang kepala Nasihin supaya tidak terjatuh. Salah satu tangannya membelai puncak kepala Nasih penuh kasih sayang. Namun tiba-tiba seseorang datang. Dia adalah bang Fatur.


"Loh kalian kenapa masih di sini?" tanya bang Fatur seraya berjalan mendekati Asifa bersama dengan Nasih yang berada di kursi kayu panjang di depan aula. Nasih segera membenarkan duduknya yang sebelumnya tiduran di atas kedua paha Asifa dengan manja.


"Bang Fatur?' gumam Asifa dan juga Nasih. Nasih mengucek matanya. Dia sudah mengantuk.

__ADS_1


" Ayo semua kalian masuk dan istirahat! Ayo Nasih, masuk ke ruang istirahat. Dan kamu Asifa, istirahat di ruang khusus untuk putri. Sudah saatnya istirahat. Jangan berpacaran terus," omel bang Fatur.


"Ye, siapa yang pacaran sih? Cuma duduk sama pacar sendiri kok," protes Nasih. Bang Fatur malah menepuk pundak Nasih. Asifa memerah wajahnya saat bang Fatur ngomel-ngomel melihat dirinya dan Nasih berduaan sampai larut malam.


"Asifa, abang masuk dulu yah! Kamu juga harus istirahat ke kamar cewek," kata Nasih penuh perhatian.


"Baik bang! Nanti aku juga masuk ke dalam kok!" sahut Asifa. Namun Asifa masih belum bergeming dari tempat duduknya. Sedangkan Nasih mulai ditarik tangannya oleh bang Fatur supaya masuk ke ruang istirahat khusus untuk cowok.


Asifa sebenarnya malas kalau ke ruang istirahat khusus untuk cewek. Di sana pasti jumpa dengan Rosi. Asifa telah menduga kalau dirinya dikunci dari luar di gudang itu karena perbuatan Rosi. Rosi sangat membenci dirinya karena bagi Rosi, dialah penyebab Nasih menghindari dirinya.


Asifa yang sudah ngantuk itu akhirnya lebih memilih tiduran di kursi panjang di depan aula. Asifa meluruskan kakinya dan mengambil posisi berbaring di bangku panjang itu. Jangan lupakan kalau cuaca di sekeliling sangat dingin. Angin malam mulai jahat menusuk pori pori kulit. Asifa akhirnya bisa tertidur di bangku itu sampai langit mulai terang dan matahari muncul di hari itu.


"Sapa yang tidur dikursi panjang itu?" gumam salah seorang panitia yang tidak lain adalah Andi.


"Asifa?" panggil Andi seraya membangunkan Asifa.


"Ya ampun...astaga naga...Asifa.," gumam Andi. Namun beberapa kali Andi berusaha membangunkan Asifa namun Asifa enggan untuk bangun. Sampai akhirnya Andik masuk ke ruangan mengambil sarung dan kembali ketempat Asifa tidur. Andi menyelimuti Asifa walaupun sebenarnya bisa saja membangunkannya sekali lagi. Tetapi tidak Andi lakukan karena Asifa terlihat sangat nyenyak tidurnya.


"Woy, ini anak kenapa seenaknya tidur di sembarang tempat yah. Tidak takut kalau diculik pemuda gila. Waduh waduh!" gumam Andi setelah menyelimuti tubuh Asifa dengan sarung miliknya.


Hingga matahari semakin tinggi dan sinarnya semakin terang, Andi kembali datang bersama dengan Nasih.


"Ya ampun Asifa! Kenapa bobok di sini sih?" ucap Nasih penuh kekhawatiran. Andi justru tersenyum meledek dengan sikap Nasih yang sok perhatian.


"Ini anak orang kenapa kau telantarkan? Kalau mati kedinginan gimana?" ucap Andi asal. Nasih terlihat membangunkan kekasihnya itu. Namun Asifa gak mau bangun dari tidur nya.


"Asifa, bangun dik! Ayo pindah tidurnya kalau masih ngantuk," ucap Nasih dengan membelai puncak kepala Asifa.


"Yaelah malah di belai kepalanya. Asifa justru makin lelap bobok nya dong!" protes Andi. Nasih akhirnya mengangkat tubuh itu masuk kedalam.


"Berat yah Sih?" tanya Andi.


"Enggak! Lebih berat dosa dosa mu Ndik!" ucap Nasih asal.


"Eh sialan! Tidurkan di Sofa depan saja Sih," Andi mulai mengatur.


Nasih menidurkan Asifa di sofa panjang di dekat komputer. Setelah nya Nasih duduk di dekat Asifa sampai kekasihnya terbangun dari. tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2